حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Hati-hatilah mengkaji Al Qur’an dan Al Hadits

Posted by حَنِيفًا on August 10, 2012

Assalamu’alaikum,

Al Qur’an dan Al Hadits adalah rahamatan lil ‘alamin, sebagaimana tertulis didalam Surah Al Anbiya ayat  107.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ

‘Audzu billahiminasy syaithonir rojim
Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiina
“Kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS 21:107)

Dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat Al Qur’an sangatlah global berlaku untuk segala lampisan masyarakat, dengan tidak memandang segi fisik, status sosial serta latar pendidikan dengan demikian cara pengkajian Al Qur’an haruslah bersikap hati-hati baik yang diperuntukan individu (kepentingan pribadi) maupun diperuntukan kepada umum. Sifat kehati-hatian ini juga ditegasi dalam surah Al Furqaan ayat 32.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Waqaala alladziina kafaruu lawlaa nuzzila ‘alayhi alqur-aanu jumlatan waahidatan kadzaalika linutsabbita bihi fu-aadaka warattalnaahu tartiilaan.
Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlahsupaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS 25:32)

Jadi jelaslah sudah bahwa pemaknaan ayat yang tersirat dan tersurat haruslah secara Tekstual, Kontekstual dan Relasional yang pada kenyataanya dipraktekan secara Kondisional misalnya tentang ayat-ayat “perang”, mengenai poligami dll. Untuk memahami sifat global dari ayat-ayat Al Qur’an maka diperlukan beragam penafsiran dari beragam sisi ilmu pengetahuan, semisal makna yang tersirat dan tersurat dari kata Al ‘Alaq kita tidak bisa memfokuskan diri pada relasi ayat ke ayat tapi nyaris seluruh informasi harus kita gali, mulai dari Judul Surah, urutan Surah dan Nomor Ayat, tafsir A, Tafsir B… dsb.
Surah Al ‘Alaq dengan nomor surah ke-96.
Judul = ال عَلَقٍ diambil dari no ayat 2 خَلَقَ الإِنسَـنَ مِنْ عَلَقٍ
Tafsir Dr. Maurice Bucaille => Clot (sesuatu yang melekat)
Lalu apakah yang melekat itu ?!
Tafsir Depag er-i => Segumpal Darah.
Nomor Surah per Nomor Ayat => 96 / 2 = 48
Dalam dunia kedokteran dikenal “GUMPALAN DARAH” adanya “Rhesus” demikian hingga Code 48 pada Rh+ dan Rh-
Yang pada kelanjutannya akan lebih menarik lagi karena dalam 48 Rh ada 24 code Kromosom (48/2) 😀

Dari contoh multi tafsir diatas, saya mencoba mengingatkan seseorang atas kemungkinan kekeliruan dalam penafsiran sejumlah ayat dengan sejumlah hadits.

Mohon koreksi dan saran bagi rekan-rekan terutama tanggapan di quote kuning. *** MOHON MAAF BELUM SAYAH QUOTE DINK. ***

..:: Begin ::..

SYARIAT WAKTU PUASA TERNYATA BERBEDA DENGAN SYARIAT WAKTU SHOLAT.
KONDISI MATAHARI TERBIT = KONDISI MATAHARI TERBENAM KECUALI ARAHNYA YANG BERBEDA
(KETINGGIAN MULAI SEKITAR 14° SAMPAI LEBIH RENDAH ADALAH BATASAN GELAP MALAM)
Oleh: Zainal Syam Arifin

Berangkat dari keprihatinanku tentang diskusi plus minus waktu – waktu sholat terutama waktu sholat shubuh dan magrib, ternyata tidak ada titik temu disebabkan karena selalu berpatokan pada “PLUS BERAPA MENIT LAGI KAH?” Padahal standar waktu sholat shubuh yang ada di masjid – masjid ahlul sunnah wal jama’ah saat ini berbeda – beda. Karena itu saya mencoba mendekatinya dari sisi logika sains dan berusaha dipertemukan dengan dalil al Qur’an (Semoga Allaah mengampuni setiap kesalahanku).

Setelah saya kumpulkan dari berbagai jadwal waktu sholat abadi yang ada di Yogyakarta, ternyata jadwal waktu sholat shubuh terbagi tiga:
1. Ada yang mulai azan shubuh pada ketinggian matahari -20°
2. Ada yang mulai azan shubuh pada ketinggian matahari -19°
3. Ada yang mulai azan shubuh pada ketinggian matahari -17°

Kemudian saya juga mencocokkan dengan hasil observasi saya selama hampir 2 tahun belakangan ini bahwa kemunculan fajar shodiq pada ketinggian sekitar -14° dan hal ini juga sudah saya cocokkan dengan waktu hilangnya senja merah pada waktu terbenam matahari atau saat “kegelapan TOTAL” malam mulai menampakkan dirinya yaitu juga pada ketinggian -14°. (Lihat Gambar di atas)
Ini berarti waktu sholat isya sebenarnya sudah bisa dilakukan mulai pada ketinggian -14° sampai lebih rendah lagi dari itu.
SILAHKAN DIBUKTIKAN SENDIRI!!! SAYA BERTANGGUNG JAWAB DENGAN APA YANG SAYA KATAKAN INI !!!

Perhatikan ini!!! Untuk Menentukan Berapa Sudut atau Derajad Ketinggian Matahari pada saat Fajar Shodiq, dapat juga dengan mengamati pada saat Berapa Sudut atau Derajad Ketinggian Matahari ketika Senja Merah Mulai Hilang di Barat (Gelap Total). Dan itu pada “SEKITAR” angka -14°. Silahkan dibuktikan!!!
Jika anda tidak percaya dengan hal ini, setidaknya notes ini adalah hanya untuk yang Mau Memikirkan, Tidak Taklid Buta!!!

YANG MENJADI TANDA TANYA BESAR ADALAH WAKTU BERBUKA PUASA, APAKAH DIWAKTU MAGRIB (SENJA MERAH) ATAUKAH WAKTU ISYA (GELAP TOTAL)?.
APAKAH YANG DIMAKSUD MALAM (AL-LAIL) ITU TERMASUK WAKTU MAGRIB?

Sebagaimana diketahui bahwa dalam Al Qur’an Surah al Baqarah: 187 dinyatakan bahwa wilayah A (Munculnya Fajar Shodiq / pada waktu Shubuh) pada gambar di atas sudah di-HARAM-kan Makan dan Minum atau hal – hal lain yang membatalkan puasa.
Bagaimana dengan Wilayah C? Persamaan pada wilayah A dan C adalah sama – sama mengalami terjadinya Gradasi Gelap-Terang. Perbedaannya hanya pada Arah Gradasi dari Gelap ke terang (A) dan dari Terang ke Gelap (C).

Kalau Wilayah B adalah batasan GELAP MALAM, maka Pertanyaannya adalah: apakah kita mulai berbuka puasa pada SETELAH sholat magrib yaitu setelah masuk waktu Isya pada ketinggian SEKITAR -14° ATAUKAH LEBIH TINGGI DARI ITU?

Pengertian Tinggi dan Rendah di sini adalah batasan Ufuk dianggap titik 0 (nol). Di atas ufuk bernilai positif dan di bawah ufuk bernilai negatif, Semakin Besar Negatifnya maka Semakin Rendah matahari tersebut di bawah ufuk. Ketinggian matahari pada -20° tentu LEBIH RENDAH dibanding -14°.

PERHATIKAN GAMBAR DI ATAS BAHWA MULAI KETINGGIAN 0° sd. -14° terjadi Gradasi Kegelapan. Perbedaan gradasi waktu shubuh dan senja merah hanyalah pada arah gradasi. Kalau shubuh mengarah ke semakin terang, sedangkan kalau senja mengarah kepada semakin gelap.
Dan sebagaimana adanya Fajar Kadzib pada waktu akhir malam yaitu pada sudut kurang dari -14° maka demikian juga pada waktu awal malam meskipun rona merah telah hilang namun masih menyisakan “sangat sedikit” (hampir tidak terdeteksi mata) cahaya putih yang mana malah tidak terdeteksi jika ada cahaya – cahaya lampu. Sudut kurang dari -14° itu dimulai dari sekitar -19° sd. -14°. Sudut – sudut inilah yang disebut Fajar Kadzib pada waktu akhir malam dan masih dibolehkan makan minum tetapi belum masuk waktu sholat fardhu shubuh. Demikian pula pada awal malam, sudut itu sudah lewat waktu magrib dan sudah dibolehkan sholat isya.

Maka Menentukan Batas Akhir Shubuh sama sulitnya menentukan Batas Awal Waktu Magrib.

HAL YANG MENAKUTKAN ADALAH PADA AHLU SUNNAH, AZAN MAGRIB DIANGGAP SAMA DENGAN TANDA BERBUKA PUASA (waktu berbuka=waktu sholat?) SBB:

dipatok 0° adalah tanda azan magrib padahal itu diambil pada titik tengah bulatan matahari artinya sebenarnya matahari belum tenggelam benar (Lingkaran luarnya masih kelihatan apalagi penampakan diameter matahari sebenarnya tidak tetap, yaitu terlihat lebih besar pada titik yang sangat dekat dengan matahari karena lintasan orbit bumi terhadap matahari berbentuk elips).
Lihatlah perbedaannya pada pagi hari yaitu pada -1° ditandai sebagai awal terbitnya matahari. Bukankah ini adalah RANCU?

Perselisihan waktu sholat ini antara berbagai mazhab seharusnya tidak terjadi, sebab Apa yang diajarkan oleh Rasul itu hanya satu. Saya berusaha berdiri dipihak Netral dalam pembahasan kali ini.

Sebagian ustadz/ulama Mazhab Jakfari masih mentolerir waktu sholat shubuh yang mendekati terbitnya, ketika dipertentangkan hal itu beliau menganggap masih boleh dan tidak usah di qadha dimana niatnya diserahkan kepada Allaah, meskipun sudah terang sekali padahal belum masuk waktu terbit matahari menurut jadwal abadi. Tetapi jika dikonfirm hal yang sama terhadap waktu sholat magrib, mereka yang bermazhab Jakfari menolak dengan tegas untuk sholat magrib kecuali hanya menyisakan rona senja merah di barat saja. Padahal antara kedua sholat itu (Shubuh dan Magrib) berada di wilayah gradasi yang sama (Gelap dan Terang). Mengapa tidak ada Titik Temu dalam hal ini?

Mengapa tidak bisa disepakati hal yang sama yang berada di perbatasan dengan siang untuk menentukan batas akhir waktu shubuh dan batas awal waktu magrib?
Mengapa untuk waktu magrib harus di undur karena tidak boleh berdekatan dengan batas akhir siang (terbenam), sedangkan untuk waktu shubuh boleh diundur mendekati batas siang (terbit)?

Dan Benarkah Waktu Ifthar (Berbuka Puasa) itu dilakukan saat waktu magrib?
Kalau waktu shubuh (Wilayah A) dilarang makan dan minum, kenapa tidak diterapkan hal yang sama untuk waktu magrib (Wilayah C)?
Memang Agama tidak bisa dilogikakan dengan logika pribadi kita masing – masing, tetapi bukan berarti tidak logis.

Kalau al Baqarah ayat 187 memerintahkan untuk melengkapi puasa (Ingat!!! Bukan sholat loh?) sampai tibanya Malam, maka harus DISEPAKATI pada sudut berapa sudah dianggap Malam? Pada kadar kegelapan berapa dianggap malam?
Apakah cukup pada kadar kegelapan 80% ataukah harus 100% pada sudut MULAI SEKITAR -14° sampai lebih rendah dari itu?

Kalau kita melihat apa yang terdapat dalam al Qur’an, apakah bisa kita sepakati bahwa:

“SYARIAT WAKTU PUASA BERBEDA DENGAN SYARIAT WAKTU SHOLAT?”

TENTANG WAKTU SHOLAT:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(Q.S Hud[11]:114)

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
(Q.S Al-Israa`[17]: 78)

Adapun Waktu untuk Sholat Magrib antar Mazhab terjadi Perbedaan. Mayoritas 4 mazhab (Syafi’i-Maliki-Hanafi-Habali) mengikuti hisab yang diberlakukan mulai tahun 1900-an atas perintah khalifah turki othmani saat itu.
Adapun bagi mazhab jakfari yaitu ditambahkan sekitar 15-20 menit ada juga yang mengatakan 30 menit bahkan ada yang mengatakan harus ditambahkan 45 menit. Kalau menurut pengamatan pribadi saya, penambahan 30-35 menit sudah cukup.

Tetapi harus adil, kalau diterapkan demikian pada waktu magrib sebagai batas awal magrib maka harus diterapkan juga hal yang sama sebagai batas akhir waktu shubuh yaitu ketika cahaya merah sudah sampai di atas kepala kita maka itulah batas akhir waktu shubuh yaitu dikurangi 15-20 menit atau bahkan 30 menit sebelum jadwal terbit menurut kalender jadwal sholat abadi.

TENTANG PERBEDAAN SENJA MERAH SORE DAN MALAM (AL LAIL):

فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ
وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ
Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan CAHAYA MERAH SENJA,
dan MALAM dan apa yang diselubunginya,
(Q.S Al-Insyiqaq[84]: 16 – 17)

Bagi Mazhab Jakfari (Semoga Tidak salah saya menyampaikan dan semoga Allaah mengampuniku), Waktu Magrib bisa dilakukan ketika CAHAYA MERAH SENJA hanya terdapat di barat saja. Ketika CAHAYA MERAH SENJA telah hilang maka telah masuk waktu MALAM (Al-LAIL), waktu untuk sholat Isya ketika kegelapan total telah merata.

TENTANG PERBEDAAN MALAM (AL LAIL) DENGAN FAJAR:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

MALAM itu (penuh) kesejahteraan sehingga terbit FAJAR
(Q.S Al-Qadr[97]: 5)

TENTANG WAKTU PUASA (BUKAN WAKTU SHOLAT):

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian LENGKAPKANlah PUASA itu sampai (datang) MALAM, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
(Q.S Al-Baqarah[2]:187)

Kalau kita SEPAKATI bahwa ayat 2:187 itu, yang dilengkapi (TAMAM) sampai MALAM itu adalah Puasanya (karena ayat 2:187 adalah pembahasan mengenai Waktu Puasa bukan Waktu Sholat), maka KITA HARUS BERBUKA PUASA PADA WAKTU MALAM YAITU MULAI SEKITAR -14°, TETAPI ITU TIDAK MENGHALANGI KITA UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT MAGRIB SEBELUM BERBUKA PUASA.

TIDAK ADA DALILNYA YANG SHOHIH BAHWA PATOKAN WAKTU PUASA ADALAH TERBIT DAN TENGGELAM-NYA MATAHARI.

Patokannya bukan Terbit & Tenggelamnya Matahari, melainkan adalah BATAS WAKTU MALAM DAN SIANG.

KESIMPULAN:
– WAKTU SHOLAT MEMILIKI WAKTUNYA SENDIRI
– WAKTU PUASA MEMILIKI WAKTUNYA SENDIRI. (Anehnya waktu berbuka puasa disamakan dengan waktu sholat magrib, semoga Allaah mengampuni asumsiku ini)

Terima kasih.

Ini bukanlah fatwa, saya tidak layak untuk itu, juga bukan pernyataan final dari saya, melainkan sebagai bahan Diskusi, Renungan dan Pemikiran, dan Semoga Allaah Mengampuni Kesalahanku dalam menuliskan notes di atas

Diskusi bagian : satu, dua dan tamat…😀

Zainal Syam Arifin : mbak Lin Tarsih, intinya adalah ifthar (berbuka) bagi yang shaum (puasa) seharusnya ketika di waktu lail yaitu di akhir syafaq atau mega merah sudah berlalu, atau paling cepat (disegerakan) saat syafaq hanya terlihat di ufuk barat saja.
Karena yang dimaksud dua tepi siang dalam ayat Hud:114 adalah sholat magrib dan sholat shubuh, sedangkan permulaan malamnya adalah sholat isya. Sholat ashar bukanlah tepi siang seperti yang dianut oleh sebagian orang karena ashar dilakukan saat matahari belum terbenam dan hanya merupakan salah satu sisi atau belahan (kiri) siang yang berpasangan dengan dhuha dibelahan/sisi lainnya.

Kemudian, batas malam dengan siang bukanlah terbit/terbenam matahari melainkan fajar shodiq di waktu pagi dan syafaq shadiq di waktu petang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat Hud:114 yang dibahas barusan.
Jadi Shubuh dan Magrib itu seharusnya masih dalam kondisi puasa, karena ayat al Baqarah:187 menyebutkan bahwa shaum itu harus di cukupkan sampai malam, bukan sampai syafaq. Pengertian iin sejalan dengan ayat itu juga bahwa ifthar dihentikan saat fajar shadiq sudah muncul dalam kalimat: ‘makan dan minumlah bagi kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu cahaya fajar.”

Kemudian sebagaimana cahaya fajar merupakan ujung siang dilakukan kurang lebih 45 – 57 menit sebelum terbit matahari, maka waktu yang afdhol bagi sholat magrib juga adalah pada waktu 45-56 menit setelah terbenam matahari.
Saya memandang, 40 – 56 menit mungkin saja masih termasuk waktu yang afdhol asalkan tidak boleh ifhthar bagi yang shaum.

Haniifa Rubi

‎=> Oom  Zainal : JADI MANA NEEH YANG BWETUL ????
ini sayah kutip dari tulisan sampean sendiri lho … hehehe….
_______________________________________
Awal berpuasa adalah saat terbitnay Fajar, dan Awal berbuka puasa adalah ditanda

i dengan masuknya “permulaan malam” yaitu magrib, apabila gelapnya malam telah tiba yaitu pada ayat:

“…bahagian permulaan daripada malam..” (11: 114)

“..sampai gelap malam…” (17: 78)
_________________________________________
Haniifa bertanya :
MAGHRIB itu sebagai “permulaan MALAM” atau “dua tepian SIANG” ?!
Tepi PANTAI pasti deket ke PANTAI, dengan demikian definisi “tepi SIANG” deket ke SIang bukan ke MALAM, sehingga sangat tidak lazim orang mengatakan jam 6 Siang😀

___________________________________
Zainal Syam Arifin Apalagi bagi pekerja kantoran yang hanya istirahat satu kali jam 12.00 sampai 13.00 maka sebaiknya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan sekaligus di jam istirahat tersebut. Kemudian jika pulang pas magrib, bisa dikerjakan sekaligus dengan Isya baru pulang ke rumah. Tiba dirumah langsung istirahat dan bercengkerama dengan keluarga. Sungguh Allaah Maha Penyayang dan Tidak Akan Menyulitkan Hamba-Nya, justru kebanyakan hamba-Nya yang mempersulit dirinya sendiri. Telah diberi kemudahan koq malah mencari yang sulit?
_______________________________________
Haniifa bertanya:
Sampean sendiri menggolongken (Dhuhur, Ashar) <= NAHAR kemudian (MAGHRIB, ISYA) <= LAIL !!!

..:: End ::..

😀

Wassalam, Haniifa.

4 Responses to “Hati-hatilah mengkaji Al Qur’an dan Al Hadits”

  1. Samaranji said

    Assalamu’alaikum…
    Wedewww… telat, yang masalah faroid kemaren aja belum selesai belajar, udah ada pelajaran baru.

    Perasaan koq ujung2nya mau di giring ke sholat 3 waktu ya? ^_^a

    >>> Mungkin saja maksud mereka tuh mau memotong ayat dari QS Al Baqoroh, 2:187
    “….Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar….”

    >>> Hehe… kalo patokannya cuman gelap terang dengan mengabaikan “fajar”. Jadi kepikiran… kalo haus dan laper tinggal masuk gua, kan gelap tuh… Ato sekalian masuk warung remang2/ gelap… asyeeeek dah.😀

  2. Rifai said

    Kalau saya sih biasanya (kalau di rumah):
    – Start malam ( bedug maghrib ) : minum teh manis
    – Gradasi 20 % : makan kolak, atau biji salak
    – Gradasi 40 % : maghrib
    – Gradasi 60 % : makan nasi
    – Gradasi 80 % : makan buah (kalau ada )
    Boleh gak ya ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: