حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Rahasia dibalik perkawinan ‘Aisyah

Posted by حَنِيفًا on June 21, 2009

Assalamu’alaikum,

Testosteron merupakan hormon seks steroid (androgen) pria yang umumnya diproduksi oleh testis setelah terjadi kematangan pembentukan kelenjar gonad pria (testis). Testosteron bertanggung jawab terhadap perkembangan anak laki-laki menjadi seorang pria pada masa pubertas mereka. Hormon ini berperan dalam seksualitas, pembentukan fisik, mental dan performa pria.

Turunnya Testosteron Pada Pria

Testosteron merupakan hormon seks pria yang paling penting. Menurut laporan Massachussets Male Aging Study (1991) dan Vermeulen (1992) mulai usia 40 th pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah aktif sekitar 1,2% per tahun, mencapai usia 70 th pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah sebanyak 35% dari kadar semula.
Proses penuaan pada pria berdampak pada sistem endokrin, sistem genital, komposisi tubuh dan sistem muskular, sistem kardiosvaskular dan sistem syaraf. Bertambahnya usia merupakan penyebab yang umum terjadinya TDS. Tipe ini disebut sebagai Slow Onset atau Low Onset TDS.
Berbagai keadaan seperti visceral obesity (lemak perut atau perut buncit) dan diabetes mellitus atau penyakit-penyakit metabolik lainnya dapat mempercepat terjadinya penurunan kadar testosteron bila dibandingkan dengan pria seusia tanpa obesitas dan diabetes mellitus.
Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa usia mulai Aqli Baligh sampai dengan 40 tahun adalah saat-saat titik puncak hormon tersebut. Sejarahwan Muslim maupun Orientalis mempercayai bahwa Rasulullah (baca: Nabi Muhammad s.a.w) pergi ke negeri Syam untuk mengadakan pernigaan pada usia 25 tahun bersama seorang wanita budak Khadijah yang bernama Maisaroh. Dan tidak ada satu hikayat pun yang menceritakan skandal SEX antara keduanya, bukankah ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad s.a.w jauh dari perilaku sex maniac ?!

Karena dari cerita Maisaroh tentang budi pekerti seorang pemuda yang sedang klimak masa matang sexualitasnya  yang tidak menampakan gelagat penyimpang perilaku seperti pada umumnya dimasa itu, maka Khadijah merasa tertarik untuk melajutkan hubungan pada suatu pernikahan yang mulia. Ketika itu Khadijah berusia dua puluh tujuh tahun sedangkan  beliau sendiri berusia 25 tahun, Khadijah adalah istri pertama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Ia melahirkan bagi beliau anak laki-laki yaitu Al Qasim. Ia juga melahirkan Abdullah yang digelari dengan Ath Thayyib dan Ath Thahir. Dan ia juga melahirkan anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Fathimah dan Ummu Kultsum.
Sekali lagi sejarah membuktikan bahwa beliau (baca: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam) tidak berpoligami selama membina rumah tangga dengan Siti Kadijah hal ini bukan karena sangat cintanya beliau kepada istri pertamanya, namun jauh dari itu disebabkan kepahaman Rasulullah akan beratnya seorang wanita menjadi Istri seorang Rasul, sebagaimana firman Allahu subhanahu wa ta’ala berikut :

Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah (QS 33:30)

Dengan pertimbangan ayat tersebut diatas sudah sewajarnya beliau memilih calon istri yang benar-benar teruji keimannya dan sudah barang tentu dari keturunan para terdekatnya dan sangat terbukti tetap taat kepada Allah dan RasulNya baik dalam keadaan suka maupun duka. Jadi pemilihan ‘Aisyah binti Abu Bakar As Sidiq dan Hafshah binti Umar bin Khaththab, bukanlah pilihan yang sembarangan apalagi dalam konotasi hubungan sex semata.

Nabi Muhammad s.a.w bukanlah budak nafsu birahi.

Seperti kita ketahui beliau menikahi istri-istrinya pada usia lebih dari 50 tahun dan tentu sesuai dengan penumuan ilmiah yang saya paparkan diawal postingan ini. Namun selayaknya manusia biasa dalam membina rumah tanggapun beliau dipenuhi dengan problematikan yang sangat manusiawi termasuk timbang rasa kasih sayang dan rasa keadilan pada orang-orang yang mempunyai istri lebih dari satu. Pada suatu ketika beliau benar-benar menjahui para istrinya (tentu dalam kontek rumah tangga),  saya yakin sekali bagi seorang laki-laki yang mempunyai libido tinggi tentu tidak akan sanggup meninggalkan rutinitas tersebut. Kita semua tahu Allah telah menegur dengan keras kepada beliau, saat beliau tidak bersedia mencampuri para istri-istrinya.

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu… (QS 33:50)

Perilaku Nabi Muhammad s.a.w yang halus budi pekertinya dan sangat taat kepada Allah, jauh dari penyimpangan sexualitas seperti yang di gembar-gemborkan oleh para Orientalis, ini terbukti dengan riwayat beliau yang menikahi janda dari seorang anak angkatnya yang bernama Za’id. Dan tidak ada satupun kisah yang menyatakan istri Za’id itu cantik atau bahkan memikat hati kaum pria, suatu alasan yang sangat kuat adalah beliau sendiri yang meminangnya bagi Za’id.

Kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS 33:37)

Tujuan utama para Orientalis.

Pemutar balikan fakta dari kasus ‘Aisyah dari para Orientalis mempunyai dua maksud tersembunyi :
1. Pencemaran nama baik Nabi Muhammad s.a.w
2. Membuat/penyelewengan ayat, terutama hadits agar umat islam meragukan periwatannya.
Alhamdulillah, berkat idzin Allah saya mendapati seorang sahabat yang begitu komprehensif memaparkan sisi lain dari pelintiran PINANGAN RASULULLAH kepada ‘Aisyah binti Abu Bakr pada usia kira-kira 7-9 tahun, berikut ini diskusi yang hangat dari @mas Immo dengan @mas alexious… semoga bermanfaat.
____________________________________________________________
@mas Alexious berkata :
Hal itu menghancurkan kabut yang menutupi pikiran saya akan iman islam.
Ini membahas Mitos Kuno Tentang Usia Pernikahan Siti Aisyah RA

@mas Immo menjawab:
Sebaiknya saudara alexious membaca periwayatan yang sebenarnya. Ada Hadist2 yang shahih, ada jg yg tdk.

Jika saya bisa ambil lkesimpulan, Anda mengimani Islam dari ? , Dan pada akhirnya Anda sangat berterima kasih sekali kepada….
Sudah cukup puaskah anda dengan jawaban itu?

Saya jg tdk bisa melarang kuatnya iman anda yg sudah berkomitmen demikian,
Namun sebaiknya kita telusuri sejarah, ketika saya membaca periwayatan Muhammad dgn Aisyah, Kabut2 dikepala saya hilang…
Dan sejarah membuktikan bhw Islam melarang pernikahan di bawah umur, dan itu tdk terjadi pada Nabi besar kita.

Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain penghormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.

Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

Kesimpulan: Berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

Kronologi: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

Kesimpulan: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

Kesimpulan: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah](Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti #3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

Kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

Kesimpulan: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah ( The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita(bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

BUKTI #8. Text Qur’an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan pada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan :

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5)

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.

Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

Kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

SUMMARY:

Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

Sumber :
The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan. © 2001 Minaret
from The Minaret Source:
http://www.iiie.net/
____________________________________________________________

Meminang bukan berarti menikah, hingga kini tradisi meminang dari pihak laki-laki kepada seorang gadis sudahlah lazim (baca: bertunangan)
Jadi esensinya pernikahan Nabi Muhammad s.a.w dengan ‘Aisyah dilaksanakan setelah ‘Aisyah menampakan tanda-tanda haid selayaknya wanita dewasa.

Dari uraian diatas, maka sudah sewajarnya umat Islam di Indonesia merasa gerah pada tindakan Syekh Puji (baca: @Mas Pujiono)… Karena pemahaman beliau terfokus pada validitas usia wanita nikah menuruti pemahaman yang keliru, bukan pada genap tidaknya fungsi hormonal serorang gadis , disatu fihak beliau juga menyalahi UU 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, satu hal yang perlu ditegasi Rasulullah tidak pernah mendirikan NEGARA ISLAM namun sebagai rahmatan lil ‘alamin artinya hukum ISLAM tidak terkotak-kotak namun jika ada yang akan mengadobsi hukum Islam dalam kontek bernegara itu lain soal, sejarah membuktikan dalam strategi peperanganpun beliau senantiasa merundingkan dengan para sahabatnya.

Wassalam, Haniifa.

87 Responses to “Rahasia dibalik perkawinan ‘Aisyah”

  1. Fietria said

    Hmmm…ulasan menarik agar tidak ada kesalahpahaman atau hujatan pada umat Islam tentang Nabi Muhammad.

    Mengenai pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisya ada yang bilang 7 tahun, 9 tahun, 19 tahun, dan lain sebagainya.

    Ini dikarenakan hadis banyak yang dipalsukan, konon dari 50.000 hadis hanya 2000 yang masih asli.

    _________________

    @Mba Fietria
    Terjamaah Al Qur’an saja banyak yang diselewengkan apalagi Al Hadits, selain diselewengkan juga mereka berusaha membuat hadits-hadits palsu dan ini Insya Allah terjadi berkesinambungan sejak jaman Rasulullah masih hidup, contohnya nabi palselu Musailimah al Kadzdzab

    Wassalam, Haniifa.

  2. jelasnggak said

    udah laaaa…

    biarpun kalian utak-atik itu alasan…
    tetep aja sejarah mengatakan sebaliknya….

    iya kan…?

    syekh puji (baca: mas puji samiji – takut uu ITE he he) saja berkata dia mengikuti sunah muhamad itu.

    semakin kalian berusaha mengelak, semakin kelihatan bahwa sejarah itu benar.

    Pernahkah kalian berfikir, kenapa tulisan mengenai muhammad kawin dengan anak kecil itu ada..?
    pernahkah berfikir kenapa ada di hadist..?

    Muhammad itu diberikan KEKUATAN SETARA 30 LELAKI.(dalam hal menggauli wanita)

    subahanah!

    banyak deh sumbernya di hadist… loe aja ngga pernah baca-baca…

    • haniifa said

      @Mas Jelasnggak
      Wahh… sayah rupanya agak kebingungan dengan statement saudara, soalnya menurut saudara Nabi Muhammad s.a.w dalam keadaan depresi berawal dari menerima wahyu di Gua Hira dan sementara waktu beliau mempunyai kekuatan setara dengan 30 laki-laki.

      Kalau bigitu banyak journal ilmiah yang keliru dunk… hehehe

      The relationship between depressive symptoms and male erectile dysfunction: cross-sectional results from the Massachusetts Male Aging Study

      Psychosomatic Medicine, Vol 60, Issue 4 458-465, Copyright © 1998 by American Psychosomatic Society

      • banyak saudara muslim kita yang syi’ah merendahkan A’isyah sebagai gadis belia 9 tahun, sehingga mereka meremehkan apa2 yang disampaikan A’isyah

        terima kasih penjelasannya haniifa. Anda memang dianugerahi ilmu yang banyak. Saya copas ya postingannya buat teman2 yang lain kalo nanti ada yang bertanya, biar bisa dijadikan hujjah. Bahwa artikel ini dari haniifa, tidak akan saya buang. Nama anda akan tetap ada sebagai yang posting artikel ini. Makasih

        Mari ngobrol seputar science, quran dan hanification
        qarrobindjuti.blogspot.com

      • haniifa said

        @Kang Qarrobin Djuti
        Terima kasih sekali @mas, semoga kebaikan sampean dibalas berlipat ganda oleh Allah subhanahu wa ta’ala,Amin

        Teriring salam hangat selalu.

        #Haniifa.

  3. zulhaq said

    rahasia di balik perkawinan???
    lah, di depan aja nggak ngerti…
    kan belum laku dan belum ad ayang mau he he he
    ___________________

    @Kang Zulhaq
    Cari terus gadis yang cantik dan baik…😀

    #Haniifa.

  4. getdesk said

    SUDAH DIBANTAH TULISAN DIATAS!

  5. getdesk said

    yang membantah adalah juga seorang cendekiawan Islam sendiri, Dr Shaykh Gibril Fouad Haddad, dari situs Islam SunniPath.com

  6. getdesk said

    BANTAHAN 1 PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

    Berikut ini adalah bantahan Shayk Gibril Hadda:
    A. Ada lebih dari sebelas otoritas di antara para Tabi’in yang melaporkan secara langsung dari Aisha. Itu masih tidak termasuk para Sahaba yang melaporkan hal yang sama dan juga penerus-penerus utama (major Successors) yang melaporkannya dari sumber selain Aisha.

    B. Not so. Al-Zuhri also reports it from `Urwa, from `A’isha; so does `Abd Allah ibn Dhakwan, both major Madanis. So is the Tabi`i Yahya al-Lakhmi who reports it from her in the Musnad and in Ibn Sa`d’s Tabaqat. So is Abu Ishaq Sa`d ibn Ibrahim who reports it from Imam al-Qasim ibn Muhammad, one of the Seven Imams of Madina, from `A’isha. All the narratives of this event have been reported.

    C. Bukan begitu. Selain keempat perawi Tabi’in Medina di atas, Sufyan ibn `Uyayna dari Khurasan dan`Abd Allah ibn Muhammad ibn Yahya dari Tabarayya di Palestine juga melaporkannya. Bahkan hadist tersebut bukan hanya dilaporkan oleh `Urwa, tetapi juga oleh `Abd al-Malik ibn `Umayr, al-Aswad, Ibn Abi Mulayka, Abu Salama ibn `Abd al-Rahman ibn `Awf, Yahya ibn `Abd al-Rahman ibn Hatib, Abu `Ubayda (`Amir ibn `Abd Allah ibn Mas`ud) dan Imam-Imam Tabi’I lainnya langsung dari Aisha.

    Dengan demikian, hal ini telah dilaporkan secara masaal (mutawatir) dari Aisha oleh lebih dari sebelas otoritas di antara kaum Tabi’in, belum lagi yang dilaporkan oleh para Sahaba seperti Ibn Mas`ud dan Penerus Utama seperti Qatada!

    D. Sebenarnya, Ya`qub berkata: “Dapat dipercaya, dapat diandalkan sama sekali (thiqa thabt), tidak tercela kecuali setelah dia pergi ke Iraq, pada waktu mana dia meriwayatkan dari ayahnya dan dicela karena itu.” Perhatikanlah bahwa Ya’qub sebenarnya tidak membenarkan kritisi (pencelaan) itu.

    Malik sendiri melaporkan lebih dari 100 hadist dari Hisham seperti yang dibuktikan dalam kedua (koleksi hadist) Sahih dan Sunan hingga al-Dhahabi menanyakan kepantasan / otentisitas pernyataan bahwa dia mencela Hisham.

    Bahkan sebenarnya, tidak ada satupun ahli hadist yang membenarkan meragukan hadist-hadist tersebut karena hanyalah didasarkan pada kenyataan bahwa pada masa tuanya Hisma (dia berumur 71 tahun pada saat kunjungan terakhirnya ke Iraq) suka menyingkat perkataan, dan akan berkata, “Ayahku, dari Aisha” (abi `an `A’isha)” dan tidak lagi mengatakan, “diriwayatkan padaku (haddathani)”.

    Al-Mizzi in Tahdhib al-Kamal (30:238) menjelaskan bahwa orang-orang Iraq sudah tidak ragu lagi bahwa Hisham tidak pernah meriwayatkan sesuatu apapun dari ayhnya kecuali yang dia dengar langsung sendiri darinya.

    Ibn Hajar juga tidak setuju dengan celaan terhadap Hisham ibn `Urwa dan berkata dalam Tahdhib al-Tahdhib (11:45): “Jelaslah sudah bagi orang-orang Iraq bahwa dia tidak meriwayatkan apapun dari ayahnya selain yang didengarnya secara langsung darinya.”

    Bahkan sebenarnya, mengatakan bahwa “kisah-kisah yang diriwayatkan oleh Hisham ibn `Urwa dapat diandalkan kecuali yang dilaporkan lewat orang-orang Iraq” adalah omong kosong besar karena itu akan menghapuskan semua riwayat oleh Ayyub al-Sakhtyani darinya karena Ayyub adalah seorang Iraq Basran, dan riwayat-riwayat oleh Abu `Umar al-Nakha`i yang berasal dari Kufa, dan riwayat-riwayat oleh Hammad ibn Abi Sulayman dari Kufa (Shaykh dari Abu Hanifa), dan riwayat-riwayat oleh Hammad ibn Salama dan Hammad ibn Zayd yang kedua-duanya berasal dari Basra, dan riwayat-riwayat oleh Sufyan al-Thawri dari Basra, dan juga riwayat-riwayat oleh Shu`ba di Basra, yang semuanya berasal dari Hisham!

    E. Bohong! Malah sebaliknya al-Dhahabi dalam Mizan al-I`tidal (4:301 #9233) berkata: “Hisham ibn `Urwa, salah seorang yang terhormat, suatu bukti dalam dirinya sendiri, dan seorang Imam. Namun dalam usia tuanya daya ingatnya menurun, tetapi dia tidak pernah menjadi bingung. Dan jangan pernah peduli apa yang dikatakan Abu al-Hasan ibn al-Qattan tentang dia dan Suhayl ibn Ali Salib mnjadi bingung atau berubah-ubah. Memang benar, orangnya berubah sedikit dan daya ingatnya tidak sama seperti di masa mudanya, dan dia lupa beberapa dari yang dihafalkannya. Memangnya kenapa? Apakah dia mesti luput dari kelupaan?
    [p. 302] Dan ketika dia tiba di Iraq pada akhir hidupnya dia meriwayatkan sangat banyak pengetahuan, beberapa di antaranya tidak begitu bagus, dan hal yang sama terjadi pula pada Malik, Shu`ba, dan Waki`, dan beberapa ahli terpecaya lainnya. Jadi tak usahlah bingung-bingung, dan tak usah mengacaukan Imam-Imam terpercaya dengan perawi-perawi lemah dan kacau. Hisham adalah seorang Shaykh al-Islam. Tapi biarlah Allah menghibur kami tentang engkau, O Ibn al-Qattan, dan sama juga halnya dengan pernyataan `Abd al-Rahman ibn Khirash’s dari Malik”

    Terima kasih, Shaykh Gibril Haddad. Tampaknya Shavanas telah salah mengutip atau mengemukakan referensinya sendiri. Maka tampaknya fitnaham terhadap Hisham ibn Urwa tidak berdasar dan tidak didukung oleh teks-teks Islam. Lagipula syarat yang dikemukan Shanavas bahwa hadist-hadist mengenai usia Aisha mesti diriwayatkan melalui banyak perawi dan melalui orang-orang yang bukan dari Medina adalah omong kosong belaka. Tidak ada syarat seperti itu di dalam Islam Sunni. Ini hanyalah standar yang diciptakan Shanavas sendiri untuk mendukung argumennya sendiri.

    • @Getdesk
      Tesa dan Antitesa… rumit coy:mrgreen:

      • getdesk said

        satu lagi versi bantahan dari Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo.

        – Dapat dilihat dalam riwayat-riwayat yang saya kirim di attachment bahwa yang meriwayatkan dari Urwah bukan Hisyam bin Urwah saja, melainkan juga az-Zuhri (orang Madinah) dan Abdullah bin Urwah (orang Madinah). Bahkan yang meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a. bukan hanya Urwah ibn Zubair, melainkan juga al-Aswad bin Yazid an-Nakha’I al-Kufi dan Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf al-Madani. Jadi yang meriwayatkan riwayatkan ini dari Sayyidah Aisyah r.a. adalah 3 orang, dan yang meriwayatkan dari Urwah sendiri adalah 3 orang.

        – Untuk Imam Malik, memang tidak menyebutkanya dalam al-Muwattha` . Karena walaupun al-Muwattha` merupakan kitab jenis Jami’, tapi kandungannya berbeda dengan kitab2 Jawami’ yang lain, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan Tirmidzi. Di dalam al-Muwattha` Imam Malik tidak menyebutkan Kitab-kitab mengenai Maghazi, siyar, Manaqib dan fadha’il shahabat, sehingga sangat wajar jika riwayat tersebut tidak termaktub di dalamnya. Namun hal ini tidak secara otomatis membuktikan bahwa Imam Malik tidak mendengarnya, bisa jadi beliau mendengarnya, namun beliau sengaja tidak meriwayatkannya. Kasus tidak meriwayatkannya seorang Imam hadits terhadap sejumlah hadits yang dia dengar adalah hal biasa. Contoh kecil saja Imam Muslim dengan sengaja tidak meriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhali walaupun dia adalah murid keduanya. Hal ini sebagaimana pengakuan Imam Muslim sendiri.

        – Memang benar bahwa para perawi hadits ini dari Hisyam adalah orang-orang Irak, namun hal itu tidak berpengaruh terhadap kekuatan hadits ini, karena diriwayatkan oleh 2 orang Madinah yang satu tabaqat dengan Hisyam, yaitu az-Zuhri dan Abdullah bin Urwah (Lihat jawaban sebelumnya). Adanya mutaba’ah para perawi tersebut terhadap Hisyam semakin menguatkan tesis Imam adz-Dzahabi yang menyatakan bahwa hafalan Hisyam tidak mukhtalath, walaupun hafalannya berkurang ketika tua dan ini adalah hal yang alami bagi manusia.

        – Selanjutnya nampak sekali penulis artikel melakukan distorsi terhadap teks yang dia nukil dan Imam adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal. Imam adz-Dzhahabi tidak pernah mengatakan sama sekali bahwa hafalan Hisyam mengalami kemunduran yang mencolok. Dia hanya mengatakan bahwa hafalannya berkurang, bahkan selanjutnya dia mengatakan bahwa hafalannya berubah sedikit. Dan itu merupakan hal yang alami bagi usia tua.

        Imam adz-Dzhahabi berkata,

        حجة إمام، لكن في الكبر تناقص حفظه، ولم يختلط أبدا، ولا عبرة بما قاله أبو الحسن بن القطان من أنه وسهيل بن أبى صالح اختلطا، وتغيرا.

        نعم الرجل تغير قليلا ولم يبق حفظه كهو في حال الشبيبة، فنسى بعض محفوظه أو وهم، فكان ماذا ! أهو معصوم من النسيان !

      • @
        bahkan selanjutnya dia mengatakan bahwa hafalannya berubah sedikit. Dan itu merupakan hal yang alami bagi usia tua.
        ________________________________
        Hafalan tidak ada yang berubah kecuali usia tua mengakibatkan KEPIKUNAN…

  7. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 2 MEMINANG

    Shaykh Gibril Haddad berkata bahwa bukti yang diberikan Shanavas adalah salah.

    Al-Tabari tidak melaporkan dimanapun bahwa keempat anak Abu Bakr’s semuanya dilahirkan pada masa Jahiliyya. Dia hanya mengatakan bahwa Abu Bakr menikahi ibu-ibu mereka di jaman Jahiliyya; yaitu Qutayla bint Sa’d dan Umm Ruman yang memberinya empat orang anak, masing-masih dua anak dan Aisha adalah anak perempuan Umm Ruman.
    Jadi Tabari bukannya tidak dapat diandalkan. Kontradiksi yang dituduhkan pada Tabari adalah hasil dari salah kutip.

    • @Getdest
      Shaykh Gibril Haddad berkata bahwa bukti yang diberikan Shanavas adalah salah.
      ____________
      Berarti analisis sayah yang paling benar:mrgreen:

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo.

        Melihat adanya mutaba’ah dari para perawi yang tsiqah untuk Hisyam, seperti az-Zuhri dan Abdullah bin Urwah, maka jika memang Hisyam dianggap lemah dalam hadits ini, hal itu tidaklah berpengaruh terhadap kekuatan hadits ini. Ditambah lagi adanya mutaba’ah untuk urwah dalam hadits ini, yaitu jalur lain dari Sayyidah Aisyah r.a. yang memperkuatnya. Lihat lagi jawaban awal. Maka dari segi sanad, hadits ini tidak bermasalah.

        Imam Thabari dalam tarikhnya tidak pernah mengatakan bahwa semua anak Abu Bakar lahir pada masa jahiliyah. Dalam penukilan di atas nampak sekali distorsi atau tidak adanya pembacaan yang baik terhadap teks. Saya yakin teks yang diinginkan oleh penukil adalah berikut ini:

        وتزوج ايضا في الجاهلية أم رومان بنت عامر بن عميرة بن ذهل ابن ذهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة….. فولدت له عبد الرحمن وعائشة، فكل هؤلاء الأربعة من أولاده ولدوا من زوجتيه اللتين سميناهما في الجاهلية، وتزوج في الاسلام أسماء بنت عميس….

        (Dan pada masa Jahiliyah, [Sayyidina Abu Bakar r.a.] juga menikah dengan Ummu Rumman binti Amir……, lalu Ummu Rumman melahirkan Abdurrahman dan Aisyah. Maka keempat orang anaknya itu dilahirkan dari kedua istrinya yang kami sebutkan [telah dinikahi] pada masa jahiliyah. Dan setelah Islam, [Sayyidina Abu Bakar r.a.] menikah dengan Asma` bini Umais..”

        Dari teks ini dapat dipahami bahwa Imam Thabari sedang menyebutkan tentang istri-istri Sayyidina Abu Bakar r.a., yaitu ada yang dinikahi ketika di zaman jahiliyah dan ada yang di masa Islam. Dan dia mengatakan bahwa keempat anaknya, yaitu Abdullah, Asma`, Abdurrahman dan Aisyah radhiyallahu anhum, dilahirkan oleh dua istrinya yang dia nikahi pada masa jahiliyah, yaitu Qatilah bintu Abdul Uzza dan Ummu Rumman. Mengapa penulis artikel membuang potongan kalimat yang sangat penting ini: ولدوا من زوجتيه اللتين سميناهما في الجاهلية?

        Dengan terbuktinya kesalahan penukilan tersebut, maka semua kesimpulan ini tidak perlu. Bukannya Imam Thabari yang tidak reliable ttg usia Sayyidah Aisyah r.a., melainkan penulis artikel tidak mampu memahami teksnya dengan baik atau memang ingin mendistorsinya.

      • @
        Saya yakin teks yang diinginkan oleh penukil adalah berikut ini:
        _______________________
        Sayah nggak butuh tek/naskah yang nggak jelas otentifikasinya… hahaha
        Buktinya sayah lebih menyakini menghitung lafadz Allah dari berbagai versi Cetakan Al Qur’an dan Alhamdulillah walaupun terdistorsi sana-sini… saya dapati kebenarannya.
        Silahken sampean cek sendiri, itu juga jika sampea percaya Al Qur’an:

        https://haniifa.wordpress.com/2009/01/08/saya-tidak-sepintar-dr-rashad-khalifa-tapi-tidak-bodoh/

  8. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 3 UMUR AISHA JIKA DUHUBUNGKAN DENGAN FATIMAH

    Menggunakan usia Fatima untuk menentukan usia Aisha dengan tujuan untuk membantah hadist-hadist sahih adalah kesalahan logika (logical fallacy) karena riwayat hidup Fatima sendiri simpang siur. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Fatima dilahirkan (ketika ayahnya masih tidak terkenal dan bukan siapa-siapa), dan walaupun kematiannya tercatat baik usianya pada saat kematiannya pun tidak pasti.

    Menurut cerita (tradisi) dia dilahirkan pada hari Jumat, hari ke 20 jumada ` th-thaaniyah
    Pada tahun kelima setelah pernyataan kenabian (615 M), yang berarti dia seumur Aisha.

    Pandangan paling umum dalam tradisi adalah bahwa Fatimah az-Zahra dilahirkan di Mekka, pada hari ke duapuluh Jumada ‘l-Akhirah, dalam tahun kelima kenabian. Juga dikatakan bahwa ketika nabi meninggal, Fatima berumur delapan belas tahun tujuh bulan.

    Dilaporkan dalam otoritas Jabir ibn Yazid bahwa (Imam kelima) al-Baqir ditanyai: “Berapa lama Fatimah hidup setelah Rasul Allah?” Dia menjawab: “Empat bulan; dia meninggal pada usia dua puluh tiga.” Pandangan ini dekat dengan yang dilaporkan oleh tradisi mayoritas Sunni. Mereka telah mengatakan bahwa dia lahir pada tahun ke empat puluh satu kehidupan Rasul Allah. Ini berarti dia dilahirkan satu tahun setelah nabi ditunjuk oleh Allah. Cendekiawan Abu Sa’id al-Hafiz mengatakan dalam bukunya Sharafu’ n-Nabiyy bahwa semua anak Rasul Allah dilahirkan sebelum Islam, kecuali Fatima dan Ibrahim yang lahir dalam Islam.

    Reference: Abu Ali al-Fadl ibn al-Hasan ibn al-Fadl at-Tabrisi (c. 468/1076 – 548/1154)

    Ada lagi yang mengatakan dia lahir sepuluh tahun sebelum Aisha. Orang-orang yang percaya hal ini percaya bahwa Fatima berumur 29 tahun ketika dia meninggal, bukan 18 tahun seperti yang dipercayai kaum tradisional.

    Muslimhope menulis:
    Sunan Nasa’i vol.1 #29 p.115-116 sebenarnya berkata bahwa Fatima berumur 29 tahun ketika dia meninggal (enam bulan setelah Muhammad), yang membuatnya sepuluh tahun lebih tua daripada Aisha. Orang-orang lupa tanggalnya. Hadist-hadist otoritas Sunan Nasa’I umumnya lebih dipercayai dibandingkan hadist Ibn Hajar. Bagaimanapun, Aisha tetap lebih muda.

    Ali Sina telah membantah ketepatan informasi Shanavas:
    “Tentu saja informasi ini tidak dapat dianggap benar. Jika Aisha lima tahun lebih tua daripada Fatimah, dan Fatimah dilahirkan ketika nabi berumur 35 tahun, maka Aisha hanya 30 tahun lebih muda daripada nabi. Jadi pada saat pernikahannya ketika nabi berumur 54 tahun, Aisha mestinya berumur 24 tahun. Ini tentu saja tidak benar berdasarkan alasan-alasan yang telah dijelaskan di atas dan juga karena berkontradiksi dengan hadist yang dikutip para pembela Islam mengenai umur Asma, saudara perempuan Aisha, yang menurut hadist itu 10 tahun lebih tua daripada Aisha dan meninggal pada tahun 73H (pada usia 100 thn). Jadi pada saat Hijra Asma mestinya berumur 100-73 = 27 tahun, tetapi menurut hadist itu dia berumur 34 tahun.”

    Shaykh Gibril Haddad menunjukkan bhwa Ibn Hajar hanyalah melaporkan apa yang dilaporkan para perawi, bukan kesimpulannya sendiri. Dan Shanavas memilih narasi yang salah dan secara salah mengatakan itu kesimpulan Ibn Hajar, yang sebenarnya hanyalah seorang yang melaporkan.

    Gibril Hadda menulis:
    “Ibn Hajar menyebutkan dua versi: (1) riwayat al-Waqidi bahwa Fatima dilahirkan ketika nabi berumur 35 tahun; dan (2) riwayat Ibn ‘Abd al-Barr bahwa dia dilahirkan ketika nabi berumur 41 tahun, kira-kira satu tahun sebelum masa kenabian, dan sekitar lima tahun sebelum Aisha dilahirkan. Versi terakhir ini cocok dengan tanggal-tanggal yang telah ditentukan.”

    Bahkan sebenarnya kita tahu bahwa Ibn Hajar percaya bahwa Aisha berumur sembilan tahun ketika Muhammad menikahi dan menyetubuhinya; dan karena itu dia tidak bisa percaya pada riwayat yang bertentangan oleh al-Waqidi.

    Muslimhope juga menulis:
    Ibn Hajar’s Isabah IV, p.359-360 mendukung bahwa dia sudah menikah pada usia 9 tahun.

    Kesimpulannya adalah, tanggal lahir Fatima tidak dapat dipastikan. Walaupun begitu, Shanavas menggunakan perhitungan kira-kira yang tidak tradisional untuk menimbulkan keraguan atas usia Aisha, walaupun telah ada kisah-kisah tradisi yang sesuai dengan fakta. Perhatikanlah bagaimana Shanavas menghilangkan kisah-kisah tradisi dari referensi Ibn Hajar yang digunakannya, dan malah sebaliknya memilih referensi yang jelas-jelas salah. Ini bisa dipandang sebagai kesengajaan untuk tidak jujur.

    • @Getdest
      Kesimpulannya adalah, tanggal lahir Fatima tidak dapat dipastikan.
      ________________
      Syukurlah kalau sampean tahu… bahwa tatanan masyarakat Arab lebih mengutamakan nama BIN (baca: keturunan/ klan) daripada tanggal lahir seorang anak, dan yang kedua penanggalannya menggunakan Syamsyiah yang masih kacau beliau… hehehe

    • getdesk said

      Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

      – Penulis lagi-lagi melakukan distorsi data, karena al-Hafizh Ibnu Hajar tidak menyatakan sama sekali kata-kata di atas. Ibnu Hajar menyatakan bahwa terjadi perselisihan dalam waktu lahirnya Sayyidah Fatimah r.a.. Dan pendapat di atas adalah nukilan Ibnu Hajar dari riwayat al-Waqidi, yang merupakan salah satu pendapat dalam hal ini. Ibnu Hajar juga menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa Sayyidah Fatimah r.a. lahir ketika Rasulullah saw. berusia 41 satu tahun.

      – Untuk pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri, dia menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah lahir menjelang bi’tsah, bisa jadi satu tahun atau lebih yang tentunya tidak akan jauh dari itu (sesuai dengan kata-kata menjelang yang dipilih Ibnu Hajar). Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Sayyidah Fatimah lebih tua 5 tahun dari Sayyidah Aisyah r.a.. Sesuai dengan pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar, maka ketika hijrah, usia Sayyidah Aisyah r.a. adalah sekitar 9 tahun, dan menikah sekitar 7 tahun, bukan 12 tahun

      • @
        – Penulis lagi-lagi melakukan distorsi data, karena al-Hafizh Ibnu Hajar tidak menyatakan sama sekali kata-kata di atas.
        ______________________
        Sejarah bukan matematika, lha apa menurut sampean data sampean yang paling valid ?!😛

  9. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 4 UMUR AISHA DIHITUNG DARI UMUR ASMA’

    Satu lagi omong kosong. Usia Aisha ketika dia menikah dan disetubuhi Muhammad biasanya ditentukan dari hadist-hadist Sahih Bukhari, Sahih Muslim dan Sunan Abu Dawud.

    Ali Sina telah membantah ketepatan informasi Shanavas:
    “Tentu saja informasi ini tidak dapat dianggap benar. Jika Aisha lima tahun lebih tua daripada Fatimah, dan Fatimah dilahirkan ketika nabi berumur 35 tahun, maka Aisha hanya 30 tahun lebih muda daripada nabi. Jadi pada saat pernikahannya ketika nabi berumur 54 tahun, Aisha mestinya berumur 24 tahun. Ini tentu saja tidak benar berdasarkan alasan-alasan yang telah dijelaskan di atas dan juga karena berkontradiksi dengan hadist yang dikutip para pembela Islam mengenai umur Asma, saudara perempuan Aisha, yang menurut hadist itu 10 tahun lebih tua daripada Aisha dan meninggal pada tahun 73H (pada usia 100 thn). Jadi pada saat Hijra Asma mestinya berumur 100-73 = 27 tahun, tetapi menurut hadist itu dia berumur 34 tahun.”

    Shaykh Haddad juga menyanggah ketepatan informasi ini:
    “Ibn Kathir mendasarkan pendapatnya pada pernyataan Ibn Abi al-Zinad bahwa dia (Asma) sepuluh tahun lebih tua daripada Aisha. Namun al-Dhahabi dalam Siyar A`lam al-Nubala’ berkata bahwa jarak lebih besar daripada 10 tahun di antara mereka berdua, hingga 19 tahun, adan dia lebih dapat dipercaya dalam hal ini. Ibn Hajar melaporkan dalam al-Isaba dari Hisham ibn `Urwa, dari ayahnya, bahwa “Asma hidup hingga umur 100 tahun, dan dari Abu Nu`aym al-Asbahani bahwa Asma’ bint Abi Bakr dillahirkan 27 tahun sebelum Hijra dan dia hidup hingga awal tahun 74H.” Tidak ada apapun dalam riwayat-riwayat ini yang menjadi bukti umur Aisha.

    Dengan menggunakan data-data yang salah, Shanavas mencemarkan nama baik Ibn Hajar. Dia mengandaikan Asma adalah 10 tahun lebih tua daripada Aisha, ketika ada sumber lain yang lebih dapat dipercayai yang mengatakan bahwa perbedaan usia itu bisa sampai 19 tahun. Dengan menggunakan informasi yang lebih dapat dipercayai ini, umur Aisha diperhitungkan sekitar sembilan tahun, sesuai dengan hadsit-hadist sahih di mana Aisha sendiri mengatakan dia berumur sembilan tahun.

    • @Getdesk
      engan menggunakan data-data yang salah, Shanavas mencemarkan nama baik Ibn Hajar. Dia mengandaikan Asma adalah 10 tahun lebih tua daripada Aisha, ketika ada sumber lain yang lebih dapat dipercayai😛 yang mengatakan bahwa perbedaan usia itu bisa sampai 19 tahun.
      ______________________
      Lha itukan sumber yang sampean percaya, bisa saja menurut orang itu adalah sumber palselu… hehehe…

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Benar para ulama menyebutkan bahwa Sayyidah Asma` r.a. lahir 27 sebelum hijrah, meninggal pada tahun 73 dan berusia 100 tahun.
        Namun tidak ada kesepakatan para ulama bahwa Sayyidah Asma` r.a. lebih tua 10 tahun dari Sayyidah Aisyah r.a.. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’laam an-Nubala` dan Tarikhul Islam merajihkan bahwa Sayyidah Asma` lebih tua bidh’u asyrata sanah (sepuluh tahun lebih). Dalam bahasa Arab, kata Bidh’u sendiri adalah antara 3 sampai 9, jadi jarak keduanya antara 13-19 tahun.
        Sesuai dengan catatan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Ishabah, bahwa Sayyidah Aisyah r.a. lahir 4 atau 5 tahun setelah bi’tsah dan lebih tua 5 tahun dari Sayyidah Fathimah r.a. yang lahir ketika bi’tsah atau sebelumnya satu tahun, maka Sayyidah Asma` r.a. adalah lebih tua dari Sayyidah Aisyah r.a. 19 tahun, bukan 10 tahun. Dan berdasarkan data al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, maka usia Sayyidah Aisyah r.a. ketika hijrah adalah antara 8-9 tahun. Tentu akan lebih muda lagi jika kita menggunakan data Imam adz-Dzahabi dalam Siyar dan Tarikhul Islam yang mengatakan bahwa Sayyidah Aisyah r.a. lebih muda 8 tahun dari Sayyidah Fathimah r.a..
        Pendapat bahwa jarak Sayyidah Asma` lebih tua 10 tahun ini pun sangat lemah. Karena para ulama sepakat bahwa Sayyidah Aisyah r.a. lahir setelah bi’tash Nabi saw.. Jika usia Sayyidah Asma` ketika Hijrah 27 tahun dan lebih tua 10 tahun dari Sayyidah Aisyah r.a., maka Sayyidah Aisyah r.a. lahir 4 tahun sebelum bi’tsah Nabi saw.. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan hal ini. Bahkan sebaliknya, seperti telah disebutkan dalam Ishabah bahwa Sayyidah Aisyah lahir 4 atau 5 tahun setelah bi’tsah Nabi saw..
        Kesimpulan: Bersadarkan jawaban utk bukti 3 dan 4, maka al-Hafizh Ibnu Hajar benar-benar valid dalam periwayatan usia Sayyidah Aisyah r.a.. Perlu dicatat juga, bahwa al-Hafizh Ibnu Hajar tidak pernah memperkirakan usia Sayyidah Aisyah r.a. adalah 12, 14 atau 18 tahun ketika menikah maupun ketika mulai hidup berumah tangga dengan Rasulullah saw..

        Catatan: Perbedaan para ulama tentang tahun lahir para tokoh di atas, seperti Sayyidah Aisyah r.a., Sayyidah Fatimah r.a. dan Sayyidah Asma` r.a., merupakan hal yang wajar. Hal ini mengingat kondisi sosiologi ketika itu dimana belum maraknya pencatatan tahun lahir. Di samping itu, ketika lahir para tokoh tersebut belumlah dianggap penting, karena ketika lahir para tokoh tersebut belum memiliki posisi apa-apa, sehingga wajar jika luput dari pencatatan. Berbeda dengan pernikahan, hijrah dan meninggalnya mereka setelah Islam datang, di mana berbagai peristiwa penting dalam kehidupan mereka banyak yang tercatat dengan tinta emas sejarah, karena ketika itu mereka telah menjadi tokoh-tokoh penting dalam Islam.

      • @
        Catatan: Perbedaan para ulama tentang tahun lahir para tokoh di atas, seperti Sayyidah Aisyah r.a., Sayyidah Fatimah r.a. dan Sayyidah Asma` r.a., merupakan hal yang wajar.
        ________________________
        Lha sampean ini bigimana, sangat jika perbedaannya cuma 1 atau 2 tahun seeh.. tidak menjadi masalah,lalu bagaimana jika sebenarnya perbedaan itu antara 10 s/d 20 tahun ?!:mrgreen:

  10. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 5 PERANG BADAR DAN UHUD

    Ali Sina membantah argumen ini sebagai berikut:
    Ini adalah alasan yang lemah. Ketika perang Badr dan Uhud terjadi, Aisha berumur sekitar 10 atau 11 tahun. Dia tidak ikut berperang sebagai prajurit, seperti halnya anak laki-laki. Dia pergi untuk menghangatkan tubuh Muhammad di malam hari. Anak lelaki yang belum mencapai usia 15 tahun dikirim pulang, tetapi ketentuan ini tidak berlaku baginya.

    Perempuan dan anak-anak kecil pergi ke medan perang untuk melakukan tugas-tugas lainnya, seperti yang ditulis dalam situs muslimhope:
    “Wanita dan anak-anak pergi ke medan perang setelah perkelahian selesai dan memberi air kepada Muslim-muslim yang terluka dan menghabiskan musuh yang terluka. . al-Tabari vol.12 p.127,146. Pada hari-hari peperangan, wanita-wanita dan anak-anak berada di sana untuk menggali kuburan bagi yang mati al-Tabari vol.12 p.107.

    Maka jelaslah bahwa batas usia lima belas tahun itu hanya berlaku bagi anak laki-laki, dan argumen Shanavas jelas-jelas salah.

    Shayk Hadda juga menunjukkan bahwa Shanavas menggunakan informasi yang salah atau tidak lengkap.
    “ Pertama-tama, larangan itu hanya berlaku bagi yang ikut bertempur, tidak berlaku bagi anak-anak lelaki yang tidak bertempur, anak-anak perempuan yang tidak bertempur dan kaum wanita. Kedua, Aisha sama sekali tidak ikut bertempur dalam perang Badr, tapi hanya mengucapkan selamat jalan pada orang-orang yang bertempur ketika mereka melewati Medina, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dalam hadist sahihnya. Pada saat perang Uhud (tahun 3H), Anas yang pada waktu itu hanya berumur 12 atau 13 tahun melaporkan melihat Aisha yang berumur 11 tahun bersama ibunya Umm Sulaym mengikat baju mereka dan membawa kantong kulit berisi air pulang pergi kepada orang-orang yang bertempur, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

    Jadi, Aisha sama sekali tidak berpartisipasi dalam perang Badr. Sangat menarik melihat bagaimana Shanava mengutip separuh-separuh hadist Uhud untuk memberi kesan palsu bahwa Aisha ikut berperang dalam perang Uhud ketika hadist-hadistnya telah jelas mengatakan dia hanya membawa kantung air kepada orang-orang yang bertempur. Bagian terakhir dari hadist juga dihapuskan, secara sengaja atau tidak sengaja, yang bisa dianggap tindakan tidak jujur.

    Sahih Bukhari: Volume 4, Book 52, Number 131:
    Diriwayatkan oleh Anas: Pada saat perang Uhad ketika beberapa orang mundur menarik diri dan meninggalkan nabi, aku melihat Aisha bint Abu Bakr dan Um Sulaim, dengan baju mereka ditarik ke atas sehingga kalung-kalung di mata kaki merek terlihat jelas, tergesa0gasa dengan kantung air mereka (dalam riwayat lain dikatakan,” membawa kantung kulit air di punggung mereka”). Mereka lalu menuangkan air di mulut orang-orang, dan kembali lagi mengisi kantung air dan kembali lagi menuangkan air di mulut orang-orang.

    • @Getdest
      Sampean sangat percaya hadits vs hadits… silahken pusing sendiri😀😆

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Lagi-lagi penulis data mencoba memaksakan pemahamannya yang kurang tepat. Dalam riwayat tersebut, larangan mengikuti peperangan adalah untuk para lelaki di bahwa usia 15 tahun.

        Pada perang Badar, usia Sayyidah Aisyah r.a. adalah antara 10 sampai 11 tahun. Pada usia tersebut, tentu bukan hal yang aneh jika seorang wanita sudah mampu berpartisipasi dalam membantu pengurusan keperluan para pasukan dan para korban. Keikutsertaan Sayyidah Aisyah r.a. sendiri dalam perang tersebut, tentu karena dia mendapatkan undian sebagaimana biasa dilakukan Rasulullah saw. terhadap istri-istri beliau ketika pergi berperang.

      • @
        Pada perang Badar, usia Sayyidah Aisyah r.a. adalah antara 10 sampai 11 tahun.
        __________________
        Sampean yakin Aisyah ikut hijrah ke medinah di usia 10 tahun ?!… jangan lupa Oom tatanan masyarakat Mekkah saat itu tidak akan memnggagu ANAK-ANAK, so… tidak mungkin beliau hijrah di usia segitu ….😀😆

  11. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 6 SURAT QAMAR (BULAN)

    Kapan tepatnya Surah al-Qamar diturunkan tidaklah jelas. Ibn Hajar, Maududi, and tradisionalis lainnya berkata bahwa surat itu diturunkan lima tahun sebelum Hijrah (lihat situs muslimhope). Zahid Aziz mengklaim bahwa surat itu diturunkan 6 sebelum Hijrah, Kathib mengatakan 8 tahun sebelum hijrah. Amjad tidak menyebutkan nama sumbernya yang mengatakan ayat itu diturunkan pada tahun 9 sebelum hijrah. Point nya adalah bahwa kapan persisnya Surat al-Qamar diturunkan tidak diketahui, dan menggunakan tanggal yang tak pasti itu untuk menentukan usia Aisha bukan hanya menggelikan, tapi juga sangat bodoh. Namun jika memang suatu perkiraan mesti digunakan, mengapa tidak memakai perkiraan Ibn Hajar yang lebih otoritatif dan diterima dibanding Ibn Khatib?

    Shaykh Haadad juga berpendapat demikian. Dia juga membuktikan bahwai perkiraan tradisional tentang turunnya Surat al-Qamar konsisten dengan usia Aisha adalah sembilan tahun. Tulisnya:
    “Tidak benar. Ahli-ahli hadist, sejarahwan riwayat hidup Muhammad dan komentator (tafsir) Quran setuju bahwa pembelaan bulan terjadi sekitar lima tahun sebelum hijrah ke Medina. Maka dapat dikonfirmasikan bahwa Aisha lahir sekitar tujuh atau delapan tahun sebelum hijrah, dan perkataan bahwa dia seorang jariya atau gadis kecil lima tahun sebelum hijrah cocok dengan fakta bahwa umurnya pada saat Surat al-Qamar diturunkan adalah sekitar 2 atau 3 tahun.

    Jadi usaha Shanavas untuk menyebarkan keraguan atas usia Aisha dengan menggunakan perkiraan non-tradisional (salah) tentang tanggal turunnya surat al-Qamar dengan mudanya telah dibantah.

    • @Getdest
      Kapan tepatnya Surah al-Qamar diturunkan tidaklah jelas.
      _____________________
      Janganken sura Al Qamar, surat AL ‘ALAQ saja tidak ada yang tahu kapan tanggal, jam, menit dan detik surah pertama itu turun… sebagaimana adanya Al Qur’an tidak terbatas oleh waktu hingga akhir zaman… hehehe

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Sejauh pengetahuan saya setelah mengecek kitab-kitab tafsir yang mu’tamad, tidak seorang ulama pun yang menyebutkan secara pasti tentang tahun turunnya surah Al-Qamar. Adapun sumber yang dipakai oleh penulis, menurut saya masih perlu diragukan keotentikannya. Hal ini melihat berbagai distorsi, kesalahan dan ketidakamanahannya dalam penukilan data-data yang dia sebutkan sebelumnya.

        Benar bahwa surah al-Qamar adalah Makkiyyah, benar pula bahwa di dalam shahih Bukhari, Sayyidah Aisyah r.a. menyatakan bahwa ketika surah itu turun, dia adalah jaariyah yang masih suka bermain-main (jaariyatun al-‘ab). Namun kata Jariyah sendiri merupakan kata umum yang sering dipakai untuk gadis kecil atau budak wanita. Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqat Kubra, ketika mendeskripsikan biografi, Sayyidah Ummu Kultsum bintu Ali r.a., mengatakan,
        تزوجها عمر بن الخطاب وهي جارية لم تبلغ

        Dalam lisanul Arab, Ibnu Manzhur mengatakan bahwa kata jaraa adalah semua yang kecil. Jadi kata jaariyah tidak benar bahwa kata jariyah tidak bisa digunakan untuk anak putri yang belum baligh.
        Di samping itu, Imam Tirmidzi menyebutkan di dalam Kitab Sunan atau Jami’nya bahwa Sayyidah Aisyah r.a. sendiri mengatakan apabila seorang gadis mencapai usia 9 tahun, maka dia adalah imra`ah (wanita [dewasa])”.

      • @
        Yang disebut Imra (wanita [dewasa]) adalah WANITA YANG TELAH SEMPURNA ALAT REPRODUKSINYA… alias sudah mestruasi.

  12. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 7 TERMINOLOGI BAHASA ARAB

    Ali Sina telah membantah argumen ini:
    “Penjelasan ini sama sekali tidak benar. Bikr berarti perawan dan, sama seperti dalam bahasa Inggris, tidak terpengaruhi usia. Bahkan sebenarnya Aisha adalah istri kedua Muhammad (setelah Khadijah), tetapi Muhammad tidak menyetubuhinya selama tiga tahun karena dia masih terlalu muda. Oleh karena itu dia memuaskan diri dengan Umma Salamah, hingga Ayesha lebih dewasa sedikit. Sama sekali tidak masuk akal menikahi seorang wanita cantik seperti Aisha dan menunggu tiga tahun untuk membawanya pulang ke rumah.

    Shaykh Haddad juga setuju dan mengkonfirmasikan:
    “Ini omong kosong orang yang tak tahu apa-apa. Bikr berarti seorang gadis perawan, seorang gadis yang belum pernah kawin, biarpun usianya 0 tahun, tidak ada penjelasan umur sama sekali.

    • @Getdest
      Bahasa Al Qur’an dan sunah Rasulullah bukan bahasa arab (baca: kebudayaan), bukti yang sangat akurat saja… tidak ada satu namapun sebelum Nabi Muhammad s.a.w masyarakat arab mengunaken nama “MUHAMMAD”😀

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Lagi-lagi penulis artikel memaksakan diri untuk menggiring pembaca membenarkan klaimnya tersebut.

        Bagi yang membaca dengan hati-hati hadits tawaran Khaulah binti al-Hakim kepada Rasulullah saw. untuk menikah lagi dengan tsayyib (janda) atau dengan bikr (perawan), akan dengan mudah menyimpulkan bahwa yang diinginkan dengan bikr disini adalah lawan tsayyib (janda). Kata bikr sendiri, sebagaimana disebutkan dalam lisanul Arab pada huruf ba ka ra, maksudnya adalah wanita yang belum pecah keperawanannya, tanpa ada kaitannya dengan batas usia.

        Penulis artikel juga dengan sengaja memotong riwayat Imam Ahmad tersebut untuk menjustifikasi pendapatnya yang absurd. Karena di akhir riwayat tersebut, sangat jelas disebutkan bahwa Rasulullah saw. lalu menikahi Sayyidah Aisyah r.a. pada usia enam tahun.

      • @
        Lagi-lagi penulis artikel memaksakan diri untuk menggiring pembaca membenarkan klaimnya tersebut.
        _______________________
        Lha sampean lagi-lagi menampilken “Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo”, Kalau menurut sampean itu yang benar silahken,… hahaha.. mana ada semua orang sama pendapat dan pemahamannya😀😆

  13. getdesk said

    BANTAHAN BUKTI 8 TEXT QUR’AN

    Argumen ini sama sekali tidak benar. Quran mengizinkan lelaki Muslim menikahi gadis-gadis yang belum akil balig. Buktinya adalah sebagai berikut:

    1. Surat 65:4 secara gamblang mengatakan lelaki Muslim boleh menceraikan gadis-gadis yang belum akil balig.

    [65:4] Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

    2. Bukti yang mendukung dari tafsir oleh Ibn Kathir:

    Masa Iddah bagi yang sudah menopause dan yang tidak haid.
    Allah menjelaskan masa tunggu wanita dalam menopause. Dan itu adalah orang yang haidnya telah berhenti karena usia tuanya. Masa Iddah nya adalah tiga bulan dan bukan tiga siklus haid bulanan seperti halnya bagi yang haid, yang berdasarkan ayat dalam Surat al-Baqaah (lihat ayat 2:228). Sama halnya bagi yang muda, yang belum mencapai masa haid. Iddah mereka adalah tiga bulan seperti halnya mereka yang menopause.

    3. Bukti yang mendukung dari Sahih Bukhari

    Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 63
    Diriwayatkan oleh Sahl bin Sad; Ketika kami duduk-duduk bersama nabi, seorang wanita datang padanya dan menyerahkan diri (untuk kawin) padanya. Nabi menatapnya, matanya naik turun, tetapi tidak memberi jawaban. Salah seorang sahaba berkata, “Kawinkan dia padaku O Rasul Allah!” Nabi bertanya padanya, “Apa yang kamu punya?” Dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Nabi berkata, “ Cincin besi pun tidak?” Dia berkata, “Bahkan cincin besi pun tidak punya, tapi aku akan merobek pakaianku menjadi dua dan memberi dia separuhnya dan menyimpan separuhnya.” Nabi berkata, “Jangan. Kamu hafal beberapa bagian Quran?” Dia menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “Pergilah, aku telah setujuh menikahkan kamu dengan dia dengan apa yang kau tahu tentang Quran sebagai mas kawinnya.” ‘Dan bagi mereka yang tidak haid (yaitu mereka yang belum dewasa) (65.4) dan iddah bagi gadis yang belum akil balig adalah tiga bulan (di dalam ayat di atas).

    Jadi bukannya melarang perkawinan dengan anak perempuan yang belum akil balig, sebaliknya Quran sesungguhnya menyetujuinya.

    • @Getdest
      Surat 65:4 secara gamblang mengatakan lelaki Muslim boleh menceraikan gadis-gadis yang belum akil balig.
      _______________________
      Hua.ha.ha… mana ada wanita belon pernah haid bisa hamil…😀😆

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Pertama: Penulis atikel dengan sengaja menghindar dari kenyataan bahwa di dalam Al-Qur`an juga tidak ada larangan untuk menikah dengan seorang anak kecil usia tujuah tahun.

        Kedua: Berkaitan dengan masalah pernikahan, perlu dibedakan antara ranah fikih dan sosial. Di dalam fikih, syarat keabsahan nikah tidak tergantung pada tingkat kedewasaan intelektual dan fisik. Seandainya tingkat kedewasaan intelektual disyaratkan, tentu tidak sah pernikahan orang gila dan para penderita cacat mental, padahal kenyataannya tidak demikian. Begitu juga tidak disyaratkan kesempurnaan fisik, sehingga pernikahaan orang cacat fisik, seperti lumpuh adalah sah. Adapun orang yang tidak mempunyai kemaluan, maka pernikahannya tetap sah jika sang istri setuju dengan kondisi suaminya tersebut.

        Ketiga: ayat yang disebutkan oleh penulis artikel (an-Nisa`: 6) adalah berkaitan dengan penyerahan tanggung jawab pengurusan harta. Oleh karena itu dalam ayat tersebut disyaratkan dua syarat pokok, yaitu Baligh (idza balaghun nikaah) dan ar-Rusyd (kedewasaan berfikir). Oleh karena itu para ulama menyatakan, jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi maka tidak boleh menyerahkan harta tersebut kepada anak yatim atau siapapun juga. Hingga jumhur ulama menyatakan bahwa orang yang safiih (lemah akal) tidak boleh diserahi tanggung jawab pembelanjaan harta, walaupun dia telah mencapai usia 100 tahun.

      • @
        Pertama: Penulis atikel dengan sengaja menghindar dari kenyataan bahwa di dalam Al-Qur`an juga tidak ada larangan untuk menikah dengan seorang anak kecil usia tujuah tahun.
        ________________________________
        Di Al Qur’an juga tidak disebutken IKAN ASIN HARAM, lha sampean itu mengikuti sunnah siapa ?!

  14. getdesk said

    BUKTI 9 IJIN DALAM PERNIKAHAN

    Tampaknya Shanavas tidak tahu tentang hadist sahih Bukhari yang mengatakan seorang gadis perawan memberi izin dengan berdiam diri. Karena Aisha adalah seorang perawan, izinnya adalah berdiam dirinya dia.

    Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 67:
    Diriwayatkan oleh Abu Huraira: Nabi berkata, “Seorang wanita dewasa (yang pernah kawin) tidak boleh dikawinkan kecuali setelah dibincangkan dengannya, dan seorang perawan tidak boleh dikawinkan kecuali setelah izinnya diberikan. Orang-orang bertanya, “O Rasul allah! Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?” Dia berkata, “Berdiam dirinya dia (adalah tanda izinnya).”

    • @Getdest
      Memangnya Rasulullah itu sering sendirian… hahaha.. beliau itu senantiasa dikelilingi oleh para sahabat-sahabatnya.
      Si A bertanya pada Rasululllah: “Surat 65:4 secara gamblang mengatakan lelaki Muslim boleh menceraikan gadis-gadis yang belum akil balig.
      Si B mau pinjam ONTA pada si C : “O Rasul allah! Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?
      Si D menyela pada si B : ““Berdiam dirinya dia (adalah tanda izinnya).”

      Kesimpulan :
      Bisa saja itu adalah perbincangan sambil lalu, atau tidak ada kaitannya dengan RASULULLAH, buktinya ada kata “DIA”, lha dia itu siapa ?!:mrgreen:

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Merupakan kesepakatan para ulama bahwa isti`dzan (permintaan izin) seorang ayah dari putrinya untuk dinikahkan, seperti dijelaskan dalam hadits yang masyhur, adalah untuk perawan yang sudah baligh. Sedangkan untuk perawan yang belum baligh dan yang lemah akal, maka seorang ayah boleh menikahkannya tanpa izin darinya. Dalam hal ini, dalam istilah para ulama, sang ayah disebut dengan wali mujbir.

        Dalam Mazhab Syafi’i misalnya, kebolehan wali mujbir untuk menikahkan putrinya disyaratkan 7 syarat untuk menjaga hak sang putri.
        1. Tidak adanya permusuhan antara ayah dan putrinya
        2. Menikahkannya dengan lelaki yang kufu`
        3. Menggunakan ahar mitsil
        4. Maharnya menggunakan mata uang setempat
        5. Sang suami tidak kesulitan untuk memenuhi mahar
        6. Tidak menikahkannya dengan lelaki yang membuat sang putri akan sengsara dalam kehidupan keluarga, seperti lelaki buta dan lelaki yang sudah pikun.
        7. Sang putri tidak sedang wajib untuk menunaikan haji. Karena bisa jadi sang suami akan menghalanginya karena haji adalah kewajiban yang tidak harus segera dilakukan, padahal sang istri mempunyai tujuan untuk membebaskan diri dari kewajiban hajinya. (Mughni al muhtaaj).

        Dengan ini, tentu kebijakan Sayyidina Abu Bakar r.a. dan Sayyidina Ali r.a., dalam kisah Sayyidah Ummu Kultsum r.a., yang membuat mereka mengizinkan putri mereka dinikahi oleh tokoh-tokoh besar, bahkan Nabi umat ini. Nabi saw. dan Sayyidina Umar r.a. sendiri mempunya alasan yang cukup jelas untuk menikah dengan mereka. Rasulullah saw. karena wahyu dan Sayyidina Umar r.a. karena keinginannya untuk mendapatkan nasab yang mulia.

      • @
        Dengan ini, tentu kebijakan Sayyidina Abu Bakar r.a. dan Sayyidina Ali r.a., dalam kisah Sayyidah Ummu Kultsum r.a.
        _____________________
        Hua.ha.ha… yang jadi pemimpin dan suri tauladan itu Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib atu apa Nabi Muhammad s.a.w ?!

  15. getdesk said

    KESIMPULAN

    Dapat dilihat dari analisa di atas bahwa TO Shanavas memberikan bukti-bukti yang tidak masuk akal (illogical) dan saling berkontradiksi berdasarkan data-data yang tidak benar untuk mendukung pendapatnya bahwa Aisha bukan berusia sembilan tahun ketika menikah dan disetubuhi Muhammad.

    Karena “bukti-bukti” yang diberikannya memberi usia Aisha yang berbeda-beda dan karena dia menggunakan materi yang tidak sahih untuk membantah hadist-hadist sahih, dan karena dia menerima penggunaan fitnah yang tak didukung fakta, jelaslah bahwa dia belum dapat mendukung pendapatnya. Tidak ada satupun dari “bukti-bukti” yang diajukannya yang lulus ujian. Dalam banyak kasus malah kelihaatan dia mengutip secara salah dan menyalahartikan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Dalam hal lain, kelihatan dia memilih menggunakan sumber yang kurang dipercaya (tidak otoritatif) walaupun telah ada sumber yang lebih dapat dipercaya yang mendukung pandangan tradisional.

    Shanavas juga telah mencemarkan nama baik (memfitnah) cendekiawan Ibn Hajar dan Tabari dengan mengatakan mereka berkontradiksi. Shaykh Gibril Haddad menunjukkan bahwa tuduhan terhadap Ibn Hajar dan Tabari ini sama sekali tidak berdasar.

    Jadi Shanavas telah dibantah dan fakta yang tetap ada adalah bahwa Aisha berumur sembilan tahun ketika dia menikah dan disetubuhi oleh Muhammad, seperti yang dibuktikan oleh hadist-hadist sahih.

    • @Getdest
      Jadi Shanavas telah dibantah dan fakta yang tetap ada adalah bahwa Aisha berumur sembilan tahun ketika dia menikah dan disetubuhi oleh Muhammad, seperti yang dibuktikan oleh hadist-hadist sahih.
      __________________________
      Hua.ha.ha… sayah ajah waktu menyetubuhi istri, tidak bilang-bilang sama mertua…. mau hari pertama kek, mau bulan pertama kek, mau tahun pertama kek… malu dunk diceritaken hal gituan, walaupun sudah menikah.
      Lha apa, ujug-ujug Rasulullah cerita parno kayak gitu… hahahaaaaa…

      Terimakasih atas, kunjungannya.

      • getdesk said

        Ahmad Ikhwani,Saahat Jaami’ al-Azhar asy-Syarif, Cairo

        Lagi-lagi sebuah summary yang absurd yang muncul karena miskin riset dan analisa. Mari kita buka tentang biografi Ummu Kultsum bintu Ali bin Ali r.a. yang dinikahi Sayyidina Umar r.a., seperti yang telah disinggung dalam jawaban sebelumnya. Yaitu dalam Kitab Thabaqat Kubra, pada biografi Ummu Kultsum r.a., sangat jelas Ibnu Sa’ad mengatakan bahwa Sayyidina Umar r.a. menikahi Sayyidah Ummu Kultsum r.a. di saat Ummu Kultsum r.a. belum baligh. Ibnu Sa’ad menuliskan,

        تزوجها عمر بن الخطاب وهي جارية لم تبلغ

        Dalam Siyar A’laam an-Nubala` pada biografi Ummu Kultsum binti Ali r.a. disebutkan bahwa dia lahir pada thn 6 H. Ketika Rasulullah saw. meninggal dunia, berarti dia berusia 4 tahun. Kemudian Sayyidina Abu Bakar r.a. menjadi khalifah selama 2 tahun. Maka ketika Sayyidina Umar r.a. menjadi Amiirul Mukminin, Sayyidah Ummu Kultsum r.a. berusia 6 tahun. Secara matematis, memang kita tidak dapat memastikan pada usia keberapa Sayyidah Ummu Kultsum r.a. ketika menikah dengan Sayyidina Umar r.a., namun dari perkataan Ibnu Sa’ad jelas bahwa pernikahan itu berlangsung sebelum Ummu Kultsum r.a. baligh.
        Dapat ditarik kesimpulan bahwa bisa jadi menikahi anak kecil merupakan hal yang biasa di kala itu di kalangan orang Arab.

      • @
        Kebiasaan budaya arab yang diadobsi oleh bangsa timur adalah perihal MEMINANG atau bertunangan atau TUKAR CICIN…
        Kesimpulan:
        Nabi Muhammad s.a.w baru bertunangan belum menikah dan belum syah untuk selayaknya suami-istri.

  16. @Haniifa

    Postingannya sama dgn yg ini;

    http://ryanto126.wordpress.com/

  17. getdesk said

    tambahan sanggahan lagi untuk tulisan diatas (T.O. Shanavas)dan semua yang mengganggapnya benar…
    http://forum.dudung.net/index.php?topic=13065.0

  18. Eagle said

    @Saudara Getdest
    Begini saja.
    Rasulullah adalah panutan dan anutan para sahabatnya, demikian juga dengan para khalifah setelah kepemimpinannya.

    Pertanyaan saya kepada saudara :
    Adakah selain Rasulullah yang menikahi wanita dibawah usia akil baligh ?!
    (Setidak-tidaknya Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Afan dan Ali bin Abi Thalib.)

    Tolong saudara jawab, berikut bukti sejarah/telahan dari para ulama.

    • getdesk said

      Eagle said…
      tentu saja ada!!

      pelajari semua kisah umar..khalif ke 2
      umar juga mengawini gadis bawah umur…lebih muda lagi dari aishah

      • Eagle said

        @Saudara Getdest
        Sebaiknya saudara juga pelajari dengan benar sejarah Nabi Muhammad s.a.w, dan gunakan beberapa referensi, Ingat Saudara !!! Kebenaran suatu sejarah tidaklah mutlak.

      • Eagle said

        @Saudara Getdest
        umar juga mengawini gadis bawah umur…lebih muda lagi dari aishah

        ==> Bisa tunjukan hasil telahan saudara pada seluruh khalifah ISLAM ?!

      • cekixkix said

        @Oom Getdesk
        Bilang aje elu kagak tahu menahu sejarah ISLAM.
        Coba elo buktiin para sahabat yang menikahi gadis 9 tahun ?!
        … jawab: tidak ada satupun… Cekixkix…kix…kix…

      • getdesk said

        tentu saja bisa…masalahnya adalah ini keluar dari topik bahasan diatas..
        kalau anda tidak tahu sejarahnya..itu kesalahan saudara..
        saya yang tahu tidaklah merasa berkepentingan untuk menjelaskannya..

        ketidak tahuan saudaralah yang mengakibatkan anda menolak hal-hal yang terlihat tidak menyenangkan dan tidak menyehatkan iman saudara…

      • Fitri said

        Cekixkix ini mas chodet atau bukan ya?

        @All
        Siapa yang ketemu mas chodet tolong informasikan ke blog saya ya? Soalnya kok lama banget bertapanya.

      • Eagle said

        @Saudara Getdesk
        Perlu saudara ketahui, tidak ada satupun sahabat Rasulullah yang menikahi wanita dibawah umur… kalau memang “sejarah” yang saudara itu benar, sudah barang tentu akan diikuti oleh seluruh umat ISLAM.
        Saudara sengaja mendiskritkan Khalifah Umar bin Khatab, dengan tidak memaparkan hasil temuan saudara, artinya saudara hanya ber assumi tanpa fakta-fakta yang jelas.

      • Eagle said

        @Saudara Getdesk
        Contoh sunnah yang diikuti oleh hampir 1/2 umat ISLAM adalah memelihara jenggot,… dengan analogi demikian jika memang Rasullah menikahi gadis dibawah umur maka secara automatis akan diikuti oleh umat ISLAM, bukan ?!

      • getdesk said

        saya turut prihatin dengan kondisi saudara eagle said ini…
        yang kurang bisa menghadapi kenyataan…

        biarkan kebimbangan saudara menjadi modal untuk terus mencari…

        saya yang agak nyerempet aja ya..
        baca disini: (itu milik umat islam juga lho)
        http://mujahid-aqli.blogspot.com/2009/05/umar-tidak-menikahi-ummu-kulthum-binta.html

      • Eagle said

        @Saudara Getdesk
        Tidak usah pakai prihatin-prihatinan segala, sekarang silahkan saudara utarakan bukti adanya para sahabat menikahi wanita dibawah umur, jika memang Rasulullah mencontoh kan.
        Jangan lupa saudara sebutkan juga ref. yang dapat dipercaya dan mengenai soal sejarah Khalifah Umar bin Khatab tidak saya temukan adanya pernikahan semacam itu.

      • getdesk said

        saudara eagle kali ini minta referensi tapi dengan nada dan keyakinan “tidak mungkin” kalifah berbuat seperti itu…

        lihatlah dan simpulkan bahwa setiap referensi tetap mangacu pernikahan bawah umur…
        baiklah ini referensinya..:

        From Ibn Sa’d’s Kitab Al-Tabaqat Al-Kubra, Volume 8, p. 463, Dhikr Umm Kulthum:
        Umar asked Imam Ali for the hand of Bibi Umme Kulthum (as) in marriage, to which Ali replied, ‘O Commander of the Faithful, SHE IS A MILK FED CHILD’. To which Umar replied, ‘By Allah! That is not true. You are seeking to avoid me’. ‘Ali therefore ordered that Umm Kulthum have a bath and then wear a shawl. ‘Ali told her to go to the Khalifa, ‘give him my regards and ask him if he likes the shawl, he can keep it, other wise, he should return it’. When she came to Umar, he said, ‘May Allah bless you and your father, I like it’. Hence Umm Kulthum came back to her father and told her that Umar did not open the shawl but just looked at me. Ali married her to Umar and they had a child named Zayd. (Please go here to see the Arabic text.)

        In Tarikh Khamees, Volume 2, p. 384 (‘Dhikr Umm Kalthum’) and Zakhair Al-Aqba, p. 168, state:
        “‘Umar asked ‘Ali for the hand of his daughter, Umm Kulthum in marriage. ‘Ali replied that SHE HAS NOT YET ATTAINED THE AGE (of maturity). ‘Umar replied, ‘By Allah, this is not true. You do not want her to marry me. If she is underage, send her to me’. Thus ‘Ali gave his daughter Umm Kulthum a dress and asked her to go to ‘Umar and tell him that her father wants to know what this dress is for. When she came to Umar and gave him the message, he grabbed her hand and forcibly pulled her towards him. ‘Umm Kulthum asked him to leave her hand, which Umar did and said, ‘You are a very mannered lady with great morals. Go and tell your father that you are very pretty and you are not what he said of you’. With that ‘Ali married Umm Kulthum to ‘Umar.”

        The final references come from Sawaiqh al Muhriqa, p. 280 and Asaaf al Ghaneen, p. 162:
        “Umar asked for the hand of ‘Ali’s daughter. ‘Ali replied THAT SHE IS TOO YOUNG. Umar eventually made ‘Ali desperate, and he [Umar] climbed the pulpit declaring ‘By Allah, I have made ‘Ali desperate as I heard Rasulullah (s) say that on the Day of Judgment all family trees shall me severed save those of my family’. By the orders of ‘Ali Umm Kulthum was then groomed and sent to Umar. When Umar saw her, he got up, took her in his lap, kissed her, and showered blessings on her. When she got up to leave, he grabbed her ankle and said, ‘Tell your father that I am willing’. When she returned home and told. (Please go here to see the Arabic text.)

        —–

        Ibn Sa‘d in his work at-Tabaqat al-Kubra (vol. 8 p. 338, ed. Muhammad ‘Ab al-Qadir ‘Ata, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut 1990):
        Umm Kulthum was the second daughter of ‘Ali and Fatimah, and the youngets [sic] of their four children. She was born in about the year 6 AH. She became of marriagable [sic] age during the khilafah of ‘Umar ibn al-Khattab, and the khalifah asked for her hand in marriage.

        Ibnu Sa’ad dlm karyanya At tabaqat Al kubra Vol 8 hal. 338
        Ummu Kulthum adalah putri ke 2 dari ali dan Fatimah, dan yg paling muda dari ke 4 anak mereka. ummu Kulthum lahir sekitar tahun ke 6 setelah hijriah. ia berusia layak untuk menikah di masa kekalifahan Umar bin Khattab, dan kalifah meminta kesediaannya dlm pernikahan.
        Maka = 6 ke 17 = 11 tahun

        Tareekhe Khamees Volume 2 page 267 – Tareekhe Kamil Volume 3 page 21 – Al Istiab by Ibn Abdul Barr Volume 2 page 795
        Since for Umm Kulthum binte Abu Bakr to be born in 13 A.H and married in 17 A.H would give her an age of 4 years. Since Aisha was the elder sister of Umm Kulthum binte Abu Bakr, for this reason Omar had sent for Umm Kulthum hand’s to Aisha, and Aisha had accepted this.

        Tarikh Khamis vol 2 hal 267
        sejak ummu kulthum binti abu bakar lahir di 13 SH dan nikah di 17 AH akan memberikan umur 4 tahunnya. sejak Aisha kaka tertua ummu kulthum binte abu bakar, atas alasan ini Umar menyerahkan ummu kulthum ke aisya dan aisya menerima hal ini.
        Maka = 13 ke 17 = 4 tahun

        Sahih al-Bukhari, Arabic-English Version, Tardition 5.546 – Anwarul Hussania, v3, p39
        and thus her date of death was in the year 11 Hijri, and that Umm Kulthum, daughter of Ali was born in the year 9 Hijri.

        Sahih Bukhari, versi arab inggris vol. 3 hal. 39
        dan dengan begitu tanggal kematiannya pada tahun 11 hijriah dan bahwa ummu kulthum, putri Ali lahir dlm tahun 9 H
        Maka = 9 ke 17 = 8 tahun

        —-

        nah sekarang tinggal tugas saudara Eagle dan lainnya untuk memberi label “palsu”/ “Fitnah” atau yang lainnya terhadap referensi diatas..

        saya hanya membantu mencarikan masalah…

        @
        Alhamdulillah, saya membantu @mas Eagle menyelesaiken masalah😀😆
  19. batjoe said

    pagi mas haniffa….
    semoa sehat selalu dan dalam lindunan Allah SWT
    amin

    @
    Amiin
  20. batjoe said

    sejarah yan bai sebaian oran masih tidak mempercayainya..
    mudah2an ini bisa menjadi jawaban yan tepat dan semoa bisa lebih memahami lagi.
    terima kasih pagi-pagi dapet ilmu lagi hehehehehehe

  21. batjoe said

    kesadaran itu letaknya bukan hanya da dalam pikiran tapi hatilah yang terpenting bisa memilahnya..

    semoga kita semuanya dapat mengambil hikmanya lagi…

  22. @Bro Haniifa

    di artikel diatas dikatakan Nabi menikah dengan khadijah dengan usia Nabi 25th dan Khadijah 27th====>sebenarnya usia khadijah berapa?….ada yang bilang 40 th

    @Mas Wedul
    Sejarah tidak 100% benar, bukan ?!😀
    Salam hangat selalu,

    #Haniifa

  23. getdesk said

    buat bro Bro Haniifa dan lainnya yang mendukung dan bahwa tulisan T.O. Shanavas diatas benar dan patut diyakini..
    segera usulkan juga untuk menarik buku-buku dibawah dari peredarannya…

    Judul buku: Aisyah the Greatest Woman in Islam
    Penerbit: Qisthi Press, Jakarta, 2007
    Penulis: An-Nadawi, Sulaiman
    ISBN : 978-979-1303-07-1
    Warna Cover : Kuning Bercorak
    Halaman : 342 hal
    Ukuran : 16 X 24 cm

    dalam hal. 14 tertulis: ““Nabi SAW mulai menggaulinya dan serumah dengan Aisyah setelah 3 tahun, yaitu tatkala umurnya (Aisyah) menginjak 9 tahun.”

    ————————

    Buku: Aisyah the True Beauty
    Pengarang: Sulaiman an Nadawi
    Penerbit: Pena Ilmu dan Amal, Jakarta, 2007.
    ISBN : 979-3855-46-0
    Judul asli : Sirah as Sayyidah Aishah UM ra, penerbit Darul Qalam, Damascus
    Warna Cover : Kehijauan

    dalam hal.17: tertulis …..keduanya (baginda Muhammad dan Aisyah) baru hidup bersama….ketika Aisyah berumur 9 tahun.

    —————————–

    Judul: Istri-istri para Nabi
    Penulis: Dr Mustafa Murad
    Penerbit Ind: Senayan Abadi, Jakarta, 2006
    ISBN : 979-347-1-62-x
    Judul asli : Zaujaat al Anbiyaa’
    Penerbit : Daar al Fajr li at Turaats, Kairo, 2004

    dalam hal. 106 tertulis : “Aisyah menuturkan ‘saat Rasul menikahiku aku berumur 6 tahun, dan mengumpuliku ketika aku 9 tahun”.

    ———————

    Judul: Rumah Cinta Rasulullah
    Penulis : Ahmad Rofi’ Usmani
    Penerbit : Mizania, Bandung, 2007
    Cover : ada corak kemerahan

    dalam hal. 46. tertulis: “sejak itu rasulullah serumah dengan putri abu bakar as siddiq..”

    —————————–

    Judul : Kisah Istri-istri Nabi Muhammad
    Penulis : Al Ustadz Dr Muh Rawas Qal’ah Ji
    Penerbit : Idea Pustaka, 2004
    Judul asli : Dirasah Tahliliyyah Li Syahshiyyah ar-Rasul Mohammad
    Penerbit : Daran Nafa’is, Beirut, 1996

    dalam hal. 231, tertulis: “Aisyah…, diboyong kepada nabi pada usia 9 tahun”..

    —————————–

    Judul : Sifat dan Pribadi Muhammad SAW
    Judul Asli : Shifat ar-Rasul SAW- al Khalqiyyah al Khuluqiyah
    Penulis : Thaha Abdullah Al Afifi
    Penerbit : Senayan Abadi Publishing, 2007
    ISBN : 978-979-3471-79-2
    Warna Cover : paduan ungu-coklat

    dalam hal. 9, tertulis: “….dan Rasul hidup bersama aisyah di madinah ketika aisyah berusia 9 tahun”

    ————————-

    Judul : Biografi Rasulullah; sebuah studi analitis beradasarkan sumber2 otentik
    Judul asli : as-sirah an-nabawiyyah ti dhan’i al-mashadir al-asshliyyah : dirasah tahlliliyah
    Penulis : Dr Mahdi Rizqullah Ahmad
    Penerbit : qisthi press, 2006, Jl Melur Z/7 jakarta
    Tebal Buku : 1198 hal
    Warna Cover : ungu-kuning
    ISBN : 979-3715-56-1

    dalam hal. 872 tertulis: “Aisyah berkata, rasulullah saw menikahiku setelah kadidjah wafat, tepatnya sebelum hijrah. Pada saat itu, aku berusia 6th. Aku menunaikan tugasku sebagai suami-istri pada saat aku berusia 9th…”

    ———————–

    dan masih banyak lagi buku-buku seperti itu….

    @Mas Getdest
    Bejini yah, sayah ini kurang ngeuh kalau diskusi melibatken hadits, sebab terlalu banyak hadits yang dipalsuken sama kaum sampean… hehehe…
    Sekarang sayah pakai kitab rujukan sampean sendiri yaitu Al Ghost-pel (baca: ALKITAB AGAMA KRISSTEN)

    Usia 11 tahun sudah punya anak, SIAPA KAH DIA ?!

    Ahasber umur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya,
    (2 Raja-raja 16:2)
    ____________________________
    Nama : AHAS
    Jenis kelamin : PEREMPUAN
    Riwayat hidup:
    Usia 11 tahun punya ANAK, yang Bapak (ABI) nya tidak jelas
    Usia 36 tahun wafat, kemungkinan penyakit kelamin…😀:mrgreen:

    Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. (2 Raja-raja 16:20)

    Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. (2 Raja-aja 18:1-2)
    ___________________
    Hizkia anak AHAS (ibu) + “ABI” (bapa)… hehehe… silahken sampean cek sampai botak: ABI atau ABU mengandung pengertian seorang BAPAK atau “ABBA”.
    Contoh:
    Abu Nawas…
    Abi Thalib…
    so…
    AHAS berjenis kelamin WANITA yang melahirkan ANAK diusia 11 tahun, dalam artian beliau berhubungan SEX semenjak BELIA.

    Singkat kata RATU AHAS ketika masih netek ibu sudah punya anak… hehehe…
    ____________________
    JAWAB (komentar Admin Sarapanpagi.org , tentang “AHAS” dalam usai 11 punya anak):

    Ayat-ayat tersebut tidak boleh dibaca secara kronologis: ada kemungkinan besar terdapat masa tenggang dimana kerajaan Yehuda dipimpin bukan oleh seorang Raja melainkan oleh seorang Perdana Menteri sambil menunggu dewasanya Sang Raja Baru atau menunggu masa Dewasanya HIZKIA siap dan matang menjadi Raja (dalam hal ini Alkitab mencatat Hizkia naik tahta pada umur 25 tahun)
    ______________________
    Hehehe… Kristen IDIOT, mana ada suatu KERAJAAN tidak dikepalai oleh RAJA atau RATU….

    Jadi yang benar adalah “RATU AHAS” yang mempunyai ketika beliau berusia 11 tahun.

    Nah, sekarang sampean lihat di AL GHOST PEL AL KRISTEN:
    (Holy Ghost ESTER):

    Kekuasaan atas sejumlah besar daerah melahirkan kebanggaan yang berlebihan di dalam diri Raja Ahasyweros (ayat 1).
    Pesta besar diadakan untuk merayakan kekuasaan serta memamerkan kekayaan kerajaannya
    (ayat 4, 6-8).
    Selama enam bulan pesta diadakan bagi para pembesar dan pegawai kerajaan (ayat 3)!
    Ditambah tujuh hari pesta bagi rakyat (ayat 5) dan pesta khusus perempuan di istana (PESTA FREESEX dan MABUK)(ayat 9). Mabuk kekuasaan dan mabuk oleh anggur membuat raja berhasrat memamerkan istrinya (IDIOT) (ayat 10-11). Tentu saja ratu menolak! Ia tidak mau dipertontonkan di hadapan para pria yang dimabuk anggur (ayat 12). Akibatnya raja murka! Di dalam keangkuhannya, raja tak sadar bahwa perintahnya mencerminkan sikap suami yang tidak menghormati istri. Keinginan untuk memamerkan istri merendahkan status Wasti sebagai ratu. Namun raja tidak peduli. Apapun alasannya, Ratu Wasti telah meruntuhkan harga dirinya sebagai raja di depan tamu-tamunya. Ia yang memiliki kuasa atas sejumlah besar bangsa, seolah tidak memiliki otoritas atas istrinya. Maka untuk menegakkan wibawa dirinya sebagai raja, Ahasyweros (“ABI” HIZKIA/Bapaknya @Om Hizkia) memberhentikan Ratu Wasti dari statusnya sebagai permaisuri raja (ayat 19)!
    _____________________😀
    Sampean lihat sendiri SUAMI AHAS (baca: “ABI”) berganti nama menjadi “AHASyweros” selanjutnya hobi esex-esex ala YAHUDI berlanjut secara kontinue sampai sekarang, terbukti di AMERIKA dan EROPAH banyak GADIS BELIA (11 thn) menggugurkan kandungan

    Nahh… Nabi Muhammad s.a.w, mencontohken (artikel diatas) bahwa usia wanita mengalami mestruasi MINIMAL 9-11 TAHUN, tapi walaupun demikian sang PRIA selaku calon suaminyah (baca: sudah bertunangan) tidak melakukan hubungan sex, hingga sang mempelas cukup usia.

    *** PAHAM atau HAMPA SAMPEAN, HAI AHLUL KITAB ?! ***

    (Kebiasaan sex fedopile adalah kebiasan BANGSAT YAHUDI DAN KRISTEN… hehehe )

    Wassalam, Haniifa..

    • cekixkix said

      @Om Getdesk
      Elo baca ajah sendiri, mau seabrek buku juga kalau isinya cuma dongeng percuma om… Cekixkix..kix..kix.

    • Eagle said

      @Saudara Getdesk
      Bwahahahaaaaaa… saudara lucu sekali😀😆
      Apa semua umat islam harus menarik buku-buku agama lain ?! TENTU TIDAK.
      Lalu apa kaitannya litelatur saudara dengan kami ?!
      Kami tentu saja memilih dan memilah bacaan sesuai dengan kebutuhan sendiri.
      Misal saya punya 1 set buku serjarah yang baik dari DR. Haekal, kalaupun ada yang bertentangan dengan pandangan beliau tentu tidak harus ditarik dari peredaran toch !!!

  24. cekixkix said

    @Buat Om Getdesk
    Elo baca pendekar super sakti karangan kho ping hoo… batman, gundala, hc andersen, dan si UNYIL… Cekixkix..kix..

  25. getdesk said

    satu lagi dari website salafy pun menulis..

    “‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun.”

    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=889

  26. […] Rasia dibalik perkawinan ‘Aisyah […]

  27. free sex videos|free sex movies|freesex…

    […]Rahasia dibalik perkawinan ‘Aisyah « حَنِيفًا[…]…

  28. Prediksi Angka Jitu Hari Ini…

    […]Rahasia dibalik perkawinan ‘Aisyah « ????????????????[…]…

  29. Umur Aisyah ra. Saat Menikah, Berdasarkan Temuan Kaum Sejarawan dan Dalil Hadits yang Shahih…

    ==================================================

    Ketika kita berbicara mengenai Sejarah Islam, selain di dasarkan kepada temuan-temuan ahli sejarah, sudah seharusnya kita memperkuat dengan dalil-dalil nash, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

    Demikian halnya, berkenaan dengan temuan sejarawan, terhadap Perhitungan Usia Aisyah ra., harus kita uji dengan dalil-dalil Hadits yang shahih.

    >>> Temuan Sejarawan :

    Beda usia Aisyah ra. dengan kakaknya Asma ra., sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A’lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma ra. meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir dan Ibnu Hajar).

    Dengan mengacu kepada data di atas, diperoleh kesimpulan bahwa Asma ra. lahir pada tahun 27 Sebelum Hijriah dan Aisyah ra. lahir pada tahun 17 Sebelum Hijriah.

    >>> Pengujian 1 :

    Siti Aisyah ra. berkata :

    “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr)…

    Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.

    Berdasarkan catatan sejarah, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), jika mengacu kepada pendapat Para Sejarawan di atas, berarti usia Aisyah ra. saat itu adalah sekitar 9 tahun (lulus Ujian 1).

    Sementara itu, menurut Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah. Jika pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan usia Aisyah ra. pada saat itu sekitar 12 tahun (lulus Ujian 1).

    >>> Pengujian 2 :

    Ketika terjadi perang Uhud (tahun 3H), Aisyah ra. diperbolehkan ikut serta oleh Rasulullah…

    Di dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahawa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tersebut.”

    Berdasarkan Hadis Shahih Bukhari yang lain, seseorang baru diperkenankan ikut berperang setelah berusia 15 tahun

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengizinkan dirinya menyertai dalam perang Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengizinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tersebut.”

    Berdasarkan riwayat Bukhari diatas, kanak-kanak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang.

    Dengan mengacu kepada data Para Sejarawan di atas, diperoleh data usia Aisyah ra. ketika itu adalah sekitar 20 tahun (lulus Ujian 2)

    >>> Pengujian 3 :

    Ketika Ayahnya (Abu Bakar ra.), masuk Islam Aisyah ra. sudah lahir tetapi belum baligh (di usia sekitar 8 tahun ke bawah).

    Sebagaimana Hadits Bukhari, Volume 3, Bab tentang Al Hawaala, No. 494.

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam”. Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang…

    Dan jika mengacu pada pendapat Para Sejarawan di atas, di dapat data ketika Abu Bakar ra. masuk Islam (sekitar tahun 10 Sebelum Hijrah), usia Aisyah ra adalah sekitar 7 tahun (lulus Ujian 3).

    Riwayat Hadits selengkapnya, bisa dilihat di sini.
    http://kanzunqalam.wordpress.com/2010/06/15/siti-aisyah-ra-menikah-di-usia-19-tahun/

    >>>>> Kesimpulan :

    Dari ketiga Pengujian di atas, diperoleh kesimpulan, pendapat para sejarawan, ternyata tidak bertentangan dengan Dalil-Dalil Nash yang Shahih dari riwayat Imam Bukhari. Dengan demikian, temuan tersebut sangat layak untuk digunakan sebagai sumber sejarah Islam.

    Dan melalui data tersebut, bisa kita peroleh informasi, ketika Aisyah ra. dinikahi Rasulullah pada tahun 2H, yaitu selepas perang Badar, usia Aisyah ra. adalah sekitar 19 tahun, dan bukan 9 tahun sebagaimana kisah yang beredar di tengah-tengah masyakarat.

    WaLlahu a’lamu bishshawab

    Sumber :
    http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/06/umur-aisyah-ra-saat-menikah-berdasarkan-temuan-kaum-sejarawan-dan-dalil-hadits-yang-shahih/

  30. BUKTI #10: Aisyah ra., telah lahir ketika Abu Bakar ra. masuk Islam

    Mari kita pahami hadits berikut :

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ لَمْ أَعْقِلْ أَبَوَيَّ قَطُّ إِلَّا وَهُمَا يَدِينَانِ الدِّينَ وَقَالَ أَبُو صَالِحٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ أَعْقِلْ أَبَوَيَّ قَطُّ إِلَّا وَهُمَا يَدِينَانِ الدِّينَ وَلَمْ يَمُرَّ عَلَيْنَا يَوْمٌ إِلَّا يَأْتِينَا فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَفَيْ النَّهَارِ بُكْرَةً وَعَشِيَّةً فَلَمَّا ابْتُلِيَ الْمُسْلِمُونَ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ مُهَاجِرًا قِبَلَ الْحَبَشَةِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَرْكَ الْغِمَادِ لَقِيَهُ ابْنُ الدَّغِنَةِ وَهُوَ سَيِّدُ الْقَارَةِ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ يَا أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَخْرَجَنِي قَوْمِي فَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَسِيحَ فِي الْأَرْضِ فَأَعْبُدَ رَبِّي قَالَ ابْنُ الدَّغِنَةِ إِنَّ مِثْلَكَ لَا يَخْرُجُ وَلَا يُخْرَجُ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ وَأَنَا لَكَ جَارٌ فَارْجِعْ فَاعْبُدْ رَبَّكَ بِبِلَادِكَ فَارْتَحَلَ ابْنُ الدَّغِنَةِ فَرَجَعَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فَطَافَ فِي أَشْرَافِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ لَا يَخْرُجُ مِثْلُهُ وَلَا يُخْرَجُ أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَأَنْفَذَتْ قُرَيْشٌ جِوَارَ ابْنِ الدَّغِنَةِ وَآمَنُوا أَبَا بَكْرٍ وَقَالُوا لِابْنِ الدَّغِنَةِ مُرْ أَبَا بَكْرٍ فَلْيَعْبُدْ رَبَّهُ فِي دَارِهِ فَلْيُصَلِّ وَلْيَقْرَأْ مَا شَاءَ وَلَا يُؤْذِينَا بِذَلِكَ وَلَا يَسْتَعْلِنْ بِهِ فَإِنَّا قَدْ خَشِينَا أَنْ يَفْتِنَ أَبْنَاءَنَا وَنِسَاءَنَا قَالَ ذَلِكَ ابْنُ الدَّغِنَةِ لِأَبِي بَكْرٍ فَطَفِقَ أَبُو بَكْرٍ يَعْبُدُ رَبَّهُ فِي دَارِهِ وَلَا يَسْتَعْلِنُ بِالصَّلَاةِ وَلَا الْقِرَاءَةِ فِي غَيْرِ دَارِهِ ثُمَّ بَدَا لِأَبِي بَكْرٍ فَابْتَنَى مَسْجِدًا بِفِنَاءِ دَارِهِ وَبَرَزَ فَكَانَ يُصَلِّي فِيهِ وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَتَقَصَّفُ عَلَيْهِ نِسَاءُ الْمُشْرِكِينَ وَأَبْنَاؤُهُمْ يَعْجَبُونَ وَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً لَا يَمْلِكُ دَمْعَهُ حِينَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَأَفْزَعَ ذَلِكَ أَشْرَافَ قُرَيْشٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَرْسَلُوا إِلَى ابْنِ الدَّغِنَةِ فَقَدِمَ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا لَهُ إِنَّا كُنَّا أَجَرْنَا أَبَا بَكْرٍ عَلَى أَنْ يَعْبُدَ رَبَّهُ فِي دَارِهِ وَإِنَّهُ جَاوَزَ ذَلِكَ فَابْتَنَى مَسْجِدًا بِفِنَاءِ دَارِهِ وَأَعْلَنَ الصَّلَاةَ وَالْقِرَاءَةَ وَقَدْ خَشِينَا أَنْ يَفْتِنَ أَبْنَاءَنَا وَنِسَاءَنَا فَأْتِهِ فَإِنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى أَنْ يَعْبُدَ رَبَّهُ فِي دَارِهِ فَعَلَ وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يُعْلِنَ ذَلِكَ فَسَلْهُ أَنْ يَرُدَّ إِلَيْكَ ذِمَّتَكَ فَإِنَّا كَرِهْنَا أَنْ نُخْفِرَكَ وَلَسْنَا مُقِرِّينَ لِأَبِي بَكْرٍ الِاسْتِعْلَانَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَأَتَى ابْنُ الدَّغِنَةِ أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ قَدْ عَلِمْتَ الَّذِي عَقَدْتُ لَكَ عَلَيْهِ فَإِمَّا أَنْ تَقْتَصِرَ عَلَى ذَلِكَ وَإِمَّا أَنْ تَرُدَّ إِلَيَّ ذِمَّتِي فَإِنِّي لَا أُحِبُّ أَنْ تَسْمَعَ الْعَرَبُ أَنِّي أُخْفِرْتُ فِي رَجُلٍ عَقَدْتُ لَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنِّي أَرُدُّ إِلَيْكَ جِوَارَكَ وَأَرْضَى بِجِوَارِ اللَّهِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ بِمَكَّةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ رَأَيْتُ سَبْخَةً ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ وَهُمَا الْحَرَّتَانِ فَهَاجَرَ مَنْ هَاجَرَ قِبَلَ الْمَدِينَةِ حِينَ ذَكَرَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَعَ إِلَى الْمَدِينَةِ بَعْضُ مَنْ كَانَ هَاجَرَ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ وَتَجَهَّزَ أَبُو بَكْرٍ مُهَاجِرًا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكَ فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي قَالَ أَبُو بَكْرٍ هَلْ تَرْجُو ذَلِكَ بِأَبِي أَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَحَبَسَ أَبُو بَكْرٍ نَفْسَهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَصْحَبَهُ وَعَلَفَ رَاحِلَتَيْنِ كَانَتَا عِنْدَهُ وَرَقَ السَّمُرِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam”. Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa **‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam** dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; “Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?” Maka Abu Bakar menjawab: “Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku”. Ibnu Ad-Daghinah berkata: “Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Maka aku akan menjadi pelindung anda untuk itu kembalilah dan sembahlah Tuhanmudi negeri kelahiranmu. Maka Ibnu Ad-Daghinah bersiap-siap dan kembali bersama Abu Bakar lalu berjalan di hadapan Kafir Quraisy seraya berkata, kepada mereka: “Sesungguhnya orang sepeti Abu Bakar tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir. Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” Akhirnya orang-orang Quraisy menerima perlindungan Ibnu Ad-Daghinah dan mereka memberikan keamanan kepada Abu Bakar lalu berkata, kepada Ibnu Ad-Daghinah: “Perintahkanlah Abu Bakar agar beribadah menyembah Tuhannya di rumahnya saja dan shalat serta membaca Al Qur’an sesukanya dan dia jangan mengganggu kami dengan kegiatannya itu dan jangan mengeraskannya karena kami telah khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap anak-anak dan isteri-isteri kami”. Maka Ibnu Ad-Daghinah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mulai beribadah di rumahnya dan tidak mengeraskan shalat bacaan Al Qur’an diluar rumahnya. Kemudian AbuBakar membangun tempat shalat di halaman rumahnya sedikit melebar keluar dimana dia shalat disana dan membaca Al Qur’an. Lalu istrei-isteri dan anak-anak Kaum Musyrikin berkumpul disana dengan penuh keheranan dan menanti selesainya Abu Bakar beribadah. Dan sebagaimana diketahui Abu Bakar adalah seorang yang suka menangis yang tidak sanggup menahan air matanya ketika membaca Al Qur’an. Maka kemudian kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad-Daghinah ke hadapan mereka dan berkata, kepadanya: “Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakr agar dia mberibadah di rumahnya namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi isteri-isteri dan anak-anak kami dan ternyata benar-benar terjadi. Jika dia suka untuk tetap beribadah di rumahnya silakan namun jika dia menolak dan tetap menampakkan ibadahnya itu mintalah kepadanya agar dia mengembalikan perlindungan anda karena kami tidak suka bila kamu melanggar perjanjian dan kami tidak setuju bersepakat dengan Abu Bakar”. Berkata, ‘Aisyah radliallahu ‘anha: Maka Ibnu Ad-Daghinah menemui Abu Bakar dan berkata: “Kamu telah mengetahui perjanjian yang kamu buat, maka apakah kamu tetap memeliharanya atau mengembalikan perlindunganku kepadaku karena aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar perjanjian hanya karena seseorang yang telah aku berjanji kepadanya”. Maka Abu Bakar berkata: “Aku kembalikan jaminanmu kepadamu dan aku ridho hanya dengan perlindungan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejadian ini adalah di Makkah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah ditampakkan negeri tempat hijrah kalian dan aku melihat negeri yang subur ditumbuhi dengan pepohonan kurma diantara dua bukit yang kokoh. Maka berhijrahlah orang yang berhijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkanhal itu. Dan kembali pula berdatangan ke Madinah sebagian dari mereka yang pernah hijrah ke Habasyah sementara Abu Bakar telah bersiap-siap pula untuk berhijrah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Janganlah kamu tergesa-gesa karena aku berharap aku akan diizinkan (untuk berhijrah) “. Abu Bakar berkata: “Sungguh demi bapakku tanggungannya, apakah benar Tuan mengharapkan itu?” Beliau bersabda: “Ya benar”. Maka Abu Bakar berharap dalam dirinya bahwa dia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berhijrah. Maka dia memberi makan dua hewan tunggangan yang dimilikinya dengan dedaunan Samur selama empat bulan.

    Sumber : Hadits Bukhari No.2134
    http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/cari_hadist.php?imam=bukhari&keyNo=2134&x=19&y=13

    Perhatikan tulisan yang ditandai dengan **), pada hadits di atas

    ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam…

    Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir.

    Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah). Dan jika pada saat itu Aisyah ra. telah berusia 7 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Aisyah ra. telah berusia sekitar 19 tahun.

    Hadits Bukhari diatas sekaligus membantah, riwayat-riwayat yang menceritakan Aisyah ra. menikah dengan Rasulullah di usia dini, yaitu ketika berumur 9 tahun.

  31. inhomoto@gmail.com said

    Menikahi Aisyah adalah perintah Allah,sm halnya ketika beliau menikahi hindun,krn hal ini tercantum dlm wahyu,bkn mslh sex,senang atau tdk sng,tp ini bentuk sami’na waata’na.jd gak perlu repot2 mencari2 data ttg umur brp Aisyah ktka dinikahi Rasulullah..klwpun byk tudingan dr non islam itu bkn krn pernikahan itu tp krn mrk sengaja ingin menjatuhkan mental umat islam.kmdian buat Haniifa:sikap Anda yang suka menyebut nama org sesuka hati anda itu sangat tdk terpuji dan tdk Qurani,sebaiknya anda bc kmbli QS 49:11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: