حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Kalau antum berakal

Posted by حَنِيفًا on August 6, 2012

Assalamu’alaikum,

Sekali lagi saya temui pesbuker yang ngenyel dan super bonek :D  dan mohon maaf artikel ini untuk sementara hanya berupa catatan bagi pembelajaran diri sendiri dan insya Alloh akan sayah edit dikemudian  hari.

..:: Begin ::..

Fajar versus Syafaq.
=============

“Dihalalkan bagimu pada malam (lail) puasa…….
Makan dan minum sampai jelas bagimu Benang Putih dari Benang Hitam, yaitu FAJAR. Kemudian Lengkapkan/Cukupkan Puasa sampai Malam (Lail)….”
(Al Baqarah:187)”Maka AKU bersumpah dengan SYAFAQ”
“Dan LAIL dan apa yang Menyelubungi”
(Al Insyiqaq[84]:16-17)Sebenarnya terjemahan “atimmu” di ayat al Baqarah:187 yang lebih tepat bukanlah “menyempurnakan” (akmal) melainkan “melengkapi atau mencukupkan” (atmam). Lihat al maidah:3 sebagai pembanding perbedaan antara akmal dan atmam.

Berarti kalau tidak lengkap atau tidak cukup maka puasa menjadi batal/gugur, seperti orang yang sholat tetapi meninggalkan salah satu rukun sholat (tidak lengkap/tidak cukup).
Kalau tidak sempurna, maka ibadah itu masih tetap diterima meskipun tidak sempurna, misalnya wanita haid tidak bisa sholat, namun status keislamannya tetap diterima sebagai seorang muslim dan semua sholat2nya yang lain pun tetap diterima. Disebut tidak “sempurna” agamanya karena ada sholat yang ditinggalkan di saat haid dan tidak wajib qadha terhadap sholat yang ditinggalkannya selama haid itu.

Menyikapi ayat 2:187, apakah “sama” antara saat ifthar (bolehnya makan minum dan mengumpuli isteri) dan saat shaum dengan saat sholat?
Di waktu fajar saat sholat fajar, sudah waktunya shaum padahal hari masih gelap dan belum muncul cahaya merah matahari.
Sedangkan di waktu petang, apakah sudah boleh ifthar padahal masih muncul cahaya merah matahari (syafaq) bahkan gelap pun belum ada di waktu orang menunaikan sholat magrib, padahal waktu magrib itu adalah “kebalikan” dari waktu sholat fajar?

Padahal ALLAAH membedakan antara “syafaq” (=cahaya merah matahari setelah terbenam) dengan “lail” di ayat al Insyiqaq[84]:16-17. Lihat kamus al Munawir edisi kedua halaman 730 untuk lebih meyakinkan arti dari syafaq ini.

Makna “saqo” di ayat 84:17 yaitu menyelubungi maksudnya “gelapnya malam sudah menutupi atau menyelubungi bumi baik di timur maupun barat dari sisi pengamat” seperti kalau kita andaikan awan gelap menutupi bumi.

karena itu menurut pendapat pribadi saya, ifthar mestinya/idealnya bertepatan dengan isya, namun karena “sang waktu” bergerak ke arah malam/isya, kita sudah boleh ifthar saat magrib dengan syarat, sholat magribnya sudah mendekati isya, artinya kebolehan ini adalah karena rahmat-NYA sebagaimana DIA membolehkan ifthar sampai munculnya benang putih dari benang hitam (batas ifthar sebelum sholat fajar, dan batas mulai ifthar sesudah sholat magrib di saat mendekati isya yaitu cahaya “syafaq” (mega merah) hanya ada di barat saja, sedangkan di timur maupun atas kita sudah tidak tampak lagi). Karena itu benarlah yang mengatakan bahwa sholat magrib itu “sebaiknya” 45 menit sesudah azan masjid di Indonesia agar waktu iftarnya tidak keliru juga (bagi yang mempersamakan waktu ifthar dengan waktu magrib). Berbuka di waktu itulah yang merupakan rahmat-NYA padahal seharusnya dilengkapi sampai gelap sempurna (inilah maksudnya “menyegerakan berbuka” yaitu di waktu “syafaq” atau mega merah hanya terdapat di barat saja, kurang lebih 12 menit lagi syafaq akan menghilang).

:
Cahaya matahari yang terlihat saat matahari-nya berada di bawah ufuk (karena terbenam atau belum muncul):
Dalam bahasa Arab,
– jika diwaktu pagi dinamakan: Fajar (sesuai urutan kemunculannya: ada Fajar Kadzib dan ada Fajar Shodiq)
– jika diwaktu petang dinamakan : Syafaq (sesuai urutan kemunculannya: ada Syafaq Shadiq dan ada Syafaq Kadzib). Adapun saya pribadi, lebih suka berbuka di saat Syafaq Kadzib setelah menunaikan sholat magrib.

Dalam bahasa inggris namanya hanya satu yaitu: Twilight (baik pagi atau sore). Setidaknya untuk saat ini, karena saya belum mengetahui adakah namanya dalam bahasa inggris untuk menyebut syafaq dalam bahasa inggris, hehehehe.🙂

Kalau di waktu pagi, “fajar shodiq” itu muncul pada derajad ke-14, maka “syafaq shadiq” juga menghilang pada derajad ke-14. Adapun azan isya pada masjid di Indonesia biasanya dikumandangkan saat “syafaq” kadzib telah menghilang pada derajad matahari sekitar 17,5 derajad ada juga yang beranggapan menghilang sempurna pada derajad ke 19 di bawah ufuk.

Kalau Fajar Kadzib itu masih dianggap sebagai waktu malam (lail) dan masih boleh makan minum (Ifthar),
maka Syafaq Kadzib (cahaya merah matahari sudah hilang tetapi belum gelap sempurna) itu juga sebenarnya sudah bisa dianggap sebagai waktu malam (lail) meskipun belum sempurna, sehingga pada derajad ke14 sebenarnya sudah boleh melaksanakan sholat waktu isya (memasuki waktu bersama: magrib dan isya).
Seandainya ada waktu bersama antara isya dan shubuh, maka tentu sholat shubuh bisa dilaksanakan di waktu fajar kadzib, namun tidak ada waktu bersama antara keduanya, sehingga sholat shubuh hanya boleh dilaksanakan di saat sudah masuk waktu shubuhnya itu sendiri yaitu di saat fajar shadiq.

Menurut pendapat pribadi saya, Langkah “paling aman” adalah memisahkan waktu antara shaum dan sholat: Sudah dalam kondisi shaum saat sholat shubuh (Fajar Shodiq) dan masih kondisi shaum saat sholat magrib (misalnya sholat magrib 35-40 menit sesudah azan masjid di Indonesia. Karena Ifthar itu hanya dibolehkan saat al Lail (Malam Gelap Gulita/Menyelubungi bumi). Lihat al Baqarah:187 dan Insyiqaq[84]:17
Kalau sholat Shubuh yang dilakukan 20-25 menit setelah awal munculnya fajar shodiq “masih dianggap” sebagai sholat shubuh, maka tentunya sholat magrib yang dilakukan 20-25 menit sebelum hilangnya syafaq shadiq “sudah sepatutnya” juga dianggap sebagai sholat magrib meskipun belum waktunya ifthar (masih kondisi shaum secara fiqih shaum bukan fiqih sholat).

Ma’af istilah syafaq barangkali lawannya hanyalah cocok untuk fajar shodiq, namun untuk sementara istilah ini saya pinjam disamakan dengan fajar secara umum, oleh karena itu ada istilah syafaq shadiq dan syafaq kadzib padahal sebenarnya syafaq kadzib bukan lagi dibilang syafaq karena mega merah sudah hilang. Istilah ini sepenuhnya muncul dari saya pribadi dan saya melakukan ini karena mencoba “memetakan” atau membuat atlas waktu berdasarkan fiqih yang sudah ada (bukan membuat fiqih baru) untuk memudahkan “mengenali” atau mengidentifikasi waktu dalam mengamalkan fiqih karena ada kemiripan “gradien waktu” di saat pagi dan petang.

Afwan, ini berat tetapi saya harus mengatakanya.

36 orang menyukai ini.

Wilse Knatic pak Zainal Syam Arifin tolong saya di-tag di pic nya boleh pak? saya tidak bisa nge-tag sendiri.. trm ksh ya pak..

Deni Irawanto Subhanallaaaaah… thanks bro ilmunya.

Deni Irawanto ijin share yah
1 Agustus pukul 16:57 · Suka · 1

Muhammad Afdhaly Ras Sbenarx mazhab islam syiah sdh mmakai cara albaqarah 187 dari dulu cm sy heran knapa sunni tetap ngotot pake cara hadis yg jelas2 tdk sinkron dgn albaqarah 187 ^_^

Deni Irawanto Muhammad Afdhaly Ras: sudah-sudah, syukuri saja hidayah yang Allah berikan…

Zainal Syam Arifin ‎@ALL: Silahkan di share tanpa perlu ijin.
Afwan ana nggak bisa selalu online karena jaringan internet smartfren ditempat saya masih terganggu, bukan cuma “lelet” saja melainkan bisa tidak terkoneksi internet.

Zainal Syam Arifin Mbak Wilse Knatic, sudah saya tag sejak awal.🙂

Wilse Knatic maksud saya di pic nya pak bukan di note nya

Muhammad Afdhaly Ras Deni ..Sy ga marah kok dgn prbedaan..beda agama sj pun sy ga marah aplg cm beda agama..lagian surgapun bukan cm milik org islam sj….he…he..he…^_^

Deni Irawanto hehe…

Zainal Syam Arifin iya mbak Wilse Knatic lagi dicoba, malah gambarnya nggak muncul nih, lemot banget hehehe🙂

Wilse Knatic hehe.. trm ksh bgt ya pak

Zainal Syam Arifin Mbak Wilse Knatic, ternyata sudah di tag sejak awal. hehehe🙂

Wilse Knatic huwaaa.. ga ada di album tag2an.. ato boleh tolong remove dulu tag nya pak.. nanti saya coba tag di pic nya.. hehe,, klo ga terlalu ngerepotin yah..

Zainal Syam Arifin siip, hehehe

Wilse Knatic ternyata ga bisa juga pak.. nasiiiiib.. huwaaa..

Zainal Syam Arifin coba lagi mbak
1 Agustus pukul 17:31 · Suka · 1

Wilse Knatic Alhamdulillah.. bisa!!.. yeaaayyy.. makasih ya pak..

Zainal Syam Arifin iya mbak, hehehe, kemungkinan tadi ada collision

Zainal Syam Arifin mas Muhammad Afdhaly Ras, saya pribadi lebih condong menyebut syariat agama Islam yang kita anut ini adalah “syariat (agama) Muhammad saww” jika mau disebut “Secara Khusus”, sebab secara umum semua yang dibawa oleh Nabi sebenarnya disebut Islam atau “aslama” (baik di langit maupun di bumi, Aali Imran:19, 81-83), apakah itu yang dibawa oleh Nabi Isa as (disebut Syariat Agama Isa bin Maryam) meskipun tidak ada syariat Haji di dalamnya atau apapun yang dibawa oleh Musa as (Syariat Agama Musa), atau apa yang dianut oleh Adam as, dan mereka semuanya Islam atau Aslama meskipun bisa disebut secara khusus. Karena itu hanya Islam saja yang akan masuk surga (tidak salah jika surga pun kadang disebut sebagai Darrussalam). Dan orang-orang paling awal Yang mengikuti Nabi Yang Ummi di saat belum ada syariat Haji un tetap disebut Islam.

Salaam…🙂

Timmy Howe Ijin share boleh Pak… -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

Zainal Syam Arifin SIlahkan Pak🙂

Muhammad Afdhaly Ras Setahu sy nabi musa as berhaji jg bahkan semua nabi & rasul berhaji tp dalil2 ttg riwayat berhajix musa cuma ada dkitab2 hadis muslim syiah & kisah2 sufi..tp ga penting u mngetahui hajix para nabi krn hax akn mnimbulkan debat kusir bg org2 yg fanatik..he..he..he.^_^

Is Gnuwik NGOMONG OPOOOOO…ora mudeng aku e

Zainal Syam Arifin ifthar itu maksudnya dihalalkannya membatalkan puasa, atau saat dibolehkannya makan minum dan mengumpuli isteri di saat puasa.
shaum itu artinya dilarang makan minum dan mengumpuli isteri saat puasa.

Kun Oellaode Thanks atas tagx akhi..sangat menambah wawasan.
Mengenai aturan ramadhan baik waktu menahan dan berbuka serta awal syawal, masih ada banyak hal2 yang perlu dijadikan variabel penting diluar urusan hisab dan ru’yat.

Bob Setiabudi ‎/////////

Tony Wang pendapat saya, hal – hal diatas, adalah sekedar “perjanjian” tentang kedisiplinan seseorang, kalau pun salah / melanggar bukanlah hal yg menjadi suatu dosa yg besar, artinya OKlah salah (tapi bukan Prinsip).
Yang penting justru adalah TINGKAH LAKU, terhdap sesama manusia, makna Puasa sendiri adalah kedisiplinan diri, bukannya “tolah-toleh” utk makan kalau tidak ada ORANG lain yg melihat …. hehehehe
Hanya maling saja yg tolah toleh … urusan antara Manusia, tapi kedisiplinan diri thd ALLAH

Kun Oellaode Puasa bukan cuma sekedar aturan astronomi dsb, ada hikmah didalamnya yang dimana setiap muslim wajib memahaminya.

sebagai contoh : muslim di indonesia itu ‘enak’ karena berada di garis khatulistiwa sehingga lama waktu siang dan malamnya cukup berimbang. Bgm dg saudara2 muslim kita di belahan bumi bagian utara yang saat bulan maret-september menerima cahaya matahari lebih lama bahkan ada yg sampai 20 jam, akhi Zainal Syam Arifin? Apakah paparan akhi diatas mutlak berlaku?

Zainal Syam Arifin tentu saja harus berlaku, karena DIA yang menciptakan bumi yang bulat dan mengatur gerak perubahan kemiringan rotasi bumi juga tentu tahu tentang kondisi di kutub, dan syariat-NYA harus dita’ati tanpa ada pilihan lain. buktinya banyak koq yang kuat puasa dari jam 2 pagi sampai jam 22 malam seperti di prancis.
afwan.

Zainal Syam Arifin sebelum turun ayat al baqarah:187, nabi dan kaum mislimin ifthar sebelum sholat isya. batas isthar hanya diantara sholat magrib dan isya. kalau sudah tidur nggak boleh lagi ifthar (sdh dihitung mulai shaum).
boleh jadi ini salah satu wujud “solidaritas” terhadap orang yang waktu malamnya hanya 4 jam di wilayah kutub. dan kalau bertepatan di saat matahari tidak pernah terbit/terbenam selama kurun waktu tertentu, boleh jadi, secara tersirat ALLAAH menghendaki hambanya bermigrasi secara musiman, layaknya burung bermigrasi. karena, sebenarnya tidak ada alasan kuat ALLAAH untuk melarang tinggal atau memerintahkan bermigrasi. mungkin ada hakikat rahasia yang “kebaikan/manfaatnya” tidak kita ketahui kecuali setelah kita taati dan diamalkan.
Allaahu a’lam.

Tony Wang saya copas juga bos

Zainal Syam Arifin silahkan mas. dan afwan saya jarang online, karena masih gangguan jaringan internet di tempat saya.

Kun Oellaode ‎” mungkin ada hakikat rahasia yang “kebaikan/manfaatnya” tidak kita ketahui kecuali setelah kita taati dan diamalkan”….>> sangat setuju akhi, kita seringkali berhenti bila telah melakukan syariat. sementara aturan mutlak memiliki sebab dan tujuan yang ingin dicapai…
Salam.

Zainal Syam Arifin salaam, syukron akhi atas komennya
Jumat pukul 22:28 · Suka · 1

Pramudya Yanuanto Kalau boleh tahu, angka 14 derajat itu dasarnya apa akhi?
4 derajat kalau di katulistiwa itu setara dengan 14×4 menit atau 56 menit …

Haniifa Rubi ‎=> @ Mas Zainail : Dari mana neeh kesimpulan aneh bin ajaibun ini “Karena itu benarlah yang mengatakan bahwa sholat magrib itu “sebaiknya” 45 menit sesudah azan masjid di Indonesia agar waktu iftarnya tidak keliru juga”

Pertama menyegerakan ibadah Shalat:
Bersegeralah shalat jum’at… bla..bla..bla..

Kedua: Panggilan Adzan adalah seruan kemenangan… Lha mosok orang mau menang di tunda-tunda ?!

Ketiga: Ibadah puasa itu dibawah ibadah Shalat.. tolonglah jangan sampean pukul rata dunk.

Ke empat:
Sayah mah tahunya sedetik ajah setelah adzan maghrib artinya dah masuk ZONA MALAM.

Bijimana neeeh ?!

Zainal Syam Arifin Mas Pramudya Yanuanto, kalau kita mau berpatokan pada kalimat “bayyan” di ayat al Baqarah187, maka angka 14 derajad itu adalah di saat mega merah benar-benar “nyata/jelas hilang” dari pandangan atau di saat fajar shadiq “benar-benar nyata/jelas” muncul dalam pandangan kasat mata. Tidak seperti terbit dan tenggelamnya matahari ada standarnya yatiu maahari berada di bawah ufuk (dibawah nol derajad) maka hilangnya syafaq shadiq atau munculnya fajar shadiq itu ternyata pada ketinggian matahari 14 derajad di bawah ufuk. Ibarat bola yang disenter dengan cahaya, maka derajadnya sama baik di waktu pagi maupun petang.
Itu hasil dari ru’yat saya selama berbulan-bulan bahkan sudah dalam hitungan tahun.

Pramudya Yanuanto Jum’at minggu lalu waktu saya berada di jalan tol dg kondisi cuaca cerah, di daerah saya terlihat bahwa 15 menit sesudah adzan maghrib, cahaya merah bahkan kuning sudah tidak terlihat pada sisi matahari tenggelam … tetapi ada tanggal waspada (pertengahan bulan) memang terlihat bahwa cahayanya masih ada 10 menit setelah 15 menit tersebut. Hari ini akan saya periksa lagi …

Zainal Syam Arifin Mas Haniifa Rubi, angka 45 menit itu hanyalah saran bagi yang menganggap bahwa waktu ifthar sama dengan waktu azan magrib. Saya pribadi memahami bahwa fiqih shaum tidak sama dengan fiqih sholat. Waktu fajar adalah kebalikan dari waktu safaq, sedangkan di waktu fajar orang sudah beranggapan bahkan semua sepakat bahwa itu sudah masuk waktu shaum.
Lalu darimana ada pendapat mengatakan bahwa di waktu magrib itu sudah boleh ifthar? Padahal ayatnya jelas bahwa harus dicukupkan atau dilengkapkan sampai waktu LAIL bukannya waktu SAFAQ?
Karena itu saya tulis pada gambar di atas bahwa maksud dari menyegerakan berbuka puasa itu adalah ifthar di saat masih ada mega merah namun mega merahnya hanya sedikit di ufuk barat (tempat terbenamnya atau magrib. Magrib sendiri secara bahasa maksudnya arah sebelah terbenam matahari, bukan menunjukkan waktu, karena dari segi waktu namanya safaq bukan magrib). Jadi kalau anda mau berbuka di waktu safaq, ya silakan saja.Adapun 45 menit itu adalah perkiraan hasil ru’yat juga yang dilakukan oleh beberapa orang termasuk saya juga meru’yat sendiri bahwa 45 menit itu adalah waktu ideal “menyegerakan” berbuka puasa, sebagai rahmat ALLAAH, “tidak perlu menunggu” 56 menit ketika mega merah (safaq shadiq) hilang atau safaq kadzib muncul (sudah dianggap lail sebagaimana fajar kadzib juga masih dianggap lail). Tersirat dalam catatan saya di atas bahwa seharusnya berbuka itu adalah saat 56 menit setelah azan masjid di indonesia (masuk 14 derajad atau sekitar 56-57 menit setelah azan masjid di Indonesia), jika mau mengamalkan ayat al baqarah:187, namun karena rahmat ALLAAH maka diijinkan berbuka sekitar 11-12 menit sebelum safaq shadiq hilang atau sekitar 45 menit dari azan masjid di Indonesia. Kalau antum mau ifthar setelah 56 menit tentu itu lebih baik.jawaban pertama sudah terjawab bahwa fiqih shaum tidak sama dengan fiqih sholat, apalagi menyamakan waktu berbuka sama dengan waktu sholat magrib itu dari mana dalilnya? sedangkan dalil al Qur’an sangat jelas terpampang di hadapan anda: al baqarah:187 dan insyiqaq:16-17.
ini juga sekaligus menjawab soalan kedua anda. Lagipula darimana itu dalilnya bahwa panggilan azan magrib adalah awal berbuka puasa? Kalau dalilnya seperti itu, mestinya azan shubuh diakhirkan saja mendekati terbit matahari supaya waktu shaum juga bisa diakhirkan. Lagipula hadis biarpun dianggap shahih kalau bertentangan dengan al Qur’an, masih patutkah hadis itu dipegang? Bacalah hadisnya (saya tidak akan posting di disini), namun disebutkan bahwa ketika sudah gelap di timur. Anehnya di hadis itu ditambahkan kalimat: “terbenam matahari”, bukankah ini kalimat yang mubazir alias “tidak perlu” bahkan bisa merubah makna? Gara-gara kalimat inilah maka orang lebih memegang hadis ini daripada al Qur’an, bahwa asalkan sudah terbenam matahari sudah boleh ifthar. Sehingga ayat al baqarah:187 (al Qur’an) pun diabaikan.”Ketiga: Ibadah puasa itu dibawah ibadah Shalat.. tolonglah jangan sampean pukul rata dunk.”
—–>> saya tidak mengeti arah maksud soalan anda ini, kalau maksudnya anda menganggap sholat itu lebih tinggi tingkatannya daripada puasa, tolong jawab pertanyaan saya ini:
“kenapa wanita haid tidak perlu mengqadha sholat yang ditinggalkannya tetapi wajib mengqadha puasa ramadhan yang ditinggalkannya?” Kalau sholat lebih tinggi seharusnya yang wajib di qadha adalah sholatnya bukan puasanya.Soalan anda yang ke empat sudah sangat jelas tertulis di ayat yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa waktu SAFAQ itu berbeda dengan waktu LAIL. Lihat ayat Insyiqaq:16-17.
Sedangkan sholat magrib kebanyakan dilakukan di waktu safaq, bukan waktu lail.

Pramudya Yanuanto Saat mega merah hilang sama sekali bukan lail ya? walau cahaya juga sudah tak terlihat?

Zainal Syam Arifin Mas Pramudya Yanuanto, saat mega merah hilang, masuk safaq kadzib dan seharusnya sudah dianggap lail sebagaimana fajar kadzib masih dianggap lail. Akan tetapi azan di indonesia biasanya setelah safaq kadzib tersebut hilang, padahal seharusnya sudah bisa sholat isya.

Pramudya Yanuanto Kalau saya lihat ayat di 54:16. Maka “sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,”

Artinya tanda syafaq adalah cahaya merah, sehingga hilangnya cahaya merah berarti lail …

Pramudya Yanuanto Jadi secara teknis, kalau saya berpatokan bahwa cahaya merah sudah hilang, untuk DAERAH saya saya kira sudah mauk lail sebagaimana Al Baqarah 187 ya? tentunya ini rukyat amatir, karena saya hanya modal mata …

Zainal Syam Arifin ‎:
Maksudnya ayat 84:16-17 kan? Sudah saya bahas sebelumnya di catatan foto di atas dan di komen sebelumnya, bahwa hilangnya mega merah (=safaq shadiq) itu sudah dianggap lail meskipun masih masuk safaq kadzib, sebagaimana munculnya fajar kadzib juga masih dianggap lail.

Pramudya Yanuanto hehehe 84 kok bisa jadi 54 ya?

Zainal Syam Arifin ‎:) hilangnya mega merah itu sekitar 56-57 menit setelah jadwal azan masjid di Indonesia. Saya pribadi menganggap bahwa waktu 45 menit itu hanyalah sebagai rahmat ALLAAH saja untuk membolehkan ifthar. Adapun amalan saya pribadi, berbuka saat munculnya safaq kadzib (sudah dianggap malam) yaitu 56 menit setelah azan magrib indonesia, setelah menunaikan sholat magrib beserta sunnah nafilahnya.
Patokan menyegarakan itu bukanlah dari mendapatkan waktu yang lebih cepat dari seharusnya, karena dibelahan bumi lain yang bahkan harinya lebih panjang, ketika jam yang sama kita sholat isya pun mereka masih shaum.

Pramudya Yanuanto tetapi patokan hilangnya cahaya merah itu relatif bukan?

Zainal Syam Arifin sebagaimana relatifnya azan magrib indonesia berdasarkan letak geografi, jadi kalau berpatokan kepada azan magrib indoensia maka angka 45 menit dan 56 menit itu sama karena yang relatifnya itu sudah di azan magribnya itu.

Pramudya Yanuanto dulu rukyatnya di daerah mana?

Zainal Syam Arifin Hal yang tidak akan keliru jika antum menggunakan software Stellarium untuk menentukan pada jam berapa 14 derajad itu muncul di lokasi anda. Namun saya sudah coba, bahwa secara relatf sama.

Zainal Syam Arifin ru’yat di daerah yogyakarta juga saya pernah amati di kendari saat saya berada di tepi pantai bersama isteri (sambil menikmati pisang epe, hehehe) ternyata sama saja. Karena patokan awalnya yang sudah relatif.

Pramudya Yanuanto Kalau di Yogya kota selisihnya 1.4 derajat atau sekitar 6 menit dari daerah saya.
Saya kira fajar merah itu juga relatif dari adzan maghrib. Lihat saja di daerah kutub yg fajar merahnya tidak pernah hilang selama beberapa minggu sebelum total terbenam dan malamnya 6 bulan.

Zainal Syam Arifin Kecuali jika patokan awal azan magrib itu tidak sama, maka ya jelas waktu 45-56 menit itu juga tidak sama. Tetapi dalam pengamatanku semua masjid indonesia, waktu azan magrib itu sama semua yaitu tepat matahari terbenam atau sekitar nol derajad lebih sedikit.

Zainal Syam Arifin Coba antum gunakan stellarium pada derajad 14 itu masuk jam berapa? kemudian amati selama jam-jam tersebut dimana kondisi cuaca memungkinkan untuk di amati, bahwa di barat yang dekat dengan kita tidak ada awan, hanya ada awan terjauh sekali sehingga cahaya matahari bisa terlihat memantul di awan terjauh dan diantara awan terjauh dengan kita itu tidak ada awan yang menghalangi pandangan.

Zainal Syam Arifin Jadwal sholat itu menggunakan metode hisab yang sudah disesuaikan dengan letak geografis bumi dan relatif sama untuk indonesia. Kalau tidak yakin dengan keterangan saya, silahkan buktikan dengan ru’yat sendiri. benarkah 14 derajad itu masih ada ataukah sudah hilang dari pandangan secara jelas?

Pramudya Yanuanto Dulu sudah coba belum dengan derajat lokasi lintang Home yg berbeda?

Zainal Syam Arifin Kan sudah say sebutkan saya coba di kendari dan yogyakarta ternyata sama. Karena hitungan/hisab dalam software baik yang ada dalam software jadwal waktu sholat itu maupun stellarium itu, sudah menyesuaikan dengan letak geografis. Untuk indonesia bisa diberlakukan software yang sama koq.
Sedangkan di daerah kutub, maka stellarium pun bisa mensimulasikan dengan tepat akan tetapi mengenai jadwal waktu sholat dan puasanya harus disesuaikan dengan fiqih masing-masing baru setelah itu hisab jadwal sholat dan puasa mengikuti.

Pramudya Yanuanto bukan itu masalahnya. Kalau kutub bisa memiliki waktu syafaq yg panjang, artinya antara katulistiwa dan kutub, ada perambatan relativitas.
Faktor kedua adalah bahwa untuk pergerakan bintang, Stellarium cukup tepat. tetapi untuk masalah ‘Iluminasi’ simulasi pencahayaannya saya masih belum jelas. Dari sisi teknik Shadding, ada banyak teknik yg bisa diterapkan. Akan tetapi semuanya menggukanakn konsep titik cahaya yg berjarak dekat.

Zainal Syam Arifin Karena itu untuk pergerakan benda langit (matahari dan bulan) bisa mengandalkan stellarium, tetapi untuk pencahayaan perlu ru’yat.
Setelah ru’yat yakin baru patokan pada stellarium bisa kita gunakan.

Zainal Syam Arifin Dan sudah secara tersirat saya sebutkan di atas bahwa stellarium atau hisab dll adalah tools atau alat bantu kita dimana fiqih di dahulukan dulu. Setelah sudah yakin maka alat bantu bisa kita gunakan seterusnya, disebabkan semua pergerakan benda langit itu berlangsung secara pasti dan bisa diperkirakan.

Zainal Syam Arifin dan 14 derajad itu saya yakin bisa dianggap sama untuk indonesia, yang belum tentu sama untuk kanada atau rusia atau prancis atau swedia. Perhitungan sama tetapi perbedaan terletak pada ketataan penentuna pada waktu mana sesuai fiqihnya. Karena kalau mau bisa dinamis dan tidak keliru, ketahui fiqihnya dulu dan tahu cara ru’yat, sambil cocokkan dengan stellarium, kalau sudah dapat ditentukan maka selanjutnya tinggal gunakan stellarium di tempat tersebut yang sewilayah (satu zone), saya yakin walau berada dimana pun bisa menentukan waktu dengan tepat.
Karena itu software jadwal sholat kanada itu tidak bisa diterapkan di indonesia.
Adapun jadwal waktu sholat yang sama dengan jadwal masjid indoensia adalah software ACCURATE TIMES. Punya saya versi 5.3.1. Keunggulan software itu bisa kita ubah waktu magribnya (menambah waktu 45 menit) dan shubuhya mengikuti 14 derajad. Saya rekomendasikan untuk dimiliki setiap orang di Indonesia.

Pramudya Yanuanto Saya pakai Athan. Yg saya perhatika adalah bahwa matematika bidang lengkung berbeda dg bidang datar jika kita berada pada bidang lengkung tsb.

Siapa yg menentukan angka 15 menit pada ICC? teman saya di Banten mendapatkan hasil yg sama dg saya. Tapi saya nggak tanya apa dia rukyat atau menggunakan rujukan orang. Perkataannya saya jadikan dasar untuk pengamatan, walau dalam prakteknya saya memang shalat maghrib dulu sebelum berbuka.

Zainal Syam Arifin Sebenarnya perhitungan pergerakan benda langit sama disetiap software itu dan demikian juga di stellairum.
Adapun perbedaan di setiap software sholat itu adalah perbedaan penetapan kapan waktu sholatnya. Yang universal itu cara hitungannya, tetapi penetapannya yang tidak universal, mengikuti zona setempat. Kalau ICC mengatakan 15 menit setelah azan masjid indonesia, ya saya nggak tahu asalnya dari mana apakah hanya ru’yat dengan melihat “kadar gelap” disekitar kita ataukah benar2 ru’yat telah melihat hampir hilangnya benang merah pada benang hitam?

Zainal Syam Arifin sekali lagi, harap dibedakan antara fiqih shaum dengan fiqih sholat

Zainal Syam Arifin Kalaua software athan saya lihat ada erbedaan dengan jadwal masjid indonesia, yang sama persis itu adalah software “accurate times”

Pramudya Yanuanto fiqih di Athan bisa dipilih dan ada banyak pilihan. Setiap fiqih mazhab cukup jauh berbeda.

Zainal Syam Arifin Sudah saya tulis pada gambar di atas bahwa
Kalau orang sholat shubuh setelah 15-20 menit kemunculan fajar shadiq masih bisa dianggap sholat shubuh, bagaimana dengan sholat magrib sekitar 15-20 menit sebelum hilangnya safaq shadiq?Tetapi fiqih shaum beda dengan fiqih sholat magrib. Fiqih shaum mengatakan bahwa ifthar itu hanya boleh dilakukan saat LAIL, bukan syafaq. Adapun menyegerakan berbuka di waktu safaq itu karena berpatokan pada hadis. Antara hadis dan ayat tidak mungkin bertentangan kalau hadis itu benar dari Nabi, karena itu hal yang mungkin adalah waktu syafaq yang dimaksud adalah “mendekati” berakhirnya syafaq itu atau kalau kita umpamakan mega merah itu hanyalah tinggal berbentuk “garis” melintang di barat saja (saya umpamakan benang merah).Yang saya tekankan di sini adalah fiqih shaumnya bukan fiqih sholatnya. Adapun sesiapa yang berpegang pada fiqih sholat yang mengatakan bahwa waktu sholat magrib itu adalah saat mega merah itu hanya terdapat di barat saja maka secara ru’yat memang benar saya sudah membuktikannya bahwa itu terjadi pada derajad sekitar 11-12 di indonesia atau sekiar 45 menit setelah azan magrib di indonesia. Siapa saja yang berpegang dengan fiqih itu maka 45 menit adalah waktu idealnya untuk sholat magrib (tanpa ada keraguan). Karena itu saya katakan, sesiapa yang “beranggapan bahwa waktu ifthar sama dengan waktu sholat magrib”, maka yang sholat magrib 45 menit setelah azan masjid itu sudah bisa dianggap aman, iftharnya (sebagai suatu rahmat dari-NYA dengan menyegerakan berbuka, namun dalilnya ini dari hadis bukan Qur’an).

Zainal Syam Arifin saya pernah menggunakan athan, namun lebih suka accurate times, karena bisa di “kustom” derajad waktu shubuh-nya. Hampir mirip dengan softwre pocket islam for pocket pc (di gratiskan oleh pemerintah malaysia, download diwww.pocketislam.com tetapi hanya berjalan di windows mobile) yang bisa dikustom derajad waktu isya dan shubuh (kalau accurate hanya derajad waktu shubuh saja).
Salah satu tambahan keunggulan pocketislam itu adalah selain ada recite qur’annya juga ada pocket kiblat (untuk menentukan arah kiblat) dan pocket al Qur’an yang dilengkapi pencarian teks qur’an bukan teks latin. Sayangnya untuk pocket hadis tidak gratis. Dan sayangnya juga belum bisa di copy paste teks qur’annya. Satu hal juga yang saya senangi di pocketislam adalah hisabnya sangat akurat persis sama dengan stellarium dalam menentukan bulan qomariah (sudah pernah saya posting tautan dari agus mustafa di wall saya bahwa yang diperselisihkan adalah awal puasa secara fiqih bukan awal “bulan ramadhan secara astronomy” sebagaimana diributkan di sini adalah pada derajad atau menit ke berapa).

Pramudya Yanuanto Athan juga sejak lama bisa di custom. Tapi saya tidak tahu ilmunya jadi tidak tahu apa yg mau di custom … hehehe

Nanik Desimiati Ila sdg menuju dn ‘ala ke tujuan. Asar ila magrib. Batas malam safak mk magrib batas ila ke safak lengkap puasa adalah sdg menuju safak saat awal buka =awal ila dari magrib.

Nanik Desimiati Atau pada saat kepada dari magrib

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, saya terus terang tidak bisa memahami logika berpikir rumit seperti itu. Teman saya pak Andi Burhanuddin dalam diskusi kami melalui SMS, sangat menentang keras tulisan saya di atas dengan menghadirkan makna “ILA” yang artinya “menuju/hingga/sampai” hampir mirip dengan komentar anda di atas, yang sukar saya terima secara nalar walaupun dengan menjungkir-balikkan akal saya sekalipun selalu saya dihadapkan fakta bahwa saya seperti sedang mencari-cari “pembenaran” sehingga makna ILA pun mau tidak mau saya cari-cari maknanya, jika saya menerima logika teman saya tersebut.

Saya tidak suka berpikir rumit, karena al Qur’an itu dimudahkan untuk “pelajaran”.

Saya memahami ILA ini adalah rentang waktu yang memiliki “awal dan akhir” dan tidak diantarai dengan jedah waktu yang kosong. Berarti awalnya adalah munculnya benang hitam, sedangkan akhirnya adalah lail. Kalau awalnya itu sudah shaum, justru akhirnya juga mestinya sedang shaum dong?
Inilah sebabnya ketika menyebutkan makan minum digunakan kalimat “hatta” bukan ILA, sebab tidak ada orang makan terus menerus tanpa henti sampai waktu fajar, makannya pasti memiliki jeda waktu kosong dimana seseorang berhenti makan. Beda dengan puasa digunakan kata ILA sebab shaumnya tidak pernah berhenti atau ada jeda waktu kosong tidak sedang berpuasa. Dan orang yang akalnya SEHAT, siapapun bisa memahami bahwa ILA LAIL maksudnya puasanya itu sampai berakhirnya SAFAQ yaitu berhenti saat sudah masuk LAIL, sebagaimana awal puasanya dimulai saat berakhirnya LAIL, maka akhir puasanya juga dihentikan saat permulaan LAIL.

JUSTRU KALAU MAU IKUTI AYAT, TIDAK BOLEH IFTHAR KALAU MASIH SAFAQ, BERARTI 56 MENIT SETELAH AZAN MASJID INDONESIA. DAN INI YANG SAYA LAKUKAN.

Nanik Desimiati Sahur><ifthar mk urutan min< ifthar<ila<sahur<hatta

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, saya sudah menjelaskan pemahaman saya tentang makna ILA, kalau keliru maka tolong hadirkan makna ILA yang benar, dan saya tidak suka mencari-cari makna ILA demi mencari pembenaran kebiasaan yang pernah keliru saya lakukan selama ini (bertahun-tahun sebelumnya sejak saya kecil).
ILA: awal sampai akhir tanpa ada jeda waktu kosong, meskipun banyak artinya, bisa berarti: hingga, sampai, ke, dll namun secara hakikatnya bermakna: ada awal dan akhir tanpa ada jeda waktu kosong.
HATTA: sampai batas akhir tetapi di-antara-i dengan jeda waktu kosong berhenti dari kegiatan itu.Dan kalimat ILA ini sangat cocok dipasangkan dengan atimmu atau cukupkan/lengkapkan. Ini saling menguatkan makna.Kalau kalimatnya ILA diganti dengan HATTA:
wa atimmush shiyaamu hatta lail, wah kacau deh terjemahannnya saling bertolak belakang, saya yakin orang yang akalnya sempurna pun tidak sanggup memahaminya, kecuali orang yang mencari-cari makna-nya.Maksud dari ketika mendengarkan al Qur’an kita harus sujud (=tunduk) yaitu, kita harus mengikuti makna yang benar bukan mencari-cari makna sesuai keinginan kita.

Pramudya Yanuanto Saya pribadi juga tidak senang yg rumit dan mengada-ada. Perbedaan pendapat dari kami cuma mengenai batas dari Lail saja. Begitu safaq hilang berarti boleh berbuka …
nah ini 15 menit atau 45 menit? Saya masih mencob memastikannya lagi untuk daerah saya.

Kun Oellaode sy iftharx sek. pukul 17.30….😀

Zainal Syam Arifin Mas Pramudya Yanuanto, safaq hilang itu setelah 56-57 menit. Adapun 45 menit itu adalah safaq hanya tersisa sedikit di barat.

Nanik Desimiati jika ila hatta nahar kazib = lail shodik pd magrib/safak kazib + 12′ shadik jadi malam tlh menutupi kedua kazib tak gelap/sodik gelap dn lebih pasti gelap lebih menutupi.

Zainal Syam Arifin itu bertanya atau apa ya? bingung hehehe…..

safaq kadzib itu pada menit ke 56-57, dan itu sebenarnya sudah bisa dianggap LAIL. Adapaun minus 12 menit dari awal safaq kadzib itu atau menit ke 45 dari azan magrib maka sudah saya nyatakan di atas, adalah waktu safaq shadiq yang masih menyisakan sedikit safaq di barat. Bagi yang menganggap menyegerakan berbuka maka itulah yang dimaksud di hadis-hadis dengan kalimat “menyegerakan” yaitu masih ada safaq tetapi sangat sedikit, padahal seharusnya ifthar di waktu lail atau ada menit ke 56-57 sesudh azan masjid indonesia. sekali lagi ini hanya berlaku di indonesia. Jika di philipina, taiwan, jepang, kanada, rusia perlu di ru’yat lagi untuk dicocokkan.

Zainal Syam Arifin beda loh penggunaan ILA dan HATTA? dalam hal shaum tidak boleh pakai hatta, kalau pakai hatta, berarti ada saat-saat dimana kita ifthar (makan minum) di tengah hari puasa.

Haniifa Rubi ‎@Oom Zainal : ” 45 menit dari azan masjid di Indonesia.” … maksud sampean asal di wilayah Indoesia terdengar adzan, baru tunggu 45 menit, jadi kalau terdengar adzan di PAPUA sampean langsung buka… hehehe…

Zainal Syam Arifin Kalau antum mengamalkan az zumar:18 tentu antum bukan mencari-cari “celah” tulisan melainkan mencari kebenaran disetiap perkataan. Tentu yang saya maksud adalah azan dimana anda tinggal (masak sih harus ditulis mendetail). Apakah anda yang tinggal di aceh bisa mendengarkan azan di papua? Kalau seperti itu maka sebaiknya anda sholat shubuh 2 jam sebelum azan ditempat anda karena di belahan bumi lain 2 jam sebelumnya sudah azan shubuh.

Haniifa Rubi Kalau angtum islam tentu sampean sadar bahwa ini dibaca oleh berbagai latar belakan pendidikan, lha kok sussah amat mau buka puasa… hehehe…

Nanik Desimiati Ilaa menuju ‘ala > Hatta sehingga tiba ‘alaa tapi sama2 awalnya dari min

Zainal Syam Arifin Kalau alasannya kenapa koq lebih lama dari biasanya, kalau antum berakal, tentu antum tahu bahwa yang lebih susah lagi itu yang tinggal di daerah kutub yang mana susah banget mau berbuka puasa karena waktu siangnya lama banget?

Haniifa Rubi Kalau angtum berakal justru daerah kutub itulah yang meyebabkan air laut pasang bukan gravitasi bulan, lalu ngapain puasa pergi ke dikutub… ?!

Percaya kalau KUTUB UTARA dan SELATAN mempengaruhi air pasang ?!

Zainal Syam Arifin ‎Nanik Desimiati, kan sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa ILA itu antara awal (min) dan akhir (ILAA) itu tidak ada jeda waktu dan sama kondisinya sejak dari min (awal) sampai ilaa (akhir). kalau awalnya (min) itu sudah shaum maka “akhirnya” (ila) itu juga seharusnya masih shaum. Mengapa di waktu fajar anda shaum tetapi di waktu safaq yang merupakan “kebalikan” dari fajar anda sudah ifthar? Berarti anda menganggap bahwa safaq itu adalah bagian dari malam? Ini bertetangan dengan ayat Insyiqaq:16-17 di atas, bahwa ALLAAH MEMBEDAKAN SAFAQ dengan LAIL.

Haniifa Rubi ‎@Oom Zainal, kalau menurut sayah orang yang di KUTUB, tunggu ajah adzan maghrib di indonesia, hehehe….

Zainal Syam Arifin Haniifa Rubi, ma’af saya pasti kalah dalam debat dengan anda karena saya tidak suka debat. Kalau anda tidak terima itu adalah urusan anda sendiri tidak usah mengajak debat persoalan lain (pengaruh gravitas bulan terhadap pasang naik air laut).

Zainal Syam Arifin Silahkan kalau anda mengikuti fiqih seperti itu, berbuka ketika di indonesia berbuka, meskipun di kutub tempat anda tinggal masih siang hari tetapi saya tidak ada sangkut pautnya (berlepas diri) dengan cara anda itu.

Haniifa Rubi Wahh.. hebat, jadi sempean pernah puasa di KUTUB ?! … gdubrak…

Nanik Desimiati Sumpah waktu untuk pentingnya salat safak awal lail/magrib dan salat lail dari isya dn ttsaja qyamnya jadi membedakan jenis malam kaitan solat

Zainal Syam Arifin sebelum komen, sebaiknya baca dulu semua komen dan tulisan saya di atas.

Nanik Desimiati Ana adhabu ila madrosah berarti belm sampai krn sd berangkat

Nanik Desimiati Solat hatta yakti yakin artinya sdg ditengah solat juga lebih dekat lagi kesampaian yakinnya

Haniifa Rubi Udah sayah baca bolak-balik tapi tetap ajah yang terbaca kesombongan

” 45 menit dari azan masjid di Indonesia. “… hehehe….

Sayah berlepas diri kalau orang Papuna Newgini marah sampean … hik

Zainal Syam Arifin terima kasih, atas kritikannya, kalau begitu saya ralat dengan melengkapi kalimatnya menjadi:
“45 menit dari azan masjid di tempat masing-masing di manapun di Indonesia.”
Syukron telah melihat kesombonganku dan mengingatkanku.
Semoga ALLAAH mema’afkanku.

Zainal Syam Arifin Ya sumpah itu benar menandakan bahwa beda sekali antara waktu safaq dan lail.

Mbak Nanik Desimiati, perkara “ILAA” ini yang membuatku sampai sekarang tidak sependapat dengan teman saya pak Andi Burhanuddin. Kalau ayat 2:187 & 84:16-17 tidak dihadirkan secara bersamaan, barangkali saya pun sudah mengikuti pendapatnya. Beliau mengartikan ILAA di ayat 2:187 sebagai “menuju” yang berarti belum sampai malam (masih dalam kondisi “menuju” malam atau hampir malam) sudah boleh ifthar sehingga beliau mengartikan ILAA ini adalah waktu SAFAQ.

Saya tidak sependapat, karena sejak dari min sampai ilaa harus dalam kondisi yang sama yaitu sama-sama shaum.

Zainal Syam Arifin cobalah baca al qur’an dan bandingkan penggunaan ILAA dan hatta.

Nanik Desimiati Ila ditulis arab ya mjd ilaa

Zainal Syam Arifin yoi, yang saya maksud itu sama saja. ada tiga huruf alif, lam, yaa
kita terbiasa diindoneaia tidak ada huruf aa panjang, sehingga nama ALLAAH pun ditulis Allah. Khusus untuk nama-NYA saya malah mengikuti pendapat rekan saya pak Andi Burhanuddin yaitu menyebut ALLAAH dengan aa panjang. Untuk selain nama-NYA kadang saya tulis panjang kadang tulis pendek pada setiap tanda maad😀

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, bahkan kalau pun saya menerima terjemahan/makna ILAA dari rekan saya tersebut diartikan sebagai “menuju” maka sudah seharusnya masih shaum di waktu safaq tersebut karena sejak dari awalnya (min) dalam kondisi shaum.

Zainal Syam Arifin ma’af saya off dulu

Haniifa Rubi ‎@Mas Zainal berkata “Kalau alasannya kenapa koq lebih lama dari biasanya, kalau antum berakal,”…
Oleh karena itu SAYA TANTANG SAMPEAN PERIHAL PENOMENA AIR PASANG DILAUT yang selama ini diakui sebagai pengaruh gravitasi bulan terhadap bumi ?!Mari kita tunjukan siapa yang lebih berakal itu SAMPEAN atau SAYAH ?!

Zainal Syam Arifin Ma’af untuk yang satu itu pengetahuanku belum sampai, karena pengetahuanku bahwa pasang surut itu dipengaruhi gravitasi bulan. Saya bukan orang yang serba tahu semuanya. Jika anda tahu tentang hal itu tentu itu merupakan kebaikan bagi anda untuk berbagi dengan orang lain termasuk saya. dan saya nulis perkara FAJAR dan SAFAQ di atas meskipun PAHIT saya harus mengatakannya, saya bukan pamer ilmu karena saya bukan pemilik ilmu. Apa yang saya ketahui hanyalah apa yang ALLAAH tanamkan pemahaman kepadaku tidak ada yang lain dari itu.

Zainal Syam Arifin Sebagai tambahan bahwa patokan azan magrib masjid indonesia itu maksudnya kalau seragam azan magrib pada saat matahari terbenam yaitu sekitar selambatnya matahari berada 1 derajad di bawah ufuk. Kalau ada masjid azan magrib lebih gelap lagi tentu patokan 45 menit dan 56 menit itu bukanlah segitu besarnya. Karena itu saya lebih suka menggunakan satuan ketinggian derajad matahari yaitu safaq shadiq berakhir ketika matahari 14 derajad di bawah ufuk. Dan waktu puasa tidak sama dengan waktu sholat.
Kalau mau menyegerakan ifthar maka menurut sebagian ahli fiqih pada derajad 11 atau 12 itu waktu yang aman untuk ifthar sebagai suatu rahmat diijinkannya untuk “menyegerakan” ifthar padahal seharusnya ifthar pada derajad ke-14.
Penekanan saya di masalah shaumnya. Kalau mau sholat magrib pada menit ke-20 setelah azan masjid dan anda yakin itu menurut pemahaman anda adalah waktu lail bukan waktu safaq sehingga anda menganggap boleh ifthar, yah itu terserah anda saja.

Zainal Syam Arifin ‎:
Saya hanya menyuarakan kebenaran yang saya ketahui saja. Kalau orang seluruh dunia menolaknya setidaknya teman-teman saya mau menerimanya, kalau teman saya menolaknya setidaknya keluarga saya menerimanya, kalau keluarga saya menolaknya setidaknya adik-adik/saudara saya menerimanya, kalau saudara saya menolaknya, setidaknya anak isteri saya menerimanya, kalau anak isteri saya menolaknya maka cukuplah saya sendiri yang mengamalkannya.

Nanik Desimiati Ok min dari fajr subuh, Ila lail sodik / nahar kazib ke1 ialah awal magrib (m) masih trangremang dan awal gelap tanda akhirnya safaq kazib m+45′ ada sumpah m+56/57′ lail utuk siap ke solat isya. Jadi malam lebih menutupi awal m + gelap rentang (safaq kazib ke sumpah lail tuk isya + fajr tuk subuh)+ hingg nahar kazib ke2 dr fajr naik 6 pagi.

Zainal Syam Arifin Biar saya ulangi lagi bahwa
pada derajad 14 di waktu sebelum terbit atau 56-57 menit sebelum terbit matahari adalah waktu munculnya fajar shadiq. sebelum waktu itu adalah fajar kadzib.
pada derajad 14 sesudah terbenam matahari atau 56-57 menit sesudah terbenam adalah waktu hilangnya safaq. Sesudah 57-57 menit adalah safaq kadzib yang sudah bisa dianggap sebagai permulaan LAIL.
Adapun patokan 45 menit itu adalah waktu yang sangat “meyakinkan” bahwa safaq hanya terlihat di ufuk barat terjauh saja. Dan itu sebenarnya belum termasuk LAIL, kalau berpatokan pada insyiqaq:16-17. Bahwa malam gelap menutupi itu adalah setelah berakhirnya asyafaq shadiq atau menit ke 56-57 setelah terbenam matahari.
Urutannya sbb:LAIL – Fajar Kadzib(19°-14°) – Fajar Shadiq(14°) – Terbit (0°)- Nahar – Terbenam (0°) – Safaq Shadiq(14°) – Safaq Kadzib(14°-19°) – LAIL.Adapun Fajar Kadzib dan Safaq Kadzib secara umum disepakati masih termasuk Malam meskipun belum sempurna. Saya sendiri memahami keduanya sebagai Kedua Tepi Malam (atau Akhir Malam dan Permulaan Malam) Sedangkan Fajar Shadiq dan Safaq Shadiq sebagai Kedua Tepi Siang (atau permulaan siang dan akhir siang).Patokan 14° itu untuk indonesia, sebab bentuk bumi tidak persis seperti bola (lebih cembung di katulistiwa, maka kemungkinan di wilayah lintang lebih ke arah kutub, bukan lagi 14°, bisa jadi lebih besar dari 14°.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal :
Urutannya sbb:lail – LIMIT->SIANG [Terbit (0°)]- Nahar – LIMIT->MALAM (Terbenam (0°)] – lail.
_______________________
Limit x-> 0 artinya nilai x mendekati NOL…Teori limit ini dalam Al Qur’an dijelasken pada ayat Surah Hud ayat 114.
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِوَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَDan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian (permulaan daripada) LIMIT -> malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Zainal Syam Arifin Ada banyak tafsiran tentang kedua tepi siang. dan permulaan malam.
Untuk sementara saat ini saya memahaminya bahwa kedua tepi siang itu adalah magrib dan shubuh, sedangkan permulaan malam adalah sholat isya yang dilakukan pada permulaan malam yaitu safaq kadzib. Sedangkan sholat wustha adalah dhuhur dan ashar.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal :
Urutannya sbb:lail – LIMIT->SIANG [Terbit (0°)]- Nahar – LIMIT->MALAM (Terbenam (0°)] – lail.
_______________________
Limit x-> 0 artinya nilai x mendekati NOL…Teori limit ini dalam Al Qur’an dijelasken pada ayat Surah Hud ayat 114.
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِوَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَDan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian (permulaan daripada) LIMIT -> malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu dzuhur atau dengan bahasa matematis dikatan لَفًا مِنَ النَّهَارِ zulafam minan nahaari (limit menuju siang)…. Selanjutnya kutipan dibawah ini menurut definisi sampean sendiri lho.. hehehe
_______________________
kalau seragam azan magrib pada saat matahari terbenam yaitu sekitar selambatnya matahari berada 1 derajad di bawah ufuk.
________________________
Dengan demkian seharusnya sampean sepemahaman dengan sayah bahwa yang dimaksud ayat 11:114 ” وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ” …Zulafam minal lail adalah SHALAT ASHAR (sayah tidak ingin menyelesihi def shalat wustho tapi banyak para penafsir mengataken shalat ashar)…
Dhus…
Sangat jelas dalam surah Al Baqarah 187 “… ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ..” … kenapa bukan zulafam minal lail ?! …. karena : dari Terbenam matahari (0) drj + (1) drj -> adzan MAGHRIB sudah region LAIL.

Bijimana, masih kah sampean berani mengatakan sayah tidak berakal ?!

Zainal Syam Arifin seandainya boleh saya berteori, maka sholat wustha itu sebenarnya bukan sholat fardhu (melainkan sholat sunnah di pertengahan malam dan siang hari yang terasa berat dilakukan apalagi pada siang hari yang rasanya paling berat dibandingkan malam hari), sebab sholat fardhu sudah disebutkan ketika menyebutkan “semua sholat” dan perkataan “semua sholat” terpisah penyebutannya dengan sholat wustha dalam al Baqarah:238.
Adapun yang berpendapat sholat wustha itu adalah “penekanan” bahwa sholat wustha itu sangat penting dipelihara diantara semua sholat fardhu, ya boleh juga, tetapi apakah ketika menyebutkan “semua sholat” tidak ada unsur penekanan di dalamnya?
Tetapi ini hanyalah teori saya dan saya tidak berani menafsirkan begitu. Cukuplah dalam hati saya saja yang terus berusaha memahaminya.
______________________________
Sholat dhuha itu tidak ada dalilnya “termasuk sebagai sholat fardhu” yang masuk dalam ayat HUd:114.

Zainal Syam Arifin Kalau beranggapan dhuha sebagai termasuk dari kedua tepi siang itu (berarti dhuha=fardu) maka berarti sholat fardhu menjadi 6 x sehari mengalahkan sholat tahajud yang lebih mendekati wajib bagi umat nabi meskipun wajib bagi nabi.

Zainal Syam Arifin Kalau makna “kedua tepi siang itu” bagaikan kaki yang sama panjangnya (atau bagaikan huruf U terbalik), maka lebih masuk akal hujjah saya bahwa kedua tepi siang itu adalah magrib dan shubuh.

Haniifa Rubi Lho kan sudah sayah bilang bahwasanya saya tidak mau menselisihi masalah shalat WUSTHO, kalau sampean mengerti arti wustho – 1/2 atau pertengahan maka bisa saja yang dimaksud adalah SHALAT JUM’AT => dari dzuha 4 dibagi 2 => 2 rakaat…
Bijimana neeh, masihkan sampean mengataken sayah tidak berakal ?! … hehehe

Haniifa Rubi weleh…. weleh, sampean mau nuduh sayah tentang jumllah shalat,. … coba baca yang bwetul dunk…
———————
HANIIFA SAY:
Shalat Dhuha adalah shalat SUNAH yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu dzuhu
_________________________

 Jadi siapa neeh yang TIDAK BERAKAL ITU ?!

Sayah mendefinisiken shalat Dhuha itu sunah, sampean memutar balikan fakta menjadi wajib …. hehehe… tahu siah.. yah … pret ah

Zainal Syam Arifin hehehe mohon ma’af kalau anda tersinggung dengan perkataan saya “kalau antum berakal”, Rupanya antum terlalu mengambil hati sehingga mengulang2 terus.
Tetapi saya dengan tulus memohon ma’af dengan perkataan saya itu, saya memang tidak sepatutnya mengatakan hal itu. Perkataan saya itu bertentangan dengan pengetahuan saya bahwa semua makhluk ada akalnya meskipun ada yang masih primitif (sederhana) misalnya amuba, bakter, virus, dll.

Zainal Syam Arifin wustha itu artiya pertengahan atau yang membagi dua, karena itu sangat cocok dengan teori saya (kalau boleh berteori, namun tidak ingin membahas lebih lanjut) bahwa wustha itu membagi dua yaitu tengah malam dan tengah hari. dimana yang mendatar adalah kedua tepi siang (magrib dan shubuh).

Zainal Syam Arifin Saya mencoba menerima pendapat anda dengan memasukkan sholat dhuha, tetapi ayatnya itu berupa perintah untuk mendirikan sholat di kedua tepi siang dan itu adalah perintah sholat fardhu, karena itu kalau saya menerima pendapat anda, berarti shlat dhuha adalah sholat fardhu juga, karena “disejajarkan” dengan pasangannya yaitu sholat ashar.
BUkankah begitu?

Zainal Syam Arifin Aneh sekali tafsiran anda bahwa “Zulafam minal lail adalah SHALAT ASHAR ”

😀

Soalnya anda terlalu “Memaksakan” bahasa matematika (Limit) dalam ayat al Qur’an, sehingga mengartikan zulafa sebagai “limit”

hehehehe….

Ada teman yang mengingatkan saya (kepada diri saya sendiri):

Jangan sampai anda menjadi “kafir kitabi” yaitu ketika dibacakan ayat-ayat ALLAAH lebih banyak unsur keinginan pribadi saya masuk di dalamnya. Saya pribadi, kalau apa yang saya tulis di atas itu keliru (meski sudah banyak sumber dikumpulkan dan diintisarikan), maka dengan senang hati tanpa merasa malu saya akan mengakuinya, merubahnya dan akan mengikuti yang lebih benar tafsirannya.

Haniifa Rubi Yang super aneh itu justru tafasiran (bacaan ) sapean , sayaha bilang SUNAH sampean baca WAJIB…. lha apalaji ayat-ayat Al Qur’an, bisa-bisa seenak udelmu… hehehe…

Haniifa Rubi ‎”Zulafam minal lail adalah maghrib ?! “… coba buktiken !!! INGAT KATA MAGHRIB dalam AL QUR”AN

Zainal Syam Arifin Yah betul antum mengatakan dhuha adalah sunnah (menurut tulisan antum) tetapi antum memasukkan sholat ashar sebagai salah satu dari kedua tepi siang. Dan antum menyebut sholat dhuha yang menurut antum adalah sunnah.
Itu sama saja antum mengatakan bahwa sholat dhuha adalah salah satu dari kedua tepi siang bersanding dengan sholat ashar.Mau tidak mau jika saya menerima pendapat anda, saya harus memaksakan diri saya bahwa sholat dhuha itu adalah termasuk sholat fardhu, karena ALLAAH memerintahkan untuk mendirikan (aqiimu) sholat pada kedua tepi siang itu dengan kata lain “WAJIB” bagi keduanya termasuk dhuha.

Zainal Syam Arifin ‎”Zulafam minal lail adalah maghrib ?! “… coba buktiken !!! INGAT KATA MAGHRIB dalam AL QUR”AN

______>> Saya tidak pernah mengatakan hal itu, kalau antum membaca komen saya sebelumnya bahwa:

Kedua Tepi Siang adalah Shubuh dan Magrib.
Adapun Permulaan Malam atau zulafam minal lail adalah Isya yang dilakukan pada saat safaq kadzib.

Zainal Syam Arifin Karena itu saya berteori (tetapi tidak ingin membahasnya) bahwa sholat wustha adalah sholat sunnah di pertengahan siang hari dan pertengahan malam hari.

Haniifa Rubi sudah sayah bilang definsi shalat sunah dhuha itu antara terbit (0) – dzuhur atau LIMIT NAHAR.. hahaha.. baca dunk لَفًا مِنَ النَّهَارِ …😀😀

Haniifa Rubi وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ
Bisa Iqro nggak sampean ?!

Nanik Desimiati Setuju 2 kaki magrib subuhfjr di 2 tepi dan wustho kaki kanan asar diapit dhur magrb krn #rokaats 24434=19×1286

Zainal Syam Arifin tentu saya sudah membaca komentarmu, karena itu saya tulis di atas, kalau saya menerima logika anda, mau tidak mau saya harus menerima bahwa sholat dhuha itu pasangannya sholat asr sebagai bagian dari kedua tepi siang. Bukankah begitu? kenapa yah harus saya mengulang2? Astaghfrullah saya dhaif sekali nih, nggak punya kecakapan dalam berbicara.

Haniifa Rubi hahaha….😀😀 lucu tenan sampean.

Haniifa Rubi dua tepian siang artinya LIMIT NAHAR dari arah kiri (jam 12 kurang) dan LIMIT NAHAR dari ARAH KANAN (jam 12 lebih)… paham sampean… hehehe

Zainal Syam Arifin Baiklah mbak Haniifa Rubi, tolong konfirmasi sekali lagi, sholat apa yang masuk kedua tepi siang?

Zainal Syam Arifin Berarti sholat dhuha dan dhuhur+ashar kan?

Zainal Syam Arifin jawab dulu deh

Haniifa Rubi lho kan udah sayah tulis tuh,,,, SHALAT DZUHUR dan atau SHALAT JUM’AT

Haniifa Rubi Sambar dunk… hahaha… SHALAT DZUHUR dan atau SHALAT JUM”AT

Zainal Syam Arifin LIMIT NAHAR dari arah kiri (jam 12 kurang) bukankah itu berarti termasuk sholat dhuha?

Zainal Syam Arifin Tolong konfirmasi dulu, dua sholat pada kedua tepi itu yang mana?
a. Dhuha dan Dhuhur+Ashar
b. Dhuhur dan Ashar
pilih yang mana menurut pemahaman anda? Ingat saya tidak sepaham loh? saya hanya ingn menerima logika anda dulu.

Haniifa Rubi Wah… tahu sampean operator DAN ?! artinya kedua kondisi ini harus dipenuhi…. dus areanyah ANTARA 12 minus, 12 pas, 12 plus… bejituh Om… hehehe… lucu juga sampean. hizk

Zainal Syam Arifin tentu saja saya tahu, karena itu tolong dijawab dengan pasti, nggak usah berkelit dengan balik nanya, sebutkan saja nama sholatnya yang termasuk kedua tepi siang itu.

Zainal Syam Arifin ini menjad debat kusir nih😦

Zainal Syam Arifin mudah kan? tolng sebutkan nama sholatnya hanya dua kata koq?

Haniifa Rubi Hua.ha.ha… sampean sendiri yang kemana-aman alias debat kusir, kan sudah sayah bilang ntar ajah ngoceh soal shalat wustho.

Zainal Syam Arifin Atau kalau malu menyebutkan nama sholatnya, biar saya bertanya dengan kalimat lain, apakah antum setuju atau sepakat bahwa sholat pada kedua tepi siang itu adalah sholat magrib (di saat safaq shodiq) dan sholat shubuh (di saat fajar shodiq)?

Jawab ya dan tidak saja, nggak usah berkelit atau bersilat lidah.

Zainal Syam Arifin hahaha… selamat deh, anda yang menang dalam debat kusir ini….

(=^__^=)

Haniifa Rubi itu urusan sampean, yang jelas kalau sampean shalat 4 rakaat artinya maghrib… hahaha…

Haniifa Rubi Jadi maksudnya SAMPEAN SENDIRI YANG TIDAK BERAKAL !!! .. hehehe

Zainal Syam Arifin terima kasih, sekarang kita impas, sehingga saya tidak punya dosa lagi terhadap antum. bedanya saya minta ma’af dan anda tidak.

Haniifa Rubi Jelas dunk sampean yang memula bukan sayah, dan sayah sangat berjasa buwat sampean soal adzan Maghrib di PAPUA lalu sampean berserta handaitolan buka puasa bersama-sama… hahaha…

Zainal Syam Arifin Terima kasih, biarlah pembaca lainnya yang akan menilai perbincangan kita ini. Pada dasarnya saya hanya berusaha men-zhahir-kan kebenaran meskipun banyak orang menentangnya.
Dan seperti sudah saya katakan sebelumnya:Saya hanya menyuarakan kebenaran yang saya ketahui saja. Kalau orang seluruh dunia menolaknya setidaknya ada teman-teman saya mau menerimanya, kalau semua teman saya menolaknya setidaknya ada keluarga saya yang menerimanya, kalau semua keluarga saya menolaknya setidaknya ada adik-adik/saudara saya menerimanya, kalau semua saudara saya menolaknya, setidaknya anak isteri saya menerimanya, kalau anak isteri saya menolaknya maka cukuplah saya sendiri yang mengamalkannya.

Haniifa Rubi Kembali kasih, pada intinya sayah kasihan bagi para kaum awam (termasuk sayah) buka puasa kok ribet, malah secara explisit dan implist dinyataken tidak sesusai dengan sunah rasululloh,… Astaghfirullohal adzim….

Sayah dah mohon ampun sama Alloh, coba sampean juga dunk… siapa tahu analis saya yang benar… hehehe

Pramudya Yanuanto ‎@Hanifa Rubi : Jai terjemahan Al baqarah 187 tentang puasa simplenya gimana?

Zainal Syam Arifin hm, ngaku awam tetapi dalam debat sangat ahli, ditanya mana itu sholat pada kedua tepi siang, malah nggak di jawab.

Haniifa Rubi Mas Pramudya Yamanto: Buka puasa saat atau setelah adzan maghrib karena menurut sayah dan @Oom Zainal adzan maghrib itu terbenam matahari dalam posisi kurang lebih 1 derajat artinya dah posisi LAIL.

Mas Zainal : apa tidak baca tuhh,… bijimana neeh anak … hikz.
Atau menurut sampean dua tepian siang itu cuma shalat dzuhur doang ?!

Pramudya Yanuanto jadi maghrib = syafaq?

Haniifa Rubi Jadi maghrib itu dah masuk LAIL… hehehe

Pramudya Yanuanto Kalau begitu bertentangan dengan Insyiqaq 16-17 dong? Di situ terlihat bahwa keduanya dibedakan. Cukup buat saya.

Zainal Syam Arifin mbak Haniifa Rubi, tolong jangan menisbatkan kepada saya beberapa perkataan, kecuali jika anda termasuk “Yang Tiada Mengerti Perkataan”.

Bukanlah menurut saya bahwa azan magrib itu terbenam matahari dalam posisi kurang lebih 1 derajad, itu adalah azan magrib di indonesia.

Makna tepian ujung itu kenapa dhuhur dimasukkan sebagai ujung? tafsiran yang aneh.

Kita tidak sedang membicarakan sholat wustha nih, saya justru sedang bertanya tentang ayat Hud:114 yang antum kutip yang sebenarnya keluar dari topik, tetapi saya dengan masih berusaha sabar melayani anda.

Haniifa Rubi Wah… apanyah yang bertentangan, secara umum surah Insyiqoq menjelasken urusan akhirat (kiamat), lah secara logis bisa saja posisi tatasurya tidak seperti sekarang ini. jadi apanya yang bertentangan neeh , bisa dijelasken ?!!!!

Zainal Syam Arifin wah jadi tambah ngawur nih.

Pramudya Yanuanto dari sana sudah jelas bahwa syafaq berbeda dg lail … itu saja.

Nanik Desimiati Dekat malam/zulfa lail: asar dn athrofa nahar/ujung siang dhuhur. Safak akhir magrib fajr awal subh

Zainal Syam Arifin Kalau ayat 84:16-17 itu tentang hari kiamat maka tidak akan terjadi bulan purnama seperti disebutkan dalam ayat 84:18

Jangan-jangan antum ini hanyalah orang yang gemar debat dengan asal bunyi saja.

Haniifa Rubi siapa yang asal bunyi, lha inikan menurut sampean sendiri kalau adzan maghrib dah masuk 1 derajat….. sampean ngerti perbedaan limit x->0 dengan x= 0 tidak ?!

Zainal Syam Arifin Ayat 84:21 itu benar-benar sangat menjadi perhatianku, jangan sampai saya menjadi orang yang menyombongkan diri dan tidak mau sujud (=tunduk). Huruf alif pada sebutan al Qur’an itu menunjukkan semua ayat al Qur’an bukan hanya ayat sajadah saja.

Tony Wang terpaut- sedikit .. ndak masalah .. lah…, yang penting adalah TUGAS rutin kita selain shalat, adalah MENGAMALKAN QURAN, tidak melulu RITUAL …
Ritual sih OK, sabar dan ramah dengan sesama adalah lebih Penting. … hehehe …

Haniifa Rubi ‎@Oom Zaianal silahken sampean berkomentar soal huruf hiahiyah disini
https://haniifa.wordpress.com/2009/05/13/rahasia-alquran-dibalik-huruf-hijaiyah/

haniifa.wordpress.com

Assalamu’alaikum, Seseorang sahabat memberikan pertanyaan yang sederhana bukan b

ahasa Arabnya… namun pertanyaannya cukup sulit untuk dijawab mengingat interkoneksi yang super rumit huru…

Zainal Syam Arifin Terlalu memaksakan istilah matematika, itulah bedanya diantara kita. Saya tidak berusaha mengutip al Qur’an untuk membenarkan pendapat saya, saya selama ini belajar untuk lebih memahami satu hal di atas lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Teman saya bilang:

Orang yang pintar tidak akan bisa memahami al Qur’an. saya rasa ada benarnya, sebab yang “merasa” berilmu cenderung membawa pendapatnya sendiri dan mencari ayat demi membenarkan pendapatnya sendiri.

Pramudya Yanuanto ‎@Nanik : dekat tidak berarti sama bukan?
Semua ayat Qur’an adalah saling berkait dan tidak ada yg bertentangan. Kita tidak perlu segala tetek bengek untuk menafsirkan hal yg sudah jelas. Yg belum jelas adalah apa benar rentang syafaq adalah sampai 14 derajat.Ini karena bumi miring dan tidak tegak lurus pada bidang datar yg terbentuk pada matahari.Ini sebabnya ada hari-hari syak. Dari pengamatan saya memang hari-hari syak menyebabkan terjadina perbedaan.Saya pribadi berpendapat lebih simpel. Karena tahap sebelum lail adalah syafaq, maka syafaq harus selesai sebelum tahap lail dimulai.
Jadi saya (berbeda dg mas Zainal) tidak melakukan hisab, tetapi melakukan rukyat berdasarkan penglihatan saya, dan anggota keluarga saya. Jika semua sepakat untuk waktunya berbuka, kita shalat dulu. jadi masih ada waktu aman.

Haniifa Rubi Lha sampean sendiri begitu sombong dan merasa paling benar … maksudnyah apaan tuh ?!😛

Haniifa Rubi Bejinih mas penjelesannyah:
lail – LIMIT->SIANG [Terbit (0°)]- Nahar – LIMIT->MALAM (Terbenam (0°)] – lail.
Sayah analogiken :
Zat cair (air + minyak) => lail + limit siang
begitu juga untuk limit malam + lailSedangkan UDARA sayah analogiken sebagai NAHAR (SIANG).
Terbayang tidak ?!

Haniifa Rubi To Zainal and handai taulan, kalau menurut sayah dari pada binun-binun sampean dah ajah buka puasanyah pas LAIL (baca: adzan isya )… hehehe…. makin ngawur ajah nih anak.

Zainal Syam Arifin ngakunya awam tetapi malah membawakan tafsir yang ribet banget, memaksakan matematika pada al Qur’an lagi.

Saya memang berbuka pada saat LAIL, yaitu safaq kadzib, atau 56-57 menit sesudah azan magrib masjid di indonesia yang “umumnya” azan magrib dikumandangkan setelah terbenam matahari pada derajad dibawah 1.

Anda mau terima ataukah tidak itu urusan anda, kan sudah saya bilang sebelumnya, kalau semua orang menolak hal ini termasuk anak isteri saya maka cukuplah diri saya sendiri. Kalau anda tidak sependapat maka anda tidak usah “maksa”. Saya nggak pernah maksa orang koq. Ingat al baqarah:256

Haniifa Rubi Lha kan sudah sayah bilang itu urusan sampean, tapi jika sampean publish di tempat umum, artinya apaan tuh ?! … hehehe… lha sayahkan orang awam…. hikz.

Haniifa Rubi Katanyah 45 menit setelah adzan, lho sekarang jadi 56 atau 57 … hehehe.. plin-plan juga neeh orang malu yah… 14 x 4 = 56 ..😀😀

Zainal Syam Arifin Jelas saya publish karena itu berarti menawarkan kepada orang (menzhahirkan” kebenaran yang saya ketahui).
“Tidak mengerti perkataan” pernah baca dalam al Qur’an apa maksudnya?

Zainal Syam Arifin loh? tidak mengerti perkataan rupanya. pantas saja saya capek ngomong

Nanik Desimiati Wasaq ‘tlah’ menyelubungi’ yaitu kaki lail tak gelap menyelubungi 0° dan safak/merah bwh adalah kaki gelap menyelubungi 14°

Haniifa Rubi jawab dunk yang tegas 45 menit setelah adzan maghirb atau 56 ?! … kok kesannyah ragu-ragu nehh ..😀

Zainal Syam Arifin sudah saya katakan bahwa 45 menit itu “bagi orang…bla..bla. dst” bukan saya pribadi, karena saya tulis di kalimat lain bahwa saya berbuka pada saat safaq kadzib

Haniifa Rubi Tulis ajah yang jelas keyakinan sampean bahwa BUKA PUASA ITU ADALAH ADZAN ISYA pasti lail tuh…. hehehe..

Zainal Syam Arifin baca baik-baik saja deh……

Haniifa Rubi Kan udah sayah saranken.. hehehe

Zainal Syam Arifin Apa ya jawaban bagi orang yang kita harus memberikan jawaban yang sama berkali-kali?

Haniifa Rubi lho sayah bicara baik-baik … rasanya sampean yang menuduh sayah tidak berakal .. hahaha…

Haniifa Rubi Sayah dah mohon ampun kepada ALLOH, apa jawaban orang yang merasa benar sendiri dan tidak mau memohon ampun kepada ALLOH dan lebih ngotot pada analisis sendiri … ?!??

Zainal Syam Arifin Sudah saya katakan bahwa 45 menit itu adalah perkiraan yag aman untuk “menyegerakan” berbuka KARENA SEHARUSNYA ifthar itu pada saat lail yaitu pada awal safaq kadzib pada menit 56-57. Ini bagi yang berpedoman pada hadis untuk menyegerakan berbuka yaitu di saat safaq masih terdapat di ufuk barat saja.

Adapun saya pribadi berbuka di saat awal safaq kadzib yaitu pada menit 56-57. JELAS????

Haniifa Rubi Astaghfirullohal adzim….

Haniifa Rubi Menurut sampean lho adzan Magrib = LAIL … hehehe

Pramudya Yanuanto ‎@Nanik Desmiati : setuju … Demi malam dan apa yg diselubunginya.
Bahwa secara bertahap Lail mengambil alih Syafaq.kalau kita terjemahkan dengan selubung, maka selubung selalu menyelubungi benda yg berbeda.
Kita tidak memakai selubung untuk menyelubungi selubung. HeheheDekat tidak sama dengan yg didekati
Yg menyelubungi tidak sama dengan yg diselubungi …

Haniifa Rubi Mas Pramu : kalau sampean “terselubung” (tenggelam) dalam zat cair bijimaha ?!

Zainal Syam Arifin ‎”Menurut sampean lho adzan Magrib = LAIL … hehehe”

_______ TAMBAH NGAWUR, SUDAHLAH, KELIHATANNYA SAYA NGGAK BISA MELANJUTKAN DISKUSI DENGAN ANDA SDR Haniifa Rubi. AFWAN

Haniifa Rubi Lho yang mendefinisiken adzan maghrib itukan sampean sendiri, apa sampean tidak mengerti analogi cair (limit malam+lail)

Zainal Syam Arifin Haniifa Rubi kalau antum tidak setuju, sebaiknya saya sarankan membuat thread baru untuk membantah/membendung tulisan saya. Tunjukkan saja dimana kelemahan atau kesalahan dalam tulisan saya dalam thread baru anda tersebut. Antum tidak perlu mentag saya, karena saya pun tidak suka debat kusir.

Haniifa Rubi Mas ini bukan soal setuju atau tidak setuju secara pribadi lho, mohon maaf yah… hikz.

Riki Zulkarnaen hindarilah perdebatan sekalipun anda di posisi yang benar,,,karena perdebatan itu cenderung kepada perselisihan,,,

Zainal Syam Arifin Syukron akhi Riki Zulkarnaen, itu juga yang saya usahakan.

Kun Oellaode Penafsiran itu hak personal. Quran pun suka ato tidak, membuka peluang multi tafsir meski diyakini sbg ‘suara langit’ bagi setiap muslim. Secara personal sy tidak sepaham dan merasa sdikit ‘gerah’ dg paparan di atas. Tapi sy menghormati pendapat akhiZainal Syam Arifin.🙂
Berdebat bukan lagi menjadi pilihan krn sudah masuk wilayah keyakinan.

Pramudya Yanuanto terselubung tidak sama dengan tenggelam mbak …
Dalam kasus Ayat 16-17 sudah jelas bahwa kita berbicara tentang ‘selubung’ yg tembus pandang. kelihatannya anda terlalu memaksakan mengobrak-abrik ayat agar sama dengan pendapat anda.Qur’an itu ukan balaghah walau ayatnya sangat indah dan bermutu tinggi.
Qur’an itu tidak rancu.
Qur’an itu ayatnya saling mendukung.Keterangan dan gambar mas Zainal saya rasa cukup sesuai dengan Al Baqarah 187, Al Insyiqaq 16-17, dan Yassin 36. JIKA KONDISI sumbu bumi dan revolusi terhadap matahari sempurna (tegak lurus dan lingkaran)Saya cuma TETAP TIDAK SEPENDAPAT dengan angka yg mas Zainal tulis secara mutlak karena saya penganut Rukyat, bukan hisab. Itu didukung fakta bahwa kutub Bumi miring 23.5 derajat terhadap planar revolusinya. Dan revolusinya berbetuk ellipse. Itu saja.

Zainal Syam Arifin Debat kusir itu adalah teknik mengacau pikiran yang mana orang zionis sangat ahli dalam perang pikiran, sebelum memasukkan pahaman baru meskipun keliru. Saya menganggap debat kusir itu sebagai “Racun” pikiran. Bisa membuat orang yang tadinya yakin menjadi bimbang ragu seperti terhipnotis meskiun sebelumnya benar. Ada sisi kelemahan dalam otak manusia.

Haniifa Rubi hehehe… wanita terselubung kain artinya wanita telanjang… hahaha.. lucu juga sampean @Om Pram.

Haniifa Rubi Hahaha… mulai taqiya neeh … tahu siah…😀😀

Zainal Syam Arifin dalam debat kusir, yang menang adalah yang pandai debat, tidak mesti selalu yang berilmu.

Haniifa Rubi Lha sampean sayah tantang ilmu geofisika, nda mau tuh… hehehe

Pramudya Yanuanto Mungkin perlu dibedakan antara terselubung dan terbungkus …
Kelihatannya memang ini yg dicari. tetapi kalau dipikir-pikir ini malah merugikan dirinya sendiri karena orang yg menilai akan tahu apakah seseorang serius mencari kebenaran atau pembenaran.

Haniifa Rubi mas terselubung (terbungkus) itukan terjemahaan atau tafsiran… tapi sekurang-kurangnya mendekat kebenaran

Haniifa Rubi ‎@Om Zainal, mari dunk kita buktiken ilmu matematis sampean disini….
https://haniifa.wordpress.com/2008/03/18/45/

haniifa.wordpress.com

Maret 13, 2008 pada 9:20 pm Assalamu’alaikum, Surah Al Ikhlash adalah suatu “tou…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin mbak Haniifa Rubi, anda tidak mengerti perkataan ya? Bukankah saya sudah katakan sebelumnay tidak suka debat? Kalau antum mau mengajarkan saya maka ajarkanlah saya, tetapi jangan engajak debat kusir. Nafsuan banget yah? hehehehe

Haniifa Rubi Sampean memang benar-benar sombong dan takabur yah….
APA MAKSUD SAMPEAN MENULIS INI “tidak mesti selalu yang berilmu.” ??????

Zainal Syam Arifin Saya berterima kasih sudah mempstig tautan itubisa menamah wawasan, tetapi jangan ditamahi embel-embel tantangan dan mengajak debat lah, hehehe

Pramudya Yanuanto hehehe … kalau ada yg bilang 0/0 = 1 itu jadi aneh … coba masukkan tak berhingga ke persamaan anda bukankah takberhingga=takberhingga?

Haniifa Rubi Sudah 2x sayah beristighfar… sampean belum satukalipun, jadi siapa neeh yang sombong dan sok berilmu itu ?!

Haniifa Rubi ‎@OOm Pram jangan disini dunk, nanti ada yang marah jadi debat kusir… hahaha…. diundang kesanah malah kesinuh… hehehe.. lucu-lucu trit…😀

Pramudya Yanuanto ebih baik menafsirkan kekuasaan Allah dg variabel takberhingga daripada menggunakan 0 … hehehe

Zainal Syam Arifin Yah sekali lagi saya juga memohon ma’af atas perbincangan ini.

Zainal Syam Arifin Barangkali sayalah yang dimaksud dengan sok berilmu itu

Pramudya Yanuanto ini ada hubungannya sya lebih setuju konsep Fahmi basya daripada menerjemahkan Allah sebagai 0 dengan pemelesetan logika.

Zainal Syam Arifin Ya saya setuju bahwa 0/0=1 tetapi ini maknanya bias, sebab 0/0 =2 juga benar, demikian juga 0/0=3, dst, karean itu 0/0 bisa merupakan bilangan apa saja, atau tidak terhingga, tidak hanya bernilai 1

Tony Wang sebenarnya 0/0 tidak hanya = 1, dapat dibuktikan dng Limit …(bisa angka lainnya). Bila lim t->1
Lim (t^2-1)/(t-1) = (t+1)(t-1)/(t-1) = 1+1 = 2

Haniifa Rubi ‎=>To Mas Tony Wang
Sekarang tolong hitung nilai Limit t->1
LIM Sin(t^2-1)/ Sint-1) = ???
..hehehe….=>To Mas Zainal sama-sama sayah juga mohon maaf, bukan maksud mendistorsi alam pikiran sampean atau pemahaman baru bagi sampean pribadi, jujur saja bukan sampean sendiri yang berpendapat seperti itu bahkan munurut beliau, karena buka puasanyah (maksudnya makan besar) lewat isya maka terasa lebih nikmat, tidak cukup sayah uraiken disini karena keterbatasan waktu dan kesempatan.
Intinya sayah pribadi tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkan karena sayah bukan nabi dan bukan pula rosul.
Jikalau saya benarkan pendapat sampean, jika ternyata salah ?! ‘audzubillahimin dzalik.
Jadi uraian saya adalah sebagai tesa-antitesa buwat para pembaca, soal nama saya atau opini saya yang terburuk atau terbaik itu bukan urusan saya.

Haniifa Rubi ‎@Oom Pram: hehehe… Fahmi basya babak belur soal CANDI BOROBUDUR…. silahken sampean lihat analisis sayah disini.
https://haniifa.wordpress.com/2012/06/23/ham-artinya-hanya-angan-anak-monyet/#comment-16016

haniifa.wordpress.com

Assalamu’alaikum, “Lempar batu sembunyi tangan, sayangnya kena batunyah” Tiada h…Lihat Selengkapnya

Pramudya Yanuanto Bahwa seandainya beliau salah dalam satu hal, belum tentu selalu salah bukan? Bahwa saya berbeda pendapat dengan seseorang dalam satu hal tidak berarti saya tidak setuju saat eliau menunjukkan kebenaran.

Bahwa anda menerangkan sesuatu denga terbolak-balik, memaksa, dan sambar-sambar sini untuk mengukuhkan pendapat anda tidak berarti saya mengabaikan dan tidak meneliti pendapat anda.

Jika anda bisa melihat ke alam yg lebih tersembunyi, maka anda akan mellihat hal yg menarik mengenai tabut dan mengapa Zionisme begitu tertarik pada Indonesia.

Zainal Syam Arifin Mas Pramudya Yanuanto, makna saqo (menyelubungi) di ayat 84:17 adalah gelapnya malam (berakhirnya safaq) menyelumuti bumi

Zainal Syam Arifin yang diselimuti adalah bumi, sedang yang yang menyelimuti adalah LAIL (gelapnya malam)

Nanik Desimiati Selubung mlam X pada O =😄 transparan kaki tak terlalu terang blm merah. Selubung gelap xO dn x small smi transparan 2kakinya merah. Luas selubung bola = kulit seluas 2ΠR^2

Pramudya Yanuanto kita bicara masalah transparansi (ada dan tiadanya cahaya). Bahwa bumi itu diselubungi, itu pasti tapi dapatkah terang diselubungi gelap atau gelap menyelubungi terang? Ayat ini lebih tepat menjelaskan konsep Ilaa karena berkaitan dg terang gelap.
(QS 2:257)

Zainal Syam Arifin Persoalannya begini: kenapa orang selalu mengaitkan permulaan malam itu sebagai awal mula terbenam matahari? Padahal safaq itu terjadi setelah terbenam matahari. Lihat kamus al Munawir tentang arti dari safaq.

Nanik Desimiati Maaf 1/2bola karn full 4ΠR^2

Pramudya Yanuanto Mbak @Nanik: Tolong bantu saya untuk perhitungan jika sumbu miring 23.5 derajat.

Zainal Syam Arifin mbak Nanik Desimiati saya tidak sependapat, karena itu berarti anda berpendapat bahwa malam itu adalah setengah bola bumi, padahal definisi safaq dengan lail itu berbeda di ayat 84:16-17

Zainal Syam Arifin Mestinya sifat terang itu lebih berkuasa terhadap gelap sehingga siang itu termasuk safaq dan fajar, karena pemilik cahaya fajar maupun safaq adalah siang (nahar)

Zainal Syam Arifin Itulah sebabnya saya memahami bahwa fajar dan safaq adalah kedua tepi (ujung) siang yang disinggung di ayat Hud[11]:114

Pramudya Yanuanto Jika itu yg Mas Zainal Syam Arifin ingin kan, maka dalam gambar harus menggunakan konsep bola dan disertakan lingkar atmosfer agar pembaca lebih paham, karena atmosferlah yg membuat terang itu lebih berkuasa atas gelap (karena pembiasannya). Penggambaran yg diberikan dg cara di atas bisa menimbulkan salah tafsir buat sebagian orang. Ini bari saya sadaeri ketika Mbak Nanik mendeskripsikan tentang bola.

Padahal diagram mas Zainal tidak menggambarkan bola bumi melainkan diagram abstraksi cahaya.

Zainal Syam Arifin ya saya sadari mas Pramudya Yanuanto atas kelemahanku itu. Bentuknya bola meskipun tidak sama persis bola karena akibat rotasi bumi maka massa bumi banyak yang ke arah katulistiwa. Sehingag derajad 14 itu bisa lebih jika di belahan lebih ke arah kutub mislanya di philipina, china taiwa, pakistan, iran, dsb

Nanik Desimiati X putar 23.5 tetap luasnya 1/2 full pad O gepeng. Trang glap 2:257 kafir/iman bkn siang malam. Lail otomatis slubung safaq /malam selubung glap bukn gelap selubung malam

Pramudya Yanuanto atau kurang tergantung kemiringan yg 23.5 derajat itu ….

Zainal Syam Arifin apa maksudnya “selubung glap bukn gelap selubung malam”?

Pramudya Yanuanto Saya pribadi cuma keberatan dengan angka derajat syafaq, lail dan menitnya yg DIMUTLAKKAN.
Jika itu memangmutlak maka sudah sejak lama kita menggunakan hisab. Dan jika itu memang mutlak, maka tidak ada peringatan tentang hari-hari SYAK, yg kebetulan bersamaan dg hari-hariPUTIH yg disunnahkan berpuasa.Dari pengamatan saya,3 hari ini pergeseran lailcukup jauh.Mencapai 10 menit-an. Sayang kekurangan saya adalah saya tidakbisamemastikan dengan benang putih dan hitamkarena daerah saya terlalu banyaklampu …

Zainal Syam Arifin Mas Pramudya Yanuanto, saya sudah pernah sebutkan di atas bahwa itu tidak mutlak tergantung zona yang berdekatan. dan saya sepakat dengan semua ahli hisab bahwa wilayah indonesia bisa dianggap satu zona sehingga cara perhitungan dan penentuan derajadnya bisa dianggap sama.
Hisab hanya sebagai alat bantu bahwa di dahulukan ru’yat baru hisab mengikuti.

Nanik Desimiati Qs allail: Tajalla nahar yaitu ada sinar s hingga di 0° t di 0°-14°adalah titik2 pada s lewat 0° menerangi tapi bukan tajala sumber. Arti yaghsya ayat awalnya ialah lail ‘meyusul 0° ke 14 dst

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, sifat siang memang tajalla dan malam yaghsya, tetapi ayat 2:187 membedakan LAIL dengan FAJAR dan ayat 84:16-17 membedakan LAIL dengan SYAFAQ.

Nanik Desimiati Lail sbg batas syari shaum yaitu aturan sahur hatta dan buka post ilaa dalam lail sbg batas batas aturan tajalla yaghsya.

Nanik Desimiati Istilah lain saling susul di 0° pagi nahar yaliju lail dan 0° lail yaliju nahar

Zainal Syam Arifin ‎:
Coba lihat inihttps://www.facebook.com/photo.php?fbid=4451972536413&set=a.2331913216255.2142687.1202511760&type=3&theater

ma’af itu keterangan gambarnya keliru, mestinya saat terbenam, bukan saat terbit…Lihat Selengkapnya

Apakah Sama Waktu Ifthar Saat sedang Berpuasa dengan Waktu Sholat Shubuh dan Magrib?

Nanik Desimiati Maaf yaghsya itu menutupi selimut lebih umum menyelimuti

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, coba tolong lihat gambar di atas.

Perbedaan pemberian nama waktu LAIL dan FAJAR disamping disebutkan di al Baqarah:187 juga di al Qadr.

Yaghsya memang artinya menutup, tetapi ALLAAH mengakui perbedaan waktu LAIL dan NAHAR serta yang merupakan waktu transisi (FAJAR dan SAFAQ) sebagai waktu tersendiri. Namun karena hanya ada dua waktu saja yang utama yaitu MALAM dan SIANG maka mau tidak mau, FAJAR dan SAFAQ harus dimasukkan pada salah satu dari kedua waktu ini: apakah masuk LAIL ataukah masuk NAHAR?

Karena Sifat Cahaya yang mengalahkan Gelap, maka FAJAR dan SAFAQ juga adalah Milik NAHAR sehingga kedua waktu itu dimasukkan sebagai bagian dari NAHAR dan merupakan Ujung/Tepi NAHAR.

Logika ini sejalan dengan ayat 2:187 & al Qadr serta ayat 84:16-17, bahwa LAIL itu tidak masuk FAJAR maupun SAFAQ.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : mohon maaf neeh, sayah kok ingat surah Al Muzzammil ayat 20

“Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu”.

Duh… jadi debat lagi dah … hikz.

Haniifa Rubi Mas Zainal, sekali lagi mohon maaf …. tolong edit kata-kata “tetapi ALLAAH mengakui perbedaan ” .. ini konotasinya absolute bertolak belakang dengan ALLAAH MENETAPKAN….
Dus… BATAS LAIL DAN NAHAR itu KETETAPAN ALLAAH bukan ketetapan sampean !!!…. Ngerti sampean ?????

Zainal Syam Arifin saya menolak debat tetapi tidak keberatan kalau diskusi. Dan tidak suka jika keluar dari topik kecuali jika hanya sebagai tambahan referensi saja.

Mengenai ayat itu saya belum sampai mempelajarinya, namun kalau boleh komentar untuk sementara (sambil terus belajar):
batas waktu yang dimaksud di ayat itu adalah batas waktu untuk berdiri sholat tahajud pada waktu kurang dari 2/3 malam, pada 1/2 malam atau pada 1/3 malamnya. Hal itu dimaklumi pada saat itu tidak memiliki jam seperti sekarang ini.

Pramudya Yanuanto Dalam hal ini ayat itu menegur baik mas Zainal (yg menentukan batas menit secara mutlak), dan Mbak haniifa (yang menganggap Syafaq itu sama dengan Lail), pada hal Allah bersumpah dg keduanya dalam ayat yg berturutan (84-16-17) …

Zainal Syam Arifin Ma’af saya off dulu. waktunya ibadah ramadhan

Haniifa Rubi Mas Pram: kapan tuh sayah nulis syafaq…. yang sayah tulis adalah adzan maghrib pulis 1 derjat = lail… coba tunjuken bahwa saya secara tegas menulis syafaq = lail ?!

Nanik Desimiati Mathlail fajr : tempat naik fajr 19 yaliju ke 14 yaliju matlail lail transisi ke 0 mathlai’l nahar

Pramudya Yanuanto Coba dibaca lagi dengan santai dari atas ke bawah pendapat anda … mumpung mas Zainal nggak ada, jadii anda bisa membaca lebih tenang …

Haniifa Rubi ‎=> Mas Pram: syah ingat sekali lho sampean mendorong openi perihal syafaq… hehehe… coba sampean trace semua koment sayah, tidak sekalipun sayah menyentuh soal syafaq…. hikz.

Nanik Desimiati Dalil nahar 14 pagi salahnya tajall non sumber

Nanik Desimiati Batil < hak tapi dark matter> light matter dan ligth energy > dark matter tapi malam siang bukan light dan dark tapi geo astronomi.

Nanik Desimiati Walau memungkin mthr>>bumi smntara proyeksi pusat perut mthr K dan tepi rataan astronomis X tengah garis dr 2 perut bumiXmthr

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik rupanya sampean senang geofisik n astronimi yah….
Perthaiken surah Al fatihaah yang terdiri dari 22 huruf, jika sayah kaliken dengan 0,01 dan setiap susunan huruf sayah beri bobot sesuai urutan.
INGAT INI SEMUA PENYUSUN UMUL KITAB (AL FATIHAAH)
Huruf ذ : 1 buah => 9 x 0,01 = 0,09
Huruf ق : 1 buah => 21 x 0,01 = 0,21
Huruf لا : 1 buah => 28 x 0,01 = 0, 28
Huruf ض : 2 buah =>15×2×0,01= 0,30
Huruf غ : 2 buah =>19×2×0,01= 0,38
Huruf ط : 2 buah. => 16×2×0,01= 0,32
Huruf ص : 2 buah => 14×2×0,01= 0,28
Huruf ت : 3 buah. =>3×3×0,01= 0,09
Huruf ك : 3 buah.=>22×3×0,01= 0,66
Huruf س : 3 buah =>12×3×0,01= 0,36
Huruf و : 4 buah.=>26×4×0,01= 1,04
Huruf د : 4 buah.=>8×4×0,01= 0,32
Huruf ب : 4 buah.=>2×4×0,01= 0,08
Huruf ح : 5 buah.=>6×5×0,01= 0,30
Huruf هـ : 5 buah.=>27×5×0,01= 1,35
Huruf ع : 6 buah.=>18×6×0,01= 1,08
Huruf ر : 8 buah.=>10×8×0,01= 0,80
Huruf ن : 11 buah.=>25×11×0,01= 2,75
Huruf ي : 14 buah.=>30×14×0,01= 4,20
Huruf م : 15 buah.=>24×15×0,01= 3,60
Huruf ل : 21 buah.=>23×21×0,01= 4,83
Huruf ا : 23 buah.=>23x1x0,01= 0,23
===========
TOTAL 23,55Sekarang perhatiken kemiringan bumi menurut iptek 23,5 derajat.APA PENDAPAT SAMPEAN JIKA MENURUT SAYA (base on Al Qur’an) bahwa kemiringan bumi berputar sebenarnya antara 23 s/d 23,55 derajat ?!

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, saya pernah tulis di atas, bahwa patikan 14 derajad itu hasil ru’yat saya, dan itu bukan harga mati. Saya tidak persoalkan 14 derajadnya itu, yang saya fokuskan di sini adalah sesuai judulnya perbedaan antara LAIL dengan FAJAR dan SYAFAQ, bahwa FAJAR adalah kebalikan dari SYAFAQ. Kesamaannya adalah keduanya terletak pada kedua tepi siang yang berupa Gradien gelap atau gradien terang.

Zainal Syam Arifin Dan kalau saya masih bisa melihat syafaq pada derajad 13,5 maka yang menganggap bahwa LAIL itu sepenuhnya pada derajad kurang dari itu adalah keliru.

Nanik Desimiati pC/23°X p pengamat di bwh katulistiwa k lebih cpat drpd di atas k untuk rukyat:melihat 0° pk18 bumi segaris buncit mthr saat pra 1° gradien adzan magrib msih pragelap tapi nahar kazibnya tak terangglap efek yaghsya di blkg mata/lail shodik maka gradien beriktnya rukyat mata gradien pk 18.57 magrib usai adalah safaq pentingnya magrib tak boleh lewat utuk buka tidak ada dalil safaq atw lail sodik ke2 atas mthr tertup dn laishodik3 fajr ada dalil sahur dn lail shodik4 dn gradien 0 tmpt naik fajr ada dll qs alqadr qs alil nahar

Nanik Desimiati ‎0<Kurang dr <14° pad kurang jam pada 18.44 terang dikitnya dr bwah gradien non tajalli nahar disana jadi shodil lail.

Zainal Syam Arifin ‎:
barangkali cara yang paling mudah dalam memahaminya adalah sbb:DIWAKTU MANAKAH KITA IFTHAR? APAKAH DI WAKTU SAFAQ ATAUKAH DI WAKTU LAIL?Jika diwaktu SAFAQ maka nggak ada komen dan diskusi lagi karena bed pendapat, sama saja tidak sependapat secara 100% dengan tulisan saya pada gambar di atas.Kalau sepakat diwaktu LAIL, bukan di waktu SAFAQ, maka tolong dibaca berikut ini:FAJAR ADALAH KEBALIKAN DARI SAFAQ.

Dimanapun di salah satu titik koordinat di bumi ini, maka “ditempat itu” LAMA WAKTU KEMUNCULAN “Fajar” dan “Safaq” SAMA SAJA LAMANYA. Jika Fajar muncul selama X menit, demikian juga Safaq muncul selama X menit.

Sekarang kita lihat Azan Fajar kebanyakan Masjid di Indonesia, meski saya tidak sepakat mengenai derajadnya yaitu sekitar 17,5 sudah azan fajar, mereka yang azan di waktu tersebut sudah menganggap sebagai waktu fajar, bukan lagi LAIL, sekarang bagaimana jika diterapkan di waktu SAFAQ untuk waktu magrib, seharusnya ketetapan saya 14 derajad masih lebih cepat sudah dianggap LAIL padahal seharusnya nanti derajad 17,5 baru dianggap LAIL.
Persoalannya kita IFTHAR diwaktu SAFAQ ataukah LAIL? Ini yang harus ditetapkan dahulu secara fiqih atau disepakati bersama. Jika ifthar itu diwaktu SAFAQ maka berarti tidak usah menunggu waktu LAIL, bahkan menurut saya waktu 45 menit itu terlalu lama, boleh saja kita ikuti ifthar hanya 7 derajad atau 2 derajad (misalnya), karena toh masih termasuk safaq.

Namun bagaimana bisa kita mengatakan hal itu sedangkan ada ayat untuk mencukupkan shaum ILAA LAIL bukan ILAL SAFAQ?

Saya memahami bahwa tidak mungkin bertentangan ayat 2:187 dengan hadis menyegerakan berbuka, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, terpaksa atau sukarela, saya memahaminya bahwa sebenarnya Ifthar tetap harus dilakukan diwaktu LAIL, namun diijinkan ifthar diwaktu safaq asalkan waktunya pada akhir safaq yaitu paling cepat sekitar 12 menit (ini harus disepakati dulu merujuk ke ahli fiqih) sebelum safaq berakhir. Ini yang saya maksud “Bersegera” ifthar. Seharusnys di waktu LAIL yang menurut hasil ru’yat saya pada menit ke-14 (lebih cepat dari ketentuan azan fajar masjid di indonesia yang berkisar 17 derajad bahkan ada yang 19 derajad). Saya memakai kedua waktu itu sebagai perbandingan karena sebenarnya sama saja lama rentang waktuya serta kemunculannya pada tempat yang sama tersebut.

Minus 12 menit itu adalah harus berdasarkan ahli fiqih, justru kalau orang awam daripada keliru seharusnya malah minus 5 menit atau 0 menit dari hilangnya syafaq shadiq (biar aman daripada batal sebelum waktunya).

Nanik Desimiati Tinggi 2.5 meter mata pengamat R adius 6.400.000 m bumi sejrk x di blkg tan 0 mk X° = 180°√[2.5 m /R]/Π= 9°/(80Π) = 4×63°/1760 menit = 0.14×60″= pk 18.00.07 detik dibwh mata lail dn diatas nahar

زىنال ئرىفىن بن حسن ♥~اللهم صلى على محمدوآآآله محمد~♥

Zainal Syam Arifin ‎:
Kuncinya sebenarnya Apakah Kita Mengakui Bahwa SAFAQ dan LAIL adalah “Dua Hal yang Berbeda” yang disebutkan dalam ayat al Insyiqaq:16-17?
(Nggak perlu ada kajian tentang makna ILAA dalam al Baqarah:187 yang masih debatable)Kalau Hal ini Sudah diakui, Tinggal Menyepakati pada Derajad Ketinggian Matahari Berapa di bawah Ufuk Batas SAFAQ dan LAIL pada suatu wilayah tertentu?https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4453998627064&set=a.2331913216255.2142687.1202511760&type=3https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4454016347507&set=a.2331913216255.2142687.1202511760&type=3https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4454008747317&set=a.2331913216255.2142687.1202511760&type=3

PERBEDAAN LAIL – FAJAR – NAHAR

Apakah Sama Waktu Ifthar Saat sedang Berpuasa dengan Waktu Sholat Shubuh dan Magrib?

Nanik Desimiati Safak disumpah dgn merah I dbwh IC ‘koinsiden wa’ lail tlah meliputi di atas IC.

Nanik Desimiati Koinsiden dg tlh mk lail sdh mendahului.

Zainal Syam Arifin Tolong dong jangan disingkat2 nulisnya, hehehe, tidak semua tahu apa itu IC termasuk saya

Nanik Desimiati Jadi kriteria lail sblm safak

Zainal Syam Arifin kesimpulan mbak apa?

Zainal Syam Arifin Apakah SAFAQ & FAJAR bagian dari LAIL ataukah bagian dari NAHAR ataukah Bukan Bagian dari Keduanya (=Tersendiri)?

Nanik Desimiati Jd lail sblm safak pra 14 dr 0

Zainal Syam Arifin Maksudnya safaq shadiq termasuk LAIL? Afwan sukar mengerti bahasa antum🙂

Zainal Syam Arifin Itu alasan antum berdasarkan perhitungan anda di atas? Lalu bagaimana ayat 84:16-17?

Zainal Syam Arifin Patokan antum adalah permulaan surat al Lail, tetapi itu bisa multi tafsir

Zainal Syam Arifin kita sukar berhujjah dengan ayat yang multi tafsir

Nanik Desimiati Patokan 84 sudah dijlaskan (peristiwa bersama=koinsiden kr wa=dan lail awal ayat 17) antara isim sifatiyyah bissyafaq di ayat akhir 16 sbg salah satu dari ma wasaq fiil madli (apa yang telah diselubungi mulai dari 14 shadiq dan sblmnya kurang dr 0)

Nanik Desimiati Kurang dr 0 = 0,14° untuk stinggi orang <2.5 m terjadi sblm safak dan koinsiden dg ma wasaq dr lail pd pk18.00+lebih 7 detik.

Zainal Syam Arifin Sumpah ALLAAH di ayat itu apakah hanya untuk safaq atau termasuk LAIL dengan wasaq-nya dan qamar dengan tasaq-nya?
Kalau antum berpikir begitu maka jangan lupakan Bulannya termasuk juga yang disumpahi.
Karena itu saya malah berpikir bahwa safaq terpisah sebagamana fajar terpisah dengan lail (transisi), meskipun secara proses memang “Berurutan” dari awalnya safaq lalu menjadi sempurna dengan wasaq. Tetapi proses itu tidak hanya itu, sebelum safaq prosesnya dari nahar menjadi safaq yang juga berurutan.
Kalau dari nahar menjadi lail: dari tajalla menjadi safaq dan berikutnya dari safaq menjadi yaghsya.
Kalau dari lail menjadi nahar: dari yagsya menjadi fajar, dan berikutnya dari fajar menjadi tajalla.Sukar nalar saya menerima alasan mbak kenapa memasukkan safaq sebagai bagian dari LAIL karena sebenarnya itu hanyalah salah satu rangkaian proses dari nahar menjadi Lail.Apalagi bahwa di ayat 84:16-17 ditambah ayat 18, bahwa bulan termasuk yang disumpahi, sedangkan kalimat safaq terpisah bukan bagian dari ayat 17. Alasan mbak masuk akal kalau ayat 16 & 17 menyatu sehingga bisa diangap safaq adalah bagian dari proses yagsya dari permulaan menjadi sempurna/penuh (wasaq)— ini jika ayat 16 & 17 bersatu.
Namun kenyataannya ayat itu terpisah, sehingga keterpisahan ini untuk menunjukkan posisinya yang sama dengan fajar dimana ada sholat yang ditunaikan pada waktu fajar dan ada sholat yang ditunaikan pada waktu safaq (magrib), sedangkan sholat itu adalah pada waktu-waktu yang ditentukan, jelas hal ini menunjukkan bahwa safaq adalah salah satu bagian dari waktu yang terpisah dari lainya. Kecuali jika antum berpendapat boleh menunaikan sholat isya (yang diwaktu lail) di waktu safaq, dan ini tidak boleh meskipun sholat jamak (menurut fiqih yang saya ketahui sholat jamak hanya boleh dilakukan di “waktu bersama” misalnya saat safaq kadzib adalah “waktu bersama” antara magrib dan isya, meskipun sudah hilang keutamaan magrib).

Zainal Syam Arifin lagipula lail itu membentang menyelubungi bumi dari belahan yang satu ke belahan di sebelahnya (fajar dan safaq selalu terjadi setiap detik di belahan bumi ini), sehingga mestinya fajar juga termasuk lail (jika mengikuti logika mbak Nanik Desimiati)

Nanik Desimiati Koinsiden pd t detik yng sama posisi x1 pad 0-14, posisi x2 pada 14-19 sedang safaq/wasaq sedang, dan posisi x3 pada wasaq telah, ayat 18 posisi x4 idza/ adakala ketika qamar sedang akan menyilau kembali (mis purnama) dan sedang wasaq juga pasti tobaq/bertahap rotasi jam ke t+7 detik maka prinsip x1 masih 0-14 menjadi tlah wasaq sblm safak apalagi pada dan x2 prsinsip tlah wasaq dan sedang safak misal x2 di makasar x1 bandung. Saling salah x2 tlat buka jika x1ifthor dan x1 bataljika x2 ifhor.

Nanik Desimiati Jadi pada t posisi2 dr x1, x2 jika sedang tlah wasaq dan x4 tlah-tlah wasak idza tasaq gara2 x3 wasaq maka gara2 x3 pada t+7 rotasi jam berakibat x1 sedang tlah wasak, x2 telah-telah wasaq dan x4 telah-telah-telah.

Nanik Desimiati Jadi x1 sedang wasaq benar x2 antum lepaslah sunnah ifthor heuhheuy deudeuh.

Nanik Desimiati Nah pada saat fajr f posisi adakala tasaq x4 tlah wasaq, x3 wasaq koinsiden x2 fajar 19-14 sedang wasaq, x1 setelah 14 fjr sodik < 0° akan lepas wasaq maka x3 pd t+7 akan x1 akan nahar, x2 subuhan, x4 sahuran.

Zainal Syam Arifin istilah matematis ini yang membingungkan saya dan tulisan antum nggak ada titik komanya dan irit banget (banyak singkatan), bingung hadeuh……

pC/23°X p —> maksudnya opo iki?
tanda “x” ini maksudnya dibaca “kali” atau huruf yang dibaca “eks”? anggaplah dibaca “eks”
I dbwh IC –> maksudnya apa iki?

posisi x itu yang mana?

Repotnya saya digiring dengan bahasa yang sukar saya pahami, jadi saya nggak tahu seandainya saya dibodoh2in (dibully pun) pun saya nggak tahu (kalau tidak berusaha memahami benar), hehehe.

Tetapi setelah membaca berkali-kali saya mencoba simpulkan sendiri, dengan tulisan antum yang menghadirkan banyak rumus dan hitungan tetapi intinya hanya “mensyarah” waktu terbenam matahari dari titik ketinggian matahari 0 derajad sampai malam, sama sekali tidak menjelaskan alasan kenapa dimasukkan sebagai malam. Ya otomatis dengan trik/teknik “mensyarah” seperti ini, kalau patokannya titik ketinggian matahari 0 derajad, secara otomatis digiringlah untuk menerima pahaman antum bahwa SYAFAQ itu bagian dari malam.
hehehe… kayak dihipnotis sebab pembaca bisa tidak sadar.
Mendingan dari awal katakan saja secara singkat: “syafaq itu bagian dari malam”, hehehe

oke, saya hargai pendapat antum, meski saya harus mengeritkan kening untuk membacanya baru kemudian memahaminya.

Metode antum di atas dengan rumus hitungan itu, sebenarnya tidak perlu di syarah begitu, karena saya anggap itu sia-sia saja kalau SEJAK AWAL antum SUDAH mendefinisikan malam itu “DIMULAI SEJAK” terbenam matahari pada 0°.

Tentang makna sumpah yang antum singgung dengan kalimat antum yang membingungkanku:

” Safak disumpah dgn merah I dbwh IC ‘koinsiden wa’ lail tlah meliputi di atas IC.”
———>>>
Meskipun sempat membingungkan saya, apa maksud dari “safak disumpah dgn merah”, padahal syafaq itu ya artinya cahaya merah”, tetapi sudah saya jawab pada komen saya sebelumnya. Bahwa ayat 84:16 dan 84:17 tidak menyatu. Tanda waqaf لْأَ itu sampai ayat 18, yang mana kalau sumpahnya itu hanya untuk syafaq, maka kedudukan ayat 17 dengan ayat 18 itu sejajar, apalagi kalau sumpahnya tidak hanya untuk syafaq melainkan juga LAIL dan wasaq-nya serta qamar dengan tasaq-nya. Pemisahan ayat 16 & 17 ini sudah cukup sebagai dalil bahwa yang ALLAAH akui adalah waktu SYAFAQ dengan waktu FAJAR itu berbeda dengan waktu LAIL sehingga di kedua waktu itu ada sholat-nya masing-masing (Sholat Magrib dan Sholat ISYA).

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا
…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan WAKTUnya atas orang-orang yang beriman.
An-Nisaa`[4]:103

Masihkah antum beranggapan bahwa waktu FAJAR dan SYAFAQ itu sama dengan waktu LAIL?

Zainal Syam Arifin Pasti antum memilih Berbeda kan? Antum akan berhadapan dengan buah simalakama:

Kalau pilih BEDA, berarti konsekwensinya antum mengakui telah ifthar sebelum waktunya alias puasa antum batal dengan sendirinya dan hanya mendapatkan lapar dan haus saja karena saat mendekati garis finish (belum sampai) langsung dibatalkan.

Kalau pilih SAMA, mestinya antum boleh sholat Isya diwaktu Shubuh, karena kalau antum mengatakan SYAFAQ sama dengan LAIL, antum juga harus konsisten mengatakan waktu FAJAR sama dengan LAIL. Karena antara kedua waktu itu hanya kebalikan saja secara astronomy (berada disisi belahan bumi satunya).

Zainal Syam Arifin Demi ALLAAH saya seperti melihat “Hakikat” kenapa sholat Isya dan Sholat Fajar tidak boleh di jamak, karena ALLAAH sudah mengetahui tentang Perselisihan Umat Muhammad. Dan diantara mereka yang berselisih itu hanya satu saja yang benar, tidak mungkin ada dua pendapat yang berbeda, bisa dua-duanya benar atau dua-duanya salah.

Nanik Desimiati Beda di teks tapi disamakan waktu pada kenyataan masing2 pada beda 8 posisi pelaku2 utk telah malam/wasaq sbg awal=sbg maghrib, sbg syafaq, lail isya, sbg lail qyam, fajr, post fajar=pranahar. Siklus antrian tobaq.

Nanik Desimiati Wasaq statis /selalu telah ada menerima dinamik rotasi posisi2 terantri.

Zainal Syam Arifin Nanik Desimiati Beda di teks tapi disamakan waktu pada kenyataan masing2 pada beda 8 posisi pelaku2 utk telah malam/wasaq sbg awal=sbg maghrib, sbg syafaq, lail isya, sbg lail qyam, fajr, post fajar=pranahar. Siklus antrian tobaq.
50 menit yang lalu · Suka—————-
KOW BISA BEDA TEKSNYA TETAPI SAMA MAKNANYA? LOGIKA DARIMANA NIE?

Zainal Syam Arifin atau begini saja,
antum mempersamakan mereka (SYAFAQ & FAJAR sama dengan LAIL) secara astronomi ataukah secara fiqih yang diakui ALLAAH dalam al Qur’an? Kalau maksud antum secara astronomy sama, namun secara fiqih beda, okelah kalau begitu, namun kenapa memaksakan SYAFAQ (sholat magrib) tetapi tidak terhadap FAJAR (sholat shubuh)?

Nanik Desimiati Wasaq scara astronomi statis yaghsya dan fiqih mahdhoh terbagi perbedaan maktubah qurani syafaq akan tahu isya yang lebih wasaq krn antrian dinamis hingga maktubah jaliju time t rotasi di ba’da fajar akan lemah wasaq dan terlemah wasaq di 0. Jadi selang syafaq-fajr maktubah qurani fiqh wasaq kuat dalam krangka moment yaghsa astronomi.

Nanik Desimiati Akhir subh 0 mk sesimetri awal 0 oposan maghrib logika penyamaan lail telah wasaq lemah pada 2 plaku posisi terpisah dg syarat subtitutif (misal panci atau teko utuk wadah air pada tempat beda) dan ada kata wa non qosam yaitu dan syarat komplementer (mis api dan katel utk masak pad waktu yang sama)

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal: hehehe… banyak bwetul yang harus sayah tanggapi, sekali lagi mohon maaf, secara keseluruhan argumentum sampean menginginken sesuatu yang serba eksak makanya saya bawa alam pihkiran sampean pada hal yang berbau matematis, abstraksi matematis dari @Mba Nanik :” pC/23°X p —> maksudnya opo iki? k” kira-kira bejinih mas:

Jika x=> menuju 0 maka kemiringan bumi kira-kira 23° dan ini mengakibatken perhitungan dalam 1 bulam = 30 hari, kalau menurut hitungan versi syamsyiah (Masehi) 30 dan 31.

Jika x => menuju 0,55 maka kemiringan bumi kira-kira 23,55° dan ini mengakibatken perhitungan dalam 1 bulan = 29 hari, kalau menurut hitungan versi syamsyaiah (Masehi) 28 dan 29 hari tertanggung tahun khabisatnyah.

Olehkarena sayah haqul n ‘ainul yakin sekali nilai-nilai derajat sampean amat sangat errorm,

Kenapa sayah berani mangataken demikian ?!
sebab: MATAHARI TERBIT dan TERBENAM => defi. Nahaari dan Lail SANGAT DIPENGARUHI OLEH KEMIRINGAN POROS BUMI dengan kata lain “Tidak ada seorang manusiapun yang bisa menentukan secara pasti nilai RESULTANTE antara Garis BUJUR dengan Kemiringan Bumi…
Dhus…
Nabi Muhammad s.a.w memberiken dua method untuk validasi perhitungan yaitu : Wujudul hilal dan imkanur rukyat.

*** PAHAM atau HAMPA sampean ?! ****

Zainal Syam Arifin ‎Haniifa Rubi, jawaban antum terlambat karena sudah saya jawab tuh di atas kepada mbak Nanik Desimiati, yang saya anggap jawaban sia-sia karean hanya men’Syarh” waktu dari 0 derajad sampai malam. Semoga antum juga PAHAM dengan perkataanku.

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada antum yang sangat beradab sekali dalam berdiskusi, saya sangat mengagumi ilmu antum yang mendalam

Zainal Syam Arifin Namun sayang sekali antum lebih banyak berdalil secara astronomy yang dipaksakan kepada ayat al Qur’an.

Haniifa Rubi Apanyah yang terlambat ?! dan siapa yang memaksaken definisi LAIL itu ?
surah Al Muzzammil ayat 20″Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu”.

Zainal Syam Arifin mbak Nanik Desimiati, kenapa mengambil contoh panci dan teko antara syafaq dan fajar?

Anggaplah saya mengikuti keinginan antum bahwa keduanya adalah UJUNG dari Malam. Tetap saja jarak waktu menurut gradien intensitas gelapnya sama antara syafaq dan fajar pada tempat/titik yang sama.

Nanik Desimiati Betul sama, saat cahaya spt air lenyap hapus perlahan pada masakan panci maka mengembun di teko mulai menerima cahaya seoah keluar dari teko.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : “Sekarang kita lihat Azan Fajar kebanyakan Masjid di Indonesia, meski saya tidak sepakat mengenai derajadnya yaitu sekitar 17,5 sudah azan fajar, mereka yang azan di waktu tersebut sudah menganggap sebagai waktu fajar, bukan lagi LAIL, sekarang bagaimana jika diterapkan di waktu SAFAQ untuk waktu magrib, seharusnya ketetapan saya 14 derajad masih lebih cepat sudah dianggap LAIL padahal seharusnya nanti derajad 17,5 baru dianggap LAIL.”
_______________________
TOLONG TUNJUKEN AYAT AL QUR’AN NYA bahwa orang yang bisa menentukan waktu FAJAR dan SAFAQ berarti bisa menentukan batas LAIL ?!

Nanik Desimiati Jarak waktu 45’=lewat2-lewat1 ada setelah antri x2 lewat1 > 0 masuk ke lewat2 >14 pada saat lewat2 masuklah antrian x1 baginya lewat2>0 pk18.00.07 dst x2 pk.18.45.07 variasi 2posisi beda tsb adalah waktu setempat tapi rujukan mereka sama waktu terhadap t=18.00.00

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : “waktu setempat tapi rujukan mereka sama waktu terhadap t=18.00.00” …
____________________
Rupanya sampean berasumsi Masyrik = 0° dan Maghrib = 0° … hehehe…
INGAT ROTASI BUMI TIDAK TEGAK LURUS (baca: porosnya tetap), sebagai mana yang sayah jelasken poros bumi memepunyai STANDAR DEVIASI sebera 0,55° … dus…
Jika waktu masyrik – 0,55° maka waktu magrib – 0,55° , oleh karena itulah RASULULLOH menyuruh BILLAL adzan maghrib setaleh 1,1°Bijimana, kalau sampean kurang setuju ?!
Siap-siap dengan pertanyaan berikut : Mengapa MEKKAH tepat pada posisi (40° BT dan 23,55° LU ) ?!
Next…
Mengapa terdapat MAGNET BUMI yang sangat kuwat disanan ?!
Next…
Mengapa produksi Ozon justru terbanyak di MEKKAH ?!Last game… hehehe
BUKANKAH OZON MEMPENGARUHI BIAS CAHAYA MATAHARI ??????

Nanik Desimiati Kutub sebnarnya beubah 90-23.55 dn greenwich pindah 40 maka bagi indonesia ls + 23.55, bt +1,1 mka bias boleh 1,1 krn smakin jauh oleh miring 23,55 dan 3 garis waktu stempat miring menurun kekiri atas kbawah.

Nanik Desimiati t berubah periodik dg 2 amplitude ls/lu mart-april dn sptm-oktbr

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : Alhamdulillah, intinya sampean paham yang sayah maksudken…. hatur tengkiu.

=> Mas Zainal:
Fajar => Grandient cahaya limit menuju siang…. istrilah fajar menyingsing.
Syafaq => Gradient cahaya limit menuju malam. …. istilah merah lembayung, sebagaimana yang sayah jelasken QS 11:114 ” وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ” …Zulafam minal lail adalah SHALAT ASHAR

Dhus…..
ABSOLUTE GAMBAR SAMPEAN KELIRU…. sebab 20°, 17° , 14° dan 0° … POSISINYA PADA REGION NAHAR (SIANG).

Untuk memudahken hipotesis sampean, maka anggap saja bumi ini bidang 2 dimensi yang disinari oleh sebuah cahaya, maka posisi terang 50% setara dengan posisi gelap 50%.

Tapi kalau sampean keukeuh bisa menentukan batas MALAM (lail) dan SIANG (Nahar) berdasarken pengetahuan sampean pada batas Fajar dan “Syafaq”😀 ,maka saya HANIIFA berlepas diri.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Tony Wang : “sebenarnya 0/0 tidak hanya = 1, dapat dibuktikan dng Limit …(bisa angka lainnya). Bila lim t->1
Lim (t^2-1)/(t-1) = (t+1)(t-1)/(t-1) = 1+1 = 2”
____________________
Bisa sampean tolong hitung lim SIN(t^2-1)/ SIN(t-1) untuk t->1 ?????

Haniifa Rubi ‎=> Mana neeh @Oom Tony Wang si jagoan ilmu sempoa … hehehe…
Bukti t->1
Lim Cos(t^2-1) / Cos(t-1) => Lim Cos(1×1-1)/Cos(1-1) => Lim Cos(0)/Cos(0) = 1 .. hehehe….

Nanik Desimiati Fraksi Sin kok jd fraksi cos lbh enteng. Kalo aslinya btk 0/0 dr fraksi sin dg lhospital 2t cos (t^2-1)/cos(t-1) = 2 jika t lim 1.

Nanik Desimiati Jadi hadist bukhary-muslim ifthor hatta ya’taridlo lakumul ahmar / hingga syafaq shodik <=14 d adzan maghrib untuk imsak solat isya syafaq kazib post 17

Haniifa Rubi Hahaha… le’hospital dari mana neeh 2t ?!… hikx.

Haniifa Rubi ‎=> mba Nunik: (t^2-1)/(t-1) = (t+1)(t-1)/(t-1) .. dus..
2t.(t^2-1)/(t-1) = 2t. (t+1)(t-1)/(t-1) …dus…
2=2 … hehehe…

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : 14 x 4 => 18.56 … hahaha… adzan maghrib apaan tuh ?!😀😀

Nanik Desimiati Diferensialkn komposisi pembilang f(u) = u’f'(u) mk (sin (t^2-1))’=2tcos(t^2-1) tuh ada 2t

Haniifa Rubi hahaha.. yang mendefinisiken (t^2-1) / (t-1) siapa ????
Coba sampean tulis (t^2-1)/(t^2-1) dan tulis juga (t-1)/t-1) … hehehe..

Haniifa Rubi sin(t^2-1)/sin(t^2-1) = 1… tuh kan SATU
sin(t-1)/sin(t-1) = 1.. tuh kan SATU JUGA… hehehe…

Zainal Syam Arifin mbak Nanik Desimiati, afwan saya tidur lebih cepat, namun inti perbedaan kita adalah antum menganggap bahwa awal malam dimulai semenjak terbenam matahari. Kalau antum sudah beranggapan begitu maka itu sudah harga mati menurut antum. Semua yang antum tulis di atas berkaitan dengan itu hanya menggambarkan proses yang terjadi semenjak dari terbenamnya (di Syarh).

Adapun saya, menganggap awal mula malam tidak identik dengan terbenam matahari, melainkan akhir hilangnya syafaq atau mega Merah.
——————
Mbak @Haniifa, bukannya saya tidak mau meladeni antum, namun saya tidak cocok berdiskusi dengan antum. Kalau antum menyimak percakapan saya dengan mbak nanik, seharusnya antum bisa mengerti dengan siapa saya bisa cocok diskusi. Mbak nanik, meskipun beliau tidak setuju dengan tulisan saya, beliau berusaha menyimak dan membaca apa yang saya tulis, demikian juga saya begitu. Beda dengan anda, sehingga percakapan kita pasti akan menjadi debat kusir dan saya capek mengulangi menjelaskan hal yang sama, padahal pertanyaan antum itu sudah saya jawab bahwa ayat yang antum tulis berkaitan dengan kesulitan umat islam saat itu untuk bangun menunaikan sholat tahajud.
Asalkan antum mau menyimak/membaca dulu komentar saya dan memahami komen saya dulu, maka saya bersedia diskusi dengan antum.

Zainal Syam Arifin kembali ke mbak Nanik Desimiati,

Jadi kalau awal malam adalah syafaq kadzib maka sempurnanya (wasaq) adalah saat berakhirnya syafaq kadzib.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : Intinya sampean salah besar menepatkan posisi MERAH LEMBAYUNG pada region LAIL… coba tenangken hati dan fikiran sampean

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal: Oleh sebab itu sayah tidak mau merespon @Mas Fram perihal definsi SYAFAQ karena beliau berasumsi sama dengan sampean… hehehe

Nanik Desimiati ‎0/0 = taktentu bukan 1 at rubi

Nanik Desimiati Perintah makan minum hingga senja merah apakah kontek hadis ttg buka ‘alaa lail=sudah lengkap puasa?

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : Masalah tersebut sudah 3 tahun jadi sayah nggak aneh kalau sampean sependapat dengan ahlul sempoa … hehehe…

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : Mari kita bicara figh Al Qur’an mengenai shalat yang di jama ?!
Tolong sebutkan ayatnya, sebab sepengetahuan sayah hanya ada SHALAT yang di QASHAR , mis: 4 rakaat, dilakukan 2 rakaat dulu … dan bergantian dng yang lain, baru 2 rakaat kemudian… inipun dalam kondisi PEPERANGAN.
dus… mohon maaf menurut Al Qur’an yang sayah baca janganken Subuh (fajr) dengan Isya, untuk maghrib, ashar dan dzuhurpun aneh bin ajaib kalau di jama, sebab sampean sendiri menulis bahwa keutamaan shalat itu diawal waktu shalat (baca: mendekati setelah adzan) ???Sayah tunggu jawaban sampean ?!

Nanik Desimiati Bukti 0/0=x maka 0=0.x stara inf=inf.x jadi x tak tentu itu satu nilai tunggal anggota real.

Haniifa Rubi ‎=> waduh mba Nunik, semua dah sayah bantah di blog sayah, jadi jangan disinilah… nyaris semuanya podo bae… hehehe

Nanik Desimiati Ketika terjawab 1 padal selain itu memenuhi maka jawaban tidak tunggal. Pada dr soal baru utk tony wang sin(t^2-1)/sin(t-1) bejawab tunggal 2 jik t lim 1.

Haniifa Rubi ‎=> Wahhh… bijimana neeh, jelas-jelas diblog sayah tulis JIKA A=A maka A/A =1 …. Sayah mau tanya sampa sampean :
APAKAH (t^2-1) = (t-1) ????

Nanik Desimiati Syarat terlewat A taknol

Zainal Syam Arifin Nanik Desimiati Perintah makan minum hingga senja merah apakah kontek hadis ttg buka ‘alaa lail=sudah lengkap puasa?
12 menit yang lalu · Suka_____________ dimanakah ada dalilnya perintah makan minum hingga senja merah? Tidak ada kan? Pertanyaan antum karena antum menyamakan antara syafaq dengan lail, sehingga menurut antum ayat al baqarah:187 itu bisa antum katakan sampai senja merah.

Haniifa Rubi Janganken NOL, IMAJINIER PUN tetep berkaku bukti : √-1 / √-1 = 1 …. hehehe…
Saya mau tanya BILANGAN NOL imajiner atau bukan seeh… ?!

Nanik Desimiati Dalil ada koleksi foto facebookmu

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : “antum mempersamakan mereka (SYAFAQ & FAJAR sama dengan LAIL) secara astronomi ataukah secara fiqih yang diakui ALLAAH dalam al Qur’an? Kalau maksud antum secara astronomy sama, namun secara fiqih beda,”
_________________
FIQH yang mana neeh ?? SOALNYA MENURUT AL QUR”AN SECARA TEGAS SIAPAPUN ORANGNYA SEKALIPUN NABI DAN RASUL TIDAK BISA MENENTUKAN BATAS WAKTU LAIL DAN NAHAR.surah Al Muzzammil ayat 20″Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu”.

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : Coba tunjuken kepada sayah DALIL FIQH nya bahwa SYAFAQ dan FAJAR BUKAN LAIL ?!

Zainal Syam Arifin Mbak Nanik Desimiati, itu ayat al baqarah:187 ila lail bukan ila syafaq.

Kemudian ayat ini sebagai pendukung bahwa fajar dan magrib itu adalah ujung siang:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(Q.S Hud[11]:114)

Semua mufassir ahlul sunnah sepakat bahwa maksud “kedua tepi siang” adalah pagi (=fajar) dan petang (=magrib)

Zainal Syam Arifin Coba buka al Qur’an dan Terjemahan yang anda punya, disitu tertulis tafsirnya yang berada dalam tanda kurung

Zainal Syam Arifin yang ada dalam tanda kurung itulah tafsirnya (bukan terjemahannya)

Zainal Syam Arifin pemulaan malam pada HUd:114 adalah saat syafaq kadzib

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : ALLOH menetapkan SEGALA SESUATU ITU ADA PASANGANNYA siang dengan malam, laki-laki dengan perempuan…. NAMANYA SEIMBANG !!!!

Coba hitung nilai keseimpbang sampean porsi LAIL dengan NAHAR?????

Zainal Syam Arifin ma’af mbak Haniifa Rubi, saya tidak sependapat dengan antum mengartikan Mizan itu dengan 50%

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal: Sampean FAHAM tidak perihal MATAHARI TIDAK MENGEJAR BULAN, ATAU BULAN TIDAK MENGEJAR MATAHARI ?!

Haniifa Rubi Siapa yang menatakan mizan 50%… hahaha… aya-aya wae sampean mah.

Nanik Desimiati Betul naik ke siang subuh dan dekat ke malam magrib

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : “pemulaan malam pada HUd:114 adalah saat syafaq kadzib”… mohon maaf sampean bisa IQRO NGGAK ?!

Nanik Desimiati Dekat ke mlm dari t naik nahar di t+12 lihat komen t di atas mk diproleh 2 tepi t dn t+12 jam

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : APA KURANG JELAS QS 11:114 ” وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ” …Zulafam minal lail adalah SHALAT ASHAR

zulafam minal LAAAAILLLLLLLLLLLLLLLLLLLL

Nanik Desimiati Jk sama a= t^2-1 = t-1= b mk t=0 dan t=1. Ok a/b =1 jika t lim 0 tapi a/b =2 jika t lim 1 bukan 1 lagi

Nanik Desimiati Oh iya maaf dari t sbg malam betul rubi

Haniifa Rubi Coba sampean baca yang bwetul : a/b =1 jika b=a

Nanik Desimiati Asar dari jam +/-15 bukan dr lail rub

Haniifa Rubi ‎=> mba Nunik: Makanyah dalam Al Qur’an disebut zulafam minal lail => kira-kira analoginya “kembang gula” dengan “gula” berbeda kan.. .. hikz.

Nanik Desimiati Udah tau gak 0=0 belum final kesamaan dr seali itu final a=a

Haniifa Rubi Nah itu dia mba Nunik: hanya satu-satunya bilangan yang super NETRAL artinya tidak mempunyai invers… hehehe… disinilah antiknya biscara bilangan NOL

Haniifa Rubi Jasi kalau sayah analogiken masyrik = 0 dari arah kiri maka maghrib = 0 dari arah kanan… hehehe… barat dan timur, dan kemana saja ….bla..bla..bla…. cari sendiri deh ayatnyah.
3 jam yang lalu · Suka

Zainal Syam Arifin ma’af mbak Haniifa Rubi, kalau begitu cara antum berdiskusi saya tidak akan sanggup berdiskusi dengan antum. ujung2 nya debat kusir.
3 jam yang lalu · Suka

Nanik Desimiati Invers 0 nonexisted adalah whole exist 1/0.

Zainal Syam Arifin Ma’af ya saya pamitan dulu, silahkan dilanjutkan, saya akan menyimak (membaca dengan seksama) setelah mendekati sholat fajar.

Haniifa Rubi ‎=> Mau debat kurir atau kusir di debat silahken selama sampean tidak sok jago bisa menentukan batas SIANG dan MALAM, sehingga menulis seenak udelmu dewek bahwa ALLAAH mengakui kehebatan penemuan sampean, lha emangnya sampean itu siapa ?!>>>>>>

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik: Khan dalilnyah sudah jelas if a=a then a/a=1 … mosok a=1 dan 0 … hehehe…

Nanik Desimiati Jadi magrib zulfa/dekat dari/mina malam t [wasaq lemah/ilaa ke1 ifthor] mendekat pula ke/ilaa ke2 imsaq iftor utk isya malam syafaq kadzib [wasaq kuat] t+45+17-19.

Zainal Syam Arifin

Haniifa Rubi => Mau debat kurir atau kusir di debat silahken selama sampean tidak sok jago bisa menentukan batas SIANG dan MALAM, sehingga menulis seenak udelmu dewek bahwa ALLAAH mengakui kehebatan penemuan sampean, lha emangnya sampean it

u siapa ?!>>>>>>
10 menit yang lalu · Suka_____________>> INILAH SALAH SATU ALASAN SAYA TIDAK BISA DISKUSI DENGAN ANDA. MA’AF (^_^)Mbak Nanik silahkan dilanjutkan. Saya nyimak dulu sampai dekat Fajar Shodiq. Insya ALLAAH.

Nanik Desimiati Kuduna jk a=a dg syarat a taknol mk a/a = 1

Haniifa Rubi ‎=> Mas Zainal : INI JUGA ALASAN SAYAH SEBAGAI ORANG AWAM… hehehe…

Haniifa Rubi

wah… bukti bilangan yang tak nol :
Seandainya : -1/1 = 1/-1 :mrgreen:kemudian kita akarkan maka:
√(-1/1) = √(1/-1)

√-1/√1 = √1/√-1
Katakanlah i = √-1 maka: i/1 = 1/iKita bagi dengan bilangan 2 maka:
i/2 = 1/(2i)Kita tambah dengan bilangan 3/(2i) maka:
i/2 + 3/(2i) = 1/(2i) + 3/(2i)
atau…
i/2 + 3/(2i) = 4/(2i)Kita kali dengan bilangan i maka:
i (i/2 + 3/(2i) ) = i ( 4/(2i) )
i2/2 + 3i/(2i) = (4i)/(2i)Sebagaimana sebelumnya bahwa i = √-1 maka:
(√-1)2/2 + 3/2 (√-1)/(√-1) = 4/2 x (√-1)/(√-1)
atau…

-1/2 + 3/2 = 2
1 = 2

LHO KOK BISA YAH 1=2 … hehehe…

Nanik Desimiati Akibatny utk kasus a=t^2-1=t-1= b dg t tak 1 maka a/b=1 yaitu pada t=0

Haniifa Rubi Itu dalil sampean, kalau dalil sayah if a=a maka a/a=1 atau kalau sampean senang dengan var. b maka if b=b maka b/b=1…. hehehe

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : hikmahnya buwat @Oom Zainal jika salah penempatan tanda negatif saja akibattnyah FATAL ERROR dari bukti -1/1 = 1/-1, so…. seharusnya -1/1 = -1/1 atau 1/-1 = 1/-1 … bisa difahami ?!

Haniifa Rubi ‎=> Dhus biar sampeai lebaran monyet @Mas Zainal mendefinisiken ” pemulaan malam pada HUd:114 adalah saat syafaq kadzib” …. SAYAH AKAN TETAP MEMAGANG AL QUR’AN bahwa surah Hud :114 mendifnisiken zulafam minal lail. ATRAKSI matematis -1/1 tidak sama dengan 1/-1… hehehe

Haniifa Rubi ‎=> Masih kurang jelas ?!
Secara logika -1/1 = -1 dan 1/-1 = -1 juga tapi ternyata pada saat -1/1 = 1/-1 jika dikalikan dengan bil. imajiner maka 1=2 ????…Artinya @Oom Zainal yang satu mau FAJAR kek mau SYAFAQ kek pokoke MINUS… hahaha.. kelilru tuh.

Nanik Desimiati Cek aja -1/1=1/-1 menjd [ i/1]^2=[1/i]^2 akan dproleh persamaan di atas sbg kesamaan ks1 yng salah 1=2 dan juga ks2 i/2+3/2i=-1/2i+3/2i sbg kesamaan yng benar 1=1. Cek [ i/1]^2-[1/i]^2=ks1xks2=0.

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik : dari mana neeh [ i/1]^2=[1/i]^2 ??? … sayah tidak mencontoh ken lho… hikz.

Nanik Desimiati Dari -1/1=1/-1 hrs dulu i^2/1^2=1^2/i^2 baru punya sampean yng salah ups dn sy nyang betul hey

Haniifa Rubi hahaha… bilangan diakarken 2 lalu dipangkatken 2 apa bedanya atuh euy…. lucu tenan sampean ..😀😀

Haniifa Rubi ibarat sayah punya bliangan 3 lalu karena sayah jagoan ilmu sempoa maka (√3)^2 = 3 lho… hahaha… hebat euy….

Nanik Desimiati arahnya ( √3)^2-3=0 dng faktor (√3-√3)(√3+√3)=0 saat dikau pilih √3+√3=0 salah maka sy yng betul √3-√3=0

Haniifa Rubi wah… kalau bijituh mah atuh ngapain reprot-reprot’sss… hehehe…
-1/1=1/-1 => (-1/1) – (1/-1) = 0 … hahaha… sampean ngerti nggak seeh ?! maksudnyah ??? ..

Zainal Syam Arifin TEOREMA INI SANGAT “KELIRU BESAR”:

i/2 + 3/(2i) = 1/(2i) + 3/(2i)
atau…
i/2 + 3/(2i) = 4/(2i)

:p

Haniifa Rubi ‎=> Wah… oom zainal dah bangun yah… lalu maksudnya apaan tuh ?!

Haniifa Rubi i/2 = 1/(2i)
=> i/2 ditambah dengan TIGA per DUA i
=> 1/(2i) ditambah dengan TIGA per DUA i …. Juga atuh, lha apanya yang neeh neeh ?!

Nanik Desimiati Ok. Lanjutin (i/1)^2 – (1/i)^2=0 mnjd [(i/1)+(1/i)] [(i/1)-(1/i)]=0 maka sy pilih i/1+1/i=0 dan dikau pilih i/1 – 1/i = 0

Haniifa Rubi hahaha… saya baru sadar ngoceh sama anak-anak …😀😀

Haniifa Rubi ‎=> Mba Nanik: hahaha… kalau bijituh mah dah ajah if a=a then a-a=0… hahaha….. lucu sampean… salam sayang yah… pisss ahhh…

Zainal Syam Arifin i/2 tidak sama dengan 1/(2i). Kalau mau turunkan i menjadi penyebut maka harus dipangkat dengan minus 1. Saya cukup sabar menghadapi antum yang kekanak-kanakan. Buat lapak baru saja deh. Antum seperti rang tidak beradab ngerocos dalam rumah orang. Siapa sih yang ngundang antum ke sini?
Kalau antum cukup beradab, maka ngomongan antum mestinya di jaga, dan berakhlaklah dengan benar. Paham nggak antum>

Haniifa Rubi lho siapa bilang sama … hahaha… lihat dunk secara lengkap … lucu tenan sampean… hehehe….

Haniifa Rubi ‎=> Islam apaan sampean ?! kalah berdebat nyari-nyari alasan segala… hehehe..

Nanik Desimiati Dah li a .

Zainal Syam Arifin

i/2=(1/2) i= 1/(2 i^(-1))
paham matematika dasar nggak sih?Makanya penjumlahan ini keliru besar:
i/2 + 3/(2i) = 1/(2i) + 3/(2i)

atau…
i/2 + 3/(2i) = 4/(2i)Tolonglah kalau masuk lapak orang, antum bicara dengan santun dan beradab. Mengertikah antum? Saya cukup menghargai antum dan mau menghargai antum. Tetapi antum malah tidak bersikap baik.

Haniifa Rubi ‎=> ” Antum seperti rang tidak beradab ngerocos dalam rumah orang. Siapa sih yang ngundang antum ke sini?
Kalau antum cukup beradab, maka ngomongan antum mestinya di jaga, dan berakhlaklah dengan benar. Paham nggak antum>”
==============================
Hy cah Zainal yang sok moralis…. SAMPEAN NGERTI NGGAK STATUS “Dibagikan dengan:Publik”

Zainal Syam Arifin

loh yang bagikan bukan saya loh? Silahkan antum komplain dengan yang membagikan dengan antum.
Saya menulis di dinding saya, itu hak saya, kalau ada orang yang membagikannya saya juga nggak memintanya dan juga tidak melarangnya. Lagipula say

a tidak menolak anda di sini, saya hanya minta anda kalau berbicara itu ya “sopan” dikitlah, antum kan bukan anak kecil lagi dan saya yakin anda itu sudah mendapatkan pelajaran moral dan agama di sekolah

Haniifa Rubi Lha kalau sudah tahu status PUBLIC artinya UMUM dong… gaptek yah… hehehe….

Haniifa Rubi Ngapain juga bagi-bagi ilmu kacangan seperti ini…

Zainal Syam Arifin Anda itu tidak mengerti perkataan rupanya. Perlukah saya ulangi lagi bahwa tidak masalah anda menolak dan membantah pendapat saya di sini, yang saya kritik itu akhlak antum yang kekanak-kanakan dengan ucapan seperti ucapan tidak beradab. Siapakah antum ini sehingga melarang orang berbicara di depan publik?

Haniifa Rubi ‎=> Sampean super gaptek yah…
INI SAYAH NGETIK DIKOMPUTER SENDIRI BAYAR SENDIRI MONITOR SENDIRI… FACEBOOK SENDIRI… hahaha…. bodoh amat sampean terrnyata…

Zainal Syam Arifin Halaman rumah saya bisa saja saya sediakan untuk publik selama waktu tertentu tetapi tamu pun mesti berbicara sopan meski disediakan untuk publik. mengertikah antum?

Haniifa Rubi Yehhh… nggak ngerti publik… hahaha…

Zainal Syam Arifin ckckckckck……

Haniifa Rubi Astaghfirulllohal adzim,….. hayo istighfar sampean… hikz.

Zainal Syam Arifin Saya ulangi lagi:
Saya tidak melarang anda berbicara di sini meskipun keluar topik, tetapi berbicaralah dengan sopan. Apakah mengatakan seperti ini:
“anda bodoh, anda ini anak kecil, dan sebangsanya merupakan hal biasa bagi anda?”Kalau biasa bagi anda, itu bukan merupakan kebiasaan saya dan keluarga saya

Haniifa Rubi Lho kan sudah sayah bilang sayah tidak perduli apa yang sampean laksanaken dengan seksama… mosok dah pikun seeeh… hehehe

Haniifa Rubi Jadi SIAPA NEEH YANG TIDAK BERAKAL ?!

Haniifa Rubi Begitu cara UMAT ISLAM berdialog dengan yang bersebrangan ?!

Zainal Syam Arifin ckckck… anda merasa bebas ngomong karena pakai akun palsu anda pikir dengan akun palsu ini “EGO” anda juga berubah sehingga malaikat pencatat juga bisa anda tipu?

Haniifa Rubi hahaha…… siapa menipu siapa yang tertipu neeh ?!……

Haniifa Rubi ckckcck… hebat euy, bisa tahu CATATAN MALAIKAT ?!… ckckckc

Zainal Syam Arifin mohon ma’af ya, jangan kaget kalau suatu saat saya terpaksa memblokir antum

Haniifa Rubi Lho silahken saja, memangnya tatuttt……….. buat apa gaul sama orang sombong dan takabur, ‘audzubillahimin dzalik

Pramudya Yanuanto

terus terang saya juga berhenti berdiskusi setelah melihat bahwa ketidak setujuan pada teorema seseorang (Fahmi basya) menyebabkan oknum tertentu menghina beliau dg suatu tulisan yg kasar yg kalau saya nilai bahkan argumen bantahannya terla…Lihat Selengkapnya

Zainal Syam Arifin hahaha🙂 ada komentarnya yang menjadi spam, saya bisa lihat isinya, siapa yang menjadikannya spam? Demi ALLAAH bukan saya, karena saya sedang diskusi dengan mas Nanik Desimiati di pic lainnya. Yang jelas saya belum ngorek-ngorek komentarnya beliau.

.

Zainal Syam Arifin hehehe, mungkin saja dia hapus sendiri, allaahu a’lam.
Bang Yahya Maaf, lagi sibuk urus pilkada padang……lain x aja…..
  •   Haniifa Rubi

    ‎=> @Oom Zainal : “Adapun patokan 45 menit itu adalah waktu yang sangat “meyakinkan” bahwa safaq hanya terlihat di ufuk barat terjauh saja. Dan itu sebenarnya belum termasuk LAIL, kalau berpatokan pada insyiqaq:16-17. Bahwa malam gelap menu

    tupi itu adalah setelah berakhirnya asyafaq shadiq atau menit ke 56-57 setelah terbenam matahari.
    __________
    Disini sampean bicara 360° atau LAIL + NAHAR (sehari semalam atau 24 jam) dengan kata lain hitungan 2 menit setara dengan 1° adalah dalam hitungan sampean kok beda yah…
    Dhus… 14° => 28 menit… jadi binun euy… hehehe….
    catatan: kalau sayah lupa 180° x 4 = 720° SETARA DENGAN 360° x 2 = 720° … hehehe
    Atau beijinih ajah @oom Zainal : waktu FAJAR ( (360° => 12 jam mode zainal)), waktu NAHAR (360° => 12 jam mode zainal), waktu SYAFAQ (360° => 12 jam mode zainal) dan waktu LAIL (360° => 12 jam mode zainal)… hahaha… hebat euy penemuan sampean… hikz.
    => @Oom Zainail : Untuk mengobati luka hati sampean ….
    bijimana kalau bejinih => SYAFAQ 14° region NAHAR + 14° Region LAIL => 28° x 2 menit = 56 menit… hehehe… kasian deh lu … hikz.
    Eh… ngemeng-ngemeng 14° REGION LAIL berarti dah LAIL dunk…

    Subhanalloh,…. kok bisa cocok Al Baqarah:187 dengan hadits !!!!
  • Haniifa Rubi

    ‎=> Mas Pramudia Yanuanto: Weleh…weleh, sampean benar benar naif tentang artikel “AL QUR’AN membuktikan bilangan NOL ” , sungguh sangat tidak masuk akal kalau sampean meributkan 0/0=1 walaupun sampai saat ini tidak ada yang bisa menyangga

    h.
    Sejujurnya saya ingin membuka paradigma yang amat sangat keliru tentang sejarah bilangan NOL. Tapi rupanya kalian seperti Dr. Rashad Khalifa dan Penentangnya yaitu menghitung kata “AR RAHMAAN” = 57 dalam AL Qur’an , padahal FAKTANYA ADA 58 (judul surah Ar Rahmaan) atau 58 + 114 (dalam basmallah).
    Silahken sampean pelajari dan bandingkan sendiri tentang sejarah bilangan NOL yang saya kutip di berbagai media ini:
    ____________________________________
    There are also different aspects of zero within these two uses, namely the concept, the notation, and the name. (Our name “zero” derives ultimately from the Arabic sifr which also gives us the word “cipher”.)Neither of the above uses has an easily described history. It just did not happen that someone invented the ideas, and then everyone started to use them. Also it is fair to say that the number zero is far from an intuitive concept. Mathematical problems started as ‘real’ problems rather than abstract problems. Numbers in early historical times were thought of much more concretely than the abstract concepts which are our numbers today. There are giant mental leaps from 5 horses to 5 “things” and then to the abstract idea of “five”.
    ______________________________
    Pertama :
    “NOL” berasal akhirnya dari sifr Arab yang juga memberi kita kata “cipher”Kedua:
    Penulisan angka sepuluh (1.) auatu (10) terdapat dalam Al Qur’an.

    Ketiga perhatiken filosofis matematis ini:
    mental leaps from 5 horses to 5 “things” and then to the abstract idea of “five”
    Silahken sampen buka surah AL FATIHAAH, maka terdapat tanda waqab ANGKA LIMA (Five) dengan diatasnya huruf LAM-ALIF (2 huruf) INI ADALAH 5² (bukti otentik al qur’an secara matematis)
    Dengan demikian konseip 0² = 0, and √0 = 0
    **** SUDAH SANGAT JELAS DALAM SURAH AL FATIHAAH ***

    Jika sampean bukan beragama ISLAM maka sayah maklumi … ?!

  • Haniifa Rubi ‎=> Mas Pramudia Yanuanto: bijimana neeh soal 0/0=1 … hehehe
    Mosok sampean kalah berani dengan Oom Karl Karnadi (pakar Atheis Indonesia )atau sama Dr. Daeng Fattah Dosen (Matematika() …. mereka berani dan merespon dengan analisinya sendiri.
    Bukan seperti sampean yang hanya bisa rujuk RUJAK sana-sini ???Islam apaan tuh ?!

..:: End ::…

😀

Wassalam, Haniifa

5 Responses to “Kalau antum berakal”

  1. agorsiloku said

    Terlalu panjang postingan diskusinya, asik sih… tapi jadi ngantuk. Namun, sayang tidak ada isi pembahasan, kalau Nabi berbuka, nunggu 42 menit atau 42 detik ya… atau begitu adzan dikumandangkan (biar belum selesai), sudah menjadi tanda untuk waktunya berbuka. Bukankah, kalau sudah dicontohkan Nabi, ya…. ngapain juga membuat pembenaran berlama-lama….
    Salam, agor.

    • @Kang Agorsiloku
      😀 bwetul terlalu panjang dan bertele-tele, tapi memang perlu dibuat resumenya yang lebih simpel untuk sementara ini sayah hanya merecord semua koment sambil memilih dan memilah… dalam artian bukan mencari pembenaran tapi mudah-mudahan terkuak nilai-nilai yang benar.
      Soal pembahasan waktu sayah kira seluruh dunia sudah sepakat bahwa waktu siang terdiri dari 12 jam (3600) dari konversi 1800 bagian bumi demikian juga pembagian waktu malam hari. sehingga total menjadi 7200 untuk satu hari satu malam, Disamping hipotesis beliau dari awal-awal sudah sangat keliru juga mengenai konversi derajat terhadap waktupun demikian

      Salam hangat selalu…

      • agorsiloku said

        @Kang Haniif,
        Bagaimanapun, kajian ini menarik. Apalagi kalau di awal didefinisikan dengan jelas perbedaan term yang dipakai : shadiq, syafaq, thulu, ghalas/taglis, sampai akhirnya mendefinisikan relatif terhadap lail. Lalu standar apa yang dipakai “lazim” (di Indonesia), 14 derajat, 18 derajat, atau 20 atau apa lagi ya….Saya sendiri, nggak pernah memikirkan itu Kang, tapi pengetahuan seperti ini, tampaknya kajian menarik pula… apalagi kita tahu, awal puasa atau lebaran saja, kagak pernah sepakat, boleh jadi ini lebih tidak disepakati lagi. Namun, intinya, kemampuan akang untuk melihat kejernihan, mana yang semestinya diperhatikan akan membantu menambah wawasan pengetahuan yang diperlukan.
        Salam Hangat, agor

      • @Kang Agorsiloku
        Insya Allah,… mudah-mudahan saya diberi kemampuan untuk menarik benang merah dari simpang siur yang tak berkesudahan, minimal bagi saya pribadi dan sudah barang tentu saya sangat membutuhkan bantuan serta koreksi dari @Kang Agor khususnya dan dari rekan-rekan.
        Mengulas kelajiman angka-angka yang kadang-kadang jadi membingungkan penggunannya. misal 1° setara dengan 4 menit tapi ini dalam posisi skala 180° (12 jam malam/ siang) jadi “Oom Zainal” sepertinya menggabungkan skala dalam 720° (24 jam atau setara 2×360°).
        Jika saja beliau mengakui posisi 14° Region Nahar (siang->Magrib) dan 14° region Lail (Magrib->Malam) sekurang-kurangnya saya akan berusaha mengikuti jalan pemikirannya. Jadi apapun hadits Nabi pasti tidak menselisihi waktu berbuka puasa karena dari adzan maghirb 1,1° sudah memasuki region lail, insya Alloh.

  2. […] Kalau antum berakal […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: