حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Adakah infiltrasi metoda Hermeutika sudah meraksuk ?!

Posted by حَنِيفًا on April 10, 2008

Assalamu’alaikum,

Jika metodologi pemahaman al-Quran sudah dirusak oleh para ulama, cendekiawan, dan tokoh Islam, yang semestinya menjaga umat, maka keadaan ini bukanlah hal yang biasa-biasa saja (Haniifa: disadari atau tidak disadari).
Pekerjaaan merusak pemikiran Islam semacam ini dulu hanya diakukan oleh para misionaris Kristen dan Orientalis. Karena itu, tentunya kaum Muslimin sangat perlu mencermati dan melakukan tindakan pencegahan dan penyembuhan terhadap serbuan penyakit yang sudah begitu jauh mencengkeram dan merusak tubuh umat Islam. Wallahu a’lam. (KL, 31 Maret 2004). (Hidayatullah)

Seorang rekan menyampaikan suatu pendapat :
Setahu yang pernah saya baca di Alquran,
Arasy dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat. Jadi tidak terapung di atas air. Kalau memang ada yang memahami di atas air, bisa jadi antara Arasy dan air ada ruang yang ditempati para malaikat, walaupun bisa saja posisi para malaikat berada di dalam air. Mungkin saja ada planet yang seluruhnya terdiri dari air, seperti komet yang terdiri dari air beku.

Sehingga dapat disimpulkan “Allah berada di Arasj yang berada di atas air.”

Menarik pertanyaan rekan tersebut, karena saya melihat persepsi “wujud” Allah yang berada/melayang-layang di atas air dan ini kesalahan besar karena kontradiksi dengan Surah Al Ikhlas.
Lalu apa yang dimaksud adalah terjemaahan dari surah Huud ayat 7:
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah “Arasy-Nya di ATAS AIR”, …”. (QS 11:7)

Coba kita bandingkan:
A: Terjemahaan (QS 11:7)
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya “di ATAS AIR”, …”. (QS 11:7)

Genesis 1:2
The earth was formless and void, and darkness was over the surface of the deep, and the Spirit of God was moving over the surface of the waters.
http://scripturetext.com/genesis/1-2.htm

B: Terjemahaan Injil:
Kitab Kejadian 1:2
Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Jelas ada kesamaan makna terjemahaan antara (Al Qur’an 11:7) dengan Injil (Kejadian 1:2)
A: diatas “air” = B: di atas “Permukaan air”
Makanya saya tidak mempunyai alasan yang kuat, menurut pemahaman saya :
Al Qur’an Surah Huud ayat 7 :
” …Wa kaana ‘arsyuh..” = “…dan diatas Arasy-Nya…”
Referensi:
(QS 7:54), (QS 10:3), (QS 13:2), (QS 25:59)

Lalu kenapa bisa demikian !?

Laporan Gatra mengulas terbitnya satu majalah pemikiran dan peradaban Islam, ISLAMIA, awal Maret 2004, yang nomor perdananya mengulas secara mendalam masalah hermeneutika

Istilah dan sejarah

Secara etimologi, istilah “hermeneutics” berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan. Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata “Hermes”, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.

Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang Bentuk Penafsiran yang Terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang Penafsiran Kitab Suci). Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’, sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’.

Adalah Schleiermacher, seorang teolog asal Jerman, yang konon pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik penafsiran kitab suci (Biblical Hermeneutics) menjadi ‘hermeneutika umum’ (General Hermeneutics) yang mengkaji kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya pemahaman atau penafsiran yang betul terhadap suatu teks. Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha Semler dan Ernesti untuk “membebaskan tafsir dari dogma”, ia bahkan melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum, “semua teks diperlakukan sama,” tidak ada yang perlu di-istimewakan, apakah itu kitab suci (Bible) ataupun teks karya manusia biasa. Kemudian datang Dilthey yang menekankan ‘historisitas teks’ dan pentingnya ‘kesadaran sejarah’ (Geschichtliches Bewusstsein). Seorang pembaca teks, menurut Dilthey, harus bersikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya, meskipun pada saat yang sama dituntut untuk berusaha melompati ‘jarak sejarah’ antara masa-lalu teks dan dirinya. Pemahaman kita akan suatu teks ditentukan oleh kemampuan kita ‘mengalami kembali’ (Nacherleben) dan menghayati isi teks tersebut.

Di awal abad ke-20, hermeneutika menjadi sangat filosofis. Interpretasi merupakan interaksi keberadaan kita dengan wahana sang Wujud (Sein) yang memanifestasikan dirinya melalui bahasa, ungkap Heidegger. Yang tak terelakkan dalam interaksi tersebut adalah terjadinya ‘hermeneutic circle’, semacam lingkaran setan atau proses tak berujung-pangkal antara teks, praduga-praduga, interpretasi, dan peninjauan kembali (revisi). Demikian pula rumusan Gadamer, yang membayangkan interaksi pembaca dengan teks sebagai sebuah dialog atau dialektika soal-jawab, dimana cakrawala kedua-belah pihak melebur jadi satu (Horizontverschmelzung), hingga terjadi kesepakatan dan kesepahaman. Interaksi tersebut tidak boleh berhenti, tegas Gadamer. Setiap jawaban adalah relatif dan tentatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan ditolak. Habermas pergi lebih jauh. Baginya, hermeneutika bertujuan membongkar motif-motif tersembunyi (hidden interests) yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan pelbagai manipulasi, dominasi, dan propaganda dibalik bahasa sebuah teks, segala yang mungkin telah mendistorsi pesan atau makna secara sistematis.

Apakah betul telah mendistorsi pesan atau makna secara sistematis ?!

Tadinya saya juga tidak merasa curiga, tapi kok merasa aneh gitu !!!, Seolah-olah ada kesalahan yang begitu sistematis di ulang-ulang pada terjemahan, ini saya beri contoh yang lain :

Terjemahan A:
Al Qur’an dan Terjemahan hadiah dari : Khadim al Haramain asy Syarifain.
‘ABASA (IA BERMUKA MASAM)
SURAT KE 80: 40 ayat. seharusnya surat ke 80 : 42 ayat, halaman 1024)

Terjemahan B:
Al Quran dan Terjemahnya: Depag er i, 2 Januari 1989
Penerbit : “Mahkota” Surabaya
‘ABASA (IA BERMUKA MASAM)
SURAT KE 80: 40 ayat. seharusnya surat ke 80 : 42 ayat, halaman 1024)

Coba simak kesamaan A dan B:
1. Nama Surat yang jumlahnya tidak sesuai sama = ‘Abasa
2. Kesalahan cetak sama “SURAT KE-80: 40 ayat, seharusnya 42 ayat
3. Penulisan nomor halaman surat Abasa sama = halaman ke-1024
4. Tahun penerbitan berbeda.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita merenungi pesan berikut :
Demikian juga Abasa yang diartikan bermuka masam berbeda dengan memalingkan muka. Perbedaan ini memiliki cita rasa berbeda. Hal ini yang semestinya diperhatikan dan dilihat kembali oleh para penerjemah Al Qur’an.
Karena itu, karena saya sama sekali tidak bisa berbahasa Arab maka membaca berbagai penerjemahan dan tafsir menjadi salah satu alat ukur perbandingan. Namun, jika ragu … saya memilih untuk “abstain” atau sampaikan saja keraguan itu (keraguan untuk memahami). Juga, berdasarkan asal-usul kata dan etimologi atau asal usul kejadian sangat membantu untuk beberapa bagian persoalan. Tapi tidak semuanya…. Wassalam, agor.

Wassalam, Haniifa.

Bersambung :
1. Duhh.. mas AA. Game, tuntunan dianggap tontonan ibu-ibu pokja
2. Repotnya… jadi Cepot (Check & Reheck) !!
3. Eh… Copot-Copot… Cepot Rambo… ke Cepet ?!
4. Parthenogens  := @mas Partho suka lagu grup band “Genesiss”… euy !!😀

10 Responses to “Adakah infiltrasi metoda Hermeutika sudah meraksuk ?!”

  1. Donny Reza said

    wakaana ‘arsyuhu ‘alaa almaa-i

    almaa-i = air (?)
    mungkin itu yang lebih tepat?
    Kemiripan dengan injil kan mungkin terjadi, karena Al-Quran sendiri ada untuk menyempurnakan kitab2 sebelumnya.

    hanya, bagaimanapun hermeneutic memang sulit diterapkan untuk Al-Quran karena bagi umat Islam sendiri sedikit yang meragukan keaslian teksnya dan asalnya. Selain itu, penerapan hermeneutics malah akan semakin membuka peluang praduga-praduga dari penafsirnya. Ini kan ngeri.

    ____________________________________

    @mas Donny Reza
    ‘alaa = rinci, terperinci (?)
    Kasusnya mirip “bi” = hakekat (?) pada “bilhaqqi

    Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat (sapi betina) yang sebenarnya“. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.(QS 2:71)

    Penjelasan diatas jelas jika kita membaca ayat sebelumnya (QS 67 – 70). Untuk itulah kita bersyukur pada ulama-ulama doeloe mengenai pembacaan AQ harus satu ‘ain.

    Kemiripan dengan injil kan mungkin terjadi… Memang mungkin hanya saja “injil” yang aslinya susah ditemukan.

    .Selain itu, penerapan hermeneutics malah akan semakin membuka peluang praduga-praduga dari penafsirnya. Ini kan ngeri.… Justru itulah mas Donny seperti tulisan yang saya cetak tebal “Jika metodologi pemahaman al-Quran”, sungguh sangat memprihatikan apalagi mereka mempunyai jumlah masa yang banyak.

    Wassalam, Haniifa.

  2. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum
    Al-Quraan adalah edisi tunggal. Allah tidak pernah mencetak ulang Alquraan lagi selain yang telah secara sempurna diturunkan kepada Rasulullah. Pengumpulan tulisan Alquraan juga diawasi secara ketat dan oleh orang-orang yang memang terkenal kejujuran dan kefasihan mereka tentang Alquraan, baik dari segi hafalan maupun penulisannya. Umat Islam secara suara bulat menerima kesahihan AQ, dari dulu sampai sekarang, kecuali orang-orang (Islam) yang sudah terpengaruh pemikirannya oleh para orientalis.
    Hermeutika dipergunakan oleh para cendekiawan Kristen untuk menyaring dan meneliti kitab suci mereka sendiri. Karena, menurut mereka Injil telah bercampur baur dengan hasil karya manusia, bukan sepenuhnya firman/wahyu Allah. Malah sudah dibuktikan bahwa, Bible (Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru) ditulis/disusun jauh setelah Nabi yang menerima wahyunya wafat.
    Dan juga terbukti bahwa, empat Injil yang terutama pada Perjanjian Baru, tidak jelas siapa pengarang sebenarnya. Bahkan banyak isi Injil (PB) yang merupakan tulisan Paulus atau Saul, seperti Surat untuk orang Galatia, Kisah-kisah Rasul, Korintus, dll. Ada pula yang mengatakan bahwa Lukas adalah tabibnya Paulus. Sementara Matiun, Markus dan Yohannes tidak diketahui siapa mereka dan bagaimana riwayat hidupnya.
    Begitu juga dengan Perjanjian Lama.
    Jadi inilah yang menyebabkan sarjana Kristen menggunakan Hermeutika sebagai metodelogi untuk penelitian keabsahan Injil dan Taurat.
    Sementara AQ, dari mulai penerimaan ayat pertama yang diturunkan Allah sampai ayat terakhir, jelas riwayatnya dan pencatatannya juga langsung dilakukan seketika saat wahyu diterima.
    Pengkodifikasian AQ (bukan pengarangan/penulisan )dilakukan tidak lama setelah Rasul wafat. Masih pada zaman hidupnya para sahabat utama dan penulis wahyu masih hidup, apalagi banyak penghapal AQ yang masih hidup dan dapat dijadikan rujukan dan sarana uji kebenaran . Jadi masih bisa diawasi dan dijaga keotentikannya.
    Adakah infiltrasi metoda hermeutika sudak merasuk?. Akan dan mulai!.
    Mulai mau diterapkan oleh orang-orang Islam yang terinfiltrasi oleh pemikiran orientalis. Terutama golongan yang menamakan dirinya Islam Liberal, yang di Indonesia dimotori oleh mendiang Nurcholis Madjid dan JIL dibawah komando Ulil Absar Abdalla.
    Wassalam,

    @mas Abudaniel
    Wa’alaikum Salam, mas.
    Penjelasan dari mas Abudaniel ini, mudah-mudahan memberikan pencerahan kepada mereka-mereka yang condong atau terbawa arus “pokoke rame” dan “bebas sakarepe dewe”…😀
  3. WEDUL SHERINIAN said

    Adakah terjemahan Al-Quran yang paling tepat???.

    Untuk menterjemahkan, menurutku tidak hanya bisa bahasa Arab, tetapi juga harus mempelajari Sejarah. Dan juga perbandingan literatur, dan lain-lain..wis pokoke Mumet….hehehe

    ____________

    @Mas Wedul Sherinian
    Mumet yo… istirohat wae😀
    Dah… kita ngobrol suara merdunya @Mas Chris Rea… Rock n Blues, misale :
    1. Driving Home for Christmas.
    2. Fool If You Think It’s Over.
    3. Texas.

    Salam hangat, Haniifa.

  4. […] Sejauh itukah musuh dalam selimut, menggigit kawan […]

  5. […] Azza Wa Jalla” adalah hasil dari metodologi TRINITAS dan secara sengaja atau tidak sengaja infiltrasi dari pengaruh metodologi YAHUDI dalam pemahaman al-Quran sudah ikut merusak  pola pikir para ulama, cendekiawan, dan tokoh Islam, […]

  6. qarrobin said

    al maa’
    ada bahannya tapi belum saya pelajari

    salut dah ama kang @Haniifa, banyak kali ilmunya

    Hatur tengkiu,qarrobin

  7. abifasya said

    Elmunya mantap euy …
    Teu ka udag sobat….
    Jadi beuki resep macaan blog kang haniip euy.
    Hebat
    Hebat
    hebat
    Lamun ta’jub ucapkan ….:
    Subhanallah

  8. […] Adakah infiltrasi metoda Hermeutika sudah meraksuk ?! […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: