حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Apa beda Kedelei sama Keledei ?!

Posted by حَنِيفًا on July 1, 2012

Assalamu’alaikum,

Penanya :
Apa “Beda kedelei sama keledei” ?!

Penjawab 1:
Kata Beda terdiri dari dua suku kata yaitu “Be” dan “Da“, jadi secara etimologis suku-kata “Be” berasal dari “embe” dan kita tahu embe padanan katanya bearti Kambing atau Domba dalam bahasa Indonesia sedangkan suku-kata “Da” berasal dari kata “kuda“.
Jadi jelas beda antara embe dan kuda, sementara @Penanya menyatakan sama  antara Keledei dengan Kedelei, maka ini sangat berbahaya sekali !!!

Penjawab 2:
“Kedelei sama Keledei” yang membedakan hanya posisi huruf “d” dan “l” padahal jumlah hurufnya sama-sama delapan dengan huruf konsonan : K, d dan l dan huruf vokal: e,a dan i.
Jadi jelas “Sama beda” antara Kedelei-Keledei

Penjawab 3:
Kedelei sama Keledei” kedua-duanya makhluk hidup, yang membedakan hanya namanya.

Peserta lainya : Setzzzz… Zzzzz…😀

Bijitulah, kalau kita berdialog dengan kaum Ahlul Kitab.

Ahlul Al-Kitabiyah ini serupa tapi tak sama dengan para Ateis, karena para kaum ateis sudah memposisikan dirinya dan sudah memberikan sinyalemen benang merah yang jelas.
Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sebuah buku plus CD yang berisi aneka dialog, video debat tentang ateis, artikel-artikel dan software pendukung.

Berikut ini saya berikan sebuah kutipan berupa kiasan dari buku diatas dan perumpamaan dari @Kang Rubon mengenai Ahlul Kitab yang saya ambil dari artikel @Kang Agorsiloku.

Al kisah ada seorang guru yang ateis bertanya jawab dengan murid-muridnya


Guru : Anak-anak, apakah kamu melihat apa yang ibu bawa ?
Murid : Iya Bu.
Guru : Saya membawa apa anak-anak ?
Murid : Penggaris Bu.
Guru : Penggaris ini kelihatan atau tidak ?
Murid : Kelihatan Bu.
Guru : Penggaris ini ada atau nggak ?
Murid : Ada Bu.
Guru : Sekarang penggaris ini saya masukan ke laci. Penggaris ini kelihatan atau tidak ?
Murid : Nggak Bu.
Guru : Karena nggak kelihatan berarti penggaris ini tidak ada. Anak-anak sekarang     Tuhan itu kelihatan atau tidak ?
Murid : Nggak Bu.
Guru : Kalau begitu, Tuhan itu ada atau tidak ?
Murid : Nggak ada Bu.

Seorang murid yang paling pintar lalu mengacungkan tangannya
“Bu Guru, boleh saya menanyakan sesuatu kepada teman-teman?”
Guru : “Iya silahkan”

Murid yang pintar: “Teman-teman apakah otak bu guru kelihatan ?”
Murid-murid yang lain: “Tidaaaakkk….. ”
Murid yang pintar: “Karena tidak kelihatan, apakah otak bu guru ada ?”
Guru: hah ??

Sumber: “Menjawab Atheis Indonesia” oleh Eko Arryawan (Lovepassword) hal. 88

Pada kenyataannya kita tidak bisa mengharapkan seorang ateis melakukan propaganda atau menyusupkan ismenya seperti dialogis diatas, namun secara umum kerangka acuannya tidaklah jauh berbeda.
Teriring salam hangat dan terimakasih yang sedalam-dalamnya pada @Mas Eko atas share dalam perjuangan serta jerih payah selama ini, khususnya bagi umat Islam, Umumnya bagi umat beragama. Semoga Allah senantiasa membalas dengan berlipat ganda atas kebaikan beliau, Amiin.

Cerita dialogis antara Guru Ateis dan murid-muridnya, tidaklah jauh berbeda dengan apa yang saya utarakan pada intinya sama yaitu menyisipkan suatu keyakinan yang tidak mendasar dimana nilai-nilasi suatu kebenaran diutak-atik gathuk sedemikian rupa hingga tanpa terasa suatu nilai kebenaran mutlak akan berubah menjadi relatif dan pada suatu titik tertentu akan menjadi bumerang pada diri sendiri. Saya tidak ingin terjebak sebagai “Penanya” atau “Para Penjewab” disini saya hanya ingin menyajikan sebuah contoh nyata teorema “Keledei dengan Kedelei”:mrgreen: yang sama-sama diaplikasikan pada Al Qur’an dan tarjamaah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ

Aku mohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (QS 50:19)

Perhatikan !!!

Yang mendatangi manusia itu “sakrat”, bisa saya gambarkan sebagai sebuah batubatrai yang mulai melemah (nyala tapi redup), pada ayat yang lain kata “sakrat” berubah menjadi “ghamarat” maksudnya adalah manusia yang telah “sakrat” didatangi Malaikat sehingga, bisa saya gambarkan sebuah batubatrai yang nyaris habis hingga tidak mampu memberikan power pada lampu tapi belum benar-benar mati, perhatikan ayat berikut :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ اللَّـهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ الظّٰلِمُونَ فِى غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّـهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS 6:93)

Maha Benar Allah dengan segala firmannya.

Baik dalam QS 50:19 maupun QS 6:93 digunakan kata “Sakratul” ini adalah serapan dari bahasa Arab mengingat terjemaahan tempo doeloe  kosa kata dalam bahasa Indonesia masih sangat minim. Alangkah sangat kelirunya kalau kita berasumsi para mufasir tidak mengetahui perbedaan dan persamaan makna yang tersirat dari kedua ayat tersebut. Kalau kita mau jujur, sampai detik inipun masih belum ada  kata yang sepadan untuk kata ghamaratul dimaknai “koma” pun masih kurang tepat karena tidak semua orang yang mengalami “koma” pasti maut (mati klinis), demikian hal pula dengan kata sakratul jangankan dimaknai dengan “pingsan menjelang” dimaknai sebagai “koma” juga masih kurang tepat. Dalam dunia kedokteran mungkin sering kali ditemukan kasus dimana seseorang mengalami sakit parah yang akut hingga secara klinis harapan hidupnya sudah tipis dan para dokter sudah tidak mampu lagi manangainya, namun  atas idzin Allah  orang tersebut bisa segar bugar kembali fakta inilah hingga saya berkesimpulan makna yang tersirat (QS 5:19) adalah sakratul-relatif karena belum tentu mengakibatkan kematian,  dan ini dikuatkan term penantian hari penghakiman (QS 5:20), dengan demikian mudah ditebak bahwa kata ghamaratul adalah sakratul-absolut dimana pada ayat yang sama (QS 6:93) ditegaskan dengan kedatangan Malaikat maut,  adapun kata “hari ini” boleh dimaknai sudah pasti putus segala usahanya untuk menyesali perbuatan dzalimnya selama hidup.

Akhirul kata, saya mencoba memberikan alternatif silogisme berupa kecepatan cahaya relatif dan mutlak kepada rekan @Henvel, yang pasti “Keledei bisa mengangkut kedelei tapi tidak sebaliknya “….😀

HENVEL berkata

Juni 30, 2012 pada 11:54 am

ini bukan masalah kecepatan mas hanifa, kalau kecepatan yang melebihi sinar pada umumnya pengamat astronomi rata2 udah tau, ini post sampean di 121, yang menyamaratakan saja arti sakratul maut dengan gamaratul maut, sampean kan tau bahwa meter dengan meteran itu tidak sama atau mata air dengan airmata itu beda hehehehe, sakaratul maut itu adalah menjelang kematian sedangkan gamaratul itu bangun dari mati yaitu diakhirat nanti.

QS 50/19 Dan datanglah pingsan menjelang maut (sakaratul maut) dengan hal logis. yang demikian itu tidaklah dapat engkau menantangnya

QS 6/93 ……..kalau engkau lihatlah ketika orang2 zalim itu bangun dari mati (gamaratul maut) dan malaikat mengulurkan tangannya, sambil berkata: keluarkanlah dirimu (dari kubur). Hari ini kamu dibalas dengan siksa hina tentang apa yang kamu katakan atas ALLAH tanpa hal logis dan kamu menyombongkan diri tentang Ayat-ayatNYA

lanjutkan pada QS 36/51-59

disinilah kejelian perlu untuk menganalisa firman ALLAH, bahwa ayat-ayatNYA tidak ada yang kontradiksi satu sama lainnya dan pada QS 6/93 inilah selama ini kita terperangkap tentang ada dan tidaknya azab kubur, jadi tidak perlu lagi ditanya hisab dulu apa siksa dulu jawabannya ada pada QS 23 /101-103, begitu kang hanifa, maka ane geli aja waktu sampean suruh jawab maksud QS 6/93 itu pada mas anto, sedangkan sampeanpun mengartikan gamaratul maut dengan sakaratul maut itu sama, dan analoginya tentang sakit gigi hehehhehe bijimaneneh

Balas

حَنِيفًا berkata
Juni 30, 2012 pada 2:26 pm
Hahaha…. bilang ajah sampean nggak tahu ?!… gitu ajah repot.
Supir angkot juga tahu tuh, kalau menyalakan lampu saat kecepatan angkot 10 km/jam maka kecepatan cahaya menurut supir angkot =c, tapi kecepatan cahaya menurut tukang bakso yang mangkal = v angkot + c

Rubon berkata

Juni 30, 2012 pada 8:26 pm

@Saudara HENVEL
Sebaiknya kita kembali pada Al Qur’an:
“…وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ الظّٰلِمُونَ فِى غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ …’
“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan غَمَرٰتِ الْمَوْتِ (ghomarotilmaut), sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah أَنفُسَكُمُ (anfusakum)

anfusa artinya jiwa : lihat (QS 39:42) “… اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا>….”
“…Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya…”
Saya tidak ingin membahas lebih jauh, bukan karena meragukan kemampuan saudara:mrgreen: tapi hanya memaknai kata “anfusakum” berarti “jiwamu” atau “nyawamu”

Terjamaah yang lebih tepat menjadi:
“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan غَمَرٰتِ الْمَوْتِ (ghomarotilmaut), sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah jiwamu (nyawamu)

Kalau saudara Henvel memaksakan غَمَرٰتِ الْمَوْتِ (Ghomarotil-maut) = “bangun dari mati” maka penulisannya seharusnya seperti berikut : قُمِ الْمَوْتِ = Qumil-maut

Saya jadi teringat cerita seorang Dokter Gigi.
Pasien : Dok. Gigi saya sudah sakatul, tolong cabut saja.
Docter: Oh.. baik, saya cabut gigi yang sakarat itu.
Setelah dicabut….
Pasen: Dok, Supaya tuntas..tas..tas, tolong cabut lagi gigi yang tadi.
Dokter: Lho, kan sudah dicabut.
Pasien: Itu baru sakaratul; sekarang sudah mencapai Ghomarotul.. jadi tolong cabut lagi giginya.
Dokter: Suster, tolong antar pasien ini … seharusnya ke bagian Poli jiwa:mrgreen:

Wassalam, Haniifa.

27 Responses to “Apa beda Kedelei sama Keledei ?!”

  1. Wah wah..bukuku terpajang di sini ..he he he….^_^…

  2. agorsiloku said

    fun dulu ah….Saya jadi ingat teman bertanya apa bedanya anjing sama anjring. Jawabnya : Kalau anjing kakinya empat, kalau anjring kakinya emprat.

    Pertama,
    Untuk memuaskan hasrat Kang Haniifa, saya jelaskan perbedaan keduanya, yaitu ke del ei dan ke led ei. Ke jelas bahasa Indonesia, artinya menuju. Sedangkan del itu bahasa Inggris, kependekan dari “delete” artinya menghapus (seperti kata yang suka muncul pada papan ketik. Sedangkan led, kata oom Google, translate Inggris ke Indonesia artinya dipimpin. Jadi beda keduanya tidak ada, tapi maksudnya pemimpin saat ini harus di del. Yang terakhir, suku kata ei adalah jeritan atau terperangah. Maksudnya ‘ei’ jangan dikomen lagi…. Semoga paham Kang Haniifa.

    Kedua,
    Saya sedikit kaget juga ada pengertian pemahaman sakratul maut dipahami (dengan berbagai logika dan penafsiran) pada pengertian bangun dari mati. Alasannya karena peristiwa yang digambarkan orang dibangkitkan dari alam kubur berada pada tiupan kedua (QS 79:13). Seperti kata Mas Henvel, AQ menginformasikan terinci dan dan harmoni. Karenanya, jika pemahaman sakratul maut sama dengan bangun dari mati, lalu bagaimana kita mengharmonikan pemahaman. Demikian juga dengan surat Yaasiin 51-59 yang dituliskan Mas Henvel, nyata sekali prosesnya berbeda dengan ayat tentang sakratul maut. Demikian juga dengan QS 50:19. Hadis yang berkenaan dengan hal inipun lumayan banyak. Demikian juga sejumlah tafsir mengenai hal ini juga bertebaran. Jadi, mohon maaf kalau ditanya, saya lebih memahami yang disampaikan Kang Haniifa :”bahwa kata ghamaratul adalah sakratul-absolut”
    Wassalam, agor

  3. Cekixkix said

    Klo menurut gue
    Kheknya “kedele ame kelede” kagak pake ‘a’,”i”,”u”,”o”…. Cekixkix…kix…kix…

  4. Rubon said

    @All
    Kedelei sebaiknya ditanam, kalau Keledei sebaiknya…:mrgreen:
    Saya tidak ingin menanggapi komentar @Saudara HEVEL pada blog @Kang Agor, karena posting menjurus ke arah OOT.

    HENVEL berkata
    Juni 30, 2012 pada 10:04 pm
    kang agor sebelum saya melanjutkan pembahasan ini, apa benar akang bertanya pada kang hanifa tentang kecepatan apa yang melebihi kecepatan cahaya, apa jawab om hanifa, nanti saya adu argumentasi dengan dia yang merasa paling pintar, biarlah masyarakat yang menilai nantinya, kang rubon sabar ya nanti kita bahas lagi, asal tidak memanipulasi ayat, kayak hanifa yang cerdas pada post 121 bahwa ghamaratul maut di QS 6/93 ditulis sakratul maut, ini bahaya sekali menurut saya artinya berbeda seperti sama’ dengan samawat.

    HENVEL berkata
    Juni 30, 2012 pada 11:54 am
    QS 6/93 ……..kalau engkau lihatlah ketika orang2 zalim itu bangun dari mati (gamaratul maut) dan malaikat mengulurkan tangannya, sambil berkata: keluarkanlah dirimu (dari kubur). Hari ini kamu dibalas dengan siksa hina tentang apa yang kamu katakan atas ALLAH tanpa hal logis dan kamu menyombongkan diri tentang Ayat-ayatNYA

    السلام عليكم = “Peace be upon you” (kum=you), “Keselamatan atas dirimu” (kum=dirimu)
    contoh pasa surah Al-Kaafiruun Ayat : 6
    lakum diinukum waliya diin => “To you be your way, and to me mine”

    أَنفُسَكُمُ = anfusa-kum, @Saudara Henvel demi memenuhi nafsu golongannya menghapus kata anfusa atau memanipulasi ayat dengan hanya menterjemahkan kata “kum=dirimu” dan menambah kata optional “dari kubur” untuk mengaburkan makna sebenarnya.

    Surah Al Jumuah:6
    مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا۟ التَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِ اللَّـهِ ۚ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ
    Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim

    Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Injil, kemudian mereka tiada memikulnya (=tidak bertanggung jawab, menyebarkan dan menyesatkan umat dengan sengaja) ?! lebih rendah dan lebih buruk dari keledai.

    Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Al Qur’an, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak bertanggung jawab, menyebarkan dan menyesatkan umat dengan sengaja) ?! makhluq terendah dan terburuk:mrgreen:

    • @Kang Rubon
      Sayah kira @Kang Henvel hanyalah korban, dalam contoh kasus yang sama karena “ketidak tahuan” atau tidak menyadari adanya kekeliruan penafsiran, seperti sbb:
      ________________________________________________________

      Cara Menghitung Warisan Yang Islami

      June 28, 2008 by djunaedird

      Rate This

      Persoalan warisan (dalam Islam) adalah persoalan yang rawan. Dari zaman dahulu hingga zaman kini, sengketa soal warisan masih saja sering terjadi. Kenapa demikian?

      Karena tak banyak orang yang memahaminya.

      Beberapa waktu yang lalu saya disodori selembar kertas oleh teman saya. Isinya begini:

      Ada orang meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebesar Rp 500.000.

      Ahli warisnya ada 4 orang, yang terdiri dari: satu ibu kandung (janda), dua anak kandung (1 laki-laki dan 1 perempuan). Tolong dihitungkan perolehan warisan dari masing-masing ahli waris itu. Bisa, kan? Apa sudah lupa?

      Betul! Saya memang sudah lupa. Sebab itu adalah mata kuliah yang saya pelajari puluhan tahun yang lalu.

      Karena jarang dipakai jadinya, ya lupa-lupa-ingat. Yang saya ingat adalah bahwa dalam hukum Islam bagian anak laki-laki dan anak perempuan adalah 2 berbanding 1 (istilah Jawanya: sak pikul lan sak gendongan. Lantas bagian ibu 1/6. selebihnya lupa.

      Akhirnya saya janji untuk memberikan jawaban dalam tempo satu minggu. Soalnya saya harus membongkar tumpukan buku dalam lemari, untuk mencari buku yang berkaitan dengan masalah kewarisan.

      Alhamdulillah dalam tempo 2 hari saya sudah memperoleh buku itu. Judulnya KOMPILASI HUKUM KEWARISAN, Penulis: Prof. H. Idris Djakfar, SH., Taufik Yahya, SH., MH., Penerbit PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, Cetakan I.

      Membaca buku ini, banyak manfaat yang akan kita peroleh. Dikatakan dalam buku ini bahwa ketentuan-ketentuan yang ada dalam Al-Qur’an itu sudah disusun oleh pemerintah dalam bentuk buku. Ada tiga buku yang memuat peraturan dan hukum yang tersusun, yaitu Buku I tentang Hukum Perkawinan, Buku II tentang Hukum Kewarisan dan Buku III tentang Hukum Perwakafan.

      Dengan pertimbangan bahwa para Alim Ulama Indonesia (dalam Lokakarya tanggal 2-5 Februari 1988 di Jakarta) telah menerima dengan baik ketiga rancangan Buku Kompilasi Hukum Islam (yaitu Buku I tentang Hukum Perkawinan, Buku II tentang Hukum Kewarisan dan Buku III tentang Hukum Perwakafan) maka Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, yang intinya memerintahkan kepada Menteri Agama untuk segera menyebarluaskan kompilasi tersebut.

      Dalam Al-Qu’an, masalah warisan adalah merupakan hal yang teramat penting. Bahkan Allah sampai perlu merinci hingga pada bagian-bagiannya. Bandingkan dengan, misalnya sholat, yang tata caranya tak ada rinciannya dalam Al-Qur’an.

      Ada 15 ayat dari surat-surat yang mengatur tentang masalah kewarisan ini. Kelimabelas ayat tersebut sudah dapat menggambarkan prinsip-prinsip dari hukum kewarisan Islam. Karena demikian terperinci dan sistemik, sehingga boleh dikatakan bila hukum kewarisan Islam merupakan ilmu yang standar. Sampai akhir zaman juga tetap seperti itu.

      Ayat-ayat yang berjumlah 15 itu terbagi dalam 2 bagian: 1) Merupakan Ayat-ayat Kewarisan Pokok, yang terdapat pada: Surat An-Nisa ayat (11), (12) dan (176). Sementara ayat-ayat yang lain, merupakan ayat-ayat kewarisan pembantu yaitu: Surat An-Nisa ayat (7), ( 8 ) dan (33), Surat Al-Baqarah ayat (180), (233) dan (240), An-Anfal ayat (75), Al-Azhab ayat (4), (5) dan (6) dan Thalaaq ayat (7).

      Pokoknya, membaca buku ini, apalagi pada saat seperti sekarang ini (ini saya tulis pada saat bulan Puasa Ramadhan), banyak manfaat yang kita peroleh. Yang pertama, dengan membaca buku ini, kita jadi sedikit lupa dengan perut kita yang biasanya minta diisi untuk kemudian digiling. Yang kedua, dengan membaca buku ini, niscaya banyak sekali kegunaan dari belahar ilmu ini. Jadi tidak rugi untuk memiliki buku ini.

      Dalam buku ini dilampirkan juga :

      1. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991
      2. Kepmenag RI Nomor 154 tahun 1991 tentang Pelaksanaan Instruksi residen Nomor 1 tahun 1991.
      3. Surat Edaran Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Kepada Ketua Pengadilan Tinggi Agama dan Pengadilan Agama se Indonesia Nomor 3694/EV/KH.00.3/91
      4. Kompilasi Hukum Islam Buku I dan Buku II.

      Akhirnya, setelah merasa cukup dalam membaca buku itu, meskipun tidak secara keseluruhan (hanya saya pilih yang berkaitan dengan soal yang diberikan oleh teman saya itu) saya mulai menjawab pertanyaan yang diajukan teman saya, sebagaimana yang telah saya uraikan di muka tadi. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memberikan jawaban dan genap satu minggu.

      Ingin tahu? Inilah hitungannya:

      Ibu mendapat 1/6 bagian karena ada anak. Sementara janda mendapat bagian 1/8 karena ada anak. Sedang bagian anak laki-laki dan bagian anak perempuan adalah 2 : 1.

      Bagian Ibu = 1/6 x Rp 500.000 = Rp 83.333
      Bagian Janda = 1/8 x Rp 500.000 = Rp 62.500
      Rp 500.000 – Rp 83.333 – Rp 62.500 = Rp 354.167.
      Bagian anak laki-kali = Rp 236.111
      Bagian anak perempuan = Rp 118.056.

      “Apa pasti betul?” Tanya teman saya seraya meneliti tulisan saya.
      “Lebih mantapnya? Baca buku ini,” kata saya.
      “Pinjam, ya….”
      “Pinjam… Beli….”
      Dan seterusnya.
      [ ini tulisan pernah saya tulis di sini ]
      ________________________________________________________

      on June 28, 2012 at 9:58 am | Reply حَنِيفًا
      Wah… ngawur neeh sampean😛

      Total Warisan Rp. 500.000
      Bagian Ibu = Rp 80.000
      Bagian Janda = Rp 60.000
      Bagian anak laki-kali = Rp 240.000
      Bagian anak perempuan = Rp. 120.000
      ================================== +

      on June 28, 2012 at 11:09 am | Reply djunaedird
      Ngawurnya pigimana, boss. Kalau versi sampayen itu itungan kompromi. Bukan itungan akurasi. Gitu

      on June 28, 2012 at 1:14 pm حَنِيفًا
      @Mas Djunaedird
      Ohh… bejituh yah,
      Coba sampean hitung secara akurasi buat kondisi yang sama:
      ibu, janda, 2 anak laki-laki dan 1 wanita ?! … hehehe…

      *** Karena tidak ada tanggapan ***😦

      on June 29, 2012 at 1:32 pm | Reply حَنِيفًا
      @Mas Djunaedird
      Perhatikan perolehan Harta waris dari Ibu dari anak (Janda) = 1/8 = Rp. 60.000

      a. Laki-laki : 1/2 x Waris hasil pembagian = Rp. 240.000
      Dari garis keturunan Anak Laki-laki lebih utama artinya Ibu dari anak (Janda) satu level dibawahnyaa (1/2) dan dari jenis kelamin Ibu lebih rendah satu level (1/2) dari laki-laki
      diperoleh: 240.000 x 1/2 x 1/2 = Rp. 60.000 … sama dengan 1/8 !!!😀

      b. Wanita: 1/2 x Waris hasil pembagian Laki-laki = Rp. 120.000
      Dari garis keturunan Anak wanita lebih utama dari Ibu (Janda) satu level dibawahnya (1/2).
      diperoleh : 120.000 x 1/2 Waris hasil bagian Wanita = Rp. 60.000 … Lho kok sama juga 1/8 !!!😀 :

      Jadi perthitungan siapa neeeh, yang lebih akurat❓

      Sumber commment: http://djunaedird.wordpress.com/2008/06/28/cara-menghitung-warisan-yang-islami/

      Muhdah-mudahan ada pentolan JIL, FFI yang bersedia menyatroni argumen ini…. hehehe…
      Wassalam, Haniifa

      • Eagle said

        Ingin tahu? Inilah hitungannya:

        Ibu mendapat 1/6 bagian karena ada anak. Sementara janda mendapat bagian 1/8 karena ada anak. Sedang bagian anak laki-laki dan bagian anak perempuan adalah 2 : 1.

        Bagian Ibu = 1/6 x Rp 500.000 = Rp 83.333
        Bagian Janda = 1/8 x Rp 500.000 = Rp 62.500
        Rp 500.000 – Rp 83.333 – Rp 62.500 = Rp 354.167.
        Bagian anak laki-kali = Rp 236.111
        Bagian anak perempuan = Rp 118.056.

        Bagian Janda (1/8) dari anak 62.500/354.167. = 0.176 > 0,125 …. !!!!!!!!!

        Wowww…. sangat tidak islami.:mrgreen:

      • agorsiloku said

        Duh… 500 ribu aja diperebutkan ….😀

      • Bweutul juga yah… hehehe

        tapi kalau 500 Em, jadi luyaman juga seeh
        Selisih dari Ibu alm 83,3 – 80 = 3,3 em
        selisih dari Janda alm 62.5 – 60 = 2,5 em
        Total 5,8 ember kedelei, eh… salah dink..😀

    • Eagle said

      Ada altenatif lain, yang lebih keledai :mrgreen:

      Pembagian Warisan (Faraidl) yang lebih Adil
      oleh Ketut Syaruwardi Abbas
      OPINI | 16 March 2011 | 15:20

      Ibu Dewi, seorang janda tua harus rela “makan hati” menumpang di rumah anak lelakinya yang telah menikah dan memiliki tiga anak. Janda berumur 72 tahun itu ditinggal suaminya setelah hidup bersama selama 50 tahun. Ketika menikah dulu, mereka tidak memiliki apa-apa. Sedikit demi sedikit suami-istri itu mengumpulkan harta sehingga memiliki sebuah rumah cukup besar beserta harta-benda lain.

      Sepeninggal suaminya, seluruh harta dibagi dengan empat anaknya (1 lelaki dan 3 perempuan). Ibu Dewi mendapatkan pembagian 1/8 sesuai hukum faraidl (hukum pembagian warisan dalam Islam). Agar mudah dalam menghitung pembagian, rumah keluarga dijual dan hasil penjualannya itulah yang dibagi. Walhasil, di masa tuanya Ibu Dewi tidak lagi memiliki rumah sendiri. Dia harus mneumpang di rumah anak lelakinya dan hidup bersama menantunya yang (sangat kebetulan) tidak terlalu suka diikuti sang mertua.

      Cerita Ibu Dewi dan sangat mungkin dialami juga oleh jutaan janda lainnya membuat saya sering mengerutkan kening: Betapa tak adilnya cara pembagian ini. Ibu Dewi yang ikut mengumpulkan harta sama sekali tidak memiliki hak kepemilikan atas harta itu ketika sang suami meninggal. Harta yang mereka kumpulkan berdua itu sepenuhnya dianggap milik sang suami dan serta-merta dibagi oleh ahli warisnya.

      Apakah pembagian waris dalam Islam tidak adil terhadap janda yang ikut bersusah payah mengumpulkan harta warisan itu? Mungkin ada baiknya memikirkan masalah ini.

      Pertanyaan yang harus dijawab: Apakah istri tidak berhak atas harta gono-gini (setengah dari harta yang diperoleh selama pernikahan) dalam kasus cerai meninggal? Kenapa dalam kasus cerai akibat pertengkaran sang istri berhak atas gono-gini dan dalam kasus cerai mati tidak?

      Kata kunci dalam hal ini adalah: harta mana yang harus diwariskan? Apakah jika seorang suami meninggal, maka semua harta yang diperoleh selama menikah itu seluruhnya milik sang suami dan harus dibagi semua untuk ahli warisnya begitu saja?

      Al Qur’an hanya merinci pembagian warisan kepada ahli waris. Sedangkan harta yang akan dibagi sama sekali tidak dijelaskan. Al Quran hanya memberi batasan tentang wasiat dan utang-utang yang harus dibayarkan terlebih dahulu sebelum harta peninggalan dibagi untuk ahli waris.

      Jadi, jika hukum gono-gini diterapkan pada kasus cerai mati (dan seharusnya memang diterapkan), maka harta yang dibagi sebagai harta warisan adalah harta pembawaan sebelum menikah, plus setengah dari harta yang diperoleh setelah menikah (karena setengahnya lagi merupakan milik istri/janda yang ditinggalkan) setelah dipotong wasiat dan utang-utang.

      Contoh:

      Jika seorang suami meninggal, memiliki harta senilai 1 miliar yang diperoleh saat pernikaha berlangsung, dan 500 juta dibawa sebelum menikah, sedangkan yang bersangkutan memiliki dua anak (laki dan perempuan), maka seharusnya pembagaiannya adalah sebagai berikut: harta 1 miliar (yang diperoleh setelah menikah) dibagi dua, 500 juta untuk istri sebagai harta gono-gini, sedangkan 500 juta sisa gono-gini ditambah harta pembawaan 500 juta dibagi sebagai harta warisan. Barulah diberlakukan hukum faraidl, di mana istri memperoleh 1/8 (125 juta). Sisanya (ashabah) 875 juta dibagi tiga. Anak laki mendapat dua bagian dan anak perempuan mendapatkan satu bagian. Dengan demikian, sang janda tua yang ditinggalkan suaminya itu mendapatkan cukup jaminan untuk hidup di masa tuanya. Nanti, jika dia meninggal, barulah harta itu dibagi kembali sesuai dengan hukum faraidl.

      Allahu A’lam

      Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/16/pembagian-warisan-faraidl-yang-lebih-adil/

      Komentar:

      Hamba Allah
      16 March 2011 16:29:59

      Betul…
      Jika suami yang meninggal dulu, istri dpt 1/8 harta suami. Sedang jika istrinya yang meninggal dulu, suami dpt 1/4 harta istri. (Asumsi keduanya memiliki keturunan).

      Bukankah kewajiban suami memberi nafkah istri? Jika ini dipenuhi dengan keadilan, maka istri ada harta sendiri. Dan suami punya harta sendiri juga. Dan kadar nafkah diukur sesuai dengan kondisi suami-isteri.

      Seandainya ketentuan pembagian waris diserahkan kepada akal pikiran manusia, menurut niscaya ketentuan tersebut benar-benar akan menimbulkan kerusakan, dan hanya Allah saja yang mengetahui besarnya kerusakan tersebut. Ini lantaran kedangkalan dan kekurangtahuan akal manusia terhadap perkara yang terbaik, di setiap masa dan tempat. Tidak mengetahui, apakah anak-anak atau dua orang tua yang lebih mendatangkan manfaat untuk mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia mereka.

      Bukankah hikmahnya sangat banyak? diantaranya :
      Dengan merawat ibu di masa tuanya, maka bukankah nabi yang mulia telah menjamin surga? “Sungguh merugi orang, yang kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak bisa menyebkan dia masuk surga”

      Tapi apa dikata, jaman yang sekarang ilmu dan akhlak tergerus dengan kehidupan materi.
      Kadang islam tersadarkan dengan hikmah & cerita dari dari luar, namun tidak mempan ilmu dan hikmah dari al quran dan hadits shahih.

      Kisah hikmah dari negeri cina yang mashyur. Seorang istri yg tidak suka dg kehadiran ibu mertunya di rumahnya karena bbrp kelakuannya. Maka dia mencari orang “pintar” agar mertuanya tidak betah. Dan orang pintar itupun memberi ramuan racun dan menasehati dia agar berlaku lemah-lembut pd ibu mertuanya (karena itu menjelang kematiannya). Akhirnya berhari-hari hal itu dia lakukan, melayani ibu mertua dan membuatkan minuman ramuan racun dr orang td dan jg dengan kelembutan. Hingga mertunya sayang banget sama menantunya ini. Dan ternyata dia juga menjadi sayang jg sm mertuanya
      Akhirnya dia merasa menyesal telah memberi minuman yg berisi racun ramuan td.
      Maka kembalilah dia ke orang pintar td sambil menangis meminta pd orang itu agar dibuatkan penawar racun yg telah ia berikan pd mertuanya.
      Orang pintar itu hanya tersenyum….bahwa itu bukan racun tapi justru obat kesehatan untuk ibu mertuanya.

      Begitulah hikmah suatu ketidaksukaan dihadapi dg kelembutan

      Kadang masalah² memang sering kali muncul jika syariat diterapkan secara parsial, dan akhirnya menyalahkan aturan..

      Maaf jika agak panjang komennya

      Keledai beropini, kedelai menjawab !!:mrgreen:

      • @Mas Eagle
        Duh… sayah mah agak bosan baca yang bejituan teh… hehehe…..
        Mari kita kupas, tapi jangan dituntasken biyar penasaran😀

        Janda berumur 72 tahun itu ditinggal suaminya setelah hidup bersama selama 50 tahun. Ketika menikah dulu, mereka tidak memiliki apa-apa
        __________________
        Cerita orang pasutri dari miskin jadi kaya, boleh jadi sang istri ikut dagang…dsb.

        Contoh: Jika seorang suami meninggal, memiliki harta senilai 1 miliar yang diperoleh saat pernikaha berlangsung, dan 500 juta dibawa sebelum menikah, sedangkan yang bersangkutan memiliki dua anak (laki dan perempuan),
        __________________
        Hahaha… cerita berubah Sang suami Kaya dan Istri boleh jadi cuma Ibu-ibu pokja…… wus… abrakadabra.
        1. Bijimana kalau ternyata itu Istri muda yang usianya jauh dibawah anak kandung alm. ?!
        2. Bijimana dengan nilai harta mahar (yang nota bene milik sang Istri) ?!
        3. Bijimana ayat tentang wasiat ?!
        4. Gono-gini => Suami masih hidup. Waris => Suami sudah wafat.

        Kesimpulan:
        Kalau pengorong bercita-cita jadi pengarang, yah mirip Keledei mabok kedelei… hehehe… aya-aya wae😀

      • Djarkoni said

        Maaf Bung !
        Sepertinya anda ini suka sekali meremehkan orang,
        Coba perhatikan cara-cara islami yang diperlihatkan oleh komentar Hamba Allah, santun dan sesuai dengan akidah islamiyah

      • @Mas Djarkoni
        Ohh… jadi sampean pemerhati Hukum yang Islami neeh, kalau bijituh mari kita cermati.

        Gagasan tentang harta bersama (gono-gini) dan sistem Bilateral yang dikemukakan Prof. Dr. Hazairin, SH. dijadikan landasan pemikiran bagi sumber hukum waris di Indonesia, padahal kita tahu pembagian harga gono-gini adalah warisan bangsa Belanda (non Islam), tapi apapun itu karena tatanan masyarakat secara umum sudah menerimanya, namun demikian bukan berarti boleh dikaitkan dengan hukum waris Islam, karena sistem bagi waris berlaku hanya jika sipewaris sudah wafat, kalaupun masih hidup bentuknya juga bukan waris tetapi berupa wasiat atau hibah.Banyak kalangan hamba hukum yang menyadari hal tersebut nanum secara diam-diam dan menghanyutken beberapa ahli hukum mengotak-atik gathuk efek domino dari diberlakukanya UU No. 3 thn 2006 dimana Pengadilan Agama mempunyai kewenangan absolut atas penyelesaian sengketa waris yang subyek hukumnya adalah orang yang beragama Islam.
        Jujur saja saya tidak perduli dengan sistem hukum di Indonesia atau dimanapun yang amburadul, Sampean bisa lihat sendiri nyanyian merdu @Oom Ketut Syaruwardi Abbas, tidak kurang dan tidak lebih merupakan pesan sponsor dari wacana tuntutan bahwa materi hukum waris di lingkungan Peradilan Agama Islam harus mampu mewadahi kepentingan dan kebutuhan kultur masyarakat Indonesia yang cenderung bersifat bilateral. Lha inipan aneh sekali, yang namanya Peradilan Agama Islam sudah selayaknya cukup hanya mewadahi kepentingan dan kebutuhan kultur masyarat Islam tok,

        Selanjutnya sampean memuji-muiji komentar @Hamba Allah, yang menjawab “Betul”, sekarang tolong tunjukan kepada saya ayat Al Qur’an yang menyiratkan bahwa anak-anak boleh mengambil Hak Waris selagi kedua orang-tua masih hidup. ?!

        Note:
        Perlu sampean ingat, seorang tua yang baik (apalagi ibu) mampu menahan lapar dan menderita demi anak-anaknya, bahkan banyak yang sampai mencuri atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Agama demi menopang kelangsungan hidup sang anak.
        Bukankah suatu bentuk penghinaan jika seorang ibu menurut @Hamba A. meributkan warisan demi perutnya sendiri ?!
        Apa artinya perjuangan hidup dan mati saat melahirkan ?!
        Apa artinya menyusui 30 bulan ?!
        Apa artinya membesarkan, mengasuh dan melindungi dengan segenap kemampuannya sampai sang anak bisa melangsungkan generasi berikutnya ?!

        Mohon maaf @Mas Djarkoni, dimata sayah komentar tersebut sangat memalukan umat Islam.

        Wassalam, Haniifa.

      • Rubon said

        @Saudara Djarkoni
        Sebaiknya kita kembalikan kepada ayat-ayat Al Qur’an.
        Waris lebih diutamakan kepada anak.keturunan dari pada kedua orang tuanya.
        dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak.” (QS 4:11).

        Waris lebih diutamakan kepada anak keturunannya dari pada para istri-istrinya :
        Jika istri tidak memberikan keturunan:
        “… Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak …” (QS 4:12)

        Jika istri memberikan keturunan:
        “… Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh, wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu …” (QS 4:12)

        Perhatikan faktor anak sangat menentukan porsi waris bagi istri-istrinya, satu hal lagi yang sangat penting, dalam hukum Islam dikenal bentuk perkawinan Poligami, jadi jika istrinya lebih dari satu maka ada yang mendapatkan 1/4 atau adapula yang mendapatkan 1/8.

        Jika si fulan mempunyai 4 istri, dan hanya memperoleh 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan dari istri pertama maka kalau menurut hukum waris yang dianut sekarang.

        Istri pertama = 1/8 x waris
        Istri kedua = 1/4 x waris
        istri ketida = 1/4 x waris
        istri ke empat = 1/4 x waris

        Sisa bagi anak-anak = 1/8 ????????????? inikah yang namanya adil :

      • @Mas Djarkoni
        Pembagian Warisan (Faraidl) yang lebih Adil
        oleh Ketut Syaruwardi Abbas
        Pewaris punya uang sebelum nikah rp. 500.000 juta
        Pewaris menabung rp. 1.000.000.0000

        _____________________________
        Pembagian ala keledei @Ketut Syaruwardi Abbas berdasarken para kedelei @Oom Prof. H. Idris Djakfar, SH. dan @Oom Taufik Yahya, SH., MH.:
        Janda = Harta gono-gini + 1/8 warisan … karena punya anak.
        Janda = 500 juta + 125 juta => 625 juta … hahaha… janda kaya neeh😀
        anak-anak = Sisanya (ashabah) 875 juta dibagi tiga
        Anak perempuan = 175 juta
        Anak pria A = 350 juta
        Anak pria B = 350 juta
        ——————————–
        Anak-anak sisa-sisa bancakan… hehehe… mirip orang purba

        @Hamba Allah
        Kadang masalah² memang sering kali muncul jika syariat diterapkan secara parsial, dan akhirnya menyalahkan aturan..

        ______________________________
        Asumsi si Fulan taat hukum dan taat beragama, secara diam-diam istrinya bertambah 3 tapi semuah tidak memberikan keturunan / anak.
        Maka berdasarkan rumus para keledei :
        Istri pertama = 1/8 x 1 em = 125 juta.
        Istri ke dua = 1/4 x 1 em = 250 juta
        Istri ke tiga = 1/4 x 1 em = 250 juta
        Istri ke empat = 500 (gono-gini) + 1/4 x 1 em = 750 juta😀
        anak-anak = Sisanya (ashabah) 125 juta dibagi tiga
        Anak perempuan = 25 juta
        Anak pria A = 50 juta
        Anak pria B = 50 juta

        Kesimpulan:
        Karena istri ke empat janda muda yang kaya, maka beliau main keledei-kedelean sama @Oom Pahkar hukum…. hehehe….

        Inikah yang sampean sebut santun dan sesuai dengan akidah islamiyah 👿

      • Djarkoni said

        Bukan begitu cara pembagian harta gono-gini semua itu ada aturan mainnya.

      • Weleh…weleh…. lucu tenan neeh😀
        Mau sampean bolak-balik pembagian harta bawaan (gono-gini) sampai dunia terbalik, tetap saja perolehan waris bagi ketiga anak tersebut segitu, alias podo bae.

        Pahkar Hukum apaan tuh,, kalau lupa sama aturan main sendiri ?!

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Haniifa yang dihormati…

    Sudah tiga kali saya baca ulang posting di atas tentang beda keledei sama kedelei. hehehe… saya kira ini sangat kreatif dari aspek penggunaan nama khas kepada haiwan yang mirip kuda tapi bukan kuda.😀

    Kalau kedelei di sini, sepertinya sudah menyelesaikan masalah beda antara dua nama itu mas. Di sini, kedelei ada sejenis kacang yang digunakan untuk membuat tempe… jadi jelas sekali antara keledei dan kedelei jauh asal muasalnya ibarat langit dengan bumi atau jauh panggang dari api….hehehe. Selalu aja pusing memikirkan masalah yang dikemukakan oleh mas Haniifa.

    Jika manusia hanya menggunakan akal yang batas dalam menilai keluasan ilmu Allah, maka seperti guru atheis yang tidak ada otak jadinya… Hmmm, anak murid kadang kala lebih bijak menanggapi masalah dari gurunya. Kerana itu, Islam membenarkan kita berguru dengan guru yang berakal dan dekat dengan Tuhannya, tidak kira berapa umurnya.

    Terima kasih mas Haniifa atas kongsian yang membuka mata yang sedang mengantuk ini.😀
    Salam hangat dan ceria selalu.

    Salam juga buat mas Cekixkix, yang membawa salam mas Haiifa dari jauh.
    Semoga kita semua dilindungi dan di ampuni Allah selalu.

    • Wa’alaikum Salam @Mba Siti Fatimah Ahmad
      Alhamdulillah, kalau jadi tidak ngantuk…😀
      Hati-hati dijalan, bila pulang kantor…. tapi jangan cekixkix-kan…

      Salam hangat kembali,

  6. makasi infony..

  7. Djarkoni said

    Coba Bung; baca dengan tenang dan teliti agar hati dan fikiran anda tahu dengan jelas carut-marut wajah Islam di Indonesia

    Hukum Waris dalam Suatu Konteks

    Untuk menjaga dan mengadvokasi hak kelompok-kelompok lemah dalam keluarga saat itu (anak laki-laki kecil dan perempuan), al-Qur’an segera menetapkan beberapa ahli waris inti yang mendapatkan warisan. Ditetapkan bahwa kelompok ahli waris terdiri dari dua kelompok. [1]. Menurut hubungan darah. Dari golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. Sedangkan dari golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek. [2]. menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda. Para ulama, berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, menetapkan apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda.

    Umum diketahui bahwa al-Qur’an tak hanya berisi etika, butir-butir sejarah, aqidah, dan tasawwuf. Dalam al-Qur’an juga dijabarkan persoalan hukum. Hukum dalam al-Qur’an ada yang bersifat global-ringkas (‘am dan kulli), dan ada yang partikular-detail (khash dan far’i). Bahasan al-Qur’an tentang shalat, puasa, zakat, dan haji termasuk ringkas dan umum. Al-Qur’an tak menjelaskan tentang tata cara shalat, mekanisme pengeluaran zakat, praktek penyelenggaraan haji, dan sebagainya. Sementara di antara ayat-ayat al-Qur’an yang detail dan partikular itu adalah soal hukum waris. Al-Qur’an menyebutkan siapa mendapatkan apa. Siapa saja ahli waris yang mendapatkan bagian waris, dan seberapa besar bagian warisnya. Apa yang telah rinci disebut dalam al-Qur’an itu didetailkan kembali dalam Hadits dan dijabarkan (ditafsirkan atau ditakwilkan) dalam tafsir para ulama dari dulu hingga sekarang.

    Ribuan tahun lalu hukum waris itu ditetapkan di Madinah. Ia dipraktekkan untuk puluhan ribu umat Islam di sana. Hukum waris yang disyariatkan itu dirasa lebih manusiawi dan lebih sesuai dengan konteks masyarakat Madinah ketika itu ketimbang pembagian waris yang berjalan sebelum Islam. Namun, ketika Islam berkembang ke berbagai negeri, hukum waris itu berjumpa dengan tradisi dan relasi kemanusiaan yang berbeda. Jika hukum waris dulu itu turun dalam konteks masyarakat partrinial, maka dalam perkembangannya hukum waris itu pun bertemu dengan struktur masyarakat matrilinial. Gerak zaman pun sedang mengarah kepada relasi laki-perempuan yang berkeadilan dan berkesetaraan; anak perempuan diposisikan sama belaka dengan anak laki-laki. Laki dan perempuan memang lain secara biologis, tapis bukan untuk dilainkan dalam pembagian waris.

    Dengan latar itu, muncul berbagai suara yang menunjukkan ketidak-puasan terhadap sistem dan pola pembagian waris dalam Islam itu. Para pembaharu Islam berusaha untuk melakukan kontekstualisasi dan reaktulisasi hukum waris Islam. Ada yang berkata bahwa pembagian 1: 2 antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam al-Qur’an tak boleh dilihat dari angkanya, melainkan juga dari konteks dan substansi ayat itu. Dari situ, muncul pro dan kontra. Ada ulama yang bertahan dengan pembagian itu. Tapi, tak sedikit juga yang berjuang untuk memperbaharuinya seiring dengan konteks sekarang. Ada juga ulama yang coba menghindar dari ketentuan waris dalam al-Qur’an dengan menempuh mekanisme hibah dalam pembagian harta. Sebelum meninggal dunia, orang tua sudah menghibahkan harta benda yang dimilikinya untuk anak-anaknya, biasanya, secara rata; tanpa membedakan anak laki-laki dan anak perempuan.

    Sejarah Hukum Waris

    Hukum waris sudah ada pada masyarakat Arab pra-Islam. Kehadiran hukum waris Islam untuk memperbaikan jenis ketidak-adilan dalam permbagian waris tersebut. Pertama, dikisahkan bahwa pada zaman Arab pra-Islam, warisan tak diberikan kepada anak kecil (ma kanu yuwarritsuna al-shighar). Ini karena anak kecil tak menghasilkan secara ekonomi. Kita tahu bahwa ekonomi masyarakat Arab pra-Islam sangat tergantung pada bisnis-perniagaan, di samping juga pada hasil jarahan dan rampasan perang dari kelompok masyarakat dan bangsa-bangsa yang ditaklukkan. Dengan demikian, hanya orang yang menghasilkan harta yang pantas mendapatkan harta pusaka.

    Dalam konteks itu, maka turun ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa anak kecil, baik laki maupun perempuan, mendapatkan hak untuk mendapatkan warisan. Dikisahkan bahwa Aus ibn Tsabit wafat dengan meninggalkan dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Lalu datanglah dua anak laki-laki pamannya bernama Khalid dan Arfathah (saudara sepupu laki-laki anak-anak Aus) mengambil semua harta warisan Aus ibn Tsabit. Dengan pengambilan harta itu, janda mendiang Aus mengadu kepada Nabi, lalu turunlah ayat al-Qur’an, “Bagi laki-laki ada bagian harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabatnya; dan bagi perempuan pun ada bagian dari harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak darinya, suatu bagian yang telah ditetapkan”.

    Dalam ushul fikih dikatakan bahwa anak kecil memang tak cakap bertindak (ahliyya’ al-ada’), tapi ia tetap cakap hukum (ahliyyah al-wujub). Allah berfirman dalam al-Qur’an (al-Nisa’ (4): 12), “Allah memerintahkan kepadamu mengenai bagian anak-anakmu; untuk seorang anak laki-laki (al-dzakar) seperti bagian dua orang anak perempuan”. Memberikan bagian waris terhadap anak kecil saat itu kontroversial, dan lebih kontroversial lagi dengan memberikan waris kepada anak perempuan. Al-Qur’an menggambarkan perilaku buruk sebagian masyarakat Arab pra-Islam yang suka membunuh dan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan. Allah berfirman (QS, al-Nahl [16]: 58), “wa idza busysyira ahaduhum bi al-untsa zhalla wajhuhu muswaddan wa huwa kazhim” [apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah].

    Kedua, berbagai ulama berkata bahwa perempuan zaman pra-Islam tak mendapatkan warisan. Alih-alih mendapatkan warisan, mereka dianggap sebagai barang yang perlu diwariskan. Berbagai sumber menceritakan bahwa jika seorang laki-laki wafat dengan meninggalkan seorang istri, maka para wali dan keluarga terdekat mendiang suami lebih berhak untuk menikahi si janda tersebut. Jika mereka hendak menikahi, maka pernikahan bisa dilangsungkan. Jika mereka enggan untuk menikahi, maka si janda tersebut dibiarkan sampai meninggal dunia. (Rasyid Ridla, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Juz IV, hlm. 370). Ibn Jarir al-Thabari mengisahkan bahwa Abu Qais ibn al-Aslat wafat dengan meninggalkan istri bernama Kabisyah binti Ma’an ibn Ashim. Dengan meninggalnya sang ayah, anak dari Abu Qais hendak menikahi ibu tirinya tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung lama yang kemudian dikritik oleh Islam.

    Dalam konteks itu, maka turun ayat al-Qur’an (al-Nisa’ [4]: 19, “Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kalian mempusakai perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya..”. Rasyid Ridha menegaskan bahwa ayat ini menegaskan sebuah realitas dimana perempuan direndahkan dan dianggap sebagai barang yang bisa diwariskan, sehingga keluarga sang suami bisa mewarisi si perempuan sebagaimana bisa mewarisi harta mereka. (Rasyid Ridla, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Juz IV, hlm. 370).

    Dengan dasar itu, maka Allah mengharamkan pewarisan seorang janda kepada keluarga terdekat. Bahkan, diturunkan sebuah ayat waris yang menegaskan perempuan dalam satu keluarga adalah ahli waris, sebagaimana laki-laki. Dengan jeli ayat waris itu mengkritik terhadap tradisi masyarakat Arab pra-Islam yang tak memberikan waris kepada perempuan. Bagi orang Arab ketika itu, yang berhak mendapatkan warisan adalah mereka yang menghasilkan secara finansial. Dengan demikian, perempuan yang tak bekerja menghasilkan harta dianggap tak pantas mendapatkan warisan harta. Mereka berkata, “bagaimana kami bisa memberikan harta kepada orang yang tak pernah menunggang kuda, tak memanggungl senjata untuk berperang, dan tak pernah berperang melawan musuh (yuqatilul al-‘aduwwa). Kami menanggung nafkah mereka dan mereka tak menanggup nafkah kami”. (Baca Rasyid Ridla, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Juz IV, hlm. 322).

    Apa yang berlaku pada zaman pra-Islam itu tampaknya terus bertahan hingga Rasulullah dan umat Islam hijrah ke Madinah. Diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdullah bahwa janda mendiang Sa’ad ibn al-Rabi’ pernah mengadu kepada Rasullah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah: Sa’ad telah wafat dengan meninggalkan dua anak perempuan. Tapi, seluruh harta peninggalan Sa’ad diambil oleh saudara laki-lakinya sehingga tak tersisa sedikitpun, sementara dua anak perempuan Sa’ad membutuhkan biaya untuk keperluan pernikahan mereka”. Lalu Rasulullah memanggil sang paman (saudara laki-laki Sa’ad) dan berkata kepadanya, “berikan dua pertiga harta Sa’ad kepada anak perempuannya, seperdelapan buat istrinya, dan sisanya buat kamu”. Maka turunlah surat al-Nisa’ ayat 11-12 yang berbicara tentang hukum waris. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid III, hlm. 56; Bandingkan dengan Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Jilid V, hlm. 211).

    Riwayat lain mengisahkan bahwa ayat waris dalam al-Qur’an turun dengan sebab berikut. Alkisah, Abdurrahman ibn Tsabit (saudara laki-laki Hassan ibn Tsabit yang penyair itu) wafat dengan meninggalkan seorang istri bernama Ummu Kajjah dan lima saudara perempuan. Maka datanglah para ahli waris untuk mengambil seluruh harta peninggalan Abdurrahman ibn Tsabit. Lalu Ummu Kajjah datang mengadu kepada Nabi. Maka, turunlah firman Allah yang mengatur pembagian waris dalam Islam, yaitu surat al-Nisa’ ayat 12. [Baca Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, jilid III, hlm. 617).

    Penjelasan ini hendak menunjukkan bahwa hukum waris atau mekanisme pembagian waris sudah ada pada zaman sebelum Islam. Rasyid Ridla menjelaskan bahwa pada zaman pra-Islam, sebab-sebab terjadinya pewarisan itu ada tiga. Pertama, karena ada hubungan nasab (al-nasab). Namun, hubungan nasab ini hanya dikhususkan buat laki-laki dewasa yang bisa menunggang kuda, memerangi musuh, memperoleh harta rampasan perang. Dengan demikian, anak laki-laki yang masih kecil dan kaum perempuan tak mendapatkan bagian waris. Kedua, karena ada hubungan anak angkat (al-tabanni). Anak angkat mendapatkan bagian waris pada zaman pra-Islam sekalipun yang bersangkutan tak punya hubungan darah dengan ayah atau ibu angkatnya. Ketiga, karena ada sumpah dan kesepakatan. Sekiranya seseorang berkata kepada salah seorang temannya, “darahku, darahmu juga, hartaku adalah hartamu juga, antara engkau dan aku saling mewarisi, kau bisa meminta kepadaku dan aku pun bisa meminta kepadamu”. Jika mereka bersepakat, sekiranya salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka terjadi hubungan kewarisan di antara mereka.

    Tradisi pewarisan seperti itu berlangsung selama tiga belas tahun umat Islam berada di Mekah. Sebab, ayat yang berbicara tentang waris baru turun dalam periode Madinah. Bahkan, dalam periode awal di Madinah, Rasulullah menetapkan mekanisme hukum waris tertentu. Menurutnya, kebersamaan dalam hijrah dan kesetiakawanan sebagai sesama umat Islam menyebabkan adanya hubungan kewarisan. Setiap umat Islam adalah bersaudara, dan setiap yang berhijrah adalah pewaris bagi pelaku hijrah yang lain. Menurut Rasyid Ridha, hukum kewarisan seperti di awal periode Madinah ini ditetapkan Nabi karena sebagian besar keluarga dekat (dzawi al-qurba) umat Islam adalah orang-orang musyrik. Dalam ancaman pembunuhan orang-orang musyrik itu, maka umat islam harus bersatu padu; saling menolong (al-tanashur) dan saling menanggung (al-takaful). Apalagi, umat Islam yang hijrah ke Madinah itu telah berjihad dengan meninggalkan seluruh harta bendaanya di Mekah. Dalam kondisi itu, menurut Rasyid Ridha, wajar sekiranya Nabi Muhammad membentuk solidaritas sesama umat Islam bahkan sampai dalam hubungan kewarisan. (Rasyid Ridla, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Juz IV, hlm. 323)

    Dengan demikian, ayat-ayat waris dalam al-Qur’an bertujuan ; [1] untuk membatalkan formula hubungan kewarisan yang ditetapkan Nabi Muhammad sebelumnya. Ini seiring dengan makin besarnya jumlah keluarga muslim dalam periode Madinah terakhir. Apalagi setelah terjadinya penaklukan kota Mekah. Sehingga bisa diperkirakan tak ada lagi seorang muslim yang memiliki keluarga non-muslim. Karena itu, ketentuan Nabi bahwa hubungan kewarisan diikat oleh faktor hijrah dan persaudaraan sesama umat Islam sudah tak relevan. Setelah ayat waris dalam al-Qur’an turun, maka muncul formula baru bahwa hubungan kewarisan terjadi karena dua hal, yaitu hubungan nasab dan hubungan perkawinan.

    [2] ayat waris turun untuk membatalkan hukum waris pra-Islam itu dianggap tidak adil dan diskriminatif. Hukum waris pra-Islam itu harus dirombak dengan hukum waris yang lebih berkeadilan dan berkemanusiaan. Anak laki-laki kecil (al-shighar) dan perempuan yang pada mulanya tak mendapatkan warisan, pada zaman Islam mendapatkan warisan. Jika suami meninggal dunia, seorang istri tak boleh dicampakkan begitu saja. Si istri juga mendapatkan warisan, sebagaimana ahli waris yang lain.

    Untuk menjaga dan mengadvokasi hak kelompok-kelompok lemah dalam keluarga saat itu (anak laki-laki kecil dan perempuan), al-Qur’an segera menetapkan beberapa ahli waris inti yang mendapatkan warisan. Ditetapkan bahwa kelompok ahli waris terdiri dari dua kelompok. [1]. Menurut hubungan darah. Dari golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. Sedangkan dari golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek. [2]. menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda. Para ulama, berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, menetapkan apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda.

    Bagaimana Warisan Kini?

    Telah lama Rasulullah mempredeksi bahwa ilmu waris disebut juga ilmu faraid adalah ilmu yang pertama kali tak berfungsi dan dilupakan umat Islam. Rasulullah bersabda, “belajarlah ilmu faraid dan ajarkan kepada orang lain. Ilmu faraid adalah separuh ilmu Islam. Ia adalah ilmu yang pertama kali akan dilupakan dan terhapus dalam komunitas Islam”. Di riwayat lain Rasulullah bersabda, “ilmu hanya ada tiga, selainnya hanya anjuran saja. Yaitu, ilmu tentang ayat muhkam dalam kitab suci, hadits Nabi Muhammad, dan ilmu faraid yang adil (faridhatun ‘adilatun).

    Apa yang diprediksi Nabi itu belakangan makin menemukan pembenaran. Publik Islam, terutama Indonesia, banyak yang tak memperhatikan pembagian waris dalam Islam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia lebih menyukai pembagian waris dalam hukum perdata sekuler ketimbang hukum waris dalam Islam. Bahkan, tak sedikit tokoh-tokoh Islam yang meninggalkan pembagian waris menurut hukum Islam. Ini, salah satunya, karena formulasi pembagian waris dianggap bertentangan dengan semangat kesederajatan laki-laki dan perempuan, semangat modernitas yang nyaring disuarakan belakangan.

    Salah satu yang kerap menimbulkan pro kontra menyangkut hukum waris Islam adalah ketentuan 2:1 antara anak laki-laki dan anak perempuan. Menghadapi kenyataan ini, para ulama Indonesia terlibat dalam sikap pro dan kontra. Pertama, ulama yang ingin tetap konsisten menerapkan ketentuan 2:1 tersebut dengan mengacuhkan pembagian sama rata yang diterapkan hukum perdata sekuler. Menurut mereka, apa yang ditetapkan secara harfiah dalam al-Qur’an tak bisa dibantah. Ketika al-Qur’an sudah menetapkan aturan apalagi dengan menyebut angka, maka ia tak boleh diambil pengertian lain. Angka itu tak boleh diubah dengan dinaikkan atau diturunkan. Tapi, sejauh yang bisa dipantau umat Islam yang mengikuti ulama pertama ini adalah sangat sedikit.

    Kedua, ulama yang coba memperbaharui makna hukum waris Islam itu. Menurut mereka, hukum waris tak boleh dilihat dari angka-angka yang ditetapkan, melainkan dari semangat keadilan yang tersimpan di balik angka itu. Dengan demikian, bagi kelompok kedua ini, tak masalah sekiranya formula 2:1 itu diubah. Pada zaman Nabi, demikian mereka beragumen, 2:1 itu sudah menyuarakan keadilan. Dalam tradisi masyarakat Arab, dari dulu hingga sekarang, perempuan tak dibebani untuk mencari nafkah. Ketika mereka menikah, jika bagian anak perempuan adalah utuh, maka bagian 2 buat anak laki-laki akan dibagi dengan istrinya. Kini, pada zaman dimana yang mencari nafkah tak hanya laki-laki melainkan juga perempuan, maka kebutuhan untuk mengubah struktur dan formula angka-angka waris itu adalah keniscayaan.

    Dengan dasar itu, mereka menuntut tak hanya bagian anak perempuan yang harus diadaptasikan dengan konteks, melainkan juga bagian bagi seorang janda. Dalam Qur’an (al-Nisa’ [4]: 11) disebutkan bahwa jika istri meninggal tanpa meninggalkan anak, maka si suami (duda) mendapatkan seperdua atau separuh dari harta yang ditinggalkan. Dan jika memiliki anak, maka si suami (duda) mendapatkan seperempat. Namun, sebaliknya, jika suami wafat tanpa anak, maka si istri (janda) akan mendapatkan seperempat dari harta yang ditinggalkan. Dan jika ada anak, maka si istri (janda) akan mendapatkan seperdelapan. Ketentuan ini, menurut kelompok kedua itu, lahir dari sebuah fakta saat ketentuan itu diundangkan di mana istri tak mencari nafkah dalam keluarga. Sementara fakta kehidupan keluarga sekarang, sekurangnya di Indonesia, menunjukkan bahwa yang menanggulangi beban nafkah keluarga tak hanya suami melainkan juga istri. Bahkan, tak sedikit kenyataan dimana istri menjadi tulang punggung utama keluarga ketika suami tak mungkin mencari nafkah, dengan berbagai alasan.

    Dengan argumen itu, ulama kedua ini mengusulkan adanya perubahan angka-angka waris itu. Namun, sebagaimana umum diketahui, pandangan ulama kedua ini mental di tangan ulama pertama. Ulama kedua ini distigma sebagai kelompok yang ingin mengubah hukum Allah. Tak jarang mereka dimurtadkan, sehingga darahnya boleh ditumpahkan. Padahal, mereka tak hendak meninggalkan hukum waris dalam al-Qur’an, melainkan ingin memangkap spirit dan wawasan moral-etis al-Qur’an. Mereka berkata bahwa hukum waris dalam al-Qur’an itu turun dalam sebuah konteks, bukan datang sekonyong-konyong tanpa melihat tradisi dan struktur masyarakat Arab ketika itu.

    Ketiga, belajar dari dua kelompok itu, maka muncul kelompok ketiga yang ingin keluar dari dua titik ektrem itu. Mereka mengakui bahwa angka-angka waris itu sudah jelas terpampang dalam al-Qur’an. Tapi, mereka tak bertindak lugu dengan berfokus pada teks dengan mengabaikan konteks. Mereka mengakui pula bahwa ada masalah sekiranya angka-angka waris itu diterapkan begitu saja dalam konteks masyarakat Indonesia yang berbeda tradisi dan kebiasaannya dengan masyarakat Arab ketika aturan itu diundangkan. Namun, mereka tak cukup nyali untuk melakukan transformasi sebagaimana ditempuh kelompok kedua. Akhirnya, mereka menempuh cari hibah. Para orang tua membagi hartanya melalui mekanisme hibah kepada anak-anaknya secara rata, dan menyisakan sedikit saja untuk kepentingan hidup orang tua. Jalan hibah ini memang tak difatwakan para ulama. Tapi, para ulama itu tak melarang dan cenderung mendiamkannya berlangsung di dalam masyarakat.

    Di luar tiga kelompok ulama itu, banyak umat Islam Indonesia yang meninggalkan hukum waris Islam karena mereka tak mengerti bagaimana membagi harta warisan. Menurut mereka, hukum waris Islam terlalu rumit untuk dipahami. Tak banyak juga ulama Islam Indonesia, mulai pusat sampai daerah, yang tahu tata cara pembagian waris dalam Islam. Makin terbatasnya ulama yang ahli di bidang ilmu waris kian menambah tak laku dan tak berjalannya hukum waris di kalangan umat Islam. Akhirnya, yang menjadi panduan dalam pembagian waris adalah hukum perdata sekuler bukan hukum waris Islam.

    • Toto said

      kita hidup di republik indonesia bukan republik islam iran
      disini hukum islam tidak belaku wkwkwk

      • Rubon said

        @Saudara Toto
        Tidak ada bukti sejarah bahwa Rasulullah atau 4 khalifah penerusnya mendirikan suatu negara/kerajaan berdasarkan syari’at Islam, tapi faktanya hukum ad diin Islam diberlakukan bagi daerah yang tunduk dan taat kepada Rasulullah.
        Catatan sejarah berupa hadits-hadits hanya menuliskan beberapa bendera perang yang bertuliskan:
        لا إله إلا الله محمد رسول الله

    • @Mas Djarkoni
      Mohon maaf, kalau tidak keberatan mari kita bahas bersama pada artikel yang berjudul “Mujizat Hukum Waris”

  8. […] dari post @Mas Djarkoni : yang ternyata bersumber dari artikel @Oom […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: