حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Albert Einstein 2

Posted by حَنِيفًا on June 22, 2009

Assalamu’alaikum,

Saya acapkali melontarkan pendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu tidak dapat di-definisikan dalam kontek ruang dan waktu menurut pemahaman ilmu pengetahuan manusia (icluding dalam ranah dimensi 0 !!). Sebagai contoh Allah menciptakan para Malaikat dari bahan dasar Cahaya, sementara lain dalam jagad raya ini terdapat benda angkasa yang jauhnya bisa milyaran tahun cahaya, lalu  “Bagaimana para Malaikat ini mengemban tugas bolak-balik memberikan ilham, mencatat amal, mencabut ruh… dsb.  ?!” Jika kecepatan gerak Malaikat hanya sebatas perhitungan c², sebagaimana yang diteorikan oleh Albert Einstein.

Jadi sangat keliru sekali jika falsafah dalam Al Qur’an berikut ini, dianggap sebagai kecepatan gerak dinamis dari Malaikat, namun jika dijadikan sandaran baku untuk suatu pengolahan sistem perhitungan itu lain masalah.

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS 32:5)

Dengan silogisme yang sama Al Qur’an memberikan suatu bentuk landasan perhitungan asal muasalnya suatu materi.

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: KUN (Jadilah!) maka terjadilah ia. ( QS 36:82)

Saya merasa yakin sekali bahwa Albert Einstein munkin termasuk salah satu orang yang mampu mengejawatahkan filosofis pada ayat tersebut dalam korelasi antara salah satu bentuk Energi Suara, Gelombang dan Suatu Materi dari ketiadaan menjadi ada.

Alhamdulillah….

Alhamdulillah….
Seorang rekan @mas Hendarto dengan bahasa yang mudah dan lugas bersedia menjabarkan rumusan yang populer tersebut dalam salahsatu blog favorit sayah….😀

Berikut ini adalah uraian dari beliau….

______________________________________________________
@Hendarto :

Ilmu pengetahuan dan matematika adalah suatu perpaduan yang hampir tidak terelakkan, matematika digunakan sebagai alat untuk kebernaran atau sebaliknya untuk menemukan sesuatu yang menurut perhitungan harus ada dan nyata.

Penyelidikan dan berbagai percobaan ilmiah akan membawa kita kepada pola berpikir positif, kita tidak akan mengetahuai apa hakekat dibalik perisitiwa atau fenomena alam, akan tetapi kita harus membatasi diri dengan menerangkannya dengan pertolongan rumus-rumus dalam ilmu pasti, salah satunya dengan menggunakan matematika.

Dengan rumus-rumus dalam ilmu pasti itu kita dapat menemukan pula hakekat sesuatu, misalnya elektron. Dengan pertolongan rumus kontraksi dari Fitzgerald-Lorentz dapat dibuktikan bahwa elektron bukanlah materi melainkan timbunan energi semata.

Para ahli filsafat sefaham dan sependapat bahwa pengetahuan tentang ilmu pasti yang pada umumnya hasil dari pada pengolahan abstraksi, diperoleh hanya dengan pertolongan proses-proses berpikir, tanpa pertolongan dari keadaan diluar kita.

Dengan pendekatan matematika pula kita bisa melakukan pendekatan akan pembuktian tentang kebesaran Tuhan. Adapun yang dapat dibuktikan dengan matematika ialah bahwa tiap-tiap sesuatu atau keadaan berasal dari Zat Mutlak (Absolute Substance) ialah Tuhan itu sendiri, dengan pemaparan ini mau tidak mau akan memaksa kita untuk mengakui adanya Tuhan.

Zat Mutlak adalah zat yang tidak mempunyai bagian dan kita bisa beri lambang dengan angka 0 dan sifat dari zat mutlak ini adalah mengisi seluruh ruang atau bahkan Maha Ruang yang tak terhingga sehingga bisa kita beri lambang ∞ yang berarti sesuatu yang tak terhingga besarnya.

Dengan lambang-lambang ini maka kita bisa membuktikan dengan matematika bahwa tiap-tiap keadaan diciptakan oleh Tuhan terdiri dari sesuatu yang tidak mempunyai bagian dan dalam jumlah yang tak terhingga. Sekarang kita ambil contoh angka 2 (yang mewakili suatu keadaan atau sesuatu), meskipun kita bisa juga mengganti dengan angka berapapun juga maka akan menghasilkan jawaban yang sama.

Apabila angka 2 ini kita bagi berturut-turut dengan pembagi yang makin lama makin kecil sampai pada pembagi yang terkecil yaitu angka 0, maka kita akan memperoleh hasil-hasil pembagian sebagai berikut :

2 : 3 = 2/3
2 : 2 = 1
2 : 1/4 = 8
2 : 1/1.000.000 = 2.000.000
2 : 0 = ∞

Coba anda perhatikan, semakin kecil angka pembagi makin besar pula hasilnya. Angka 0 merupakan lambang yang paling kecil sedangkan ∞ merupakan lambang jumlah yang tak dapat dihitung atau tak terhingga.

Apabila dua suku perbandingan yang terakhir kita kalikan dengan angka 0, maka akan kita peroleh :

(2 : 0) x 0 = ∞ x 0
2 = ∞ x 0

Dari perhitungan diatas kita bisa melihat bahwa tiap-tiap keadaan tersusun dari zat mutlak yang tak mempunyai bagian dan yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Angka 2 atau angka berapa saja merepresentasikan sesuatu atau keadaan, jadi tiap-tiap sesuatu itu tercipta dari Zat Mutlak yang bersifat tak terbatas. (bukankah kita semua berasal dariNya ? dan bukankah semua juga akan kembali padaNya ?…)

Tiap-tiap keadaan seperti yang dimaksud diatas merupakan lambang keadaan yang bermacam jenis sifatnya, ada yang riil, relatif, theoritis, hypothetis dan pustulair.

Keadaan manakah yang dimaksud ?
Untuk menjawab pertanyaan ini maka mari kita pergunakan juga matematika dan dengan menggunakan formula kontraksi dari Fitzgerald-Lorent seperti dibawah ini :

m = mo/√(1-v²/c²)

m = Benda (massa) yang bergerak atau digerakkan,
mo= Benda dalam keadaan diam
v = kecepatan
c = kecepatan cahaya

Rumus ini adalah dasar dari teori relativitas Einstein. Sekarang mari kita bahas rumusan diatas.
Apabila M dan mo digerakkan dengan kecepatan cahaya (lambang v yang berarti kecepatan diberi nilai c yang mewakili kecepatan cahaya), maka hasilnya akan menjadi sebagai berikut :

m = mo/√(1-v²/c²)

m = mo/√(1-c²/c²)

m = mo/√(1-1)

m = mo/ √0

m = mo/0 = ∞

mo = 0 x ∞

Melihat perbandingan yang terakhir maka yang dimaksud dengan keadaan yang tersusun dari zat yang tak terhingga itu ialah mo atau benda diam (rest mass) yakni tiap-tiap keadaan materiil yang tidak bergerak. Seperti yang dibicarakan diatas, rumus ini adalah merupakan dasar dari rumus relativitas Einstein yang berpendapat bahwa massa relative sama nilainya dengan energi menurut rumus :

E = m.c²

E = Energi
m = massa relative
c = kecepatan cahaya

Menurut rumus ini, maka massa relative yang dikalikan dengan kecepatan sinar dalam kwadrat akan berubah menjadi energi. Tadi telah dibuktikan bahwa mo ialah keadaan materiil yang tidak digerakkan atau tidak bergerak (rest mass). Mengapa mo (rest mass) ini bila cukup digerakkan dengan kecepatan sinar saja bisa berubah menjadi 0 x ∞, sedangkan m (massa relative) harus dikalikan dengan kecepatan sinar dalam kwadrat untuk bisa berubah menjadi energi ?

Hal ini disebabkan karena mo (rest mass) bersifat materiil, sedangkan didalam m (massa relative) masih terdapat energi kinetis.

Kesimpulan dari kenyataan ini adalah bahwa yang membutuhkan c² bukan mo, melainkan energi kinetis. Jadi energi kinetis bukanlah energi tertinggi hal ini harus dipecahkan lagi untuk menjadi energi yang terakhir, yaitu E yang didapat oleh Einstein.

Oleh karena tiap-tiap sesuatu benda materiil tersusun dari Zat Mutlak menurut rumus mo = 0 x ∞, maka m terdiri dari 0 x ∞ ditambah dengan energi kinetis.

Energi kinetis yang digerakkan dengan kecepatan yang belum diketahui berubah menjadi E, dikurangi dengan 0 x ∞ menurut rumus berikut :

m – mo = Ek/c²
Ek = c² (m – mo)
Ek = mc² – mo
Ek= E – mo
E = Ek + mo

Oleh karena mo yang digerakkan dengan kecepatan c (kecepatan cahaya) sudah bisa berubah menjadi ∞ x 0, maka hal ini akan lebih cepat lagi terjadi pada kecepatan yang belum diketahui. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa :

E = Ek + (∞ x 0)

Ek yang digerakkan dengan kecepatan c² berubah juga menjadi E1 (energi), maka :

E = E1 + (∞ x 0)

E1 ini dapat diduga juga bahwa ia terdiri dari ∞ x 0 (bukankah tiap-tiap sesuatu terdiri dari ∞ x 0 ??…) maka E merupakan :

E = ∞ x 0 plus ∞ x 0

atau

E = ∞ x 0
E = Zat Mutlak = Energi Maha Suci (Actus Purus)
E = Tuhan….

Maka tiada energi yang tidak berasal dari Tuhan….La khaula wala kuwata illa billah

______________________________________________________

Subhanallah… semoga menjadi pembelajaran yang bermanfaat.

Wassalam, Haniifa.

46 Responses to “Albert Einstein 2”

  1. Fietria said

    Tentang tugas-tugas yang dikerjakan malaikat memang suatu misteri. Mungkinkah satu orang malaikat mencatat amal baik seluruh manusia yang ada di bumi. Dan ada hal-hal urusan peraturan duniawi yang tentu saja tidak semuanya di cantumkan dalam Al-Qur’an dan kitab lainnya. Sebagai contoh:
    adakah dalam Qur’an dan kitab lainnya bahwa terlambat masuk sekolah atau kerja adalah dosa? Tentu jawabnya tidak ada.
    Sungguh banyak urusan duniawi yang tidak dijelaskan satu persatu dalam Qur’an. Seperti yang saya katakan tadi, mungkinkah satu orang malaikat bisa mencatat seluruh amal baik manusia yang ada dibumi. Mungkinkah satu orang malaikat mengawasi manusia setiap saat dan secara satu per satu?
    Jawabnya adalah bisa jadi malaikat punya asisten yang tidak terhitung jumlahnya.
    Allah tentu tidak akan tega menyuruh satu orang malaikat untuk mengawasi seluruh manusia.
    Mungkin teori saya dianggap ngawur, tapi secara logika hal ini bisa jadi benar.

    Pernahkah mas haniifa mengingat kejadian sewaktu masih dalam kandungan ibu?
    Kebanyakan orang pasti mengatakan tidak ingat.
    Namun saya masih ingat, disaat dalam kandungan ibu. Pada saat makan, saya di suapi oleh seorang perempuan kira2 umur 25 th.
    Padahal secara medis di dunia kedokteran, janin dalam kandungan jika makan lewat plasenta. Sungguh berbeda, yang terlihat dari luar dan yang terlihat dari dalam.
    Yang saya ceritakan ini adalah benar, sampai saat ini saya masih mengingat kejadian ketika masih berupa janin dan berada dalam kandungan.
    Dan tentang perempuan yang menyuapi saya ketika makan tsb, tidak diceritakan dalam Al-Qur’an. Padahal saya sudah coba search di google, tapi belum ketemu. Ini dikarenakan sangat jarang sekali ada orang yang ingat kejadian dalam kandungan.

    __________________

    @Mba Fietria
    Pernahkah mas haniifa mengingat kejadian sewaktu masih dalam kandungan ibu?
    _____________________
    Kalau masa diatas 2-3 tahun mungkin agak ingat sekidit… ;(

    Wassalam, Haniifa.

  2. […] Terakhir Albert Einstein 2 … di Mungkinkah ALLAH menciptakan… haniifa di Mungkinkah ALLAH menciptakan… haniifa di […]

  3. Filarbiru said

    Kecepatan energi tdk bisa diukur dgn apapun oleh manusia dlm beberapa kasus salah satu contoh peristiwa pindahnya singgasana ratu balqis dlm kedipan mata. Utk kasus ini rumus einsten mentok. Sebenarnya Allah sudah menunjukkan kapasitasNya sbg YMK hanya manusia tolol saja yg mencari Tuhan selain diriNya. Kasus2 hebat lainnya dlm AQ ttg manusia gua yg tidur 300 thn lebih jg tdk mampu djwb dgn rumus tsb. Itulah sbbnya Allah membolak-balikan tubuh mereka agar tdk menyatu dgn batu. Dan satu lagi peristiwa mi’radnya Nabi Muhammad SAW, rumus einsten jg tdk mampu menjawab kenyataan ini.
    Intinya AQ memberi sentilan cantik kpd manusia2 sekaliber oom einsten…😉

    _______________

    @Mas Filar Biru
    peristiwa pindahnya singgasana ratu balqis dlm kedipan mata…
    Peristiwa ini anehnya menjadi dasar pelem-pelem Hollywood, yang menceritakan adanya TIME TUNNEL…😀

    Wassalam, Haniifa.

  4. Filarbiru said

    @Tuan Putri
    Hhmm…cerita hebat saya percaya dgn apa yg Tuan Putri katakan…sebab saya juga ada pengalaman seperti itu. Hanya saja lebih cantik🙂. Yaitu pengalaman waktu masih bayi saya ingat dan mengetahui ketika menyusu dgn ibu, pengalaman ini tdk perna saya ceritakan kpdnya sb hanya akan menjadi bahan lolucon saja :$. Jadi kalau ada orang yg mengatakan bahwa ibumu sekarang bukan ibumu maka saya tdk akan percaya sb saya tau betul dgn siapa saya menyusu.
    Bagaimana dgn anda apakah ibumu sekarang adalah ibumu?

  5. Hendarto said

    Saya acapkali melontarkan pendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu tidak dapat di-definisikan dalam kontek ruang dan waktu menurut pemahaman ilmu pengetahuan manusia (icluding dalam ranah dimensi 0 !!). Sebagai contoh Allah menciptakan para Malaikat dari bahan dasar Cahaya, sementara lain dalam jagad raya ini terdapat benda angkasa yang jauhnya bisa milyaran tahun cahaya, lalu “Bagaimana para Malaikat ini mengemban tugas bolak-balik memberikan ilham, mencatat amal, mencabut ruh… dsb. ?!” Jika kecepatan gerak Malaikat hanya sebatas perhitungan c², sebagaimana yang diteorikan oleh Albert Einstein.

    Key words : AI Qur’an Surat Qaf ayat 16.

    Mari kita amati bersama segala benda disekitar kita, mungkin disekitar anda ada meja, lemari, komputer dll. Sekarang mari kita amati lebih lanjut bahwa semua benda2 tadi menempati suatu ruangan yaitu kamar anda misalnya dan ternyata kamar andapun dibatasi oleh dinding2 ruangan lainnya didalam rumah anda, lalu rumah andapun dibatasi oleh ruangan lain yaitu halaman rumah anda dan demikian seterusnya rumah anda didalam wilayah RT, wilayah RT didalam RW, RW didalam kelurahan, kelurahan dalam kecamatan, kecamatan dlm kabupaten, kabupaten dalam provinsi, provinsi dalam negara, negara dalam benua, benua didalam planet bumi, bumi didalam susunan tata surya, tata surya dalam galaksi dan seterusnya…

    Oke sampai disini kita dapat menarik suatu kesimpulan : Tiap-tiap sesuatu pasti menempati ruang.

    Setiap sesuatu atau tiap zat selalu membutuhkan ruangan sebagai wadah untuk dirinya, tanpa ruangan tidak mungkin sesuatu, materi atau zat itu ada sebab jika tidak demikian berada dimanakah sesuatu, materi atau zat tersebut bisa ada/exist jika tidak ada ruangan bagi dirinya ?

    Sebagai seorang muslim kita harus percaya akan keberadaan Tuhan dan menurut kesimpulan logis diatas bahwa keberadaan tiap sesuatu harus menempati ruang maka Tuhanpun tentunya menempati ruangan untuk dirinya ada. Pertanyaan lebih lanjut adalah lebih dahulu mana adanya ruang dan Tuhan ?

    Jika Tuhan lebih dulu ada hal ini tentu tidak mungkin karena akan berada dimana Tuhan jika tidak ada ruangan buat dirinya ada ? bukankah keberadaan tiap ‘sesuatu’ pasti memerlukan ruangan ?

    Jika ruang lebih dulu ada pasti akan memunculkan pertanyaan lebih lanjut adalah siapakah yg meng ‘ada’ kan ruang atau maha ruang tersebut ? Tidak cukup sampai disini, bukankah menurut dogma ajaran agama menyatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai awal dan akhir, baik dalam waktu dan tempat ?

    Disamping Tuhan tidak ada lagi yang bersifat esa, tunggal dan mutlak karena kalau ada sesuatu yg bersifat esa selain Tuhan maka batallah sifat ke esaan Tuhan, maha ruang yang hanya ada satu tidak mungkin diberi sifat esa disamping Tuhan meskipun diberi derajat yang lebih rendah.

    Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ruang atau maha ruang dan Tuhan merupakan satu kenyataan. Wadah dan isi adalah satu, hal ini sesuai benar dg sifat2 Tuhan sebagai sesuatu yang mengatasi (transcendental) semua keadaan yang diciptakanNya dan meliputi atau menyelami tiap-tiap sesuatu (Immanent).

    Dari sini, dari pemikiran ini kita bisa membuktikan kebenaran firman Alloh didalam Al Qur’an surat Qaf ayat 16 : “Kami lebih dekat kepadamu daripada batang nadimu”.

    Alloh begitu dekat dg kita karena tidak ada tempat sejengkalpun didekat kita yg tidak diliputi keberadaan Alloh bahkan dalam diri kita, didalam tiap ruang lahir dan batin kita Alloh hadir dan ada.

    Jika sebegitu dekatnya kita dg Alloh lalu masihkah kita mencari-cari tempat dimana Alloh tidak ada sehingga kita bisa melakukan perbuatan dosa ? meskipun dosa itu sebesar biji zarrah sekalipun, adakah tempat buat kita bisa lolos dari pandangan Alloh ?

    Sebaliknya, adakah tempat dimana amal baik kita tidak akan diketahui Alloh ? meskipun amal sholeh itu sebesar biji zarrah sekalipun ?

    Terbukti jugalah kalau Alloh maha tahu, maha besar dan maha dekat.

    Dengan pemahaman ini masihkah kita akan berbuat dosa ? masihkah kita merasa jauh dg Alloh ?

    Mohon masukan dan saran…dan mohon maaf kalau saya yang bodoh ini membuat tulisan ngawur seperti diatas…

    Wassalam

    • haniifa said

      @Mas Hendarto

      1. Dari konklusi @mas sendiri :
      Maka tiada energi yang tidak berasal dari Tuhan….La khaula wala kuwata illa billah
      ______________________________________________________________
      Sebagai sesama muslim, Insya Allah saya yakin @mas tidak keberatan jika redaksinya agak saya rubah sedikit menjadi sbb:
      Maka tiada energi yang tidak berasal dari Allah (baca: Alloh)

      2. Apabila M dan mo digerakkan dengan kecepatan cahaya (lambang v yang berarti kecepatan diberi nilai c yang mewakili kecepatan cahaya), maka hasilnya akan menjadi sebagai berikut :
      m = mo/√(1-v²/c²)

      ______________________________________________________________
      Disini @mas membatasi kecepatan maksimum benda (v) lebih kecil atau sama dengan kecepatan cahaya (c) dan kita sama-sama tahu bahwa kecepatan tertinggi secara toeritis dipatok hanya pada kecepatan cahaya padahal tidak demikian bukan ?! lihat komentar di:
      http://agorsiloku.wordpress.com/2006/11/28/sehari-1000-tahun-dan-50-ribu-tahun/#comment-24029
      Lalu apa yang terjadi jika mo digerakan melebihi kecepatan cahaya v > c, sehingga menghasilkan perhitungan sbb:

      m = mo/√(1-v²/c²)
      m = mo/√(1-2 c²/c²)
      m = mo/√(1-2)
      m = mo/√-1 …
      Atau mo bergerak berlipat ganda lebih cepat lagi dari kecepatan cahaya…
      m = mo/√-49 … IMAJINER ?!

      3. Oke sampai disini kita dapat menarik suatu kesimpulan : Tiap-tiap sesuatu pasti menempati ruang.
      ______________________________________________________________
      Jika @mas berpendapat √-1 atau √-49 adalah bilangan imajiner, tentu kesimpulan diatas akan menjadi: “Ada sesuatu yang pasti menempati ruang imajiner
      Saya lebih menyenangi dengan menggunakan kalimat : “Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa didefinsikan dengan ruang dan waktu menurut ukuran manusia”

      4. Jika -Tuhan- Allah lebih dulu ada hal ini tentu tidak mungkin karena akan berada dimana -Tuhan- Allah jika tidak ada ruangan buat dirinya ada ? bukankah keberadaan tiap ’sesuatu’ pasti memerlukan ruangan ?
      ______________________________________________________________
      Mohon maaf @mas, sepertinya kontradiksi dengan konklusi yang @mas buat sendiri.
      #mas Hendarto :
      Maka tiada energi yang tidak berasal dari Allah (baca: Alloh)
      #Haniifa :
      Hukum kesetaraan Energi yang dibuat manusia harus tunduk pada dimensi ruang dan waktu oleh karena itu,
      Maka tiada RUANG dan WAKTU yang tidak berasal dari Allah (baca: Alloh)

      5. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ruang atau maha ruang dan -Tuhan- Allah merupakan satu kenyataan. Wadah dan isi adalah satu, hal ini sesuai benar dg sifat2 -Tuhan- Allahsebagai sesuatu yang mengatasi (transcendental) semua keadaan yang diciptakanNya dan meliputi atau menyelami tiap-tiap sesuatu (Immanent).
      ______________________________________________________________
      Hukum itu 1000% berlaku dan harus tunduk kepada semua yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tidak terkecuali dengan para Malaikat, Ruh Manusia dan Jin.

      Kesimpulan @Haniifa.
      Allah adalah Qiyamuhu binafsihi, dan Allah itu tidak bergantung kepada sesuatu.

      Wassalam, Haniifa.

  6. Hendarto said

    @Haniifa

    Setuju sekali dengan koreksi anda…mohon maaf atas kebodohan saya..

    Wassalam

    • haniifa said

      @Mas Hendarto
      Justru saya yang sangat berterima kasih atas postingan @mas dan mohon maaf tanpa ba dan bu langsung saya naikan jadi artikel…
      Soalnya saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan penghormatan yang tinggi-tingginya jika ada cendekiawan sekaliber @mas dan banyak lagi berkenan meluangkan waktu dan fikiran.

      Teriring salam hanggat selalu, Haniifa.

      • Hendarto said

        Justru saya yang sangat berterima kasih atas postingan @mas dan mohon maaf tanpa ba dan bu langsung saya naikan jadi artikel…
        Soalnya saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan penghormatan yang tinggi-tingginya jika ada cendekiawan sekaliber @mas dan banyak lagi berkenan meluangkan waktu dan fikiran.

        Teriring salam hanggat selalu, Haniifa.

        Maaf..saya bukanlah seorang cendikiawan, saya bukan juga seorang fisikawan dan ahli matematika karena saya cuma lulusan akuntansi perguruan tinggi swasta tidak terkenal di kota Malang. Apa-apa yang saya sampaikan diatas cuma hasil menimba ilmu dari guru saya yang seorang tuna netra dan berpendidikan akademi rendah (beliau tidak sarjana cuma lulusan STM). Saya ini tepatnya cuma ‘menyadur’ pemikiran sang guru saja meskipun saya sampaikan dengan bahasa saya sendiri yang apa adanya dan sebisa-bisanya.

        Sekali lagi mohon maaf…

        Wassalam

      • haniifa said

        @Mas Hendarto
        Subhanallah…
        Dengan rendah hati saya mohon, sampaikan salam hormat dan hangat kepada “guru” @mas Hendarto dari @Haniifa.

        Satu hal lain, saya secara pribadi tidak pernah membedakan latar belakang pendidikan dan Alhamdulillah saya ingat benar anjuran dari Al Qur’an ini.
        Wa qala Allahu ta’ala :

        Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS 7:26)

        Jadi tidak ada salahnya jika ternyata pola pemikiran seseorang, Insya Allah akan menambahkan nilai-nilai ketaqwaan bagi orang lain.

        Wassalam, Haniifa.

  7. KangBoed said

    waaaah.. bener bener kang haniifa winstein Indonesia.. salute.. two thumbs upps..
    Salam Sayang

    @Kang Boed😉😀
  8. KangBoed said

    waaaah.. bener bener kang haniifa einstein Indonesia.. salute.. two thumbs upps..
    Salam Sayang

    @😉
    Salam sayang selalu always…😀
  9. KangBoed said

    weleh weleeeeeh kok dua biji … ampuuuuuuun akang haniifa.. tong ngambeknya da kaseeeeep
    Salam Sayang

    *jadiruntahtilusiki*

  10. andai saja setiap ilmu dapat menafsirkan makna ayat2 Tuhan, tanpa ada tendesi ideologis tertentu, benturan antara science dan agama yang selama ini memang sengaja dipertentangakan secara kontras, insyaallah, ilmu pengetahuan akan memberikan kemaslahatan buat umat manusia. sayangnya, ada beberapa gelintir ilmuwan yang mungkin dengan sengaja melakukan reduksi berlebihan terhadap teks Quran. salut banget dg postingannya, mas hanif.

    ____________________

    @Mas Sawali Tuhusetya
    Benar sekali catatan @mas diatas, sayangnya conflict of interest form justru dikerucutkan dalam hal keberagamaan.
    Seharusnya “Civitas Akademi” tetap menjunjung nilai-nilai kejujuran dan melepaskan diri dari berprasangka.

    Wassalam, Haniifa.

  11. Fietria said

    @mas filar biru
    yang saya ingat, memang semasa masih dalam kandungan rahim ibu. Lalu setelah lahir sampai umur 4 tahun saya tidak ingat, kira-kira umur 5 tahun baru saya mengingat kenangan masa kecil waktu sekolah tk.
    Semasa dalam kandungan ketika tangan dan kaki belum berbentuk sampai tangan, kaki dan badan terbentuk sempurna saya masih ingat.
    Tempat alam rahim ibu, gelap dan seperti sebuah ruangan tapi kosong. Saya kebanyakan tidur dan ketika tangan kaki saya terbentuk, baru lah saya bisa jalan-jalan. Padahal jika di dunia kita melihat rahim ibu sangat sempit tapi sewaktu saya masih di dalam tempatnya cukup luas. Masih banyak yang saya ingat ketika berada dalam kandungan. Tapi ketika dilahirkan saya tidak ingat sama sekali.
    Yang membuat saya penasaran, bagaimana rasanya jika tinggal di alam kubur?

    @kangboed
    seharian ini saya keliling blog ketemu nama kamu melulu. Liat tuh ada yang mengaku sebagai kamu di blog ku. Nama sama tapi beda avatar.

  12. jelasnggak said

    OWOH islam ngga maha kuasa

    http://jelasnggak.wordpress.com/2009/06/23/gampang-banget-gini/

  13. Filarbiru said

    @Tuan Putri
    Saya tau setiap manusia ada kelebihan dan ada kekurangan, saya percaya akan hal itu… Teriring salam selalu.
    Namun utk kasus tuan putri sangat hebat…
    Tentu ada sesuatu dibalik itu semua bukan. Neh… Saran Carilah hikmanya. Allah tdk mungkin memberi klu nggak ada hikmanya. Amin

  14. Assalamu alaikum wr wb

    Mas haniifa… ngomong2 energi itu makhluk(ciptaan) bukan???
    energi yang bisa dimanfaatkan mausia,,yg berinteraksi dgn manusia…saya kira termasuk makhluk.
    karena laysa kamislihi syai’un.
    gimana saudaraku ?
    wassalam

    • haniifa said

      Wa’alaikum Salam, @mas Ayruel
      Semua ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala pasti makhluk, dan makhluk dibagi 2 jenis yaitu Makhluk hidup dan Makhluk tak hidup.
      Contoh:
      Api apakah akan dikatakan sebagai makhluk hidup ?!
      Ya jika sekedar diamati dari gerak sinergi api terhadap lingkungannya
      Dan…
      Tidak sebab api memerlukan media dan tidak mempunyai ruh.

      Jadi saya pribadi lebih mengatakan bahwa api itu adalah makluk tak hidup (baca: benda mati) walaupun dalam arti harafiah kita bisa “menghidupkan api” namun tetap saja membutuhkan beberapa zat ciptaan Allah agar api tersebut menyala.

      Nah dengan perumpamaan diatas tentu Energi Panas yang ditimbulkan oleh Api, @mas bisa manarik kesimpulan sendiri.

      Wassalam, Haniifa.

  15. Filarbiru said

    @hanifa & wak chana
    Selain daripada Allah adalah mahkluk. Bukankah Allah yg menciptakan langit dan bumi. Bahkan sesosok maut itu sendiri adalah makhluk, bahkan nafsu dan amal adalah makhluk. Bukankah di alam kubur kita di temani amalan kita terlepas baik dan buruk.
    Salam

    @Mas FB
    Bwetull, selain Allah adalah makhluk hidup dan makhluk mati.
  16. Fietria said

    Kalau saya buat artikel tentang bangsa dan suku keturunan nabi Nuh dan nabi Ibrahim gimana?
    Karena saya pernah baca artikel di beberapa blog bahwa suku batak merupakan bangsa keturunan Israel yang hilang dan suku banjar juga adalah keturunan dari nabi Nuh dan nabi Ibrahim.
    Meskipun suku banjar dan suku batak berbeda budaya dan bahasa, tapi yang menarik adalah walau ketika berbicara sesopan dan sehalus apapun jika menggunakan bahasa daerah maka logatnya terdengar kasar.
    Mungkin karena bangsa Israel adalah bangsa yang angkuh lalu sifat ini menurun pada keturunannya. Maksud saya bahasa daerahnya terdengar kasar.
    Dulu pernah ada salah seorang dari suku batak datang menemui pemerintah Israel membawa berkas-berkas bukti bahwa suku batak adalah garis keturunan Israel yang hilang tapi belum diakui karena berkasnya belum lengkap.

    Hehehe

    Pengakuan Asal Usul
    *MODE ON*

  17. shahil said

    Assalaamualaikum dan hormat untuk semua.

    Saya ingin memberikan sedikit info tentang ketuhanan ini mengikut theologi Tauhid. Islam memberikan suatu sistematika yang mantap dalam kes Tauhid ini.

    Sebelum kita mahu membicarakan ALLah, seharusnya kita menyelesaikan terlebih dahulu apakah maksud atau hakikat Tuhan. Mengapa saya berkata demikian? Bukankah ALLah itulah Tuhan? Atau bukankan Tuhan itu ALLah? Sebenarnya inilah yang membuatkan kita gagal memahami hakikat ALLah. Kita memberikan beberapa definisi tentang ALLah yang tidak sesuai dengan hakikat ketuhanan.

    Dasar Islam sangat jelas iaitu dua kalimah syahadah “Tiada Tuhan melainkan ALLah”. Apakah Tuhan yang dikatakan tiada itu? Apakah Tuhan yang “ditiadakan” itu sesuatu yang dianggap Tuhan oleh agama lain seperti berhala? Jika kita mengatakan ya, maaf saya katakan disinilah kita gagal memahami hakikat ketuhanan.

    Ayuh kita lihat pula kalimat “Tuhan” dan “ALLah” dalam dua kalimat syahadah itu. Kita akan lihat kalimat “Tuhan” duduknya awal dan kalimat “ALLah” dihujung. Ia dimulakan dengan kalimat awalan “Tiada” dan dihubungkan antara keduanya dengan kalimat “melainkan”. jelas sekali kalimat “Tuhan” adalah umum yang mengkhususkan kepada kalimat “ALLah”. Maka dari sususnan lafadz, nyata disitu bahawa kalimat umum itu menjelaskan kepada yang khusus.

    Hakikat ketuhanan sangat jelas disebut dalam kitab Tauhid huraian ulama besar Islam. Ia berdasarkan al-Quran dan Sunnah dengan wasilah akal dan kewajaran. Apakah kita tidak mahu merujuk kesana dan memahaminya?

    Apakah maksud kalimah Tuhan yang umum itu? Tuhan pada akal dan kewajaran seharusnya suatu zat. Apakah wajar Tuhan bukan satu zat? Apakah wajar Tuhan hanya ilusi tanpa zat? Tidak sekali-kali. Itu berlumlah lagi membicarakan keesaan.

    Apabila Tuhan suatu zat, seharusnya Tuhan itu Maha Sempurna. “Maha sempurna” adalah dua kalimat yang tuntas total dimana apa juga sifat kesempurnaan adalah termasuk di dalamnya seperti Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Melihat dan yang lain-lain. Nah, apabila dikatakan Maha Sempurna, haruslah Dia tidak menyerupai yang lain.

    Tuhan seharusnya tidak menyerupai yang lain dariNya. Apa itu? Tidak lain melainkan makhluk. Makhluk adalah jirim, jisim dan aradh. Jirim, jisim dan aradh satu sifatnya ialah menempati ruang dan waktu. Apakah Tuhan harus sedemikian? Apakah zat Tuhan disamakan dengan makhluk dengan mengatakan “harus sesuatu yang berkeberadaan mempunyai ruang tempatnya dan waktu masanya”? Saya fikir tidak harus jika kita memahami “Tuhan adalah zat yang Maha Sempurna”. Apakah wajar Tuhan yang mencipta ruang dan waktu, Dia berada di dalam ruang dan waktu ciptaanNya. Jika demikian dimanakah beda Qadim dan baharu? Nah, disinilah duduk bicara “Laithakamithlihi syai’un”.

    Maka haruslah difahami dengan baik bahawa jika Tuhan bukan jisim dan aradh, pastinya apabila dissebut “jauhnya Tuhan dengan hamba” dan “hampirnya Tuhan lebih hampir dari urat leher” bukanlah atas kapasiti zatiah. Apakah wajar dikatakan “Tuhan turun” dalam keadaan Tuhan bukan jisim dan aradh. Tidak sekali-kali. Jika diteliti al-Quran satu persatu, banyak ayat yang menunjukkan bahawa “dekat dan jauh” itu menunjukkan rahmat Tuhan dan kadar ingat kepada Tuhan. Dan “turunnya Tuhan” itu juga adalah kurnia rahmatNya.

    haruslah kita memahami bahawa kita sentiasa di bawah pengawasan Tuhan adalah melalui sifatNya yang Maha Mengetahui. Jika dikatakan Tahunya Tuhan setiap gerak geri makhluk kerana hubungan zatiah, saya kira kurang wajar. Tuhan “Maha Sempurna”. Maka sifatNya juga Maha Sempurna.

    Maaf tuan, apa yang saya perkatakan hanyalah sedikit dari ilmu Ketuhanan yang maha luas. pemahaman yang baik akan dapat menangkis tohmahan “tuhan bisa membuat batu besar yang dia tidak mampu mengangkatnya”. Apakah ini? Yah theologi songsang…theologi yang mengatakan Tuhan Maha Kuasa kemudian menjadi lemah…akhirnya memperlihatkan kedangkalan kita manusia sendiri dalam memenafaatkan kemuliaan akal.

    Salam hormat
    Shahil
    http://shahil.wordpress.com

    _________________________

    Wa’alaikum Salam, @Mas Shahil
    Salam hormat selalu sahabatku

    @Hanifa

  18. shahil said

    Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Dan Tiada Tuhan melainkan ALlah, ALLah itulah Tuhan, hakikat Tuhan menjurus hanyalah kepada ALLah…zat Yang Maha Sempurna dari lainnya dan sekelian yang lain itu memerlukanNya.

    Itulah ALLah Taala.

    Salam hormat

    _________________________

    Wa’alaikum Salam, @mas Shahi
    Subhanallah…

    Wassalam, Haniifa.

  19. Fietria said

    Mas haniifa, tentang asal usul suku saya (banjar) yang merupakan keturunan nabi Nuh dan nabi Ibrahim, memang tidak pernah saya sangka. Berawal dari keisengan saya mencari di google, saya pun mengetahui bahwa suku banjar garis keturunan Yahudi yang hilang karena bercerai berai ke berbagai penjuru dunia. Pantas saja bahasa banjar terdengar kasar padahal yang diucapkan adalah kata-kata sopan. Selain itu juga suku banjar peradabannya lebih maju sebelum masuk zaman modern.
    Artikel ini akan saya tulis di blog hari senin siang hari. Sekarang masih mencari referensi dulu di berbagai blog.

    @Fietria
    Subhanallah, ditunggu artikelnya lho…😉
  20. jelasnggak said

    Emangnya kalian saja yang bisa… he he he

    http://jelasnggak.wordpress.com/2009/06/30/ikut-ikut-ahh/

  21. Matius 6 huruf
    6 x 3 (trinitas sampah) = 18

    84 / 18 = 4,666666666666667

    6 angka setan

    ok yg ini dech :

    84 – 18 = 66

    66…6 huruf matius
    666….simbol SETAN

    @Yesus Tolol😀😀

    Terimakasih atas kunjungannya dan salam hangat selalu

    #Haniifa.

  22. Fietria said

    Ternyata lagi membahas angka 666.
    Sebenarnya dulu saya pernah dengar juga dari teman saya lewat sms tentang angka 666 itu.
    Katanya akan dicap pada dahi dan lengan kanan juga pada ATM, VISA, Kartu kredit, dst. Lalu ada lagi sms begini:
    jika ada no tlp yang berwarna merah atau no depannya 0666 atau 0866 jangan diangkat karena bisa membuat nyawa melayang.

    @konyol dan kancrutt
    pernah dengar salah satu cerita yang saya sebutkan?
    Karena saya udah tau dari dulu, jelasnggak ini orang kaltim. Hanya saja dia enggak mau ngaku dan malah ganti IP.

  23. dedekusn said

    Izin ‘save as’ untukdipelajari🙂
    __________________________

    Silahkan @Kang Dedekusn😉

    Wassalam, Haniifa.

  24. menurut saya 666 itu si PAUS …

    bisa tolong tunjukan e mail si PAUS ???
    gua mau kirim tuh hitungan matematik 666 gua kepadanya…

  25. […] Albert Einsten 2 […]

  26. […] matematis tentang kecepatan cahaya. Entah bagaimana seorang fisikawan neon YAHUDI yang bernama Albert Einstein mensubtitusikan konstanta kecepatan cahaya kedalam satuan unit Energi yang telah didefinisikan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: