حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Kalau antum berakal TAMAT

Posted by حَنِيفًا on August 9, 2012

Assalamu’alaikum,

Sudah pada tempatnya jika kita mau mengukur sesuatu maka harus dilakukan berulang-ulang sehingga mengurangi tingkat kesalahan paralax, dalam khazanah Islamiah sudah sangat familiar dengan hal tersebut baik disadari maupun tidak, kita sering mengulang-ulang do’a atau mengucapken asmaul husna dalam keseharian. Perhitungan dan pengamatan tentang jatuhnya bulan ramadhanpun memerlukan beberapa titik pengamatan dan beberapa metode perhitungan. Jadi alangkah naifnya jika kita hanya mengandalkan satu titik pengamatan secara stimulasi dan dengan hanya hipotesis penafsiran ayat-ayat Al Qur’an kemudian dijadikan landasan yang secara absolute dianggap benar sendiri yang serta merta menganggap “golongan” nya lah yang paling mendekati pesan Alloh serta Rasulnya… hikz.
Bagi pembaca artikel ini saya persilahkan pelajari bagian ke 1 dan ke dua, karena sayah berusaha seobjektip mungkin sesuai alur alam pihkiran mereka.😀

.:: Begin ::.


Zainal Syam Arifin

PATOKAN BATAS NAHAR DAN LAIL

BENARKAH BATAS MALAM DAN LAIL ADALAH MATAHARI TERBENAM (0°)?

(Gambar di atas ukurannya tidak sesuai dengan skala ukuran aslinya, karena atmosfir sangat tipis dibanding ukuran bola bumi demikian juga ukuran matahari dan jaraknya terhadap bumi, namun ini hanya sekedar ilustrasi saja. Dan untuk diketahui bahwa titik 0° selalu dihitung dari titik tengah diameter matahari relatif terhadap titik tengah diameter bumi)

Pada Titik A matahari terlihat terbenam, tetapi berkas matahari masih bersinar di atas pengamat baik yang masih langsung maupun yang mengalami pembiasan dari ruang hampa ke medium atmosfer.

Mulai dari sepanjang a sampai d sinar matahari masih secara langsung menyinari bumi, disamping itu juga mengalami pembelokan/pembiasan di sepanjang a sampai c.

Jadi seharusnya Batasan NAHAR dengan LAIL bukanlah Matahari Terbenam pada 0° melainkan berdasarkan Gelap dan Terangnya

PERHATIKAN !!!
Jika beliau benar-benar sesuai dengan Al Qur’an maka sudah selayaknya mempertimbangkan tentang TERBENAMNYA MATAHARI dalam kisah Dzulkarnain😀

Nanik Desimiati Sesama udara di dlm dn di luar atmosfir sama jdi tak ada krn pembiasan berarti antara gas dnair dn padat kaca.

Nanik Desimiati Mk apa terpadang lurus di bumi lurus di muka atm.

Zainal Syam Arifin Hukum fisika mas, cahaya akan membias jika memasuki medium yang berbeda, bagaikan dari udara ke air, sedangkan kasus atmosfer, dari ruang hampa ke atmosfer.

Dalam kasus gambar di atas, ada yang berkas lurus, di posisi pengamat melihat matahari terbenam, namun di ketinggian di atasnya mislanya awal, cahaya masih lurus, sebagian lagi mengalami pembiasan di bagian batas atmosfir, sehingga cahaya masih terang dari timur ke barat.

Zainal Syam Arifin atmosfir itu sangat tipis sekali sebagaimana dalam gambar planet bumi sebelumnya.

Nanik Desimiati Vakum medium udara dna udara medium cair. Diluar atmosfir limpahan H

Zainal Syam Arifin tetapi kerapatannya berbeda mas, yang menentukan adalah kerapatan (kalau tidak salah ingat)

Nanik Desimiati Sama rapatan menurut hukum avogadro n=Pressurendah/dingin=P tinggi/panas

Zainal Syam Arifin apakah limpahan H2 ini bebas merata konsentrasinya dala artian tidak dapat ditarik oleh benda masif berukuran lebih besar dari bumi misalnya jupiter dan matahari?

Zainal Syam Arifin saua yakin ada perbedaan kerapatn meskipun kecil. perbedaan sekecil apapun cukup untuk membiaskan cahaya meskipun dengan derajad pembiasan yang kecil (untuk ukuran manusia yang sangat kecil dibanding bumi, maka kecilnya perubahan itu bisa dirasakan oleh manusia).

Nanik Desimiati ‎1 mol setiap gas pada pt tertentu V. Konsentrasi larutan H2 h gram/2V [mayoritas] = N2 n gram/28V[misal mayoritas atm] tapi perbandingan massa luar:dalam= 14:1 jadi mass berbeda tapi index bias tergantung konsentrasi /kepekatan yng sama

Zainal Syam Arifin baiklah, mungkin antum benar, karena saya belum mengetahui tentang hal itu. setahuku diluar atmosfer itu hampa, tetapi tidak mengapa saya membenarkan antum.
namun mengenai titik pada 0° itu sebenarnya masih ada sinar matahari yang lurus, apalagi patokan 0° adalah titik pusat matahari terhadap titik pusat bumi, sehingga masih ada sinar matahari di atas kepala pengamat yang berasal dari jari-jari matahari itu. artinya patokan 0° sebenarnya tidak tepat melainkan menggunakan patokan kadar cahaya/gelap, mirip prinsip yin yang. Sehingga batasan fajar maupun memulai sholat magrib itu bukanlah terbit/terbenam matahari.

Nanik Desimiati ‎_OXo_ maka slalu ada gradien atas bwh dng 1 titik sekutu di kanan o.

Nanik Desimiati Ter antri tetap pada 2 gradien atas bwh o.

Nanik Desimiati Dan slalu pasti 2 titik singgung atas bwh o.

Zainal Syam Arifin mirip logo yinyang. jadi saya setuju kalau secara alamiah, maka proses transisi batas ini ada kondisi kadar gelap=kadar terang, atau dengan kata lain nahar=lail. Semakin ke arah lail maka lail semakin dominan. dan semakin ke arah nahar, cah

aya nahar semakin dominan. jadi yang menjadi patokan seharusnya bukan terbit/terbenam matahari melainkan kadar/intensitas cahaya vs. gelap.
dan karen aadanya gradien secara vertikal ini menyebabkan manusia kesulitas menentukan batas waktu ini. itulah sebabnya ALLAAH menetapkannya kepada manusia yaitu dengan cara melihat syafaq atau cahaya merah senja.😀
Zainal Syam Arifin Cara itulah yang termudah dan bisa dijangkau oleh semua manusia mulai dari awam sampai ulama, yaitu melihat (ru’yat) syafaq.
Zainal Syam Arifin dengan demikian, benarlah apa yang saya tulis bahwa kriteria sholat magrib di ujung nahar ini dengan melihat syafaq. Kalau syafaq masih ada maka itulah saat untuk sholat magrib.
Nanik Desimiati Rukyat cukup sudah tak melihat gede matahr di barat selama 5′ kelamaan
Zainal Syam Arifin saya belum pernah ru’yat mulai menit keberapa atau derajad ke berapa syafaq muncul, akan tetapi saya sudah sering ru’yat kapan berakhirnya yaitu pada menit 56-57 sejak terbenam matahari atau -14° untuk wilayah pulau jawa dan sulawesi bagian belahan bumi selatan
Zainal Syam Arifin Kalau kita berpatokan pada syafaq, bukan karena berapa derajad atau berapa menit matahari tenggelam, maka seharusnya kita mengikuti apa yang dipilihkan ALLAAH dalam menentukan waktu ini.Adapaun hisab atau penentuan sekian derajad atau sekian menit, itu karena Hisab harus mengikuti Ru’yat. Jadi ru’yat dulu baru hisab boleh dilakukan, sebab kejadian itu akan selalu berulang selama 1 tahun.Zainal Syam Arifin Saya tidak setuju orang yang menolak hisab. Yang benar menurut pendapat saya adalah Hisab mengikuti ru’yat, atau hisab “menyesuaikan” dengan ru’yat.

Nanik Desimiati Betul krena putaran berubah walau sangat evolutif.

Zainal Syam Arifin afwan saya off dulu, segala komen akan saya simak lagi nantinya

Zainal Syam Arifin kesimpulannya kita sepakat mengenai sholat ujung nahar yaitu magrib dan shubuh

Zainal Syam Arifin kecuali waktunya mungkin saya belum jelas apakah kita sepakat atau belum

Zainal Syam Arifin yaitu untuk magrib dimulai dengan syafaq atau cahaya merah senja, bukan cahaya kuning

Zainal Syam Arifin sedangkan syafaq ini sangat pekat ketika menjelang berakhir, itulah sebabnya saya sholat magrib pada waktu yang sama dengan sholat shubuh (jika dibalik kondisinya).

Hal ini semakin “sesuai” dengan riwayat ibnu abbas yang sudah diposting ol…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin wassalam. selamat beribadah malam ramadhan

Nanik Desimiati Koreksi rasio rapat massa berbeda pH2:pN2=h/VH2:n/VN2=1:14 untuk konsentrasi yang sama

Nanik Desimiati Magrib ternamai tempat melihat mthr sdg terbenam sbgmana umar bisa tau untuk melaknat lupa ashr yng orbadui sering menunda ke isya untuk ditunda sampai bukan dinamakan magrib nanti dinamakan solat syafaq. Jadi kelamaan hingga 45 menit baru tahu terbenam.

Nanik Desimiati Mengingat RO=7×10^8 m, ro=0,006×10^8 m dan Oo=1500×10^8 m mk sampai dibumi terang 50% dg sudut lurus = 0° = arcsin [0,005=(RO-ro)/Oo]

Zainal Syam Arifin Magrib memang artinya tempat terbenam matahari, kalau diterjemahkan ke Indonesia artinya arah sebelah barat.

Tentang hadis, kita harus cermat, soalnya persoalan perbedaan penafsiran ayat ini merembet ke hadis, dimana banyak muncul hadis y

ang saling bertentangan seperti contoh yang saya muat dalam tafsir ibnu katsir yang mengumpulkan hadis yang berbeda. Tafsir ibnu katsir hanya mengumpulkan pendapat yang berbeda.

Sedangkan syafaq itu definisinya adalah “cahaya merah” yang muncul setelah terbenam matahari.
Sebelum berwarna merah, akan berwarna kuning matahari terlebih dahulu. adapun 40 – 45 menit itu adalah warna yang meyakinkan. Sehingga kalau kita beranggapan bahwa berkas merah itu masih merupakan cahaya matahari (ujung cahaya nahar), maka tidak salah jika dikatakan bahwa itu masih masuk waktu magrib, karena mega merah itu adalah bagian dari proses terbenamnya matahari di tempat terbenamnya (magrib).

Nanik Desimiati Cahaya kuning brp ° dan menit brp

Zainal Syam Arifin belum pernah ru’yat mas

Zainal Syam Arifin maksud saya batas yakinnya itu, sedangkan pada menit ke 40, sudah yakin merah karena semakin pekat merahnya apalagi pada menit ke 45

Zainal Syam Arifin merah adalah warna dengan panjang gelombang terpanjang, dibandingkan warna kuning. jadi masuk akal kalau merah itu semakin merah pada saat menjelang bagian akhir.
Karena mengalami gradasi, maka sangat sukar menentukan batas awalnya, akan m…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin kalau pada menit ke 40-50 itu saya sudah sangat yakin warnanya merah (syafaq) dengan kepakatan tertinggi dan kepakatannya ini tidak berkurang sampai lenyap karena bergeser.
Zainal Syam Arifin Berubahnya warna matahari dari kuning menjadi merah pada bagian ujung karena mengalami penurunan suhu sesuai hukum Wien’s displacement ( http://en.wikipedia.org/wiki/Wien’s_displacement_law ), sebagaimana diketahui warna biru lebih panas di…Lihat Selengkapnya

Wien’s displacement law – Wikipedia, the free encyclopedia
en.wikipedia.org

Wien’s displacement law states that the wavelength distribution of thermal radia…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin Dan siapapun mulai dari orang awam maupun yang ahli, tidak akan kesulitan dalam melihat syafaq ini. Jadi wajar kalau ALLAAH memerinahkan sholat magrib di waktu syafaq ini. Inilah waktu yang sebenarnya dari sholat magrib, dan merupakan waktu utama (waktu afdhal).

Zainal Syam Arifin namun karena waktunya sangat singkat, maka orang harus mempersiapkan diri sebelumnya. Setidaknya pada menit ke45 orang sudah takbiratur ihram.

Zainal Syam Arifin Gradasi Syafaq ini yang semakin pekat dengan semakin ke ujung yang dingin, bukanlah bagian dari proses gradasi malam. Sebab syafaq ini justru tidak mengalami gradasi yang perlahan pada batas dengan malam karena batasnya sangat terlihat deng…Lihat Selengkapnya

Nanik Desimiati Ghurub artinya terasing / takdikenal krn tersembunyi bentuk/ghurbatu syams untuk tidak silau di tempat melihatnya/magrib krn musuh tau akan repot penglihatan saat tempur dan saat usai tempur umar masih melihat sbagian bentuk dn pecarian sungai yng tak sesat di khondak madinah utk wudu ashr sudah waktu magrib. Berapa menit umar ke sungai?

Zainal Syam Arifin Kita boleh saja beranggapan titik 0° sebagai batas nahar & lail, asalkan pada posisi “d” di atas atmosfir, bukan dari sisi pengamatan di permukaan bumi (A), sedangkan kita saat ini masjid di Indonesia lebih banyak mengumandangkan azan magrib di tiik 0° pada posisi A dipermukaan bumi.

Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, kalau kita bersandar pada hadis maka akan kita temukan banyak pertentangan di dalamnya (ada hadis-hadis tandingannya), sebagaimana contoh hadis umar yang antum bawakan, dengan hadis ibnu abbas yang mengatakan “kami lebih tahu masalah waktu-waktu sholat”.

Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah pasti sejalan dan seia sekata (tidak ada pertentangan di dalamnya).

Nanik Desimiati Kalau sy fahami ada ketegasan syafaq bagi yang suka menunda ke isya. Intuisi sy kesyukuran cahaya sekecil itu lemah penyukuran dan sebesar itu lebih bagus tak tertunda di awal yang ternyata bercahaya shg sebesar persiapan bekal didahului segembira penyambutannya di waktu fajr yng penuh persiapan yng luar biasa untuk siang maupun malam spt utuk hidup dan mati.
Zainal Syam Arifin bukan hanya hadis mengenai waktu magrib di atas bahkan hadis mengenai waktu shubuh pun banyak perbedaan, yang satu mengatakan sepulang masjid hari sudah terang sehingga masih bisa melihat lembing/tombak yang dilemparkan sedangakn yang satu lagi (aisyah) mengatakan ketika pulang hari masih gelap. Kalau kita memutuskan memilih salah satu, berarti kita memilih berdasarkan yang kita sukai.

Zainal Syam Arifin ya karena waktu syafaq ini sangat singkat, maka persiapannya harus dilakukan sebelum kemunculan syafaq, sehingga sholat magribnya benar-benar dilakukan di waktu syafaq. Maka kegembiraan dalam mempersiapkannya ini juga yang menentukan keutamaan, sebagaimana kita menunggu kereta api cepat yang hanya mampir sebentar, jika kita tidak persiapkan sebelumnya maka kereta pun pergi, berlalu begitu saja dari hadapan kita.

Zainal Syam Arifin lagi pula, syariat tentang sholat jamak ini, menurut yang saya pahami baru dibolehkan belakangan menjelang akhir hidup nabi atau setidaknya beberapa bulan/tahun sebelum nabi wafat, bukan sejak awal perintah sholat, yang dalam bahasa hadis n…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin Seharusnya mereka menunda sampai hilang syafaq baru lanjut sholat isya, atau kalau mereka cukup smart dalam mengatur waktunya, mereka sholat magrib dulu beberapa menit sebelum hilangnya syafaq, kemudian setelah selesai sholat magrib, sudah “pas” syafaq menghilang (sudah masuk isya), karena hilangnya syafaq bagaikan kereta yang lewat (terbenam ke bawah ufuk), bukan menghilang perlahan secara gradasi.

Kakak Annas Nyimak aja para Pakar telah berkomentar..

Nanik Desimiati Syafaq hnya tahu barapa tinggi lidah maksimum yng tlah terbenam bentuk dasar matahari sedari magrib. Dan lidah mthri adalah yng lepas dr bentuk dasar spt kringat yng lepas identas kematahariannya. Jadi identitas magrib 1,1 hingga 14 tidak hilang yaitu sudah terasing saat ‘benam terapung’, apalagi saat benam melayang 17-19, dan sangat benam/terbenam 20.. terdasar di isya.

Nanik Desimiati ‎14-17 benam melayang dan 17-19 tenggelam

Nanik Desimiati Ketika banyak diksi2 ghurbat ialah ciri adaan terasing sebelum hilangan yang pasti terasing. Jadi smakin hilangan smakin hilangan nilai adaan kemagribannya. Spti aturan runtut diminish porsi waktu.

Nanik Desimiati Porsi waktu mauqutaa masing2 selain gurbat

Nanik Desimiati Alaa waqtihaa / tiba afdholan

Nanik Desimiati Spt saat datang ashr/awal gelincir lebih terpahami, dhuhr terhapus nilai adaan terjlas yang berkurang tapi takterkucil di ‘ashr sampai dhuhr terbunuh di waktu maghrib krn hilang adaan terjelas matahari

Tony Wang menurut saya, Islam adalah agama mudah, kacek2 thithik … gak masalah lah … Dosa ? kalo salah ? Tapi yg penting ,

Nanik Desimiati Mudah nyaman belum aman tapi aman lebih menentukan.

Zainal Syam Arifin lagi pula melihat syafaq itu mudah, juga lebih aman

Nanik Desimiati Ya yng dr pesantren mungkin ingat hadits batas akhir krn ada batas awal dn terglincir maximal terpisa dg subh pada tengah interval keterglinciran lain dan paling aman ada ternyata di antara interval alaa waqtihaa/on interval tergantung ahwal.

Lin Tarsih Kami simak kata per kata…tapi terlalu sulit bagi kami utk mengerti sbg awam… tapi sebagai referensi keilmuan kami berterimakasih atas kajian ini khususnya Om Zainal Syam dan Bude Nanik…

Haniifa Rubi Wahhh… salah copas neeh aku… hikz.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal: Alhamdulillah sayah berdiskusi dengan topik yang sama, oleh karena itu biyar sayah copas ke sini… soalnya saya mau copas juga artikel sampean… Hatur tengku….

Haniifa Rubi Ayo Momod : ” Rasulullah tidak membuat isme seperti yang anda tulis, tetapi mengikuti apa yang diwahyukan yakni Quran.”
_____________________
Mohon maaf mulai sekarang sayah panggil sampean jadi @Oom Ngoyo Lemod… alasanya sudah jelas-jelas sayah tuliss “Kaum Orientalis” dan saya bukan golongan orientalis, ngerti sampean def. orientalis ?!

Bek to Al Qur’an versi sampean….

=>Ayo Momod : “hemat saya: jika waktu globalnya dibagi 2 yakni siang-vs-malam dan matahari sebagai pertandanya maka disaat tenggelam matahari itu termasuk bagian dari malam.”
_______________________
Statement sampean diatas ini SERUPA tapi TAK SAMA dengan pendapat sayah, jadi kalau sayah hanya sekedar menginginkan keuntungan sesaat sudah barang tentu saya amiini, dus… keingintahuan @Mas Yudhi tentang QS 2:187 … tuntas tas…
Lalu alasan apakah yang membedakan sampean dengan sayah ???
Ilustrasinya bejinih.
Sampean dengan saya sama-sama mempunyai jarak 0,00001 terhadap bilangan 0, perbedaanya sayah dari arah POSITIP sampean dari arah NEGATIF jadi jelas akan sangat bertolok belakang jika diukur dari TANDA BILANGAN… hehehe…

Bukti:
Sampean jump to conclution jika mengangap matahari terbit dan tenggelam hanya dalam SATU perspektif invers padahal menurut AL QUR’AN ada DUA INVERS.
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

Tuhan yang memelihara DUA TERBIT matahari dan Tuhan yang memelihara DUA tempat terbenamnya. [QS 55:17].

Bukti ilmiah (fakta): berdasarken garis LINTANG UTARA dan SELATAN.
Matahari terbit:
1. Terbit matahari dari (0° – 23,55° LU ) : Bujur TIMUR (BT)
2. Terbit matahari dari (0° – 23,55° LS ) : Bujur Timur (BT)

Matahari terbenam:
1. Terbit matahari dari (0° – 23,55° LU ) : Bujur BARAT (BB)
2. Terbit matahari dari (0° – 23,55° LS ) : Bujur Bara (BB)

Contoh kasus yang paling amat sangat super banget sederhana .. .hehehe…
Jika matahari TERBIT pada 0,1° LU : BT dan TERBENAM pada 0,1° LS : BB, ..

APA ADA SATU EKOR MANUSIA YANG BISA MENENTUKAN BATAS-BATAS SIANG DAN MALAM ?!

Jika sampean percaya kepada Al Qur’an sebagaimana sayah percaya kepada Al Qur’an maka jawabanyah adalah QS 73:20.
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ
‘Audzu billaahiminasy syaithonir rojim
Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maha benar ALLOH dengan segala firmanNya.
____________________
Perhatiken kalimat: “Dan Allah menetapkan ukuran MALAM dan SIANG. Allah mengetahui bahwa KAMU SEKALI-KALI TIDAK DAPAT MENENTUKAN BATAS-BATAS WAKTU-WAKTU itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu”

=> sekarang mari kita bahas mengenai 2:144
Apapun AGAMA SAMPEAN dan atau KEYAKINAN SAMPEAN, maka Al Qur’an itu milik bersama … oleh sebab itu sayah jelasken INTI dari QS 2:144 adalah suratu formulasi relasional yaitu MANY to ONE atau hubungan “banyak ke satu”
Dhus… kalau sampean melebarken masalah dengan derivasi relasional tersebut maka dari MANY to ONE menjadi MANY to MANY maka dengan amat sangat terpaksa sayah imbangi denga syari’at for one menjadi many (Shalat, Umroh dan Haji) … hehehe…

Paham sampean sekarang !!!

Ibarat sampean melangkahken bidak catur .. mohon maaf @Oom Ngoyo Lemod .. sayah dah bisa baca tuh… hikz.

Haniifa Rubi Bijimana neeh @Oom Ngoyo Lemod, bisa sampean koling kolegamu.. yang paling jagoan Astrofisika ?!
Sebab sang jagoan sakan sayah kataken super idiiot kalau tidak setuju dengan menempatken 3 (TIGA) titik point untuk menentuken batas-batas MALAM dan SIANG di bumi yang berputar ini…. hehehe….
Jangan lupa sesuai dengan syrii’at Islam, saksi syah jika ada 2 laki-laki dan atau 1 laki-laki + 2 perempuan…. hikz.

Assumi : Ada seorang Prof. Tua-tua bangke yang setuju
1. Menempatken orang pada posisi Terbit Matahari. (A)
2. Menempatken orang pada posisi dua tepian siang (B)
3. Menempatken orang pada posisi Terbenam Matahari. (C)
dus…
Insya Alloh, sayah jamin SEJUTA PERSEN ketika matahari bergeser 1° maka kata si A = ya benul, si B = wah, lebih sediikiiiiiiit sekali dan si C = Wahh lebih sekali dunk… hahaha…

Why ?!
BUMI sekali rotasi => 24 x 60 x 60 = 86400 detik
Keliling Bumi => 2 . π . r dengan r = Jari-jari khatulistiwa 6.378,1 Km
Keliling Bumi => 2 x 22/7 x 6.378,1
Keliling Bumi => 40.091 Km

Jadi kecepatan bumi berputar adalah 40.091 / 24 = 1.670 Km/Jam
Padahal KECEPATAN SUARA hanya 1238 Km/Jam

*** HEHEHE… TIDAK ADA MODEM atau converter inverter yang sanggup melebihi kecepatan ini, belum lagi faktor corection dan parity check ***

note:
Jangan ngoceh soal fiber optic, kecuali sampean mau sayah sebut LEMOD dan DUNGU.. hehehe…

Haniifa Rubi Ayo Momod said: “oOH iyakah?
kalau saya coba bikin gambaran malam menjadi 3 bagian begini bisa bagaimana kang,?
1. awal malam (di mulai sejak matahari tidak kelihatan lagi)
2. tengah malam
3. akhir malam (masuk bagian siang disaat matahari sudah kelihatan)
———
Respon by Haniifa:
=> hahaha.. mulai lemod lagi neeh sampean …😦
Contoh 1: nanti seunae udel lagi dunk, misalnya matahari dibalik gunung… hehehe….
(silahken sampean baca ta’awudz diatas ),
Sayah kutip Surah QS. Al-Kahfi ayat: 86.
حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا
“Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”
—————————–
PERHATIKEN KALIMAT “DILUMPUR YANG HITAM”
Plankton dan Zooplankton menabsordsi cahaya matahari, hingga warna air laut (biru) kemampuan hewan dan tumbuhan ini tidak sama dengan warna biru dilangit (nda perlu sayah jelasken soal ini), tapi subtansinya perubahan warna air laut menjadi MENUJU HITAM PEKAT, inilah tanda-tanda GELAPNYAH MALAM.
Dhus,… banyak yang keliru menterjemahken sebagai Viskositas (Kekentalan air laut karena memaknai kata LUMPUR) padahal yang dimaksud adalah “kekentalan sifat warna hitam” ( baca gradasi ).

Jadi saran sayah, sampean nongkrong dilaut trus bikin alat spektometer sendiri buat daftar wakuncar… hahaha….

Haniifa Rubi ‎=> TO ALL: SAYAH TUNGGU RESPON KALIAN !!!!

..:: End ::..

😀

Wassalam, Haniifa.

7 Responses to “Kalau antum berakal TAMAT”

  1. […] Kalau antum berakal TAMAT […]

  2. syro said

    sebenarnya, apakah matahari yang kia lihat secara langsung itu matahari itu sendiri ataukah matahari 5 menit yang lalu. karena jarak matahari jauh dan cahaya matahari ke bumi juga butuh waktu.

  3. syro said

    apakah matahari yang kita lihat secara langsung itu matahari itu sendiri ataukah matahari 5 menit yang lalu, karena cahaya matahari menuju bumi dengan jaraknya yang jauh memerlukan waktu. Bintang yang jauh disana terlihat berkedip karena jaraknya yang jauh.

    • @Kang Syro
      😀 subtansinya bukan waktu perjalanan cahaya yang kita terima dari matahari, tapi posisi matahari yang kita lihat itu sebenar-benarnya hanya tepat ketika bayangan diatas batok kepala kita,( lih. dua tepian siang) , singkat kata baik arah dari pagi hari maupun sore hari adalah posisi relatif matahari karena pembiasan atmosfer bumi.

      • syro said

        jadi, nggak ada hubungannya ya kang. matur nuwon pencerahannya. sebab di daerah saya ada yang mulai buka puasa hanya lihat kelelawar udah muncul secara normal. matur nuwon sanget kang.

      • @Kang Syro
        Alhamdullah, berarti fardu ‘ain yang tahu sudah sampean terima … smoga sampean diberi ketabahan dan ketenangan membuka mind set tatanan daerah sendiri.
        Bukankah Alloh, tidak akan merubah nasib suatu daerah, kalau orang didaerah tersebut tidak mau mencoba mengubah perilakunya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: