حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Archive for July, 2012

Persoalan Shalat tiga waktu

Posted by حَنِيفًا on July 23, 2012

Assalamu’alaikum,

Astaghfirullohal adzim, sungguh saya teledor membaca keluhan pesan dari sahabat lama tentang berkembangnya wacana jumlah shalat wajib menurut Al Qur’an hanya 3 waktu saja, pada dasarnya saya sudah tahu perihal ini dua tahun yang lalu dari artikelnya @Kang Qarrobin Djuti dimana beliau berpendirian seperti itu. Setelah saya pelajari berulang-ulang, Alhamdulilah dengan idzin Alloh saya dapat menarik sebuah hipotesa bahwa kekeliruan itu terjadi karena diawali dengan penafsiran Al Qur’an sekehendak hati tanpa didasari Iman dan Taqwa kepada penerima Al Qur’an itu sendiri (maksudnya hadits dan sunnah Nabi Muhammad s.a.w ).
Satu catatan yang paling mendasar adalah sepandai-pandainya kita membaca dan atau menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, sudah barang tentu masih jauh dibawah penafsiran Nabi Muhammad s.a.w,  kita sudah tidak asing dengan ayat yang menyatakan ketaatan kepada Alloh dan ketaatan kepada Rosululloh serta ketaatan kepada Pemimpin.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ

Aku mohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk.

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَأَطِيعُوا۟ الرَّسُولَ وَأُو۟لِى الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ ۚ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS 4:59)

Pengertian sunnatulloh (Al Qur’an) tidak perlu saya jelaskan namun pengertian sunnah rasululloh ini bukanlah sunnah menurut istilah fikih yang merupakan lawan dari makruh. Dalam fikih, sunnah artinya sebuah amalan yang apabila dilakukan akan mendapatkan pahala, apabila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Akan tetapi sunnah yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu ucapan beliau, perbuatan beliau, ataupun ketetapan beliau yang biasa dikenal dengan istilah hadits.

Sebagai contoh: pengucapan kata “Amiin” setiap akhir do’a adalah dari hadits Rasululloh demikian juga dengan cara-cara beribadah haji (sa’i dan tawaf) walaupun Al Qur’an tidak merincikan jumlah dan waktunya saat menjalankan wajib haji namun semua itu mengikuti sunnah dan atau hadits dari Nabi Muhammad s.a.w yang sudah pasti juga beliau juga mengikuti sunnah dan hadits dari Rasul sebelumnya (baca: Nabi Ibrahim a.s )
Bermula dari penafsiran kata “Hadits” inilah golongan orang-orang yang melalaikan shalat mencari pembenaran tentang jumlah shalat wajib hanya tiga bagian saja.

093,011 : wa –ammaa bi ni’mati rabbi ka fa haddits

dan adapun dengan ni’mat rabb engkau maka rangkaikan

052,034 : fa l ya-tuw bi hadiytsin mmitsli hhi –in kaanuw shaadiqiyn

maka bagi supaya (mereka) memberikan dengan rangkaian semisal nya (Al Quran) jika adalah (mereka) orang – orang yang mengoreksi

012,111 : maa kaana hadiytsan yuftaraa walaakin tashdiyqa lladziy bayna yaday hhi wa tafshiyla kulli syai-in wa hhudan wa rahmatan lli qawmin yu-minuwna

apa (Al quran) adalah rangkaian yang dibuat-buat? tetapi (Al Quran) mengoreksi yang di antara dua tangan nya, dan menjelaskan tiap sesuatu, dan petunjuk dan rahmat bagi kaum yang akan beriman

025,033 : wa laa ya-tuwna ka bi matsalin –illaa ji- naa ka bi lhaqqi wa –ahsana tafsiyran

dan tidak akan diberikan (kepada) engkau (Muhammad) dengan permisalan, kecuali kami datangkan (kepada) engkau (Muhammad) dengan yang lengkap dan sebaik-baik Tafsir

ayat Al Quran merupakan tafsir bagi ayat Al Quran itu sendiri 😀
Sumber: Ayat shalat di dalam quran

Kesimpulan dari penafsiran yang fatal pertama: 2 rakaat setiap shalat, ditafsirkan dari (QS 4:101-102) padahal sangat jelas bahwa perlakuan jumlah rakaat shalat tersebut hanya dalam kondisi peperangan atau di medan pertempuran.
Yang kedua adalah mengenai jumlah waktu shalat wajib hanya 3 waktu saja dimana mereka menafsirkan ayat An Nuur ayat 58 padahal yang dimaksud adalah aturan permohonan idzin dari hamba sahaya atau anak-anak yang belum aqli baligh memasuki ruangan dan waktu tertentu, jadi sama sekali bukan mendefinisikan nama-nama shalat.
Al Qur’an tidak perlu menjelaskan secara detail seluruh nama-nama shalat wajib dan sunat sebagai yang saya contohkan nama-nama yang dihalalkan maupun diharamkan menurut Al Qur’an, sebagai ilustrasi buah durian pasti halal karena tidak termasuk yang diharamkan jadi sangat masuk diakal kalau buah durian tidak ada dalam Al Qur’an demikian hal nya dengan nama shalat Subuh, (Dzuhur, Ashar, Maghrib) dan Isya.
Berikut ini saya kutip kembali dari artikel @Kang Qarrobin Djuti.

3 waqtu shalat

024,058 : yaa –ayyu hhaa lladziyna –aamanuw li yasta-dzin kumu lladziyna malakat –aymaanu kum wa lladziyna lam yablughuw lhuluma min kum tsalaatsa marraatin mmin qabli shalaati lfajri wa hiyna tadha’uwna tsiyaaba kum mmina zhzhahhiyrati wa min ba’di shalaati l’isyaa-i tsalaatsu ‘awraatin lla kum laysa ‘alay kum wa laa ‘alay hhim junaahun ba’da hhunna thawwaafuwna ‘alay kum ba’dhu kum ‘alaa ba’dhin kadzaalika yubayyinu llahhu la kumu l-ayaati wa llahhu ‘aliymun hakiymun

Hai yang mana ia orang-orang yang beriman, bagi akan meminta izin (kepada) kamu, orang-orang yang dimiliki (dari) pelayan kamu dan orang-orang yang belum baligh huluma dari kamu tiga kali : dari sebelum shalat fajar, dan ketika meletakkan pakaian kamu dari zhuhhur dan dari setelah shalat ‘isyaa- (inilah) tiga ‘awrat bagi kamu, tidak ada atas kamu dan tidak atas mereka kesalahan setelah (tiga waktu) tersebut mengitari atas kamu, sebagian kamu atas sebagian (yang lain), demikian akan dibuktikan allah bagi kamu ayat-ayat, dan allah maha mengetahui lagi maha bijaksana

Perhatikan !!
Yang diawali kata shalat yaitu Shalat Fajar (subuh) dan Shalat ‘Isyaa sedangkan “zhahhiyrat” tidak diawali kata Shalat padahal kata Zhahra berarti TERANG BENDERANG (BACA: MATAHARI MENYINARI BUMI) sehingga kita mengerti mengapa tidak diawali kata Shalat, karena salah satu waktu yang dimaksud adalah bisa saat menjelang shalat dzuhur (matahari terang) atau saat menjelang shalat Ashar (matahari terang) atau pada saat qobla Maghrib (matahari masih terang).

Tulisan ini saya persembahken bagi seorang pesbuker yang ngenyel… 😀

Read the rest of this entry »

Posted in Bantahan, Debat, Diskusi | Tagged: , | 49 Comments »

Ustadz Muhammad Thalib berfaham JIL

Posted by حَنِيفًا on July 22, 2012

Assalamu’alaikum,

Orang-orang dzalim akan memerangi umat islam dengan berbagai cara dan akan berusaha mematikan cahaya dakwah yang sesuai dengan Al Qur’an. Kita sebagai umat Islam harus berhati-hati pada keburukan dan permusuhan yang senantiasa di hembus-hembuskan oleh orang-orang yang lemah hatinya dalam iman islam yang kafah. Permusuhan dijaman ini tidak hanya secara lahiryah belaka namun diberbagai bidang, terutama bidang dakwah, mereka melontarkan segala tuduhan dan persangkaan pada Al Qur’an baik secara tekstual, kontekstual dan relasional. Mereka akan berusaha menyandarkan segala kekurangan dan mempropagandakan kepada masyarakat dengan bentuk yang sangat buruk. Mereka melakukan itu karena mereka bersandar kepada kekuatan finansial dan dukungan orang-orang pemerintahan yang lemah terhadap aqidah islamiyah.
Artikel ini sengaja dibuat karena saya merasa tergelitik atas kesombongan dan kecongkakan Ustadz Armansyah yang masih bau masih kencur namun sangat berani berkoar-koar mengenai kesalahan terjemahan al-Qur’an versi Departemen Agama RI.

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in Bantahan | Tagged: , , | 37 Comments »

Mujizat Hukum Waris

Posted by حَنِيفًا on July 14, 2012

Assalamu’alaikum,

Al Qur’an adalah rahmatan lil ‘alamin, oleh karena itu saya pribadi mengajak rekan-rekan untuk riung rembug mencicipi kehebatan firman Allah subhanahu wa ta’ala (mukjizat) yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Saya haqul dan ‘ainul yakin bahwa kehebatan hitungan hukum waris menurut Al Qur’an sudah dirasakan oleh sebagian umat Islam, baik yang disadari maupun secara tidak sadar, sebagai contohnya banyak kalangan umat Islam menghitung “harta waris” berdasarkan buku KOMPILASI HUKUM KEWARISAN, Penulis: Prof. H. Idris Djakfar, SH., Taufik Yahya, SH., MH., Penerbit PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, Cetakan I, silahken baca disini.

Ibu mendapat 1/6 bagian karena ada anak. Sementara janda mendapat bagian 1/8 karena ada anak. Sedang bagian anak laki-laki dan bagian anak perempuan adalah 2 : 1.

Bagian Ibu = 1/6 x Rp 500.000 = Rp 83.333
Bagian Janda = 1/8 x Rp 500.000 = Rp 62.500
Rp 500.000 – Rp 83.333 – Rp 62.500 = Rp 354.167.
Bagian anak laki-kali = Rp 236.111
Bagian anak perempuan = Rp 118.056.

@Haniifa say:
Perhatikan  Laki-laki betul tepat 2x Perempuan, tetapi bagi Ibu dan Janda ternyata tidak tepat / bulat 😀
Total Warisan Rp. 500.000
Bagian Ibu = Rp 80.000
Bagian Janda = Rp 60.000
Bagian anak laki-kali = Rp 240.000
Bagian anak perempuan = Rp. 120.000
..
Cek & Recek:
Bagian anak laki-laki ½ harta Waris = 240.000 => Bagian laki-laki (BL)
Bagian anak perempuan BL : 2 = 120.000
Bagian Ibu (Nenek dari anak) adalah :
=> BL : 1/6 = 1/2 : 1/6
=> 2 : 6
Jadi 1/3 x BL = 1/3 x 240.000 = 80.000
Bagian Janda (Ibu dari anak) adalah :
=> BL : 1/8 = 1/2 : 1/8
=> 2 : 8
Jadi 1/6 x BL => 1/4 x 240.000 = 60.000
Subhanallah !!!

Jujur saja, mengenai perhitungan waris didalam Al Qur’an ini banyak kalangan mencemoohkan bahkan cenderung menganggap sepele sehingga menjadi lahan yang subur bagi penghujat Al Qur’an, misalnya tentang Hukum Aul (penyesuaian) yang sebenarnya buatan kaum Yahudi dan Nashrani yang meng otak-atik gathuk cara matematis bagi waris, singkat kata seolah-olah benar dan hasilnya outputnya memang benar pada point ini dijadikan landasan dasar bagi para penghujat bahwa ilmu hitung Al Qur’an lebih rendah dari ilmu hitung produk manusia.

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in Bantahan, Debat, Diskusi, Penemuan | Tagged: , , , | 148 Comments »

Mengapa Manusia Cerdas-Kritis Sulit Terima Islam?

Posted by حَنِيفًا on July 14, 2012

Waahh… binun neeh, menghadapi Umat Islam, kata @Oom George Bush 😀

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in Diskusi | Tagged: , , , , , | 15 Comments »

INTERNET dan RUNTUHNYA ISLAM

Posted by حَنِيفًا on July 13, 2012

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in Bantahan, Debat, Diskusi, Funny lucu | 5 Comments »

Pengadilan Bagi Sang Nabi Besar

Posted by حَنِيفًا on July 13, 2012

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in do'a | Tagged: , , , , , | 20 Comments »

OMONG KOSONG ISLAMOPHOBIA

Posted by حَنِيفًا on July 12, 2012


_______.:: Begin ::._______
Read the rest of this entry »

Posted in Funny lucu | 7 Comments »

SELAMATKAN MUSLIM DARI ISLAM

Posted by حَنِيفًا on July 11, 2012

Mana yang dimaksud Manusia Monyet atau Monyet Ingusan ?!
.

_______.:: Begin ::._______

Read the rest of this entry »

Posted in Funny lucu | Tagged: , , , , | 22 Comments »

Orang Baduy klaim turunan Nabi Adam

Posted by حَنِيفًا on July 9, 2012

Assalamu’alaikum,

“Kang teu nanaon saya ngiringan netepan di dieu”  (Boleh saya ikut shalat disini) tanya saya kepada tuan rumah sambil menunjuk ruang tamu yang nyaris tidak berisi perabotan apapun, dengan sigap dan tanpa sungkan sang mantu Jaro mempersilahkan dan memberi tahu arah qiblat. Anda mungkin tak percaya kalau tidak mengalami secara langsung, apalagi hanya dibekali oleh cerita-cerita palsu tentang kehidupan masyarakat Baduy Dalam sebagai mana sumber yang saya kutip berikut: http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin:

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Dalam beberapa kali kunjungan, Alhamdulillah saya diberi kepercayaan oleh mereka tentang segala hal tatanan hidup masyarakat baduy dalam dengan cukup detail termasuk tentang kawasan Hutan Larangan, mohon maaf perihal ini tidak bisa saya ceritakan secara detail, kecuali sedikit yaitu berfungsi sebagai tempat makam, hutan lindung, pembibitan tananam asli (karen jenis tanaman diluar sistem mereka akan dicabut/ dimusnahkan) . Satu hal yang terpenting adalah kita tidak akan pernah menemukan bentuk, alat, kebiasan yang dipakai oleh para agama animisme. Bahkan dengan tegas mereka nyatakan “Kami ini umat Nabi Adam, dan Islam umat Nabi Muhammad, mengenai syahadat kami mengikuti para Pu’un”,  Bukti:  Leuit atau tempat penyimpanan bahan pokok (padi) dibuat sedemikan rupa supaya tikus atau hama tertuntu tidak merusak padi, padi dalam leuit bisa berumur lebih dari 50 tahun karena mereka memper gunakan daun tertentu, tidak ada benda magis atau klenik pada leuit, maintenance hanya dilakukan 4 tahun sekali mengganti genting (daun) yang rusak/lapuk.

Pohto ini diambil beberapa hari setelah kejadian kebakaran hebat di tahun 2010.

Read the rest of this entry »

Posted in Bantahan | Tagged: , , , | 18 Comments »

Al Koran dengan Al Quran

Posted by حَنِيفًا on July 6, 2012

Assalamu’alaikum,

Koran dengan Qur’an bagi orang-orang barat dianggap sama, mungkin karena mereka berpendapat secara definitip memang sama, yaitu : sama-sama berita (warta, naba, news) , sama-sama terbuat dari kertas (qirthasin, paper).  😀
Seandainya kita baca Koran maka sudah lazim jika dapati berbagai kajian baik yang berupa sastra, politik, sain dan pesan sponsor dan lain-lain jadi bukan hal yang mustahil jika kita mendapati kata air dalam bundelan koran yang pasti kata itu ditempatkan pada tema atau topik yang berbeda-beda.
Anggap saja kita mengoleksikan kata air dan selanjutnya merangkai kata tersebut menjadi sebuah kalimat, seperti berikut: air muka; air manis, air keras; air asia; air tonight dan air supply.

Kalimat tersebut adalah:
Suatu ketika manakala saya sedang minum air manis dipesawat, sepintas terlihat air muka pramugari air asia yang meringis karena tersiram air keras, untung terdengar alunan suara vokalis air supply sedang melantunkan sebuah lagu yang berjudul In the air tonight, hingga akhirnya terhibur juga hatinya

Kata “air” pada kalimat diatas tidak bisa kita sebut sebagai homonim, homograf maupun homofon karena sangat jelas terdiri dari Bahasa Indonesia (Melayu) dan Bahasa Inggris kalaupun ada kesaaman mungkin hanya sekedar kebetulan saja bahwa kedua-duanya berasal dari “sesuatu yang mengalir (flow)”.
Setelah saya pahami kekeliruan persepsi suatu kata yang berasal dari bahasa asing dalam bahasa sehari-hari,  yang pada berikutnya dapatlah dimengerti kerancuan (ambigu) dari kesimpulan Jurnal 338 Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008 yang berjudul “Telaah tentang Konsep Manusia Menurut Al-Qur’an” dan ditulis oleh Abdul Muhid ( Dosen Tetap Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Read the rest of this entry »

Posted in Diskusi | Tagged: , | 12 Comments »