حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Kalau antum berakal bag-2

Posted by حَنِيفًا on August 7, 2012

Assalamu’alaikum,

Artike ini hanyala diskusi hangat dari lanjutan sebelumnya….

..:: Begin ::..

FAJAR vs. SYAFAQ DAN POLEMIK NAHAR & LAIL
_______________________________________

“Maka AKU bersumpah dengan SYAFAQ”

“Dan LAIL dan apa yang Menyelubungi (WASAQ)”
“Dan BULAN apabila SEMPURNA (TASAQ)”
(Al Insyiqaq[84]:16-18)

Sangat menarik bahwa kalimat وَسَقَ dan ٱتَّسَقَ hanya satu kali disebutkan dalam al Qur’an yaitu pada ayat di atas.

Saya kesulitan memahami arti/makna dari ٱتَّسَقَ karena tidak saya temukan penggunaannya dalam ayat lain dan juga tidak dapat saya temukan dalam kamus al Munawir edisi kedua sehingga saya menggunakan saja terjemahan depag bahwa ٱتَّسَقَ artinya sempurna terangnya atau bulan purnama, sedangkan وَسَقَ bermakna sempurna gelapnya, sehingga diterjemahkan sebagai menyelubungi.

Sudahkah anda melihat “keserupaan” dalam kedua ayat 84:17 dan 84:18? Keduanya menggambarkan kemiripan proses dari tidak sempurna menjadi sempurna. Kalau di ayat 17 menggambarkan LAIL yang menjadi sempurna Gelapnya, maka di ayat 18 mengambarkan Bulan yang sempurna Terangnya. Kedua ayat itu sama-sama menggambarkan Proses yang bermula dari “ketidak sempurnaan”.

Dari diskusi saya dengan Nanik Desimiati, beliau mengatakan bahwa awal ketidak sempurnaan LAIL dimulai dari terbenamnya matahari bahwa awal dari ketidak sempurnaan dimulai dari syafaq sedangkan awal dari ketidak sempurnaan syafaq dimulai dari terbenam matahari, sedangkan saya beranggapan dimulai dari hilangnya SYAFAQ, dengan kata lain dimulai dari SYAFAQ Kadzib, karena saat itu malam belum sempurna, dimana saya menyebutkannya sebagai “Permulaan Malam”, sebagaimana saya menyebutkan Fajar Shadiq sebagai Akhir Malam.
Alasan saya, karena kesamaan kedua ayat 84:17 & 84:18 itu, maka tidak layak ayat 84:16 disatukan maknanya dengan ayat 84:17 seperti argumen mbak Nanik. Dan alasan saya bahwa justru SYAFAQ disebutkan secara terpisah dengan WASAQ-nya LAIL. Sedangkan penyebutan SYAFAQ tidak mengikuti pola dalam ayat 17 & 18. Seandainya tidak ada ayat 84:18, maka argumen mbak Nanik bisa diterima. Tentu bukanlah Maksud Sia-sia ALLAAH memasukkan ayat 84:18 kecuali untuk menguatkan bahwa SYAFAQ yang dimaksud dalam ayat 84:16 bukanah bagian dari WASAQ-nya LAIL di ayat 84:17.
Dengan kedalaman ilmunya mbak Nanik pun menggambarkan secara matematis dalam diskusi saya dengannya, dimana gelap dimulai dari terbenam matahari, dan mengalami proses sampai gelap itu sempurna. Benarkah logikanya?

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepadanya, saya sebenarnya tidak perlu menyodorkan ayat Q.S Hud[11]:114 dibawah ini untuk semakin menguatkan pemahaman saya di atas.
SECARA LOGIKA, ALAM SEMESTA INI MULANYA ATAU DEFAULT-NYA GELAP, SAMPAI ADA CAHAYA YANG MENYINARINYA SEHINGGA MENJADI TERANG. JADI KALAU GELAP BUKAN KARENA ADA CAHAYA YANG GELAP MELAINKAN KARENA KETIADAAN CAHAYA. KARENA ITU, “CAHAYA” SIFATNYA MENGALAHKAN “GELAP”, SEHINGGA SEDIKIT PUN ADA CAHAYA MAKA DI KEGELAPAN MISALNYA ADA LAMPU DI MALAM HARI, MAKA HAL ITU MENJADI TERANG.
Istilah “NAHAR” (Siang) dan “LAIL” (Malam) sebenarnya menggambarkan masih adanya cahaya yang terkena sumber cahaya matahari (LAIL mewakili GELAP sedangkan NAHAR mewakili Cahaya). Kalau kita ibaratkan matahari sebagai lampu senter dan bumi sebagai bola, maka LAIL wan NAHAR maksudnya seperti bola yang diletakkan dalam tempat gelap (Secara Default alam semesta gelap, sehingga kita umpamakan diletakkan di tempat gelap) kemudian disenter sehingga ada sisi bola yang menghadap lampu senter menjadi terang (NAHAR) dan dibelakangnya tetap gelap (LAIL). JADI APAPUN YANG MASIH TERDAPAT CAHAYA, SEBENARNYA MASIH BISA KITA SEBUT TERANG/NAHAR KARENA CAHAYA MENGALAHKAN GELAP TADI.
OLEH KARENA ITU KALAU KITA KEMBALIKAN PROSES YANG TERJADI PADA BUMI, KONDISI PERALIHAN (PERBATASAN) SIANG DAN MALAM, KETIKA CAHAYA MATAHARI MASIH TERLIHAT, MESKIPUN KADARNYA SEDIKIT ATAU MESKIPUN HANYA SEBERCAK CAHAYA MERAH (IBARAT LAMPU REDUP), SUDAH SEPATUTNYA KITA MASIH MENGANGGAPNYA SEBAGAI SIANG (NAHAR).
Sekarang kita lihat yang mana yang mendapatkan Pengakuan ALLAAH terhadap ciptaan-NYA sendiri dalam pemberian nama atau pembagian waktu ini?

Lihatlah ayat berikut:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(Q.S Hud[11]:114)

Ternyata sholat yang dilaksanakan pada pagi (Sholat Fajar) dan petang (Sholat Magrib) ini ALLAAH sebut sebagai Ujung طَرَفَيِ dari Siang النَّهَارِ . Bukankah berarti masih termasuk sebagai bagian dari Siang karena masih ditemukannya cahaya meskipun sedikit sehingga disebut sebagai ujung/tepi طَرَفَيِ ?

Cahaya Siang pada Pagi hari disebut Fajar Shadiq (ayat al Baqarah:187) sedangkan Cahaya Siang pada Petang hari dinamakan Syafaq Shadiq (ayat insyiqaq:16).

“Dihalalkan bagimu pada malam (lail) puasa…….
Makan dan minum sampai jelas bagimu Benang Putih dari Benang Hitam, yaitu FAJAR. Kemudian Lengkapkan/Cukupkan Puasa sampai Malam (Lail)….”
(Al Baqarah:187)

DENGAN DEMIKIAN, MAKA PERMULAAN MALAM ADALAH SAAT SYAFAQ KADZIB (HILANGNYA SINAR MATAHARI BERWARNA MERAH), YANG BERDASARKAN RU’YAT SAYA DI DUA TEMPAT (YOGYAKARTA DAN KENDARI) TERJADI PADA DERAJAD KETINGGIAN MATAHARI DIBAWAH UFUK DIMULAI 14° SETELAH TERBENAM. SEDANGKAN AKHIR MALAM ADALAH KETIKA MATAHARI BERADA DIKETINGGIAN DERAJAD 14° JUGA DIBAWAH UFUK. 13° sudah/masih bisa disebut sebagai Ujung Siang (Fajar Shodiq & Syafaq Shadiq).

JADI, SHOLAT ISYA SEHARUSNYA SUDAH BISA DIMULAI PADA SAAT SYAFAQ SHODIQ YANG SAYA HITUNG SEKITAR 56-67 MENIT SEJAK TERBENAM MATAHARI, SEDANGKAN SHOLAT FAJAR (SHUBUH) JUGA SEHARUSNYA DILAKSANAKAN PADA 14° YAITU SEKITAR 56-57 MENIT SEBELUM TERBIT MATAHARI.

JADI, DIWAKTU MANAKAH ANDA BERBUKA PUASA, APAKAH DIWAKTU SYAFAQ ATAUKAH DIWAKTU PERMULAAN MALAM وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ YAITU 56-57 MENIT SETELAH TERBENAM MATAHARI?

ANGKA 56-57 ADALAH RU’YAT SAYA, YANG BISA SAJA KELIRU, SILAHKAN MEMBUKTIKAN SENDIRI.

TETAPI KALAU ADA YANG MENGATAKAN BAHWA PADA MENIT 35 ATAU 40 SETELAH TERBENAM MATAHARI, SINAR MATAHARI MERAH SUDAH HILANG, MAKA SAYA BERANI DISUMPAH BAHWA “BELIAU BERDUSTA” KARENA SAYA MASIH MELIHAT MEGA MERAH ITU SAMPAI MENIT 45-56 SETELAH MATAHARI TERBENAM.
ANGKA 56-57 MENIT INI TENTUNYA RELATIF BERDASARKAN LINTANG BUMI (BUKAN BUJUR). INI DISEBABKAN MATAHARI BERGERAK MEMBUJUR. KARENA ITU UNTUK WILAYAH INDONESIA YANG ARAHNYA DI LINTANG SELATAN (MISALNYA PULAU JAWA, NTB/NTT, MAKASAR, KENDARI, DLL), SAYA YAKIN SAMA-SAMA PADA PATOKAN 14° KECUALI WILAYAH YANG LINTANGNYA LEBIH UTARA MISALNYA MENADO, KALIMANTAN BAGIAN UTARA, TERNATE, DLL PERLU DIBUKTIKAN DULU DENGAN RU’YAT (WALAUPUN SAYA MASIH YAKIN BAHWA ANGKA ITU MASIH DALAM KISARAN YANG SAMA).

BAGAIMANA DENGAN UJUNG SIANG? APAKAH DIMULAI DARI 0°? YANG INI SANGAT BERVARIASI, SAYA TIDAK BERANI MENETAPKAN KARENA PERLU AHLI FIQIH, NAMUN KALAU PUN BOLEH IKUT MENYUMBANG SUARA, MAKA
AWAL MUNCULNYA MEGA MERAH PADA SEKITAR 11° – 14° YANG MERUPAKAN “WAKTU UTAMA” SHOLAT MAGRIB.
DEMIKIAN JUGA PADA WAKTU FAJAR SEKITAR 14° – 11° YANG MERUPAKAN “WAKTU UTAMA” SHOLAT FAJAR. UNTUK SEMENTARA SAYA MENYEBUT ANGKA 11° (SILAHKAN DIKOREKSI LAGI DENGAN RU’YAT ANDA).

DAN ANGKA-ANGKA ITU (11°-14°) BUKAN UNTUK BERBUKA PUASA MELAINKAN UNTUK SHOLAT MAGRIB.

SEDANGKAN UNTUK BERBUKA HARUS PADA PERMULAAN MALAM (14°).

Saya menyadari tulisanku ini akan menjadi kontroversi. Silahkan menuliskan bantahan kalau menurut anda keliru.

RANGKUMAN:

– PERMULAAN MALAM: SYAFAQ KADZIB (14°-17°), WAKTU DIMANA SEHARUSNYA KITA BERBUKA PUASA, KECUALI ADA HADIS YANG MENGATAKAN “MENYEGERAKAN” BERBUKA PADA WAKTU SYAFAQ KADZIB ATAU BEBERAPA MENIT SEBELUM 14°
– AKHIR MALAM: FAJAR KADZIB (17°-14°)
– UJUNG/TEPI SIANG: SYAFAQ SHADIQ (11°-14°) dan FAJAR SHADIQ (14°-11°) yang merupakan Waktu Utama untuk Sholat. Jika Misalkan Anda Telat Bangun untuk Sholat Fajar maka itu disesuaikan dengan fiqihnya apakah diluar waktu utama di atas masih termasuk tepi atau bukan. Dan kecuali angka 14° yang saya berani pertanggung jawabkan, angka 11° itu hanya perkiraan saya saja.

MA’AF INI JUGA BERAT MENGATAKANNYA, TETAPI SAYA HARUS MENGATAKANNYA.

 _______________________________________________

    • Eko Budi Prabowo dua tepi siang apa ga salah buat subuh dan magrib?bagian permulaan malam untuk sholat apa?aneh juga ya membedakan waktu brbuka dan waktu magrib.
    • Eko Budi Prabowo rukyat pake derajat sy malah tambah pusing.
    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowo, lihatlah al Qur’an terjemahan Depag, dua tepi siang ditafsirkan sebagai sholat pada pagi dan petang. Tanda kurung “(Pagi dan Petang)” adalah tafsirnya.

      Semua Mufassir (Ahli Tafsir) sepakat bahwa kedua tepi siang itu adalah Pagi dan Petang.

      Tentang membedakan waktu berbuka dan magrib, karena tidak ada dalilnya dalam al Qur’an berbuka (Ifthar) di waktu ujung siang, sedangkan al Baqarah:187 menyebutkan untuk berbuka ketika LAIL. BUkanah Hud:114 menyebutkan salah satu dari ujung /tepi siang itu adalah sholat magrib? (memang tidak disebutkan nama sholatnya, tetapi kita semua tahu bahwa hanya sholat magrib, sholat fardhu yang dikerjakan di waktu petang)

      Kemarin jam 12:08 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo apa ga brlebihan akang bilang ‘beliau brdusta’?ya emang ada ustadz sy yg bilang 45 menit stlah adzan magrib sunni.
    • Zainal Syam Arifin tentang ru’yat derajad itu, adalah HISAB MENGIKUTI RU’YAT, setelah ru’yat dipastikan pada menit keberapa, lalu disesuaikan dengan HISAB pada menit itu berapa ketinggian matahari dibawah ufuk. Dan pengalaman saya adalah pada derajad 14.
    • Zainal Syam Arifin Saya maksudkan beliau berdusta kalau mengatakan Mega Merah Sudah HIlang pada menit 40 atau 45, karena buktinya bahkan sampai menit ke-45 bahkan sampai menit 55, mega merah masih tampak di ufuk. Saya bersedia disumpah mengenai kesaksian saya ini.
    • Eko Budi Prabowo beliau bilang mega merah dah hilang.trjemahan depag emang gitu?tpi apa iya pagi dan petang untuk subuh dan magrib.permulaan malam lah yg magrib.mungkin akang salah maksud.
    • Eko Budi Prabowo trjemahan depag emang gitu tpi apa pagi dan petang untuk subuh dan magrib.permulaan malam lah yg buat magrib.
    • Zainal Syam Arifin Demi ALLAAH saya berani disumpah, untuk wilayah pulau Jawa, pada menit ke 45 – 50 sejak terbenam matahari, mega merah BELUM HILANG.

      Kalau bukan magrib dan shubuh lalu apa dong? Apakah sholat Ashar yang dalam berbagai hadis disebut sholat Wustha? Kalau ashar lalu pasangannya sholat apa? Bukankah di ayat Hud:114 itu disebutkan dua sholat? Ayat itu bermakna Perintah (Fardhu) berarti maksudnya Sholat Fardhu oleh kalimat aqiimu atau “mendirikan”, berarti perintah untuk dikerjakan terus menerus (sebagai suatu kewajiban dong?).
      Sehingga Kalaupun “dipaksakan” untuk Sholat Ashar dengan Dhuha, namun kenyataannya sholat Dhuha bukanlah Sholat Fardhu (bahkan tidak ada dalilnya dalam al Qur’an).

    • Zainal Syam Arifin Permulaan Malam adalah Sholat Isya dan AKhir Malam adlah Sholat Tahajud (Sholat Lail) yang afdholnya dikerjakan semakin mendekati waktu Fajar Shodiq.
      (Karena itu meskipun mutawatir hadisnya menyebut sholat wustha itu adalah hanya sholat ashar, dalam hati dan pikiran saya cenderung menyebut bahwa sholat wustha itu adalah sholat di waktu Dhuhur dan Ashar meskipun saya masih bimbang apakah sholat fardhunya ataukah sholat sunnahnya atau termasuk keduanya. tetapi ini cukup dalam hati dan pikiran saya saja dulu, tidak usah diperdebatkan).
    • Eko Budi Prabowo sy ga bgitu paham ttg kesaksian dan sumpah.
    • Zainal Syam Arifin baiklah. Saya sering meru’yat SYAFAQ ini, boleh dikata setiap hari setelah berwudhu lalu naik ke kamar saya, selama lebih dua tahun setiap petang selalu melihat syafaq kecuali jika langit mendung.
    • Eko Budi Prabowo istilah akang juga aneh.syafaq kadzib,syafaq shodiq.2 ujung siang adalah subuh,dzuhur dan asar.permulaan malam adalah magrib isya.lail untuk puasa jg adalah prmulaan malam.
    • Eko Budi Prabowo rukyatnya harus di lapangan mungkin.gimana kalo dr kamar yg keliatan cahaya lampu?
    • Eko Budi Prabowo gimana kalo sy pake software?
    • Zainal Syam Arifin baiklah, SYAFAQ ada dalam Insyiqaq:16. Demikian juga FAJAR ada dalam al Baqarah:187. Istilah Fajar Shodiq dan Fajar Kadzib tidak ada dalam al Qur’an hanya ada dalam Hadis. Tetapi istilah Syafaq Shodiq dan Syafaq Kadzib “TIDAK ADA” dalam hadis. Itu hanyalah Pemberian Nama dari saya yang meniru Pemberian Nama Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq. Pada dasarnya FAJAR adalah Fajar Shadiq, sehingga namanya juga bohong/dusta/kadzib maka Fajar Kazib bukanlah FAJAR, demikian juga SYAFAQ KADZIB BUKANLAH SYAFAQ. Istilah ini hanya untuk mengenali Gejala yang Terjadi dan Mengikuti Kaidah Pemberian Nama pada FAJAR.
    • Zainal Syam Arifin Kalau Antum Memehami Apa itu “TEPI/UJUNG” mestiya tidak memasukkan sholat Dhuhur dong?
    • Zainal Syam Arifin Kalau Antum Memasukkan Shubuh dan Ashar, bukankah itu tidak imbang? Padahal Hadis Ahlul Sunnah menyebutkan Ashar adalah Sholat Wustha.
    • Zainal Syam Arifin Semakin Tampak di depan mataku, apa salah satu hakikat rahasia (Hikmah) kenapa yang Fardhu itu hanya ada Lima. Sebab ALLAAH mengetahui Perselisihan Umat Nabi mengenai Waktu ini yang akan terjadi sepeninggal Nabi-NYA.
    • Eko Budi Prabowo sy maklum alasannya tpi fiqih bahasa ga mengenal istilah syafaq kadzib dan shodiq.yg dikenal mega merah dan putih.bahkan kalo dimutlakkan maksudnya mega merah.dzuhur kan bisa diundurkan.
    • Zainal Syam Arifin Ya memang kan sudah saya sebutkan diatas bahwa istilah “Syafaq Shodiq dan Syafaq Kadzib” itu istilah baru dari saya, hehehehe.

      Cobalah cermati ulang dan cermati ayatnya, serta hilangkan dalam hati untuk mencari Pembenaran dari apa yang anda ketahui. Saya pun seperti anda pada mulanya, namun pemahaman tidak akan sampai kepada saya kalau saya menganggap bahwa yang sudah saya ketahui sudah benar sedang yang di hadapanku keliru.

      Antum tentu tahu apa artinya “wustha” dalam al Baqarah:238 bahwa maknanya “pertengahan”

    • Zainal Syam Arifin Coba Search hadisnya tentang “wustha”, mutawatir dalam kitab Buhori Muslim, menyebut sholat ashar, kalau gitu yang dimaksud Sholat di Kedua Tepi/Ujung Siang itu sholat apa? Yang Jelas Sholat Dhuhur bukanlah “Ujung”. Mau menyebut Isya tidak mungkin. Tinggal Tersisa Sholat Shubuh dan Magrib.
    • Eko Budi Prabowo nnti sy cari dulu..
      Kemarin jam 13:17 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin coba cari diwww.indoquran.com kemudian search dengan kata kunci “wustha”

      indoquran.com

      Quran Online Terjemahan dengan bacaan, Online Quran Translation with audio, Hadi…Lihat Selengkapnya
      Kemarin jam 13:20 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Dalam kamus Arab Indonesia al Munawwir edisi kedua, halaman 1558 makna وَسَقَ bisa ditafsirkan “Menjadi Penuh” atau Purnama, atau Menguliti atau memuati, mengumpulkan, menjadi luas. Namun yang lebih cocok maknanya adalah semakin menjadi sempurna/penuh gelapnya.
    • Zainal Syam Arifin Sehingga bila diterjemahkan sebagai “menyelibungi” tidak mengapa asalkan makna “Kesempurnaan (menjadi penuh/sempurna)” itu ada dalam pemaknaannya.
    • Zainal Syam Arifin Dalam kamus al Munawwir Arab-Indonesia edis kedua halaman 1557, makna kalimat ٱلْوُسْطَىٰ memiliki pemaknaan “ditengah-tengah” yang bisa digunakan untuk mengambarkan kalimat:
      di tengah orang ramai (umum), tengah hari, tengah malam, memotong jadi dua, meletakkan di tengah, tengah rumah, di tengah-tengah sesuatu, dll pokoknya maknanya “di tengah sesuatu” atau bisa membelah dua di tengah.
      Kemarin jam 14:09 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo kenapa ya sholat wustho itu sholat ashar.sy malah ga tau.emang ini pndapat masyhur.akang bilang mutawatir dlm bukhori muslim tpi tidak juga.
    • Nanik Desimiati Wustho asar jk sistem permulaan yaum qomariah mgrib dst 34244 mk wusto subuh. Jika permulaan yaum syamsiah awal solat subuh dst 24434 mk wusto dhuhr.
    • Nanik Desimiati Sorry asar bkn dhuhur
    • Zainal Syam Arifin ya setidaknya hadis bukhori muslim dipandang shohih sebagai kitab ahlul sunnah wal jama’ah.
      Pemahaman wustho juga menurut pendpat saya pribadi tidak cocok hanya untuk ashar. Jika kita mengambil makna membagi dua, saya justru enganggap wustha adalah dhuhur& ashar di tengah hari dan isya dan atau lail saja ( di tengah malam)
    • Zainal Syam Arifin Dalam suatu perbincangan, ada tersirat orang yang menafsirkan makna “di tengah” ini maksudnya dalam posisi seperti ini:

      Shubuh – Dhuhur – ASHAR – Magrib – Isya

      Namun saya belum menemukan manfaat pemaknaan seperti ini. Ibarat kita memilih pertengahan dari keliling sebuah roda, tidak ada patokannya ditengah-tengah yang dari mana sampai mana.

      Berbeda kalau kita mengatakan bahwa Kedua Tepi Siang adalah Magrib dan Shubuh, maka wustha ini bisa bermakna sholat dhuhur & Ashar serta Sholat Lail.

      Kemarin jam 14:28 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo kembali k kebahasaan.melulu ayat itu aj.kata akang 2 tepi siang itu shubuh dan magrib.permulaan malam itu isya?waktu magrib trmasuk siang?
      Kemarin jam 14:30 · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Jadi wusto ashr dan subh. Yng kedua wusto sbg sunnah muakkad/nyaris wajib diantara solat2 wajib
    • Zainal Syam Arifin Akibat pemaknaan wustho pada keliling sebuah siklus, tidak ada rujukan atau patokan permulaan dan akhirnya akibatnya menjadi simpang siur, ada yang mengatakan wustho itu ashar, ada juga mengatakan shubuh atau dhuhur seperti gambaran dari mas Nanik Desimiati di atas.

      Magrib – Isya – SHUBUH – Dhuhur – Ashar atau
      Isya – Shubuh – DHUHUR – Ashar – Magrib

    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowo, yap…… Magrib termasuk ujung/tepi dari siang
    • Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, kenapa ada pendapat seperti ini:
      “Yng kedua wusto sbg sunnah muakkad/nyaris wajib diantara solat2 wajib”

      bukankah semua yang fardhu itu wajib? (Fardu=wajib) kenapa menjadi sunnah muakad?

    • Eko Budi Prabowo biarin wustho lewatin aj.kapan2 kita kembali.ya sangat mnarik.sy biasa dikampung dapat wawasan ky gini.satu dr negeri timur nusantara dan satu dr negeri jawa.
      Kemarin jam 14:35 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin oh saya paham maksud “kedua” itu bukan sholat shubuh kan? melainakn sholat sunnah diantaar sholat wajib….. ya saya juga ada pemikiran seperti itu. Tetapi hadis tentang sholat wustha otu sholat ashar dan sudah mutawatir dikalangan ulama adalah sholat ashar, slahkan buka kitab al qur’an maupun software al qur’an terbitan manapun semuanya menafsirkan wustho adalah ashar. Dan ini sangat membantu menepis, bahwa ashar adalah ujung/tepi siang.🙂
    • Eko Budi Prabowo permulaan malam?
    • Zainal Syam Arifin Permulaan malam otomatis adalah saat berakhirnya SYAFAQ, tetapi saat itu malam belum sempurna betul karean masih ada sedikti sisa cahaya matahari tetapi bukan berwarna merah. Karean itu kejadiannya sama peris di waktu pagi sebelum muncul FAJAR Shadiq yaitu Rasulullaah menamakannya FAJAR KADZIB. Itulah sebabnya Permulaan Malam ini saya namakan SYAFAQ KADZIB.
    • Eko Budi Prabowo wustho itu ashar adalah pndapat masyhur blm mutawatir.mayoritas indonesia hrsnya bilang wustho itu magrib. Tpi nnti dulu ttg wustho mah.
      Kemarin jam 14:41 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo lalu permulaan malam untuk sholat apa?
    • Nanik Desimiati Redaksi hafidzu ‘alaa shalawaati (5 waktu) wa shalaati wustho (mu’akkad) prinsip exsklusive prioritas 5 waktu baru wustho sbg komplemen/pelengkap.
      Kemarin jam 14:43 · Suka · 2
    • Zainal Syam Arifin Sebenarnya topik wustho, tidak berpengaruh dalam topik di pic ini, karena kita harus mencari dulu yang mana ujung/tepi siang (nahar) ini.
    • Zainal Syam Arifin Permulaan malam otomatis Sholat Isya dong, karena Sholat Magrib masih termasuk Ujung Tepi Siang, bersamaan dengan Sholat Shubuh yang termasuk Ujung Tepi Siang di salah satu sudut bumi yang lain. Lihatlah gambar di atas.
    • Zainal Syam Arifin Karena SYAFAQ dan FAJAR terjadi secara bersamaan dan setiap saat bahkan saat sedang menulis ini atau siapapun yang sedang membaca ini diwaktu yang lain, SYAFAQ dan FAJAR sedang terjadi di salah satu belahan bumi yang lain, hanya berpindah lokasi saja.
      Kemarin jam 14:51 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Bukankah Mutawatir bisa berarti masyhur? Hanya karena pembagian dalam ilmu hadis saja sehingga dibedakan. Pada dasarnya kalau mayoritas atau bahkan semua ulama mengakui ashar sebagai wustho, maka boleh dong kita anggap sudah mutawatir?
    • Eko Budi Prabowo oh..subuh magrib isya..ditambah sholat wustho yg sunnah muakkad.
    • Eko Budi Prabowo mungkin sy salah bilang.ini pndapat masyhur menurut khalayak .mutawatir masyhur ahad kali lain aj.sy ga ahli bidang hadis.
      Kemarin jam 14:57 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Sholat di Kedua Ujung Tepi Siang adalah Sholat Shubuh (diwaktu Fajar) dan Sholat Magrib (Di waktu Syafaq), sedangkan Sholat di permulaan malam adalah Sholat Isya di waktu Berakhirnya SYAFAQ, yang berdasarkan hasil ru’yat saya, Syafaq (Cahaya Matahari berwarna Merah) menghilang pada saat ketinggian Matahari 14° di bawah ufuk (-14°) dan menjadi Gelap Total saat Ketinggian -17° (Sempurna Gelapnya=WASAQ)
      Jadi Wasaq ketika Syafaq Kadzib menghilang, bukan karena Syafaq Shadiq menghilang.
      Kemarin jam 15:00 · Telah disunting · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Ya maksud saya bukan tingkatan hadis mutawatir, melainkan mutawatir dikalangan ulama ahlul sunnah
      Kemarin jam 15:01 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin masyhur dikalangan ulama ahlul sunnah mengambil hadis di bukhori muslim itu bahkan sudah dipatenkan, saya temukan dalam berbagai al Qur’an terjemahan baik berupa software maupun kitab dari kertas terbitan manapun bahwa sholat wustho adalah sholat ashar, meskipun saya pernah membaca sebuah hadis (hanya satu hadis saja) bahwa sholat wustho adalah dhuhur+Ashar.
      Kemarin jam 15:15 · Telah disunting · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Tetapi inti dari PIC ini adalah DI WAKTU manakah anda Ifthar? Apakah diwaktu Syafaq Shadiq ataukah di waktu LAIL (Permulaan Malam=SYAFAQ KADZIB)?
      Dan diwaktu manakah Waktu AFDHAL Sholat Magrib? Apakah Mendekati 14° seperti Sholat Fajar ataukah mendekati 0° (beberapa saat setelah terbenam matahari)?
      Kemarin jam 15:10 · Suka · 1
    • Pramudya Yanuanto hadits mutawatir -> satu hal yg sama yg diriwayatkan oleh banyak perawi melalui banyak matarantai di mana semua mata rantai itu valid.

      hadits ahad -> satu hal yg sama diriwayatkan oleh banyak mata rantai tetapi perawi yg mendapatkannya dari rasulullah SAW hanya satu orang. Semua mata rantainya valid

      Kemarin jam 15:11 · Suka · 3
    • Nanik Desimiati Tepi siang stelah 0 ialah masuk awal yaum mak solat kaki lail adalah subh magrib
      Kemarin jam 15:17 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, tetapi kenapa antum sebut sebagai sholat kaki lail padahal ayatnya adalah ujung/tepi nahar?
    • Nanik Desimiati Tepi=0 mk ia titik kritis sbg awal malam dan akhir siang
    • Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, kalau antum sudah mengakui/menerima kenyataan bahwa magrib shubuh itu adalah ujung nahar, berarti bukan termasuk lail dalam pandangan ALLAAH dong. Karena ALLAAH tidak menyebut sebagai ujung lail melainkan ujung nahar.
    • Zainal Syam Arifin mas eko, berarti antum berbuka saat masih kategori ujung nahar (siang) menurut ayat Hud:114
    • Eko Budi Prabowo ujung nahar kan sy baru sholat magrib.trus lail sy brbuka.
    • Zainal Syam Arifin Ujung nahar itu adalah sepanjang waktu sholat magrib, berarti sampai hilangnya mega merah itu masih dipandang sebagai ujung nahar, sebagaimaan sholat shubuh sepanjang ada sinar matahari meskipun sedikit (fajar shadiq) maka itu dipandang sebagai ujung nahar juga. Berati antum harus ifthar setelah mega merah hilang.

      Afwan ini berat/pahit mengatakannya, tetapi saya harus mengatakannya meskipun semua orang menentang saya haus menzhahirkan kebenaran yang saya pahami/ketahui.

      Kemarin jam 15:31 · Telah disunting · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Karena sifat terang yang mengalahkan gelap maka cahaya yang ada di tempat gelap masih dianggap bersambung sebagai bagian dari cahaya yang besar (nahar), Itulah sebabnya disebut sebagai ujung.
    • Zainal Syam Arifin Jadi kategori LAIL menurut pandangan ALLAAH bukan berdasarkan terbit tenggelam matahari, melainkan “Keberadaan CAHAYA”.
    • Eko Budi Prabowo untuk sholat shubuh iya tpi untuk sholat magrib itu musykil bagi saya.
    • Zainal Syam Arifin itulah hal yang sama terjadi pada diri saya, sangat sulit saya terima pada awalnya. Tetapi saya akhirnya menyadari bahwa bukan diri saya yang berhak menentukan benar salahnya sesuatu, karena itu saya berhenti menilai benar tidak, melainkan lebih banyak menyimak dan berusaha mengenali yang benar.
      Kemarin jam 15:43 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo keberadaan cahaya matahari yg terlihat adalah bukti ujung siang kedua itu bukan untuk magrib tpi asar.
    • Nanik Desimiati Thorfa nahar (naik ke siang 0 habis subh) dan zulfa minal lail (dekat dari awal malam 0 ) jadi tafsir tepi siang mesti diganti dirikan solat pada tepi malam.
      Kemarin jam 15:44 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin karena itu tulisan saya di atas lebih bersifat paparan (bukan mengajar atau mendikte) yang bisa saja keliru sehingga butuh masukan pendapat dari banyak orang.
      Kemarin jam 15:44 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo ya eye opener buat sy.
      Kemarin jam 15:46 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, bagaimana bisa bahasanya “nahar” tetapi ditafsirkan sebagai “lail”? Bisa dijabarkan dalil kuatnay sehingga nahar diartikan lail pada ayat Hud:114?
    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowo, kalau menerima kenyataan bahwa magrib adalah ujung nahar, bukan ashar karena ashar termasuk wustho, apalagi secara alamiah, fajar dan syafaq adalah kedua ujungnya (lihat gambar di atas) maka mestinya magrib adalah ujug nahar dong.
    • Zainal Syam Arifin ‎:
      Bagaimana mungkin saya merubah huruf al Qur’an dari siang atau nahar ٱلنَّهَارِ menjadi lail pada ayat berikut ini?

      وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ
      Dan dirikanlah وَأَقِمِ sembahyang itu ٱلصَّلَوٰةَ pada kedua tepi طَرَفَىِ siang ٱلنَّهَارِ (pagi dan petang) …. (Hud:114)

    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowo, sudah masyhur dikalangan ulama ahlul sunnah bahwa kedua tepi itu adalah pagi dan petang. Tulisan “(pagi dan petang)” ini adalah tafsirnya yang diterima/disepakati secara mayoritas ulama. Sedangkan ashar bukanlah petang melainkan sore. Petang itu ada unsur gelapnya.
      Kemarin jam 15:58 · Telah disunting · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Sedangkan waktu setelah terbit matahari dinamakan waktu dhuha. Kecuali jika dimaksudkan kedua tepi itu adalah Dhuha dan Sore, tetapi tidak ada sholat fardhu yang dikerjakan di waktu dhuha.
    • Eko Budi Prabowo fajar dan syafaq adalah dua ujung nahar.yg satu muncul sbrkas cahaya,yg lain masih trsisa sbrkas cahaya.magrib ketika sbrkas cahaya itu hilang.
      Kemarin jam 16:03 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin tidak mas, magrib ketika berkas cahaya itu masih ada
      Kemarin jam 16:04 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin kalau sudah hilang berkas cahaya merah itu (syafaq) maka berakhirlah waktu magrib yang menurtu pengalaman ru’yatku akan berakhir pada derajad mataharu 14 di bawah ufuk
    • Eko Budi Prabowo salah kang itu akhir asar.
    • Eko Budi Prabowo nnti lagi kita lanjutkan.sy mau sholat magrib dulu eh sholat asar.
      Kemarin jam 16:08 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Menurut pemikiran dalam hati saya (mencoba berpikir netral, bukan mendukung), tidak masalah jika memandang secara fiqih berdasarkan fiqih yang seseorang anut bahwa 15 – 20 menit setelah terbenam adalah sudah bisa menunaikan sholat magrib jika menurut keyakinannya adalah sudah masuk syafaq itu, sebagaimana seseorang yang sholat shubuh mendekati terbitnya matahari (sudah agak terang). {Sekedar info saja, Sholat diwaktu ini, kalau menurut fiqih yang saya anut bukan berada di waktu utama (fadhilahnya)}.

      Tetapi akan menjadi masalah untuk shaum, karena al Baqarah:187 menyebutkan untuk ifthar saat sudah lail.

      Kemarin jam 16:49 · Telah disunting · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Torofa fiil madli artinya salat telah menuju naik batas/ limit –> 0 maka begitu dibatas = 0 mk subuh batal krn awal siang. Zulfan adalah sifatiyyah situasi/keadaan dekat Dari awal batas malam = 0 ditulis 0 = magrib —> awal syafaq shodiq untuk berhenti makan minum sesuai bukhary-muslim (kuluu washrobuu hatta ya’taridlo lakumul ahmar) dan krn ashar —> 0 batal pada hak magrib.
      Kemarin jam 16:11 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin akhir asar adalah terbenam matahari ( ada juga yang mengatakan sebelum kemunculan syafaq atau mega merah), sedangkan syafaq adalah berkas merah matahari yang muncul setelah terbenam matahari.
    • Zainal Syam Arifin mas Nanik Desimiati, saya tidak sepenuhnya menyalahkan antum (sebagian sepemahaman dengan saya), namun tidak sepaham dalam satu hal karena menurut definisi yang antum pegang, bahwa batas lail dengan nahar adalah terbenam matahari, padahal dalam pandangan ALLAAH, perbedaan lail dan nahar adalah Gelap dan Terang. Jadi batasnya pada terang dan gelapnya. Sehingga batas shubuh itu menurut pangetahuan saya bukan matahari terbit di 0°.
      Adapun apakah batal tidaknya maka itu kembali pada fiqih yang masing-masing kita anut.
      Kemarin jam 16:17 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Saya ingat kembali diskusi kita sebelumnya bahwa definisi malam dan siang itu ada dalam surah Al Lail: 1-2
    • Nanik Desimiati Ashr jamak ke dhuhr scara fiqh tak mungkin ke magrib
    • Zainal Syam Arifin betul menurut antum bahwa jamak nggak bisa menurut fiqih yang antum anut, meskipun menurut fiqih yang saya anut tidak ada sholat jamak, masing2 sholat harus dikerjakan sesuai waktunya, kalau lewat berarti berdosa.
      Karena sholat itu harus sesuai waktu-waktunya.
    • Nanik Desimiati Nahar dhomirnya muannas/yin saat Ta-jallaa dan domir Lail: mudzakar/yang saat Yaghsya maka Lail lebih maskulin dari nahar yang feminin.
      Kemarin jam 16:28 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin saya memahami sifat gender pada kasus ini karena sifat wanita yang biasanya “dimasuki” ma’af nih bukan bermaksud porno, sebagaimana dlam bahasa inggriss kadang kala kapal itu berjenis kelamin wanita, demikian juga gelap yang mendominasi alam semesta sebenarnya dimasuki oleh cahaya
    • Zainal Syam Arifin defaultnya alam semesta ini gelap, lalu ALLAAH menciptakan sumber cahaya (matahari atau bintang).
      Yang saya maksud cahaya ini adalah cahaya tampak, karena cahaya itu banyak bentuknya ada yag dilihat mata manusia dan ada yang tidak.
    • Zainal Syam Arifin Jadi saya sepakat bahwa cahaya itu sifatnya Yin sedang gelap itu sifatnya Yang. Cocok sekali dengan simbol “Yin Yang” dimana Yin itu yang bagian Terang, sedangkan Yang itu bagian gelapnya.
    • Zainal Syam Arifin afwan saya pamitan dulu mau persiapan menjelang magrib
    • Eko Budi Prabowo empunya status lg pamitan.lanjutin nnti aja.maaf kang Nanik thorof bukan fiil madhi tpi isim sm dgn kata zulaf.
    • Eko Budi Prabowo kang Zaenal,dlm bhs arab jg mengenal kata maskulin feminim.ada yg memang maskulin feminim tpi ada jg maknawi.ya memang tiap kabilah kadang brbeda untuk yg maknawi.
      Kemarin jam 16:55 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo masalah sholat jamak kapan2 aj.krn blm sepakat waktu2nya.
      Kemarin jam 16:58 · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo soal yin yang juga nnti aja klo kita bahas taichi.
      Kemarin jam 16:59 · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Gelap sifat = dhulm wustho oposan waktu Qyam lail dgn sifat Terang = Dhuhr. Wustho Dluha oposan simetri waktu dan sesuai suhu dg Ashr spt fajr-syafaq. Smentara yaghsya dan tajalla fiil mudlori’ kontinuitas proses oposan prinsip yaliju sedang saling menyusul /gerakan acuan posisi dan waktu mk sifat mengikuti.
      Kemarin jam 17:04 · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowo, dalam al Qur’an tidak ada dalil sholat jamak, semua sholat fardhu ada waktu-waktunya dan kita sholat fardhu hanya boleh di waktu-waktunya itu. Kalau lewat harus di qadha, misalnya telat bangun shubuh sudah terbit matahari (lewat waktunya maka harus sholat shubuh dengan niat qadha). Jadi yang WAJIB harus kita ketahui adalah waktu-waktunya,

      إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا
      …Sesungguhnya shalat itu adalah suatu ketetapan (kewajiban) كِتَٰبًۭا yang ditentukan WAKTU-nya مَّوْقُوتًۭا atas orang-orang yang beriman.
      An-Nisaa`[4]:103

      Adapun dalil seolah menjamak sholat itu berdasarkan hadis, disebabkan ada sholat yang memiliki “waktu bersama” seperti hadis dari abu hurairah tentang jibril yang mengajarkan waktu sholat dhuhur dihari pertama saat bayangan hanya tergelincir sedikit sedangkan ashar saat bayangan sama dengan tinggi objek aslinya, tetapi dihari kedua justru sholat dhuhur di saat bayangan sama dengan objek aslinya (waktu ashar di hari kemarinnya) sedangkan sholat ashar saat bayangan adalah dua kali tinggi objek aslinya.

      Kemarin jam 17:58 · Telah disunting · Suka · 2
    • Nanik Desimiati Mas Eko trims torofa bukan fiil ada y merujuk sifat
      Kemarin jam 18:31 · Suka · 2
    • Nanik Desimiati Jenis lail: idzaa sajaa ktika sepi, idzaa yasr ketika kiri/glap full berlalu (wasaq lemah), idzaa yaghsyaa/haa ktika menutupi wasak umum dan apasaja terslubungi kr wasaq kuat.
      Kemarin jam 19:08 · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Asas logo dalam yin ada yang dn sbaliknya, maka di dalam nahar yng dzahir ada qiraah sirr/tak dhohir yaitu dhuhr dan ashr oleh imam dan lail idzaa sajaa/sepi ada qiraah imam zhahar yaitu magrib isa subh.
    • Zainal Syam Arifin Tetapi adakah pengaruhnya terhadap ayat Hud:114 yang meruntuhkan pemahaman bahwa kedua tepi siang itu tergolong Nahar?
    • Nanik Desimiati Tepi siang itu penafsir bukan penerjemah spt saya. Fenafsir bisa berbeda spt saya.
      22 jam yang lalu · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo Kang zainal saya malah belum bicara tentang jamak.
      22 jam yang lalu · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo kita malah dari depan cuma membicarakan surat HUd kan?
      22 jam yang lalu · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo saya tidak membicarakan hadits juga.malah kebahasaan arab…
    • Zainal Syam Arifin seorang penafsir sudah pasti juga seorang penerjemah. Sedangkan tafsirannya juga disesuaikan dengan tafsir orang Arab serta mayoritas ulama
    • Zainal Syam Arifin yap masih surah Hud:114
      22 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Dan tafsir Hud itu (pagi dan petang) bukan orang indonesia yang tafsirkan melainkan seluruh ulama
      22 jam yang lalu · Suka · 1
    • Eko Budi Prabowo saya pingin tau malah dari surat hud sholat apa aja?
    • Zainal Syam Arifin untuk yang Hud:114 itu adalah sholat shubuh, magrib dan Isya
    • Eko Budi Prabowo sholat pagi, sholat petang dan sholat awal malam?begitu nama-namanya?
    • Nanik Desimiati Bukrotan/pagi wa ashiilan/petang masing2 adalah area toleransi -20-0+20
    • Zainal Syam Arifin mas Eko Budi Prabowopunya tafsir Ibn Katsir? Lihatlah tafsirnya. Ada dua pendapat mengenai hal ini:

      Dari ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, maksud dari وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ adalah “Shubuh dan Magrib”, begitu juga yang dikatakan ole al-Hasan dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.
      Al Hasan berkata dalam riwayat Qatadah, adh-Dhahhak dll: “Ia adalah shubuh dan Ashar”.

    • Zainal Syam Arifin Ibnu Katsir sama sekali tidak menentukan dengan pasti, hanya mengutip dua pendapat yang berbeda. Jadi kedua pendapat ini sama-sama kuatnya menurut pertimbangan Ibn Katsir.
    • Nanik Desimiati Ya brarti ashr maghrib masuk toleransi di atas
    • Zainal Syam Arifin Itu menurut pendapat yang berbeda dengan riwayat ibnu Abbas . Kalau saya kelihatannya lebih cenderung kepada riwayat Ibn Abbas
    • Zainal Syam Arifin Memang sama kuatnya menurut Ibn Katsir (tetapi diantara dua berbeda ini pasti hanya satu yang benar), dan memang perbedaan ini sejak dahulu. Seperti sudah saya sebut sebelumnya, iin tergantung kasyaf atau Bashirah masing – masing
      21 jam yang lalu · Telah disunting · Suka · 1
    • Bang Yahya Ane bukan ahli ilmu falak, tetapi memang pernah belajar ilmu falak. Kedua metode itu sebenarnya tak perlu dipertentangkan, karena itu masih masuk wilayah yang dipertentangkan para ulama. Persoalannya sekarang, penentuan 1 awal Ramadhon atau 1 Syawal ditetapkan pemerintah, terkadang menurut mazhab yang dianut pemerintah.

      Tuntunan Rasulullah saw sebenarnya sudah jelas:

      لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَل، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

      Janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika (hilalnya) tertutup awan maka perkirakanlah (HR. Bukhory), dalam riwayat Muslim ada tambahan sebelumnya:

      الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً …

      satu bulan itu dua puluh sembilan malam …

      Adapun ‘Ulama yang menggunakan hisab, menyatakan bahwa kata “faqduruulah” (perkirakanlah), mengisyaratkan disuruhnya menghitung dg hisab, ru’yat dilakukan karena pada saat itu umat belum mahir berhitung (astronomi). Mereka memperkuat dg hadits:

      إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا- يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ

      “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini- yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari”. (HR. Bukhari).

      ‘Ulama yang membolehkan hisab antara lain: Mutharrif bin ‘Abdillah bin Syikhkhir (kalangan tabi’in), Abil Abbas bin Syuraij (kalangan Syafi’iyyah), Al Qarafiy kalangan Malikiyyah), Ibnu Quthaibah (kalangan ahli hadits), juga sebagian kalangan Hanafiyyah. Namun Al Hafidz Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) menyatakan bahwa tidak benar Mutharrif berpendapat seperti itu, dan di nafikan menisbatkan Ibnu Syuraij ke Syafi’iyyah karena berbeda dengan pendapat jumhur. Adapun dari Mutharrif dinyatakan bahwa orang yang ‘alim dalam masalah hisab, ia bisa/boleh beramal dengan hisabnya pernyataan ini di nisbahkan kepada Ibnu Rusyd.

      Adapun yang menolak hisab untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawwal adalah mayoritas ‘ulama kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah. Imam Malik menyatakan :

      إِنَّ الإْمَامَ الَّذِي يَعْتَمِدُ عَلَى الْحِسَابِ لاَ يُقْتَدَى بِهِ، وَلاَ يُتَّبَعُ

      Sesungguhnya Imam (kepala negara) yang bersandar pada hisab (untuk penentuan awal puasa dan syawwal) tidak diteladani dan tidak diikuti

      Imam An Nawawi menyatakan:

      قَالَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ وَلَا يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ إلَّا بِدُخُولِهِ وَيُعْلَمُ دُخُولُهُ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَإِنْ غُمَّ وَجَبَ اسْتِكْمَالُ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

      Telah berkata shahabat-shahabat kami (yakni kalangan syafi’iyyah) dan selain mereka, dan tidak wajib puasa ramadhan kecuali dg masuknya (bulan ramadhan), dan diketahui masuknya (bulan ramadhan) adalah dengan ru’yatul hilal (melihat hilal), maka jika hilal terlindung (awan), wajib menggenapkan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

      Alasan penolakan metode hisab adalah hadits yang sama, yang penafsiran lafadz “faqduruulah” ada dua, yakni:

      1) yang dimaksud “faqduruulah” adalah sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari, inilah penafsiran Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan mayoritas ‘ulama salaf dan khalaf. Ini diperkuat dengan hadits lain Riwayat Imam Bukhory:

      الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

      Satu bulan itu dua puluh sembilan malam, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat hilal, jika (hilalnya) tertutup awan maka sempurnakanlah hitungan (sya’ban) 30 hari.

      Juga hadits Riwayat Imam Bukhory yg semakna:

      صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

      2) yang dimaksud “faqduruulah” adalah “dhayyiqû lah” yakni sempitkanlah – maksudnya jika cuaca mendung sehingga tidak terlihat hilal, maka bulan sya’ban dihitung 29 hari, penafsiran ini diambil dari surat at Thalaq ayat 7:

      وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

      Barang siapa yang disempitkan rizkinya … (yakni lafadz qudira bermakna disempitkan).

      Yang menafsirkan seperti ini adalah imam Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya yang membolehkan puasa di hari syak jika hari mendung sehingga hilal tidak terlihat.

      Adapun pendapat lain, Al Qalyuby menukil perkataan Al ‘Abbâdy :

      إِذَا دَل الْحِسَابُ الْقَطْعِيُّ عَلَى عَدَمِ رُؤْيَةِ الْهِلاَل لَمْ يُقْبَل قَوْل الْعُدُول بِرُؤْيَتِهِ، وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُمْ[14]

      Jika hisab yg qath’iy menunjukkan akan ketiadaan (kemungkinan) melihat hilal maka tidaklah diterima perkataan orang yang adil (bahwa ia) telah melihat hilal dan ditolak kesaksian mereka.

      21 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Sayangnya, riwayat dari Ibn Abas dikuatkan oleh riwayat bukhori muslm tentang status sholat ashar sebagai sholat wustho (pertengahan) sehingga Ashar bukan termasuk sholat di tepi/ujung siang.
    • Zainal Syam Arifin Syukron Bang Yahya atas tambahannya. Bagaimana dengan Hud:114 bang? adakah dalil tambahan untuk memperkuat salah satu dari dua pendapat ini tentan sholat2 yang termasuk dua tepi siang:
      1. Pendapat pertama: shubuh & Magrib
      2. Pendapat kedua: Shubuh & Ashar
    • Bang Yahya Beragam penafsirah terhadap ayat dan hadis pun sudah sejak dulu terjadi antara para ulama.

      Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa: 103). Kapankah waktu sholat itu? “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam“. (QS. Hud; 114). Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).

      Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS. Al-sra: 78).

      Mengenai ayat ini, al-Razi dalam kitab tafsirnya yang fenomenal, al-Tafsir al-Kabir, memulai pembahasannya tentang keterkaitan antara iman dan ketaatan, dan menyebut salat sebagai ketaatan yang paling utama dan mulia, sehingga Allah akan menerima ibadahnya serta menolong hambanya tersebut. Sebab ketaatan yang dilakukan secara kolektif akan mendatangkan kemuliaan dan kemenangan.

      Selanjutnya, al-Razi membeberkan dua pendapat berbeda para ahli bahasa mengenai arti “duluk al-syams” dalam ayat tersebut (Q.S. al-Isra: 78). Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa makna dari “duluk al-syams” adalah “ghurub” yakni tenggelamnya matahari. Pendapat ini disandarkan pada perkataan seorang sahabat, Ibn Mas’ud, yang berkata: “duluk al-syams ghurubuha”, yakni makna dari “duluk al-syams” ialah tenggelamnya matahari. Artinya waktu pertama dalam melaksanakan salat adalah tenggelamnya matahari. Maka pelaksanaan salat lima waktu (Zuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Subuh) dimulai setelah tenggelamnya matahari.
      Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa makna “duluk al-syams” adalah “zawaluha ‘an kabdi al-sama’ ”, yakni tergelincirnya matahari dari titik zenith langit. Al-Razi menyatakan bahwa pendapat kedua sebagai pendapat yang paling benar dan paling banyak diterima para sahabat dan tabi’in dengan berbagai argumentasi.
      Di antara beberapa argumen itu, pertama, sebuah riwayat dari Jabir yang berkata: “Rasulullah beserta para sahabat makan di tempatku, kemudian mereka semua keluar ketika matahari tergelincir. Kemudian Nabi berkata: ‘hadza hina dalakat al-syams’ (ini adalah waktu matahari tergelincir).”
      Kedua, sebuah riwayat yang berkata: “Jibril datang kepadaku pada waktu matahari ‘duluk’ yakni ketika matahari tergelincir, kemudian ia salat zuhur bersamaku.”
      Ketiga, para ahli bahasa menerangkan makna “duluk” berarti tergelincir (zawal), dan jika dinisbatkan pada matahari maka berarti tergelincirnya matahari di tengah siang. Pendapat inilah yang dipegang oleh al-Razi.
      Namun, bukan berarti kata “duluk” hanya memiliki arti tergelincir, tetapi ia juga memiliki arti tenggelam. Hanya saja dalam konteks ayat di atas, kata tersebut “harus” berarti tergelincir. Terlepas dari berbagai argumen al-Razi, para ahli tafsir menyepakati arti “tergelincir” untuk kata “duluk” dalam ayat tersebut. Selanjutnya al-Razi menjelaskan bahwa huruf “lam”dari kata “li duluk al-syams” adalah “lam li al-sabab” yakni berarti waktu yang ditetapkan untuk pelaksanaan salat.

    • Bang Yahya Lebih lanjut al-Razi menjelaskan bahwa dengan memahami makna “duluk al-syams” sebagai tergelincirnya matahari sebagai waktu awal salat, maka dapat disimpulkan bahwa waktu salat terdiri atas tiga waktu, yaitu: waktu duluk/zawal (matahari tergelincir), waktu tenggelam matahari dan waktu fajar, dengan interpretasi bahwa waktu zawal sebagai waktu untuk salat zuhur dan asar secara bersamaan, waktu tenggelam matahari sebagai waktu untuk salat magrib dan isya secara bersamaan, waktu fajar untuk salat subuh.
      Al-Razi kemudian menyebutkan, “Hal ini menunjukkan bolehnya men-jamak antara salat zuhur dan ‘asar serta antara magrib dan ‘isya secara mutlak.” Dalam hal ini al-Razi cukup terbuka dalam pembolehan jamak salat secara mutlak serta kesesuaiannya dengan makna ayat diatas. Namun al-Razi seakan lemah ketika dihadapkan pada hadis-hadis yang berisikan tatanan hukum, sehingga pendapatnya seakan hanya lewat saja tak berarti. Ia seakan tidak berani merubah hukum fikih yang telah ditetapkan para mujtahid klasik. Ia kemudian berkata, “Hanya saja terdapat argumen yang tidak membolehkan men-jamak salat tanpa uzur.”
      Yang sangat disayangkan disini ialah ia tidak menyebutkan dalil yang tidak membolehkan jamak salat tanpa uzur. Ia pun tidak mengadukan dua dalil berlawanan mengenai men-jamak salat untuk mendapatkan jawaban.
      Riwayat hadis:
      “Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269).
      Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.
      “Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557).
      Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.
      “Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235).
    • Bang Yahya “Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “ Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”.Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265).
      Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW.

      “Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467).
      “Dari Ibnu’ Abbas r.a., katanya: “Rasulullah saw pernah (baca: telah) menjama’ salat Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak tidak ketika takut dan tidak pula dalam perjalanan (baca: musafir)”. (HR. Muslim No. 666).
      “Dari Ibnu Abbas ra. katanya: ‘Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau pernah menjamak solat zohor dengan asar, dan salat maghrib dengan Isya’, tidak pada saat perang dan tidak pula ketika hujan. Waki’ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa sebabnya Nabi saw berbuat demikian?’ Jawab Ibnu Abbas, “Supaya tidak menyulitkan umatnya.” (HR. Muslim No. 670).
      “Berita dari Ibnu Abbas ra. mengatakan, bahawa Nabi saw salat di Madinah tujuh dan lapan rakaat. Yaitu salat zohor dan asar (dikerjakan berturut-turut pada waktu yang sama tujuh rakaat).” (HR. Buchori No. 306).

    • Bang Yahya Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya. Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam mengulas hadis ini mengatakan, “Majoriti ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada keperluan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir. wallahu’alam bishawab.
    • Zainal Syam Arifin Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).
      ________>>>>
      Bang Yahya, kenapa sholat dhuhur masuk sebagai bagian tepi siang?
    • Zainal Syam Arifin Meski saya tidak sependapat dengan sholat jamak, tetapi kita tunda dulu ya bang? Tentang Kedua Tepi Sholat Dulu.
    • Zainal Syam Arifin Referensi dari Bang Yahyadi atas mendukung pendapat kedua, tetapi kenapa dhuhur dimasukkan bersama ashar?
    • Bang Yahya Antum mau jawaban secara logika atau nash. Kalau nash, penjelasan diatas sudah pas, ditambah hadis riwayat Ibnu Abbas yang antum sebut2……..
      21 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin ‎Bang Yahya condong ikut pendapat yang mana tentang kedua tepi siang ini?
    • Bang Yahya Antum perhatikan ayat ini:
      “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam“. (QS. Hud; 114).

      Jelaskan rentang waktu Zhuhur dan ‘Asyar itu. Antum boleh mengerjakannya berurutan, dan boleh juga dipisah, keduanya ada dalil dan riwayatnya. Dikerjakan berurutan seperti Mazhab Syiah atau dikerjakan terpisah dalam rentang waktu itu seperti Sunni, ya gak masalah…….tapi lebih afdhol antum kerjakan di awal waktu…….

    • Zainal Syam Arifin bukan itu maksud saya, saya memahami dari berbagai sumber bahwa sholat yang dimaksud dengan kedua tepi siang itu adalah sholat shubh dan magrib, sehingga dengan demikian kedua sholat itu adalah bagian dari siang, bukan termasuk malam. Sehingga bagi orang yang shaum maka iftharnya tidak identik dengan magrib. Sebagaimana shubuh orang sudah shaum, maka ketika magrib (kebalikan dari shubuh) mestinya orang masih shaum juga. Jadi iftharnya harus identik dengan permulaan malam yaitu syafaq kadzib
    • Bang Yahya Nabi Muhammad saw telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.
    • Zainal Syam Arifin berarti riwayat itu semakin menguatkan riwayat ibn Abbas bahwa ashar itu masuk dhuhur, bukan termasuk kedua tepi siang.
    • Bang Yahya Coba antum jelaskan rentang waktu tepi siang itu dulu……….
    • Bang Yahya Dalam pemahaman ane, Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).
    • Bang Yahya “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS. Al-sra: 78).
    • Zainal Syam Arifin Sudah baca keterangan gambar di atas serta komen2 sebelumnya mas?

      Kedua Tepi Siang adalah Waktu Shubuh dan Magrib dimana batas malam berdasarkan ru’yat saya untuk wilayah pulau Jawa terjadi saat ketinggian matahari sekitar -14° (minus maksudnya di bawah ufuk)

    • Zainal Syam Arifin Bagaimana dengan wustho? Wustho secara bahasa artiya di tengah2
    • Bang Yahya Jadi:
      1. Subuh (tepi siang pertama).
      2. Zhuhur wa ‘Asyar (tepi siang kedua).
      3. Magrib wa Isya, sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.
    • Bang Yahya

      Ketika antum berpegang dengan ilmu logika (ilmu falak) sebenarnya pembagian waktunya lebih tajam lagi berdasarkan hadis2 melalui jalur Umar dan Aisyah. Terjadi pemisahan yang tajam diantara keduanya. Sekarang, mana yang mau dipegang? Semuan…Lihat Selengkapnya
    • Zainal Syam Arifin

      Kalau saya memahami ujung/tepi itu sebagaimana dalam gambar di atas, jadi ujung itu shubuh dan magrib.

      Adapun makna sholat wustha yaitu pertengahan, ada banyak pendapat, ada tiga malah:

      1. Magrib – Isya – SHUBUH – Dhuhur – Ashar
      Lihat Selengkapnya

    • Nanik Desimiati Lingkaran tepi semua, mk bagian tepi siang dhuhr ashr yng tidak zulafan ke 0 ufuk jadi tepi malam yng zulafan ke ufuk 0 dalah maghrib isya shubh.
      20 jam yang lalu · Suka · 1
    • Bang Yahya

      حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلًا أَصَابَ مِنْ امْرَأَةٍ قُبْلَةً فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل

      َّمَ فَأَخْبَرَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { أَقِمْ الصَّلَاةَ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ } فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِي هَذَا قَالَ لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِمْ

      9.5/495. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari Sulaiman At Taimi dari Abu ‘Utsman An Nahdi dari Ibnu Mas’ud, bahwa ada seorang laki-laki mencium seorang wanita, ia lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kepada beliau. Maka turunlah firman Allah: ‘(Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk).’ (Qs. Huud: 114). Laki-laki itu lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah ini khusus buatku? beliau menjawab: Untuk semua umatku. (Bukhari).

    • Zainal Syam Arifin Adapun Dhuhur bukan termasuk tepi/ujung karena titik tengah matahari adalah ketika matahari tepat tengah hari di waktu dhuhur, sehingga dhuhur pun masih termasuk pertengahan siang, justru tidak boleh menunaikan dhuhur di saat ujung nahar.
    • Zainal Syam Arifin ‎Bang Yahya, saya “hampir” sependapat dengan mas Nanik Desimiati tentang kedua tepi siang ini, kecuali beliau mengatakan bahwa magrib & SHubuh termasuk lail bukan nahar.
    • Bang Yahya

      Mungkin hadis ini sedikit membantu:

      حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُت

      ِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَصَلَّى بِنَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ وَالْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ يَمُرُّونَ مِنْ وَرَائِهَا

      8.134/469. Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Abu Juhaifah berkata, Aku mendengar Bapakku berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami saat terik matahari. Kemudian beliau diberi bejana berisi air, lalu beliau berwudlu dan mengerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar bersama kami. Sementara itu dihadapannya ditancapkan sebuah tonggak, sementara para wanita dan keledai berlalu lalang di belakang tonggak kayu tersebut. (Bukhari).

      Jadi, Nabi saw mengerjakan Zhuhur dan ‘Asyar pada saat terik matahari…. Apakah ini yang dinamakan wustho’ itu, wallahu’alam…….

      20 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Sholat wustho itu ada tiga pendapat bang.
    • Bang Yahya Izin ane nambahan teman2 yang mungkin bisa berbagi……..
      20 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin Silahkan bang, ane malah senang hehehe
    • Bang Yahya Nah, menurut Ustad sendiri mana pendapat yang tepat dari tiga pendapat itu?
    • Zainal Syam Arifin Tentang wustho? saya belum yakin bang, kemungkinan sholat Shubuh. Sebenarnya focus di sini adalah menentukan apakah SYAFAQ dan FAJAR itu bagian dari LAIL ataukah tidak (Hud:114)?
    • Bang Yahya Alasan ustad mengatakan sholat subuh?
    • Zainal Syam Arifin ehm…..jangan pangil ustad bang, hehehe banyak lebih pintar disini. Mengenai wustho belum begitu yakin bang, masih cenderung taklid
    • Bang Yahya Heheheh.
      20 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin saya pamitan dulu, soalnya mulai malam ini saya menganggap sebagai malam ganjil hehehe
    • Bang Yahya Sama, ane juga pamitan…….
      20 jam yang lalu · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Oh ya trims dhuhr post 12 spt tahajjud oposan post 24 mk nominasi ashr wustho simetri waktu siku2 hanya ashr bisa oposan non-siku2 dg shubh.
      17 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin

      mas Nanik Desimiati, saya membayangkan seperti analogi simbol yin yang seperti yang antum maksudkan sebelumnya, bahwa saat tenggelam matahari kadar gelap sangat tipis (hampir tidak ada) sedangkan kadar terang lebih banyak. Kalau mulai saat…Lihat Selengkapnya
    • Nanik Desimiati Nahar hsl pembelokan cahya betul ‘ilaa kaki siang di posisi awal malam’ saat betul tlah terbenam dan tlah wasaq lemah krn trang hsl belokan shg kaki itu milik malam/kaki malam (nahar kadzib) walau terang yng tlah diberikan oleh pemilik yng sudah punya haknya jika nahar tak rakus.
      10 jam yang lalu · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Jallaahaa /proyeksi lurus terang pada batas malam adalah nahar membelok yng tak tertutup/yughsya oleh yasr dan sbagian sajaa tapi tertutup oleh tlah wasaq batasan malam tlah statis. Hakikat/shodiknya nahar tak membelok tak terkuasai lail. Jadi nahar membelok terkuasai lail dalah nahar kazib.
      9 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin

      disebut nahar kadzib pun tetaplah nahar karena sinar bias tersebut merupakan “perpanjangan” dari cahaya nahar, sehingga layaklah disebut sebagai ujung/tepi nahar. Jadi tafsiran yang lebih benar tentang kedua tepi siang adalah Shubuh dan Mag…Lihat Selengkapnya
      7 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati Zulafan min ufuk 00 lail dari sbagian malam maka maghrib lebih permulaan malam spti subuh stara isya drpd ashar.
      6 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati Misal Tepi Garis Ashar A0, Magrib 0S krn S titik syafaq (A—–0—-S) jika tepi kanan siang = AS adalah hrs sholat magrib (saat tepi siang) untuk buka Salah justru tepi kanan siang A0 adalah 0S waktu maghrib sbg permulaan malam yang tak gelap banget.
      5 jam yang lalu · Suka · 1
    • Nanik Desimiati Terbukti tepi siang A0 adalah 0S magrib kt ibn Abbas. A0 pendaran siang asli dan 0S belokan siang palsu
      5 jam yang lalu · Suka · 1
    • Zainal Syam Arifin

      hanya saja, saya masih kurang setuju istilah pendaran diterapkan di waktu A0 sebab itu bukan pendaran melainkan radiasi matahari langsung, bahwa cahaya nahar masih garis lurus, kemudian cahaya itu membelok (pembiasan) di saat 0S, lalu cahay…Lihat Selengkapnya
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin A0 bisa disebut berkas siang asli, afwan
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin

      Karena itu saya membagi waktu ini berdasarkan prinsip kesamaan tepi kiri dan tepi kanan sbb:

      Anggaplah terbenam matahari adalah titik 0,

      Tepi kiri:
      Lihat Selengkapnya

      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin

      Jika A = ashar, S=syafaq, F=fajar, dan nomor 1=shadiq, 2=kadzib, D=Dhuha, maka

      A – 0 – S1 – S2

      F2 – F1 – 0 – D

      Jadi berkas cahaya terbiaskan boleh-boleh saja disebut nahar kadzib.
      Namun karena prinsip cahaya mengalahkan gelap, sehingga 0 – S1 dan F1 – 0 disebut sebagai Ujung/Tepi nahar
      5 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati A—–B—–C tepi kanan garis AB adalah titik B atau garis BC ganti AB=siang maka B ahir siang lurus dan permulaan siang belok bertepi lagi telah solat magrib sesuai ibn akan masuk isya di jamak.
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin Kalau saya (adalah matahari) berada di titik tengah siang hari, maka saya melihat diri saya (cahaya) dari titik tengah saya (X) sbb:

      Sisi Kiri (terbit):
      X – D – 0 – F1 – F2

      Sisi kanan (Terbenam):
      X – A – 0 – S1 – S2

    • Zainal Syam Arifin Seandainya memungkinkan, mohon jangan dulu dihubungkan dengan sholat jamak mas, sebab hal itu akan semakin memperlebar diskusi (semakin banyak perbedaan) sebab saya pribadi tidak melihat dalil adanya sholat jamak, kecuali sebagai rahmat saja (keringanan)
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin artinya, secara defaultnya, sholat jamak itu tidak ada.
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin maka ujung tepi siang yang diakui ALLAAH adalah
      0 – F1 & 0 – S1

      sedangkan F1 – F2 & S1 – S2 adalah Akhir dan Awal Malam

      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin

      Kalau diri saya adalah Malam dan dipandang dari tengah malam, maka saya melihat Unsur Gelap (B) diri saya (start dari tengah malam) sbb:

      Dari Sisi kanan (matahari terbit):
      B – F2 – F1 – 0

      Lihat Selengkapnya

    • Zainal Syam Arifin Jadi prinsip seperti simbol Yin-Yang itu ada disini
      5 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati Skarang ABC= siang hingga di syafaq C. Tepi siang bukan BC tapi C sbg awal magrib batal.
      5 jam yang lalu · Suka
    • Zainal Syam Arifin gambaran saya seperti simbol yang saya paparkan di atas ma Nanik Desimiati, bukan hanya dua bagian: A – B – C –> (atau A ke B & B ke C)
      4 jam yang lalu · Suka
    • Haniifa Rubi

      ‎=> Mas Zainal : Gambar sampean tentang Fajar-fajaran itu semua dilihat di LUAR ATMOSFER BUMI…. so, yang disebut cahaya fajar itu adalah PANTULAN SINAR MATAHARI TERHADAP BUMI
      Dhus….
      Kalau sampean keukeuh seperti itu maka TERANG BULAN

      PURNAMA menurut definisi sampean adalah NAHAR…. ?!
      Bijimana neeeh, ngerti nggak sampean

      => Mas Zainal : Gambar sampean tentang Fajar-fajaran itu semua dilihat di LUAR ATMOSFER BUMI…. so, yang disebut cahaya fajar itu adalah PANTULAN SINAR MATAHARI TERHADAP BUMI
      Dhus….
      Kalau sampean keukeuh seperti itu maka TERANG BULAN PURNAMA menurut definisi sampean adalah NAHAR…. ?!
      Bijimana neeeh, ngerti nggak sampean

      4 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati Atw F2-F1-0-T– sbg siang maka tepi siang bukan F1-0 tapi F2-F1
      4 jam yang lalu · Suka
    • Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : Jika sampean mengasumsikan BIAS cahaya matahari adalah sama dengan cahaya matahari yang LANGSUNG menyinari bumi, maka sayah nyerah deh…. .hehehe….
      Sebaliknya jisa sampean peraya adanya PEMBIASAN CAHAYA MATAHARI di waktu FAJAR yng berbeda dengan di waktu SYAFAQ, maka dengan senang hati mari kita kupas nilai-nilai KOEFESIEN BIAS setiap lapisan LANGIT !!!!
      4 jam yang lalu · Suka
    • Haniifa Rubi ‎=> Mbak Nunik : Apakah menurut sampean BUMI disinari dengan cahaya pantulan (bias matahari ) dengan cahaya langsung adalah sama ?!
      Kamau menurut @Mba-e sama, monggo dilanjutken diskusinyah … hikz.
      3 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati

      Koefisien bias yang memadat di tengah dingin maka patahan lurus sinar ____ menjd miring berahap / spt stengah lengkung ) dan muka atmosfer dan muka bumi rengang krn lebih panas membuat pola —- lurus patahan dg ilustrasi __@— tinggi sli

      sih ___ dn —- ialah t tebal atmosfir. Jadi saat matahari tampak t° di muka atmosfir maka di muka bumi terbenam dan ukuran ufuk 0 berdsr pengamat muka bumi terima cahaya matahari yang blm terbenam tapi terbenam bagi muka atmosfir.
      3 jam yang lalu · Suka
    • Nanik Desimiati Maka ufuk atmosfir yang kita alami pada adzan magrib ialah matahari harus sudah terbenam t°(tbal atm) di bawah muka bumi sudah gelap (index bias udara 1) jadi atmosir udara tidak berpengaruh besar.
    • ..:: End ::..
      😀

      Wassalam, Haniiifa

4 Responses to “Kalau antum berakal bag-2”

  1. syro said

    kayaknya pak zainal maksakan pengatahuannya saja, kalau mataharinya lebih dekat bagainama kondisinya ya?

    • @Syro
      Beliau ini super tidak ilmiah, sebab pengukuran yang cukup teliti harus dilakuken berulang-ulang hingga memperoleh standar deviasi, disamping itu pengamat sekurang-kurangnya harus 2 atau 3 titik point (insya Alloh sayah buat artikelnya tentang ini )

      Hatur tengkiu, apresiasinya.

  2. […] Kalau antum berakal bag-2 […]

  3. […] Kalau antum berakal bag-2 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: