حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Definisi Khataman.

Posted by حَنِيفًا on January 15, 2008

Assalamu’alaikum,

Khataman Nabiyyin dipahami sebagai cincin permata segala Nabi, sedang khatim sebagai penutup. Meskipun etimologi bahasa dibaca khataman, namu dipahaminya tetap khatim.

“Perbedaan dari kata khataman Nabiyyin lalu “bersaing” dengan khatamman Rasulan.”

Jika definisi;
Seorang “Rasul” pasti nabi dan seorang “Nabi” belum tentu rasul.

Pada command  SQL Khatamma = Cincin (Ibrahim bin Muhammad s.a.w bin Ab’dullah bin ….Ibrahim a.s)
Khatamma = (Root) Ibrahim (putra Muhammad s.a.w) ketemu Ibrahim a.s (Bapak para Nabi/Rasul).

—————-
Jika,
Khatamman Nabiyin = tidak ada lagi seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w
Maka
Pasti tidak ada lagi Rasul (sebab sorang rasul sudah pasti seorang nabi).

—————–
Jika,
Khataman Rasulan = tidak ada lagi seorang Rasul setelah Rasullullah (Nabi Muhammad s.a.w)
maka
Pasti tidak ada lagi Nabi (sebab nabi-nabi diturunkan untuk menunggu kedatangan seorang Rasul).

Wassalam.

5 Responses to “Definisi Khataman.”

  1. Fietria said

    Pertamax dah. Komennya ntar saja.

  2. qarrobin said

    Keduax dah. Komennya ntar aja
    _______________________

    @Saudaraku Qarrobin Djuti
    😀

    #Haniifa.

  3. […] Definisi Khataman. […]

  4. elfan said

    BEDA NABI DENGAN RASUL

    Dalam Al Quran ada beberapa jabatan yang mulia diberikan Tuhan, Allah SWT kepada makhluk-Nya, seperti antara lain khalifah, rasul, imam dan nabi serta wali. Dari beberapa jabatan atau istilah kedudukan ini, umumnya yang banyak disebut adalah nabi dan rasul. Oleh karena itu, wajarlah jika kita bertanya, apa beda rasul dan nabi ini?. Dalam Kamus Istilah Fiqih karangan M. Abdul Mujieb dkk., pengertian menurut istilah, nabi ialah orang yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain. Rasul ialah orang yang menerima wahyu Allah SWT dan berkewajiban menyampaikannya kepada umatnya/umat manusia (hal. 238).

    Jika pengertian ini kita pakai, maka bagi seorang ‘nabi’ karena tidaklah dibebani dengan kewajiban menyampaikan wahyu, menimbulkan kesan ‘seolah-olah’ hanya beliau sang nabinya saja yang akan masuk sorga, sementara umatnya tidak perlu. Lalu, apa beda nabi dengan rasul yang kiranya tepat dengan pengertian dan makna di dalam Al Quran itu sendiri.

    Kalau kita lihat dari tugas pokok dan fungsi kenabian dan kerasulan, saya kira tidak ada bedanya karena missi yang diembannya mereka adalah sama, semua tokoh ini adalah ‘menyampaikan’ wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia. Untuk ini, kita lihat dari konteks para penyandang jabatan itu sendiri dalam rangka melaksanakan tugasnya.

    Kalau kita teliti dan kaji di dalam Al Quran maka tokoh rasul nampaknya tidak hanya dianugerahkan kepada ‘manusia pilihan’-Nya semata, tetapi juga kepada makhluk-Nya selain manusia, yang utama malaikat dan ada juga jin, bahkan bisa juga makhluk-Nya yang lain seperti hewan. Rasul yang disandang oleh malaikat seperti termuat dalam QS. 22:75; 11:81 dan QS. 6:130).

    Sementara tokoh nabi, tidak ada yang diberikan kepada malaikat dan jin, hanya kepada ‘manusia’ saja. Lalu, terbukti dalam QS. 33:40 dengan tegas kenabian yang hanya berasal dari manusia ini tertutup bagi manusia lain setelah Nabi Muhammad SAW. Otomatis pula untuk jabatan kerasulan bagi ‘anak’ manusia juga tertutup karena umumnya manusia yang diangkat Allah SWT menjadi rasul yang berasal dari manusia adalah manusia yang sudah berkedudukan sebagai nabi. Sebaliknya, jabatan kerasulan untuk yang bukan dari manusia dan khususnya dari malaikat tidak tertutup, kan malaikat sampai akhir zaman tetap saja melaksanakan missi-Nya seperti diutus untuk mencabut nyawa ‘anak manusia’, memberi rezeki dll.

    Jika demikian, ya kalau ada ‘manusia’ ingin mengaku menjadi ‘rasul’, maka dia harus terlebih dahulu menjadi malaikat atau jin. Selanjutnya, tidak juga tepat jika kita katakan bahwa Muhammad SAW adalah rasul dan nabi terakhir, hal ini tidak sesuai dengan QS. 33:40 ini.

    Sementara tentang wali, ya siapa makhluk-Nya yang menyandang kewalian. Dalam Al Quran tidak disebut siapa-siapa tokoh dalam lingkup ‘kewalian’ apakah bisa manusia atau makhluk-Nya yang lain. Tapi, yang pasti kewenangan penganugerahan kewalian itu adalah haknya Tuhan kita, Allah SWT jadi bukan kita manusia yang amat zolim ini yang berhak menentukan seseorang itu sebagai wali Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: