حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Arti “UMMI” bukanlah buta huruf melainkan “Buta Agama” !!

Posted by حَنِيفًا on January 6, 2008

Assalamu’alaikum,

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas “KERTAS”, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’ “. (QS 6:7)

Kata “QIRTHOSIN” diterjemaahkan sebagai “KERTAS”, menurut pemahaman saya sebaik diterjamaahkan sebagai suatu bentuk “tulisan yang nyata”, baik melalui media Kertas, Tulang, Batu dsb…sdb.

Dalam surat Al An’aam ayat 7 tersebut diatas jelas seluruh “Wahyu” Allah tidak disampaikan dalam bentuk tulisan, melainkan dengan cara diluar “tulisan”, misalnya  melalui ucapan Malaikat jibril, Langsung masuk ke hati Rasul, lewat frekwensi lonceng ….dsb.
Jadi pada wahyu pertama:
Malaikat Jibril berkata: “Bacalah”.

Jika jawaban Muhammad: “Aku tidak pandai membaca”. ini krontradiktif dengan ayat (QS 6:7), sebab Nabi Muhammad s.a.w seolah-olah melihat object tulisan yang dibawa oleh Malaikat Jibril.

Nabi Muhammad s.a.w ketakutan ??

Bagaimana mungkin orang yang “Al Amin” dan selalu mengharapkan petunjuk dari Allah, menjadi ketakutan manakala petunjuk itu datang.
so…
Malaikat Jibril berkata “Bacalah”
Muhammad menjawab : “Apa yang musti saya baca”, dalam keheranannya karena ada orang (Jibril menyerupai orang) menyuruh membaca sementara bentuk tulisan yang hendak di baca tidak ada.
Kata Muhammad: “Aku ditarik dan dipelukkan pula sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan dan disuruhnya pula membaca, ‘Bacalah!’.
“Kujawab: ‘Aku tida tahu apa yang musti dimembaca.’
Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskannya seraya berkata:
Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq
Khalaqal insana ‘alaq
Iqra’! Warabbukal akram”.

Setelah 3x barulah Nabi Muhammad s.a.w mengerti bahwa yang dimaksud adalah “HAPALKAN” ini ayat pertama dari Allah kepada seorang hambanya yang telah dipersiapkan untuk menjadi Nabi dan Rasullullah terakhir.

Disurat yang lain “Allah Subhanahu wa ta’ala” berfirman :

” Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. “ (QS 3:20)

Orang-orang yang telah diberi Alkitab : “Apakah kamu (mau) masuk Islam ?

Orang-orang yang Ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam ?

Tampak jelas keduanya ditawari masuk Islam seolah-olah sejajar, padahal pada orang di diberi Alkitab ada orang-orang yang buta huruf, demikian sebaliknya orang-orang “Ummi” ada juga orang-orang yang pandai membaca dan menulis, Oleh karena itu “Ummi” bukanlah buta huruf melainkan “Buta Agama Islam“.

Contoh konkrit lain:

1. Zabur: Tidak ditulis tangan oleh Nabi Daud a.s

2. Taurat: Tidak ditulis tangan oleh Nabi Musa a.s

3. Injil: Tidak ditulis tangan oleh Nabi Isa a.s

4. Al Qur’an: Tidak ditulis tangan oleh Nabi Muhammad s.a.w

Bukankah terbukti bahwa: “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas “Qirthosin”, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’ “. (QS 6:7)

Wassalam.

65 Responses to “Arti “UMMI” bukanlah buta huruf melainkan “Buta Agama” !!”

  1. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Dalam terjemahan Ayat tersebut dipergunakan kata “kalau”. Kalau diturunkan berupa Qirthashin ( diadapatasi oleh bahsa Indonesia menjadi “Kertas” ). Tapi kenyataannya, tidak satupun Ayat-ayat AQ diturunkan berupa qirthasin atau dalam bentuk materiel “kertas” semuanya diturunkan berupa lisan Jibril, mimpi yang benar, langsung kedalam hati beliau atau seperti dencingan lonceng (ini wahyu yang terberat ketika menerimanya, sehingga pernah Rasul sampai berkeringat dan kaki seorang sahabat terasa memberat – itu, kalau tidak silap, paha Rasul berada diatas pahanya sahabat, seperti kalau kita bersila).
    Yang kita kenal wahyu yang diturunkan dalam bentuk media tulis adalah Kitab Taurat (lebih spesifik lagi adalah 10 perintah Tuhan ) yang diturunkan berupa tulisan pada Loh batu.
    Terjemahan jawaban Rasul dalam hadits, menjawab perintah Jibril ” Aku tidak bisa/tidak pandai membaca”, samalah dengan perkataan kita kepada anak kita. Bacalah Alfatihah, sementara didepannya tidak ada tulisan Alfatihah yang harus dibaca. Kalau sianak mengatakan “saya tidak bisa/tidak pandai membaca”, berarti sianak belum hafal ayat Alfatihah. Karena belum pernah diajarkan kepadanya. Maka bisanya kita katakan “ikutin bapak membacanya”, sekali lagi sang bapak tidak mengeluarkan sebuah tulisan Alfatihah, tetapi “membaca” dari hafalannya. Begitu juga Jibril, setelah mendapat jawaban ” Saya tidak pandai membaca”, maka beliau lalu melmeluk Rasul, dengan demikian tertanamlah bacaan yang harus dibaca. Maka ketika Jibril mulai membaca awal surat Al-‘Alaq, nabi langsung bisa mengikuti. Jadi Rasul membaca ayat 1 s/d 5 dari Al-‘Alaq dari “ingatan/memori” yang telah ditanamkan oleh Jibril. Ini menurut pemahaman saya.
    Proses penerimaan wahyu dari awal sampai akhir, dari Ayat 1 surat Al-‘Alaq s/d ayat 3 Surat Al-Maidah, Rasul tidak obahnya seperti memori harddisk dalam komputer, langsung diprogram oleh Allah, baik melalui malaikat Jibril, mimpi yang benar, penanaman langsung kedalam hati beliau atau berupa dencingan lonceng. Kemudian Rasul langsung mengakses semua ayat-ayat dari memori beliau dan kemudian disampaikan kepada para penulis wahyu. Begitu juga kalau terjadi suatu masaalah yang terjadi atau ditanyakan oleh sahabat, maka langsung Rasul berkomunikasi dengan “komputer pusat” di Lauhul Mahfuz. Kemudian jawaban yang ditanyakan langsung dikirim ke Rasul (seperti email zaman sekarang) dan langsung diakses dan dikeluarkan untuk dicatat.
    Jadi, benar Rasul tidak bisa baca tulis alias buta aksara.
    Kalaulah beliau pandai baca tulis, maka hala ini dapatlah menjadi senjata bagi kaum kuffar atau para Ahli Kitab untuk menuduh beliau “nyontek” kitabnya mereka.
    Wassalam,

    @
    Wa’alaikum Salam,
    Inilah yang menarik mas Abudaniel, seperti kita ketahui Rasulullah mempunyai beberapa sekretaris (Zaid bin Tsabit salah satunya), tapi beliau tidak menyuruh penulisan AQ sebaliknya, Al Qur’an lebih diutamakan di hapalkan diluar kepala.
    Saya seeh bukan keukeuh/ngotot korelasi antara (QS 3:20) dengan (QS 6:7), namun saya seperti menyimak ada kekhawatiran yang berlebihan untuk menghadapi “kaum kuffar atau para Ahli Kitab untuk menuduh beliau “nyontek” kitabnya mereka.
    Sesungguhnya kata “ummi” dapat merupakan sejata pisau bermata dua, satu sisi seperti yang saya pahami dan disisi lain seperti yang mas Abudaniel pahami, dan yang jelas tidak ada peninggalan Rasulullah sendiri berupa tulisan tangan, surat menyurat dsb.
    Trim’s infonya mas, melengkapi postingan diatas.
    Wassalam.
    • philips said

      KONSEP UMMI DALAM AL-QUR’AN

      (Sebuah telaah Tematis)

      Oleh: Fitriliza

      Abstrak:

      Nabi Muhammad SAW. adalah Nabi yang ummi. Ke-ummi-annya ini membuktikan bahwa al-Qur’an adalah otentik dari Allah SWT. Tetapi kata ummi ini tidak selalu berarti yang tidak dapat membaca dan menulis (buta huruf). Dari sisi bahasa, kata ummi ini mempunyai banyak arti. Hal ini dapat kita lihat ketika Allah mengungkapkan kata ummi dalam al-Qur’an. Dalam al-Qur’an, kata ummi ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW saja, tetapi juga kepada masyarakat Arab, dan kaum Yahudi.
      Banyak ahli tafsir yang mengartikan ummi dengan buta huruf, tetapi beberapa ahli tafsir lainnya berpendapat bahwa ummi bukan berarti buta huruf, melainkan diartikan sebagai orang yang tidak mendapat al-kitab, dan orang yang tidak cakap menulis. Secara historis, masyarakat Arab pada masa awal Islam adalah masyarakat yang sudah mengenal baca tulis. Maka jika kata ummi diartikan sebagai orang yang buta huruf, ini bertentangan dengan realitas sejarah. Demikian sebagian ahli tafsir berpendapat.

      Pendahuluan

      Perbincangan mengenai konsep ummi sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru dalam pengkajian Islam. Konsep itu telah menjadi salah satu wacana intelektual semenjak ulama salaf. Meskipun demikian, kajian tentangnya masih tetap merupakan tema yang menarik sampai sekarang. Maka, tidaklah heran kalau kajian tentangnya tidak saja dilakukan oleh ulama Islam, tetapi juga oleh kalangan orientalis.[1]

      Persoalan ummi menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan nabi Muhammad SAW. Pada salah satu ayatnya, al-Qur’an mensifatinya dengan al-naby al-ummy. Para ulama umumnya menafsirkannya dengan “yang tidak dapat membaca dan menulis (buta huruf)”. Dengan demikian, Nabi yang ummi berarti Nabi yang buta huruf. Penafsiran yang dianggap masyhur itu tentu saja menarik untuk dikaji ulang. Apakah penafsiran itu ditopang oleh bukti-bukti historis? Atau, apakah semua ulama tafsir mempunyai pandangan seperti itu? Bagaimanakah al-Qur’an menjelaskan kata itu sendiri?

      Tinjauan bibliografis menunjukkan adanya dua pendapat yang menjawab persoalan ini. Pendapat pertama, yang dikatakan al-Farmawy sebagai pendapat yang mashur, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ummi dalam semua konteks, baik berkaitan dengan Nabi, masyarakat Arab, maupun Yahudi, adalah buta huruf. Pendapat kedua, seperti yang dikemukakan oleh Nasiruddin al-Ajad, membantah pendapat pertama di atas. [2]

      Tentu saja kedua pendapat di atas memiliki relativitas kebenaran masing-masing karena didukung pula oleh argumentasi masing-masing. Mana di antara kedua pendapat itu yang mendekati penjelasan al-Qur’an?

      Pembahasan

      A. Ummi dalam al-Qur’an di Mata Para Mufassir: Definisinya

      Dalam al-Qur’an kata ummi beserta turunannya diulang dalam al-Qur’an sebanyak enam kali. Dua dalam bentuk tunggal, yaitu pada surat al-A’raf ayat 157 dan 158 (keduanya diturunkan di Mekah):

      الذين يتبعون الرسول النبى الأمى الذى يجدونه مكتوبا عندهم فى التوريةوالإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهيهم عن المنكر …. (157) …فأمنوا بالله ورسوله النبى الأمّىّ الذى يؤمن بالله وكلميته واتبعوه لعلكم تهتدون (158)

      Empat lainnya dalam bentuk jamak, yaitu pada surat al-Baqarah ayat 78, surat Ali Imran ayat 20 dan 75, serta surat al-Jumu’ah ayat 2 (keempatnya diturunkan di Madinah) di bawah ini:

      ومنهم أميون لا يعلمون الكتب إلاّ أمانىّ وإن هم إلاّ يظنون (البقرة :78)

      …وقل للذين أوتوا الكتاب والأميين أأسلمتم …(ال عمران :20)

      …ذلك بأنهم قالوا ليس علينا فى الأميين سبيل … (ال عمران :75)

      هو الذى بعث فى الأميين رسولا منهم يتلو عليهم ايته ويزكيهم ويعلمهم الكتب والحكمة وإن كانوا من قبل لفى ضلال مبين (الجمعة : 2)

      Menurut para mufassir, bentuk tunggal ummi ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW[3] dengan diperkuat oleh sabda Nabi sendiri:[4]

      إنا أمية لا نكتب ولا نحسب

      Adapun dalam bentuk jamak yang terdapat pada surat Ali imran ayat 20 dan 75 dan surat al-Jumu’ah ayat 2 ditujukan kepada masyarakat Arab[5], sedangkan bentuk jamak yang terdapat pada surat al-Baqarah ayat 78 ditujukan kepada sekelompok Yahudi.[6] Dengan demikian, dalam konteks al-Qur’an, kata ummi ditujukan kepada tiga obyek di atas.

      Sebagaimana disebutkan di muka, para mufassir tidak sepakat dalam menjelaskan kata ummi. Di antara mereka ada yang mendefinisikannya sebagai buta huruf seperti dikemukakan oleh Rasyid Ridha[7] dan al-Thabathaba’i.[8] Pendapat mereka diperkuat oleh penulis kamus berbahasa Arab seperti Lisan al-‘Arab yang disusun oleh Muhammad ibn Manzhur. [9]

      Meskipun demikian, kata ummi dalam literatur tafsir tidak hanya memilki satu arti di atas. Ada beberapa riwayat yang mendefinisikannya secara berlainan. Al-Qasimi umpamanya, menafsirkan kata ummiyyin pada surat Ali Imran ayat 20 sebagai “kelompok yang tidak memiliki kitab suci” (la kitaaba lahum). [10] Definisi-definisi lainnya dikemukakan oleh al-Thabari. Ia mengutip pendapat Ibrahim (dari Mansyur, dari Sufyan, dari Ibn Mubarak, dari Suwaid bin Nashr, dari al-Mutsanna) yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ummi adalah “orang yang tidak cakap menulis” (من لايحسن أن يكتب). [11] Ibnu Zaid mendefinisikannya sebagai “orang yang tidak membaca al-kitab”. Ada riwayat lain berasal dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan bahwa maksud kata ummi dalam al-Qur’an yang berbentuk jamak adalah “sekelompok orang yang tidak membenarkan utusan Allah dan kitab yang dibawanya”.[12] Al-Thabari sendiri, dengan mengutip pendapat al-Nakha’i, menjelaskan ummi dengan “orang yang tidak cakap menulis”.

      Dari jajak pendapat ahli tafsir di atas, kata ummi dalam al-Qur’an setidak-tidaknya mempunyai lima pengertian, yaitu:

      1. Tidak dapat membaca dan menulis (buta huruf)
      2. Tidak memiliki kitab suci.
      3. Mengingkari kebenaran Rasul dan kitab yang dibawanya.
      4. Tidak membaca al-kitab
      5. Tidak cakap menulis.

      B. Ke-ummi-an Yahudi dan Masyarakat Arab

      Mana di antara kelima pengertian di atas yang menurut al-Qur’an sendiri cocok untuk menjelaskan ke-ummi-an sekelompok Yahudi dan masyarakat Arab? Sebagian ahli tafsir memilih pengertian pertama untuk menjelaskan ke-ummi-an sekelompok Yahudi sebagaimana tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 78:

      ومنهم أميون لا يعلمون الكتاب …

      Ketidaktahuan mereka terhadap al-kitab dijelaskan karena mereka buta huruf. Namun, runtutan ayat berikutnya, yaitu surat al-Baqarah ayat 79, tidak mendukung penafsiran di atas. Allah SWT berfirman:

      فويل للذين يكتبون الكتب بأيديهم ثم يقولون هذا من عند الله (البقرة:79)

      Jelaslah, ketidaktahuan mereka terhadap al-kitab bukan karena mereka buta huruf, tetapi sebagaimana dijelaskan al-Thabari dengan mengutip Ibnu Zaid, karena mereka mengingkari kerasulan Nabi dan kitab yang dibawanya serta tidak mau mempelajarinya. [13] Selanjutnya mereka menulis dengan tangannya sendiri sebuah kitab versi mereka, lalu dikatakannya bahwa itu semua berasal dari Allah demi memperoleh keuntungan yang sedikit.

      Penafsiran Ummiyyin dengan buta huruf untuk masyarakat Arab, sebagaimana tercantum pada surat Ali Imran ayat 20 dan 75 serta surat al-Jumu’ah ayat 2, juga tidak cocok bila melihat konteks al-Qur’an sendiri. Dalam dua ayat pertama, kata Ummiyyin dikaitkan dengan Ahli Kitab (Yahudi), tetapi dibedakan dari mereka. Sementara pada ayat terakhir, Nabi Muhammad SAW disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan “di antara ummiyyin”. Seluruh kenyataan di atas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan ummiyyin pada ayat-ayat di atas adalah non-Yahudi atau masyarakat Arab musyrikin yang di tangan mereka tidak tedapat kitab yang berlawanan pula dengan yang diberikan kitab (utul kitab). Penafsiran ini didukung oleh riwayat Qatadah yang dikutip oleh al-Thabari [14] dan al-Qasimi [15] dalam kitab tafsirnya masing-masing.

      Berdasarkan uraian di atas, tidak tepatlah mensifati masyarakat Arab sebagai buta huruf dengan merujuk pada ayat-ayat di atas. Di samping itu, agaknya penyifatan itu kurang didukung oleh bukti historis. Pendapat yang mengatakan tradisi tulis-menulis jarang terjadi di tengah masyarakat Arab pada awal perkembangan Islam karena mereka lebih mengutamakan hafalan bertentangan dengan pendapat penulis sejarah kenamaan, Ibnu Sa’ad. Dalam Thabaqat Kubro-nya ia menyebutkan bahwa bangsa Arab Jahililiah dan permulaan Islam menilai bahwa orang yang sempurna ialah yang dapat menulis, berenang, dan melempar panah.[16]

      Al-Baladzuri dalam Futuh al-Buldan memang pernah mengatakan bahwa ketika Islam datang, terdapat 17 orang yang dapat membaca dan menulis. Namun, menurut penilaian M. M. Azami, jumlah itu belum termasuk orang-orang Mekah seperti Abu Bakar, Abdullah bin Amr bin Ash, Umi Kultsum, Hafsah, Aisyah, dan lain-lain. [17] Perlu dicatat pula di sini bahwa pada permulaan Islam sudah terdapat banyak pusat pengajaran tulis-menulis seperti Mekah, Thaif, Madinah, Hirrah, dan Daumat al-Jandal.

      C. Ke-ummi-an Nabi Muhammad

      Predikat Nabi sebagai seorang yang ummi sebagaimana dijelaskan di atas, disebutkan dalam al-Qur’an pada surat al-A’raf ayat 157 dan 158. Oleh kebanyakan ulama, umumnya kata ummi pada ayat-ayat di atas ditafsirkan dengan buta huruf.[18] Dengan demikian, Nabi yang ummi berarti Nabi yang buta huruf. Ada dua alasan pokok yang dikemukakan oleh para pendukungnya untuk menopang pendapat di atas. Pertama, Buta hurufnya Nabi dipandang sebagai mukjizat terbesar dan salah satu tanda kerasulannya yang sekaligus membuktikan bahwa al-Qur’an memang berasal dari Allah tanpa ada penambahan sedikitpun dari Nabi.[19] Dalam istilah Nasr, Nabi harus buta huruf sebagaimana Maria harus perawan untuk menunjukkan bahwa pesan Allah disampaikan melalui sesuatu yang murni.[20] Kedua, sabda Nabi SAW. sendiri yang berbunyi:

      إنا أمة لا نكتب ولا نحسب

      Untuk alasan pertama, karena tidak ada nash khusus yang mendukungnya dan karenanya pula bersifat ijtihadi, tentu saja kita dapat mengajukan pertanyaan kepada para pendukungnya, Apakah kalau Nabi tidak buta huruf, kemurnian al-Qur’an tidak terjamin lagi? Bukankah banyak indikator lain yang menjaminnya?

      Konteks surat al-A’raf ayat 157 dan 158 sama sekali tidak berkaitan dengan penjelasan kemurnian al-Qur’an, tetapi berkaitan dengan perilaku umat Nabi Musa dan jaminan rahmat Allah yang akan diberikan kepada mereka yang bertakwa (lihat kandungan surat al-A’raf ayat 150-160). Itu sebabnya, perintah untuk mengikuti nabi yang ummi merupakan manifestasi dari ketakwaan itu.

      Penafsiran kata ummiyyin dalam bentuk jamak sebagai non-Yahudi, seperti yang telah dijelaskan, agaknya cocok pula untuk menjelaskan kata ummi pada surat al-A’raf itu. Dengan mengikuti penafsiran di atas, maka ayat itu dapat dijelaskan demikian: Nabi Muhammad SAW. bukanlah seorang Yahudi, atau ia adalah nabi pribumi yang diutus kepada orang-orang Arab dan berasal dari kalangan mereka sendiri. Jadi, tidak ada argumen apa pun di sini yang mengatakan bahwa Nabi sama sekali buta huruf, tetapi ayat ini setidak-tidaknya mengacu kepada ketidaktahuan Nabi (karena tidak membaca) terhadap kitab-kita orang Yahudi dan Nasrani.

      Kesimpulan yang sama dapat ditarik dengan memeriksa ayat lainnya, yaitu surat al-Ankabut ayat 48:

      وما كنت تتلو من قبله من كتب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون

      yang terkadang diterjemahkan: “Engkau tidak dapat membaca satu kitab pun sebelum ini, tidak pula engkau dapat menulisnya dengan tangan kananmu…”. Padahal, terjemahan yang tepat adalah: “Kamu tidak pernah membaca satu kitab pun sebelum al-Qur’an dan kamu tidak pernah menulis satu kitab dengan tanganmu…”. Ayat tersebut, secara sederhana berarti Nabi bukanlah seorang pembaca atau penulis kitab-kitab suci sebelumnya (sebagaimana halnya seorang pendeta). Hal ini dijelaskan dengan kata-kata selanjutnya dari ayat itu: “…jika demikian halnya, maka orang-orang yang mengingkarimu akan ragu-ragu.” Dalam ayat ini tidak terdapat sesuatu yang secara mutlak mengandung makna bahwa Nabi tidak memiliki pengetahuan membaca dan menulis.

      Mengenai hadis Nabi di atas, menarik untuk dicatat pendapat Nasir al-Din al-Asad. Ia menjelaskan bahwa:

      a. Sabda Nabi itu berkaitan dengan hadis-hadis puasa, yakni tentang melihat bulan.

      b. Dengan sabdanya itu, Nabi bermaksud menjelaskan disiplin ilmu penulisan dan perhitungan khusus yang belum dikuasai orang Arab, yaitu ilmu al-hisab al-falaki.

      c. Hadis itu tidak menafikan secara mutlak kemampuan menulis dan menghitung, tetapi yang dimaksud adalah bahwa menulis dan menghitung belum terlembaga di kalangan orang Arab sebagaimana bangsa lainnya.

      Sementara tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa Nabi tidak dapat menulis dan membaca, maka bukan merupakan suatu hal yang mustahil bahwa nabi mempunyai kemampuan itu. Ia bisa saja telah mempelajari seni tulis menulis di Mekah karena pada masa mudanya ia merupakan seorang pemimpin perdagangan untuk Khadijah dan mungkin atas namanya sendiri yang tentu saja memerlukan catatan-catatan transaksi. Kandungan-kandungan surat al-Furqan ayat 5, surat al-Kahfi ayat 109, dan surat Luqman ayat 20 meskipun tidak secara eksplisit menunjukkan kemampuan Nabi menulis dan membaca, tetapi setidaknya memperlihatkan bahwa pihak pengkritik Nabi memandang bahwa ia telah bekerja dengan sejenis bahan tertulis dan bahwa pena serta tinta sudah digunakan saat itu.

      Argumen yang lebih kuat tentang ini, meskipun tidak langsung, dapat diperoleh dari kisah ekspedisi ke Nakhla, sekitar dua bulan sebelum perang Badar. Perlu dicatat, beberapa ekspedisi terdahulu ternyata tidak begitu sukses lantaran beberapa orang Madinah tampaknya membocorkan informasi kepada musuh-musuh kaum muslimin. Karena itu, untuk berjaga-jaga terhadap kebocoran semacam itu, pemimpin ekspedisi di Nakhla diberi perintah dalam surat tertutup yang tidak boleh dibuka hingga ia bergerak dua hari dari Madinah.[21] Tidak dapat dipastikan bahwa pada tahap awal Nabi di Madinah, beliau telah memakai beberapa pembantu. Dalam keadaan bagaimanapun juga, kerahasiaan yang demikian tidak dapat dipercayakan walau kepada orang yang sangat loyal sekalipun. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang mustahil jika Nabi menulis dengan tangannya sendiri surat itu.

      Ada data historis lainnya yang mendukung kesimpulan di atas walaupun akurasinya masih perlu dielaborasi. Dalam beberapa versi, kisah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah pada tahun 628, dikatakan bahwa Nabi telah menulis dengan tangannya sendiri. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata “Rasulullah” dalam pembukaan dokumen perjanjian. Nabi kemudian memerintahkan Ali yang bertindak sebagai pembantunya untuk menggantikannya dengan kata-kata “Ibnu Abdillah”. Karena Ali menolaknya, maka Nabi menggantikannya (menulisnya) dengan tangannya sendiri. [22]

      Penutup

      Demikianlah sekilas tentang kajian ummi dalam al-Qur’an. Dapat disimpulkan bahwa kata ummi tersebut tidak diartikan dengan buta huruf, tetapi diartikan sesuai dengan konteks ayat tersebut. Misalnya kata ummi yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. yang tercantum pada surat al-A’raf ayat 157-158, maksudnya adalah bahwa Nabi adalah seorang Nabi yang bukan Yahudi yang juga tidak pernah mempelajari kitab-kitab suci sebelumnya, dan contoh lainnya.

      Interpretasi apapun yang ada dalam menjelaskan maksud kata ummi dalam al-Qur’an mengandung kebenaran yang relatif. Oleh karenanya, al-Qur’an selalu mengajak semua manusia untuk senantiasa berfikir dan bertafakkur sehingga dapat mencapai kebenaran yang hakiki dari Allah SWT.

      Wallahu A’lam.

      DAFTAR PUSTAKA

      Al-Farmawy, Abd. Al-Hayy, Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’I: Dirasah Manhajiyyah Maudhu’iyyah, Mesir: Maktabah Jumhuriyah, t.t.

      Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi, V, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabiyyah, 1985

      Al-Thabari, Ibn Jarir, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Jilid I, Beirut: Dar El-Fikr, 1988

      Al-Thabathaba’i, Muhammad Husein, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, Jilid I, Beirut: Muassasah al-A’lam li al-Mathba’ah, t.t.

      Jamal al-Din Muh. ibn Muharram ibn Manzhur, Abu al-Fadhl, Lisan al-“Arab, Jilid XII, Beirut: Dar Sadir, t.t.

      K. Hitti, Philip, History of The Arabs, London: Macmillan

      M. Azami, M., Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Ali Mustofa Ya’qub, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1914

      Nasr, S.H., Islam dalam Cita dan Fakta, Terj. Abdurrahman wahid, et. Al., Jakarta: Lappenas, 1983Paret, R., Ummi dalam Muhammad B. Tsabit al-Fanadi, et.al., (Ed), Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah. Jilid I, Intisyarah Jahan, t.t.

      Rasyid Ridha, Muhammad, Tafsir al-Manar, Jilid X, Dar al-Manar, 1367, hlm. 285; M. Jamal al-Din al-Qasimi, Mahasin al-Ta’wil, Jilid VII, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Isa al-Babi al-Halabi, 1957

      Sahih Bukhari, Kitab “al-Shiyam”, bab 13; Sahih Muslim, kitab “al-Shiyam”, nomor hadits 4; Sunan al-Nasa’i, kitab “al-Shiyam”, bab 17; Musnad Ahmad, Jilid II, h. 43, 52, 122,129.

  2. Assalamu alaikum

    Saya jadi ingat kata seorang ulama(namanya lupa)
    Faqir itu bukan kurang harta akan tetapi memang tak punya apa2,hanya ALLAH yang memiliki segala2nya.

    Wassalam

    @
    Wa’alaikum Salam,
    Terimakasih mas Ayruel, mudah-mudah menjadi renungan juga buat saya.
  3. yudhisidji said

    @ haniifa…
    Saya merasa bahwa Muhammad saw saat itu memang ummi dalam arti tidak bisa baca tulis. Coba kita simak surat 29 ayat 48 berikut :
    “ dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). “
    saya merasa scenario ini untuk lebih menguatkan bahwa apa yang disampaikan Muhammad saat itu betul2 wahyu.

    Saya juga sependapat dengan @haniifa bahwa ummi bermakna “ buta agama” atau lebih tepatnya buta kitab dan iman seperti teks asli ayatnya. Coba kita cermati surat 42 ayat 52
    “ dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”

    juga pada surat 93 ayat 7
    “ dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang dholim lalu Dia memberikan petunjuk”

    maaf pada surat 93 ayat 7 ada yg mengartikan bingung, tapi saya lebih condong pada teks asli “dhola”
    semoga bermanfaat

    @Mas Yudhisidji
    Duhh… sungguh sangat bermanfaat khususnya buat saya pribadi, mudah-mudahan begitu juga bagi para pembaca postingan sederhana ini.
    Dan memang benar “Ummi” dapat bermakna ganda disatu sisi memang Nabi Muhammad s.a.w memang tidak bisa membaca Kitab sebelumnya (dalam konotasi kitab yang telah terdistorsi oleh Bani Israil, dalam penulisan dan pemaknaan) selanjutnya dalam sisi yang lain membuktikan setelah turunnya Wahyu Illahi kepada Nabi Muhammad s.a.w maka beliau benar-benar memahami apa itu “Iman” dan begitu pula dengan “Cahaya Allah”.
    Sekali lagi jangan ragu-ragu mengkritisi / menambah/ mengoreksi postingan saya.

    Salam hangat selalu, Haniifa.

  4. qarrobin said

    Assalamu’alaikum

    Penyampaian wahyu disebut juga mala-i a’la, berupa getaran yang ditransfer melalui tunnel(curled dimension) ke Muhammad, saya setuju dengan @Abudaniel bahwa lawh mahfuzh adalah Preserved Disc, dan Allah Istiwa di atas Arsy

    Wassalam, saudaramu

    • haniifa said

      Wa’alaikum Salam, @Kang Qarrobin Djuti
      Beliau (baca: @Abu Daniel) adalah sahabat lama saya, dan Alhamdulillah pemahaman ayat-ayat Al Qur’an nya sangat mumpuni.
      Jadi tidak aneh bila @Kang Qarrobin sependapat dengan uraian beliau.

      Salam hangat kembali sudaraku.

      Wassalam, Haniifa.

      • qarrobin said

        kemaren juga sempat baca kalo ga salah @Kang Haniifa, @Abu Daniel dan teman2 membahas tentang adam dan diri yang satu, tapi saya ga tau deh kesimpulan apa menurut haniifa, menurut abu daniel, dan menurut teman2 lain

        NB: jawabnya disini aja ya, kalo dikasih link, lagi ngantuk nih, kesimpulannya aja ya kang @Haniifa yang saya pinta

        kemon kang……
        salam hangat kembali saudaraku
        ____________________

        @Kang Qarrobin Djuti
        Baiknya kita tunggu rekan-rekan yang lain, biar kita bisa saling melengkapi.

        #Haniifa.

      • qarrobin said

        kalo dah ada, kasih tau ya kang

        salam anget

  5. @All

    Karakter Nabi Muhammad saw adalah Shidiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah. Suatu hal yg mustahil kalau Beliau buta huruf dan dipercaya oleh seorang saudagar seperti Siti Khadijah ra untuk berdagang. Yang mengatakan buta huruf adalah untuk mendiskreditkan Nabi Muhammad saw bahwa Beliau tidak bisa membaca dan menulis, sehingga terkesan buat apa mengikuti Nabi yang bodoh karena tidak bisa membaca dan menulis.

    Artinya “UMMI” bukanlah buta huruf melainkan “Buta Agama”, Setuju ! karena memang pada saat itu masyarakat di Semenanjung Arabia dalam keadaan Jahiliyah.

    Wassalam…

    @Wawansyah17
    Astaghfirullah
    Sampeanlah yang sesungguhnya buta Agama itu, sadarkah dan taubatlah secapatnya sebelum terlambat.

    Wassalam, Haniifa

  6. @Bro Haniifa

    Okelah arti UMMI itu buta akan agama===>tapi bukankah ini tidak terus menyalahkan pendapat bahwa “Nabi Buta Aksara”.

    Ada suatu riwayat (agak lupa)===>saat perjanjian hudaibiyah orang Quraysi tidak suka dalam surat perjanjian ada kata-kata “Muhammad Rasul Allah”. Lantas nabi meminta sahabat agar menunjukkan dimana letak kata itu===>lalu Nabi mencoret kata “Rasul Allah”.

    • @Kang Wedul Sherenian
      Bwetull sekali, dan perjajian tersebut ditempelkan di pintu Ka’bah…. kisah perjanjian inilah yang mengabatkan Hamzah paman Rasulullah marah kepada para jahiliyah Qurasy bahkan belaiu sempat mengetok kepala Abu Jahl😀

  7. Aku punya pemikiran begini :

    Kemungkinan ada miskomunikasi antara Malaikat dan Nabi Muhammad. Itu karena kata “Bacalah” masuk dalam surat AL-Alaq.

    Yang terjadi mungkin begini:

    Malaikat ingin Nabi mengikuti ucapan malaikat (untuk dihafal), Malaikat bilang bacalah (maksudnya agar nabi mengikuti ucapan malaikatpada awal ayat surat Al-Alag). Nabi mengira disuruh membaca===>jadi nabi berkata : “apa yang mesti aku baca, aku tidak dapat membaca”

    • @Mas Wedul
      Sangat mungkin, karena dalam pemikiran sayah… judul surahpun di wahyukan oleh malaikat Jibril.
      Jadi mulanya malaikat jibril berkata:
      0: “Bacalah”…. judul ayat
      1: “Bacalah atas nama Rabb… dsb”… ayat 1 s/d 5.

      Wassalam, Haniifa.

    • tukang batu said

      saya setuju dengan “pembacaan” om wedul ada miss komunikasi terhadap pembacaan. oleh karena itu kelanjutan ayatnya “iqro bismi robbikal lazi holaq. yang artinya muhammad disuruh membaca segala sesuatu dengan menyertakan rabb (sifat allah terhadap pengaturan) terkait urusan penciptaan(holaq). sementara pembacaan seperti ini asing dikalangan masyarakat qurasy yang mengaku islam maupun yang mengaku beriman termasuk muhammad pada waktu itu, seperti kita ketahui, standar berfikir yang menghasilkan pembacaan bagi qaum quraisy pada waktu itu adalah orang2 yang mengaku islam dan mengaku iman dari sanad ibrahim tetapi mengambil berhala2 nenek moyang seperti tatanan yang sudah disetting qussay

  8. […] ini hanya sedikit melengkapi pemahaman pada blog INI  . Pada Blog tersebut tertulis sebagai berikut […]

  9. yosbeda said

    2 kata aj…
    BENER BANGET…

  10. izar said

    ASw
    menurut saya arti ummi tsb. adalah buta huruf, karena:
    1. Nabi Muhammad adalah Nabi yg ummi (ga mgkin nabi Muhammad buta akan ketauhidan kpd Allah)
    2. hikmah knapa nabi disebut ummi, supaya jelas bahwa Islam bukan tulisan tangan manusia, melainkan dr Allah,
    3. setelah mendapat wahyu, Nabi muhammad bs membaca dan menulis.
    WALLAHU’ALAM

    • Wa’alaikum Salam, @mas Izar
      Saya ulas sedikit no:3 yah !!
      Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah itu keturunan bangsawan Bani Quraisy tepatnya kaum yang sangat terpandang dikelompoknya. Sampean bisa perhatikan apapun polemiknya mengenai mushaf, tetap saja semua ditulis diatas kertas dan teknologi pembuatan kertas sudah jauh berada beberapa abad sebelum Bani Qusay memegang pucuk pimpinan didaerah Mekkah.
      Adapun cerita penulisan Ayat Al Qur’an dari pelepah kurma, batu, tulang… dsb. sangat masuk diakal karena harga kertas saat itu masih mahal.
      Saya kembalikan kepada sampean kesimpulannya, dengan analogis sbb:
      Seandainya saya seorang anak bangsawan terhormat jaman dulu, pastinya saya mempelajari budaya, tulisan, bahasa, sastra dan ilmu pengetahuan… sebagai sarana penghubung sesama anak bangsawan lainya atau sebagai “gengsi” kebangsawanan saya.

      Nah silahken, bandingkan dengan keaadaan Muhammad bin Abdulllah ?!

      Wassalam, Haniifa.

  11. Fajar SR said

    saya belum ikut diskusi lebih dalam tapi coba lebih dipikirkan lagi ttg:

    1. Muhammad lahir dikalangan terpandang dan bani yang terpandang pula, apakah iya,jika dia tidak diajarkan baca tulis & hitung menghitung ?
    2. Muhammad diberikan kepercayaan untuk berdagang “ekspor impor” oleh khadijah dan selalu untung berlipat-lipat akhirnya dari pengalaman itu dia diberi gelar Al Amin. Apakah iya, dia tidak diajarkan baca tulis & hitung menghitung ? kalo ga diajarin bakal dibohongin terus dong, terus rugi. padahal dia selalu untung berlipat-lipat.
    3. saya ingin bertanya,mohon dijawab : bagaimana bacaan kalian ttg kondisi dunia secara umum dan Indonesia secara khusus ?
    4. Muhammad berasal dari daerah gurun kan ? emang ga ada pasir buat media belajar, ibarat papan tulis & kapur / spidolnya kayu/ranting2 pohon korma juga jadi. nah kalo buku mata pelajarannya baru deh make pelepah kurma, kertas, batu, dan sejenis intinya bisa disimpan, awet, dan tidak cepat hilang.

    Allah ga mungkin memberikan cobaan diluar kesanggupan umat. Makannya Allah mengutus rasul-rasul pada saat itu didaerah gurun pasir. artinya semua rasul bisa baca tulis toh ada media pasir, tinggal srekk.. srekk.. jadi deh.

    cukup sekian dulu & mohon dipikirkan kembali ttg makna ummi.

    continued..

    • @Mas Fajar SR
      Bwetull, sekali… jika beliau tidak bisa baca tulis huruf ?!
      Lalu bagaimana beliau membaca dan memposisikan jumlah pemanah di bukit Uhud dengan tepat.😀

      Selain itu, lalu bagaimana beliau begitu yakin kepada para pembuat surat-surat (mis: Zaid bin Tsabit) untuk penguasa disekitar Jazirah Arab ?!

      Bukankan surah ‘Abaasa menunjukan bahwa Rasulullah sedang menerima utusan seorang Penguasa ?!

      Terimakasih kontribusinya dan salam hangat selalu,

      #Haniifa

      • Fajar SR said

        yupp….

        Dan bahasan dari sudara LOL sya juga setuju ttg kalimat “menurut saya Ummi bukan buta hurup, tapi tidak mengetahui kitab-kitab Allah”.
        Muhammad diutus kebangsa yang ummi qs; 62/2 . lalu ummi didalam surat ini dalam konteks apa ? untuk menjelaskan arti ummi pada ayat tsbt saya catut ayat lain qs; 2/78

        Dan diantara mereka ada yang ummi, tidak mengetahui Al Kitab , kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.

        nah sudah jelas deh arti ummi yaitu tidak paham kitab= kataba= ketetapan2 Allah. Karena kaum pd saat itu sudah tidak paham lagi akan kitab Allah maka diutuslah seorang rasul untuk menjelaskan akan kitab2 Allah.

        sya lanjutin sedikit gpp ya..

        [62:2] Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang “ummi” seorang Rasul di antara mereka, yang “membacakan” ayat-ayat-Nya kepada mereka, “mensucikan” mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

        membacakan disini bukan dalam arti seperti belajar ngaji baca iqra. Tetapi menjelaskan, memberitakan ayat-2 Allah dan sering kali baca disini dikaitkan pada qs: 96/1 Bacalah dengan nama/isme Rabb Yang menciptakan.
        sya akan coba jelaskan kata demi kata

        Bacalah.. bahwa kondisi lokal-dunia pada saat ayat ini turun dan bahkan sebelum itu sedang pada puncaknya kondisi jahiliyah. lalu muhammad disuruh Baca kondisi tersebut tapi muhammad tetap ga bisa baca kondisi tsbt sampe 2 kali disuruh baca sama jibril nah pas ketiga akhirnya muhammad disuruh baca dengan menggunakan Isme Rabb yang menciptakan.

        untuk mengetahui arti isme Rabb saya akan mulai dari kata isme.

        isme = nama
        misalnya Ayah saya memberi nama saya Fajar maksudnya supaya saya seperti mentari pagi yang hangat, dst.🙂
        nah dari nama Fajar munculah pemahaman dari orang yang mendengar nama fajar bahwa fajar “sifat2nya” agar seperti matahari yang terbit. Dan faham lah org tsbt. terus pernah ga kalian mendengar bahasa Indonesia hasil serapan bahasa arab. contoh : patriot”isme”, nasional”isme”, yuda”isme”, komunisme, dsb yang intinya jika disisipkan kata isme maka artinya memunculkan sifat,ideologi,faham, ajaran. nah Muhammad 2 kali disuruh baca tapi ga bisa baca itu karena dia menggunakan isme-isme lain, ajaran-2 lain, paham-2 lain, ideologi-2 lain selain isme rabb yang menciptakan. (read: Allah)
        nah pas ketiga akhirnya dia bisa baca karena dia menggunakan isme Rabb yang menciptakanmu bukan isme lain..

        nah itu ulasan singkat ttg kata isme. berikutnya kata rabb:

        rabb dalam bahasa arab mempunyai arti adalah yang memelihara,mendidik,mengatur ibaratnya Allah yang Rabbilallami (pengatur semesta alam) dituntut agar menjadi Rabbinass(pengatur manusia)ini ditunjukan di qs 96/1 dan dikuatkan dengan ayat2 berikutnya hingga habis.

        ttg 62/2 ummi,baca,disucikan,diajarkan merupakan susunan yang sistematik dan mempunyai makna yang luarbiasa. demikian dulu dari saya ..

      • rubon said

        @Fajar SR
        Subhanallah, penjelasan yang mantab’s dan gamblang.

      • @Mas Fajar SR
        Menurut sampean di blognyah @Om Qarrobin Djuti arti HUWA = LAKI-LAKI:mrgreen:

        Sayah mau tanya, bagaimana menterjemaahkan yang ini.

        Qul HUWA Allahu Ahad ?!

        Saya tunggu sekali jawaban sampean…..

      • Fajar SR said

        sudah saya jawab mas..

        Allah berbeda dengan makhluknya tentu segala apa yang dialam ini adalah makhluknya dan Allah berbeda dengan itu semua.. bukan laki-laki dan bukan perempuan (biologis) tidak beranak dan tidak memperanakan tapi Allah adalah Bersifat Laki2, berani, tegas, kalo udah berjanji pasti dilakukan, pengasih, penyayang, dsb. bukan bersifat perempuan: pengecut, kalo berjanji suka dilanggar dsb.

      • @Mas Fajar SR
        Mohon maaf justru karena dengan njlimetnya pemahaman HUWA = SIFAT LAKI-LAKI, lalu apa susahnya dengan statement HUWA itu mempunyai sifat yang lebih DOMINAN

        Coba sampean bayangkan bagi orang Ingris, Amerika dan Australia, yang akan menjadi muallaf… tentu akan kabur kembali ke pangkuan YESUS😛

        Say: He is Allah, the One and Only;

        He => Ind. DIA LAKI-LAKI sangat jelas personifikasinya.

        Nb:
        Sampean mau diskusi dimana, disini atau ditempat @mas Qarrobin ?!
        http://qarrobin.wordpress.com/2009/12/27/al-jumuah-ayat-2-dan-3/#comment-1318

      • @Mas Fajar SR
        Bersifat Laki2, berani, tegas, kalo udah berjanji pasti dilakukan, pengasih, penyayang, dsb. bukan bersifat perempuan: pengecut, kalo berjanji suka dilanggar dsb.
        __________________😀 hehehe… bilang ajah sampean HOMOSEX, susah amat sich.

      • Fajar SR said

        karena masalah yg dibahas di forum mas qarobin mungkin baiknya disana aja.. itu pun kalo diperlukan..

      • @Mas Fajar SR
        Okeh.. no problemo, tapi mau sayah record semua diskusi sampean disini… buwat pembelajaran, agar kami lebih berhati-hati dengan orang-orang munafik semacam sampean.

        #Fajar SR berkata#
        Desember 31, 2009 pada 1:32 am

        duh gimana ya.. saya ini normal mas hanafi.. jahat amat ngatain homo, hehe .. kalo maslah yang sering melanggar janji coba di qs (16:92) jadi kalo org melanggar janji bisa disebut perempuan.

        # حَنِيفًا berkata #
        Desember 31, 2009 pada 1:41 am

        @Mas Fajar SR:mrgreen:
        Normal sehhh normal tapi sampean tidak bisa membaca Al Qur’an sedikitpun… hua.ha.ha… sok jagonya luar biasa HE.Hi..he.he.he … idiot

        حَنِيفًا = saya ini normal mas hanafi. …😀😆

        Dah… sampean ngaku ajah, sampean ini umat ISLAM

        (heheeh… dasar al munafikun)

        Sumber:
        http://qarrobin.wordpress.com/2009/12/27/al-jumuah-ayat-2-dan-3/#comment-1322

      • @All
        Weleh..weleh… jadi lebih repot neehh… silahken disimak.

        #Fajar SR berkata#
        Desember 31, 2009 pada 1:57 am

        duh saya ga sesempurna itu mas.. terkadang manusia juga bisa salah haniffa. Yang selalu benar itu Allah , benar ga ?😉

        salam..

        #حَنِيفًا berkata#
        Desember 31, 2009 pada 2:06 am

        @Mas Fajar SR
        duh saya ga sesempurna itu mas.. terkadang manusia juga bisa salah haniffa😛
        ________________________
        Hua.ha.ha… semakin yakin sayah, bahwa sampean sama sekali tidak bisa membaca Al Qur’an ….

        Pertama:
        حَنِيفًا = hanafi😛

        Kedua:
        حَنِيفًا = haniffa😛

        Kesimpulan:
        Sampean tidak tahu IQRO sama sekali, atau lebih jelasnya sampean tidak tahu apa itu fatah, dhamah, kasrah dan tanwin

        Pertanyaan:
        Siapa yang lebih dominan (baca: HE…hehehe:mrgreen: ) antara sayah dengan sampean

        Selamat pagi bagi para yang budiman…
        Sumber:
        http://qarrobin.wordpress.com/2009/12/27/al-jumuah-ayat-2-dan-3/#comment-1324

        #Haniifa.

      • @All
        Coba perhatikan si Fajar SR alias Al Munafikun, disangkannya bahasa Arab itu bukan Subset dari BAHASA AL QUR’AN

        #Fajar SR berkata#
        Desember 31, 2009 pada 2:31 am

        iya.. mas haniifa lebih jago, baca arabnya ..

        tapi biar ga salah mengerti, bahasa arab memang penting tapi bukan tolak ukur utama seseorang untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, karena petunjuk merupakan hak prerogatif Allah ditunjukan kepada siapa yang dia kehendaki, terbukti orang-2 arab yang notabene bahasa sehari2nya bahasa arab belum mampu membumikan Alquran sebagai rahmat semesta alam, bahkan rahmat bagi negerinya sendiri.

        jangan terjebak didalam cover terhadap siapapun bisa jadi dia yang dicemooh lebih baik dari yang mencemooh. Ati2 sifat seperti ini salah satu penyebab perpecahan bukannya makin dekat tapi makin jauh.

        demikan semoga subtansi dari ulasan ini yang lebih diperhatikan.

        salam..

        #حَنِيفًا berkata#
        Desember 31, 2009 pada 2:36 am

        @Mas Fajar SR
        iya.. mas haniifa lebih jago, baca arabnya .. bla..bla..bla..
        ______________😀 hehehe…
        Itulah bedanya sampean dengan sayah, darimana smpean bisa berkesimpualna sayah jago bahasa arab ?!

        BACA AL QUR’AN bukan BACA BAHASA ARAB

        Nb:
        Mohon maaf analisis sampean sangat-sangat diragukan, apapun argumentum kelentum antum bau sungut tahuuuuuuuu…

        @All
        Yang namanya 2x jatuh dilobang yang sama artinya DUNGU … hua.ha.ha….

        Sikian….
        ___________________________
        #حَنِيفًا berkata#
        Desember 31, 2009 pada 2:39 am

        @Mas Fajar Si Riweuh:mrgreen:
        Sampean belajar IQRO 0 dulu, baru sampean disksusi lagi yang benar dan Insya Allah akan saya layani.

        Wassalam, Haniifa

        Hehehe… idiot tidak bisa membedakan Bahasa Arabiyyun Mubin (baca: Bhs. Al Qur’an) dengan Bahasa Arab reguler.

      • @All

        #Fajar SR berkata#
        Desember 31, 2009 pada 2:49 am

        baca bukan bahasa..

        saya rasa cukup. makin lama hawa nafsu yang bermain jikalau begitu akan makin jauh dari kebenaran.

        mas qarrobin sebagai tuan rumah. saya ucapkan terimakasih atas kesempatan yg diberikan.. semua ulasan disini dikembalikan kepara pembaca untuk menyikapi seperti apa.. apakah setuju sebagian, setuju keseluruhan, atau tidak setuju sama sekali.
        tentu berdasarkan yang haq bukan berdasar hawa nafsu.

        wasalam..

        #حَنِيفًا berkata#
        Desember 31, 2009 pada 4:38 am

        @Mas Fajar SR
        Silahken sampean mau bicara apa saja tentang diri saya, namun jika sampean benar-benar memahami apa yang tersirat dan tersurat pada Al Qur’an, mari kita gunakan akal fikiran sampean dengan hati yang jernih.

        Saya tunggu analisis sampean disini:

        https://haniifa.wordpress.com/2009/01/26/signs-and-unhide-basmallah/

        Catatan:
        Artikel tersebut sayah siapkan untuk mengcounter artikel dari Submission.org yang diketuai oleh Dr. Edip Yuksel dibawah asuhan Dr. Rashad Khalifa.
        Dimana berujung pada kesimpualan (QS 68:1) = NUN WAU NUN… penambahan 2 huruf hijaiyyah.

        Saya tunggu kemampuan analisis sampean terhadap Al Qur’an dari berbagai perspektif
        (terjemaahan bukan secara lisan atau literal belaka)

        Wassalam, Haniifa.

        Hehehe… bilang ajah sampean @Mister Fajar Si Keblinger, susah amat seeh….

      • حَنِيفًا berkata
        Desember 31, 2009 pada 4:59 am

        @Mas Fajar SR
        Apakah kata HE sudah dilegalitas oleh Allah, sebagaimana kata HUWA didalam Al Qur’an ?!

        Ingat:
        Kata “HE” adalah produk kebudayaan manusia:mrgreen:

      • @All
        In my dashboards

        Al Jumu’ah 62:2-3 by Qarrobin
        ________________________________________
        #Abifasya said# 1 hour ago:

        Kalau dalam sebuah diskusi blogger sudah masuk kanghaniifa pasti we rame dan tentunya berkualitas, menganalisis pendapat orang pun bisa lebih tajam dari pedang.
        Sempat beristighfar saya ketika membaca komen kanghaniffa yang menuduh fajar kristen😀 , tapi setelah saya baca lebih dalam ternyata saya juga berfikir sama dengan kanghaniif.

        Hatur tengkiu buwat:
        @Kang Qarrobin
        @Kang Abifasya
        @Kang Dedekusn
        @Kang Kopral Cepot
        @Kang Baskara
        @Kang Fajar SR

        Wassalam, Haniifa.

    • apakah nabi berdagang sendirian?. Bisa saja nabi ditemani orang yang ahli hitung dan baca yang merupakan orang pilihan. Nabi cuma bagus di manajemennya.

      • @Om Wedul si kolor ijo:mrgreen:
        Itumah nabi-wir kali… hua.ha.ha….

        (baca: nabiwir bhs. sunda => dinu sungut silaing, dibibir sampean hua.ha.ha…. )

      • ayo ada yang bisa jawab gak?

        Nabi Isa bisa baca tulis gak hayo

      • 😀
        Sekalian Nabi Musa a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Sulaeman a.s dan Nabi Ibrahim a.s… Apa mereka bisa baca tulis nggak❓

      • @Mas Haniifa si Kolor ijo 1/2🙂

        Coba perhatikan ya :

        KASUS 1.

        ada seorang arab dusun kerjaannya kutu buku terutama buku religi. karena ahli ngitung dan dagang dia bisa untung banyak buat beli buku2 religi dari kawasan persia, eropa, india, china. Selama hampir 40 tahun suka membaca-baca dan menulis nulis. terkadang membuat essay.

        lalu pada umur 40 tahun mengaku mendapat wahyu, lalu menulisnya (mirip Mirza Gulam Ahmad)dalam beberapa lembar kulit.

        ==>orang akan berpendapat AQ kumpulan esssay sepert yang mas haniifa buat di blog ini. Meski jujur mengatakan hasil wahyu, tetep aja orang2 akan mengaggap itu hasil essay selama 40 tahun

        KASUS II

        ada orang arab dusun jujur sekali, ditanya bisa nulis atau baca dengan lugu bilang gak bisa. Pokoknya dia jujur banget, saking jujurnya apa yang dikatakannya dipercaya. Kejujurannya tersebar luas sehingga para pedagang pun percaya pada beliau. Meski gak bisa baca dan nulis tapi bisa ngitung. sehingga dipilih khadijah memimpin misi dagang, yang tentu disekeliling beliau ada juga ahli baca dan hitung yang bisa dpercaya.

        Ngemeng2 ada yang bisa jawab gak sih, Nabi isa bisa baca tulis gak ya…xixixi

      • sebenarnya letak kekuatan AQ bisa diterima sebagai Wahyu Allah pada abad 6 M karena Kejujuran beliau, karena saat itu ilmu pengetahuan belum semodern sekarang ini, kalau dengan pikiran logis wajar aja orang arab saat itu tidak mengakui ayat2 alquran yang menurut mereka tidak masuk akal==>ayat2 iptek

        Tapi karena udah terjamin kejujurannya tai ayam rasa udang pun akan diterima…xixixi

      • @Mas Wedul si 1/4 Kolor Ijo:mrgreen: hahaha
        Kasus I
        ________________
        Bejinih @mas !!!
        Semua sejarahwan tahu bahwa Zaid bin Tsabit adalah juru tulis yang sangat handal, tapi ingat wahyu pertama bukan surah Al Qur’an pertama dan ayat pertama !!!
        Pertanyaan:
        1. Lalu siapa penulis sebelum Zaid bin Tsabit ?!
        2. Apakah kita harus terperosok seperti umat Kristen, ada Injil Matius, Lukas, ..dsb, Injil Isa mana ?!

        Selanjutnya paradiqma bahwa hopotesis kasus 1 sampean sangat akut, bro… sampean boleh percaya ataupun tidak tapi menurut pemaham sayah setiyap malaikat Jibril menyampaikan Wahyu (baca: suhuf) Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w maka beliau selain menulis juga melisanken kembali dihadapan malaikat Jibril. …(baca: semacam cek & ricek, oral dan tulisan sekaligus nama Surah dan no Ayat)

        Kasus II
        Ngemeng2 ada yang bisa jawab gak sih, Nabi isa bisa baca tulis gak ya…xixixi
        _____________________
        Bagaimana sampean bisa menjawab SAYA UMAT ISLAM INGIN MUSHAF MUHAMMAD ?! ada nggak😛

      • @Mas Haniifa si tanpa Kolor…xixixi (mlotrok katoke)

        ketika banyak penghafal al quran yang meninggal. Usman berinisiatif membuat mushaf, lalu semua tulisan ayat2 alquran yang ada di berbagai media di kumpulkan dan di kroscek ama hafalan para sahabat. Yang tidak selaras di basmi. Kemudian jadilah Mushaf itu

        So,…tak masalah siapa yang menulis pertama, yang aku garis bawahi jika nabi bisa baca tulis, secara nilai bisa mengurangi kredibilitas alquran

        aku lebih setuju nabi Buta agama daripada bisa baca tulis…xixixi

        maaf atas segala kekurangan

      • Metode mengecek keaslian AQ

        1. Jaman dulu dengan hafalan dan makna ayat (gak ndobol)
        2. Jaman sekarang, dengan metode matematis seperti Mas Haniifa , Hafalan dan makna ayat (gak ndobol)===>makna ayat lebih peting. meski AQ ayat2 yang terkumpul cuma 90% pun yang penting 90% asli ayat Allah===>makna ayat benar dari sudut pandang manapun==>Gak Ndobol

      • Eagle said

        @Saudara Wedul Sherenian
        Allah berfirman dalam surah Al Kahfi ayat 109:
        Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

        Saudara percaya tidak kalau Surah Al Baqarah ayat 1 => Alif-Lam-Mim…
        Jika sama saudara dicari maknanya maka akan habis umur saudara walaupun diteruskan oleh tujuh turunan saudara.🙂

      • @Mas Wedul Share Nian :mrgreen:
        makna ayat benar dari sudut pandang manapun==>Gak Ndobol
        ____________________
        Coba sampean jelasken sama saya, asbabun nuzul surah ‘Abasa (QS 80) jangan terjebak dengan hadits-hadits Abrakadabra…. tapi sampean ambil contoh kasusnya saja yang melibatken DUWA ORANG.

        1. Pembesar yang sedang belajar Islam (sebagai kaum bangsawan tentu bisa baca dan tulis) yang belum tahu tulisan dan bacaan huruf Hijaiyyah (Al Qur’an) dan pembacaannya.

        2. Orang buta yang belajar Islam…(sudah pasti tidak tahu huruf hijiyyah/ Al Qur’an)

        Tidak usah pakai Ilmu Matematika, Fisika, Kedokteran …. dll, tapi coba sampean fahamimi yang behnar…:mrgreen:

      • @Mas Eagle

        Yup saya percaya ayat2 Allah jika ditulis semua maka gak ada yang bisa nyimpan karena pasti setebal bulan bahkan lebih dlm bentuk tulisan dan kertas. Kalao disimpan di Hard disk pun pasti juga gak cukup

        konteks dialog kita cuma masalah Nabi Muhmmad bisa menulis baca tidak. Itu mas?.

        Kalo mau kompromi==>ya udah mau bisa baca tulis mau tidak bisa yang penting makna ayat2 AQ itu tidak terdistorsi yang dikaji dari berbagai segi. Misalnya dari cara Mas Haniifa

      • Eagle said

        @Saudara Wedul Sherenian
        Astaghfirullah,
        Saya tidak terdistorsi oleh pemikiran @Saudara Haniifa, justru selama ini saya menganggap beliau banyak membantu kerisauan hati soal kemurnian Al Qur’an baik dari sisi jumlah ayat maupun kontekstual ayat per ayat.

      • @Mas Haniifa

        Waduh, gak tahu je asbabun nuzulnya…kasihtahu dong:)

        jaman abrakadabra banyak yang hafal ayat AQ tapi gak bisa nulis

      • Cekixkix said

        @Om Wedul

        Khek-nya ente kebanyakan ngejelek-jelekin Agama orang sih, jadi aja pikiran elo mirip @Om Kolor Ijo mabok… Cekixkix..kix…kix…

      • @Mas Wedul Sherenian😀 hehehe…. bijinih, kalau sampean kurang pahma… eh salah faham:mrgreen: , mari kita andai-andaian.

        Seandainya Si Fulan hidup dijaman Rasulullah.
        Si Fulan sorang yang bisa baca tulis tetapi si Fulan belajar Agama Islam dari penghafal (Hafiz Al Qur’an) yang tidak bisa baca tulis huruf Hijaiyyah.

        Apakah ada sekarang buktinya Al Qur’an itu dari huruf Jawa kuno ?!

        (misal si Fulan orang Jawa Kowek… eh sori… Jawa Kuno:mrgreen: )

      • @Mas Eagle

        Bukan gitu maksudnya,..gue dukung aja usaha Mas Haniifa, bikin kita semaki kritis🙂

        @Cekikik

        Ah lu mana ada Guk Guk pake Kolor..xixixi

        @Mas Haniifa

        Guru berujar murid mencatat

        Lha aku ini yang wong jowo bisa ngmong jowo tapi gak bisa nulis jowo ki, apalagi Jowo Jadul (Jowo Kuno)…xixixi

      • Cekixkix said

        @Om Wedul
        Makanye avatar gue cuma bagian atas doang…. Cekixkix…kix..kix..

      • @Mas Haniifa

        Dasarku Nabi Gak bisa baca tulis karena sbb :

        1. Tak ada hadits yang berakhir nama nabi. pasti nama salah seorang sahabat. Itu tandanya Nabi berujar murid mencatat.

        2. Nabi dan para sahabat selalu menghafal AQ. Pengkodifikasian AQ jaman Usman tidak lepas dari Pencocokan antara Hafalan dan bukti tertulis==>Cek & re cek

        Maaf aku cuma sekadar ngasih tambahan pengetahuan yang mungkin bisa salah.

        Okelagh kalau begitu

  12. LOL said

    menurut saya Ummi bukan buta hurup, tapi tidak mengetahui kitab-kitab Allah.

    contoh saya yang sampai saat ini tidak mengenal injil dan taurat yang diturunkan dahulu, tapi untung Allah berkuasa menurunkan kitab kepada Muhammad yang ummi seperti Allah berkuasa menurunkan kepada sebelumnya.

    Itulah al-Quran, mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah di ada-adakan oleh manusia kurang ajar terhadap kitab-kitab sebelumnya.

  13. […] Arti “UMMI” bukanlah buta huruf melainkan “Buta Agama” !! […]

  14. […] Ahlul kitab mengerti bahwa kata UMMI artinya Buta Agama, bukti lain bahwa Rasulullah sangat pandai menghitung dan membaca yaitu dalam hal bagi […]

  15. […] memang sama, yaitu : sama-sama berita (warta, naba, news) , sama-sama terbuat dari kertas (qirthasin, paper).  Seandainya kita baca Koran maka sudah lazim jika dapati berbagai kajian baik yang […]

  16. Unim said

    hem

  17. assalamuallaikum wr.wb

    mengapa ummi di artikan bukanlah buta huruf tapi buta agama…..?????
    sedangkan kan rosul itu adalah utusan allah……
    masa utusan allah tidak mengerti agama sih…..?????

    tolong jawab ya supaya saya paham……?????

    wasalam….

  18. sugihartono said

    Menurut Imam Al Alusi dalam Kitab Ruhul Ma’ani, 20/495, Ummi adalah dinisbatkan kepada Al Umm (Ibu) yang melahirkan, ada juga yang mengatakan dinisbatkan kepada ummatul arab, ada juga yang menyebut Ummul Qurra, namun pendapat pertama yang lebih masyhur.
    Imam Al Alusi mengatakan:
    وأريد بذلك أنهم على أصل ولادة أمهم لم يتعلموا الكتابة والحساب
    Dan yang dimaksud dengan itu (Ummi) adalah karena mereka pada asal kelahiran ibu mereka tidak mengetahui tulisan dan berhitung. (Ibid. Lihat juga Tuhfah Al Ahwadzi, 8/264)
    Budaya tulis menulis belum berkembang pada zaman itu, bahkan kemampuan menulis dan membaca bisa dianggap aib yang menunjukkan lemahnya daya hapal orang tersebut. Sebab saat itu daya hapal bangsa Arab sangat kuat; seperti kemampuan mereka dalam menghapal hingga ratusan syair dan silsilah nasab mereka di kepala mereka, bukan dalam tulisan. Oleh karenanya, keummi-an Nabi Saw. bukanlah cela dan aib, justru menunjukkan keutamaan Beliau bersama masyarakatnya.
    Dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman:
    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah (62): 2)
    Ayat ini menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. adalah Rasul-Nya yang berasal dari kaum yang buta huruf.
    Imam Al Baidhawi Rahimahullah menjelaskan:
    { هُوَ الذى بَعَثَ فِى الأميين } أي في العرب لأن أكثرهم لا يكتبون ولا يقرؤون . { رَسُولاً مّنْهُمْ } من جملتهم أمياً مثلهم
    (Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf) yaitu kepada kaum Arab karena sebagian besar mereka tidak menulis dan tidak membaca. (seorang rasul di antara mereka) dari kumpulan mereka yang ummi sebagaimana mereka. (Anwarut Tanzil, 5/293. Mawqi’ At Tafasir)
    Imam Al Alusi Rahimahullah juga menjelaskan:
    فالمعنى رسولاً من جملتهم أمياً مثلهم
    Jadi, maknanya adalah seorang rasul dari kumpulan mereka yang ummi seperti mereka. (Ruhul Ma’ani, 20/495. Mawqi’ At Tafasir)
    Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi Rahimahumullah dalam Tafsir Al-Jalalain menjelaskan ayat di atas, “(Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf) yaitu bangsa Arab; lafal ummiy artinya orang yang tidak dapat menulis dan membaca kitab (seorang rasul di antara mereka) yaitu Nabi Muhammad saw. (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) yakni Al-Qur’an (menyucikan mereka) membersihkan mereka dari kemusyrikan (dan mengajarkan kepada mereka Kitab) Al-Qur’an (dan hikmah) yaitu hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, atau hadis. (Dan sesungguhnya) lafal in di sini adalah bentuk takhfif dari inna, sedangkan isim-nya tidak disebutkan selengkapnya; dan sesungguhnya (mereka adalah sebelumnya) sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. (benar-benar dalam kesesatan yang nyata) artinya jelas sesatnya.”
    Sayyid Quthb Rahimahullah dalam Tafsir Fizhilalil Qur’an menjelaskan hikmah ke-ummi-an Rasulullah Saw., “Menurut satu pendapat, sebab dinamakan orang yang tidak tahu menulis itu sebagai Ummi karena ia dihubungkan dengan keadaannya yang jahil sewaktu dilahirkan ibunya, sebab kepandaian menulis itu hanya dicapai melalui belajar.
    Mungkin juga orang-orang Arab itu dinamakan begitu sama seperti orang-orang Yahudi menamakan bangsa yang lain dari mereka sebagai ‘Juyim’ dalam bahasa Hebrew yang berarti ‘Bangsa-bangsa asing’ atau umamiyun nisbah kepada umat-umat yang lain. Dengan sifat ini mereka menganggap sebagai satu bangsa pilihan Allah, sedangkan bangsa-bangsa yang lain merupakan bangsa-bangsa asing belaka. Kata nisbah ummah yang mufrad dalam bahasa Arab ialah Ummi. Barangkali penafsiran ini lebih dekat kepada maksud surat ini.
    Orang-orang Yahudi (di zaman itu) memang menunggu-nunggu kedatangan Rasul yang akhir dari kalangan bangsa mereka dengan harapan bahwa Rasul inilah yang akan dapat menyatupadukan orang-orang mereka yang telah berpecah belah itu dan menolong mereka menang kembali setelah mereka dikalahkan umat yang lain, juga mengangkat mereka ke taraf yang lebih mulia setelah mereka jatuh ke taraf yang hina. Mereka senantiasa memohon kemenangan dengan Nabi yang akhir itu.
    Tetapi kebijaksanaan Allah telah menghendaki bahwa Nabi yang akhir itu dibangkitkan dari bangsa Arab dari golongan Ummi yang lain dari bangsa Yahudi, karena Allah mengetahui bahwa bangsa Yahudi tidak lagi mempunyai kelayakan untuk memegang teraju kepemimpinan baru yang sempurna untuk umat manusia, sebagaimana akan diterangkan dalam ayat-ayat berikutnya dalam surat ini…”
    Syaikh Muhammad Abduh Rahimahullah di dalam Tafsir Juz Amma-nya menerangkan surat Al-Alaq ayat 1-5: Yaitu Allah yang Maha Kuasa menjadikan manusia daripada air mani, menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia penuh, niscaya kuasa pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seorang yang selama ini dikenal ummi, tidak bisa membaca dan menulis. Maka jika kita selidiki isi Hadis yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga kali pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak bisa membaca, tiga kali pula Jibril memeluknya keras-keras, untuk meyakinkan baginya bahwa sejak saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya, apatah lagi dia adalah al-Insan al-Kamil, manusia sempurna. Banyak lagi yang akan dibacanya di belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa dasar segala yang akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah jua.
    Prof. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat mengatakan, “Harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika itu menganggap kemampuan menulis sebagai bukti kelemahan seseorang.
    Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga masyarakat amat mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis, dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia bermohon, Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis)bagi kami adalah aib.
    Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa yang dianggap baik pada hari ini, boleh jadi sebelumnya dinilai buruk. Pada masa kini kemampuan menghafal tidak sepenting masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah diperoleh.”

    Demikian keterangan dari Al-Qur’an dan penjelasan para mufassir.
    Mengenai riwayat Nabi tidak bisa membaca, dapat dilihat dari hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Pada saat malaikat Jibril berkata pada Nabi, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Malaikat Jibril kembali berkata, “Bacalah!”. Nabi menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai yang ketiga kalinya malaikat Jibril membacakan surat al-Alaq ayat 1-5. Pada peristiwa ini, ayat Al-Qur’an pertama kali muncul dan Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Peristiwa ini mutawatir! Yang diriwayatkan oleh banyak riwayat dan telah menjadi masyhur!
    Seandainya Nabi bisa membaca, maka jawabannya ketika diperintahkan membaca oleh malaikat Jibril adalah, “Tulisan yang mana yang mesti aku baca!”. Tapi beliau langsung menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Ini artinya, jawaban itu keluar secara spontan karena sehari-harinya Nabi memang “Tidak bisa membaca!”. Bukankah Nabi orang yang jujur (al-amin)?
    Pada kondisi Nabi, seharusnya kita jangan mempertentangkan antara buta huruf dengan jenius. Kalau dalam kondisi manusia biasa pada umumnya, sah-sah saja, ngga mungkin ada orang yang buta huruf itu jenius. Tapi ini Nabi dan Rasul. Beliau mendapat bimbingan langsung oleh Allah. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 110: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu.”

    Kesalahan-kesalahan Nabi misalnya ketika bermuka masam pada Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, langsung mendapat koreksi Allah, bahwa hal itu salah. Kemunafikan dan rencana jahat musuh bisa diketahui dengan jelas oleh Nabi, karena sebelumnya Allah memberitahukannya. Perintah berhijrah disaat kaum muslimin lemah, itu juga perintah Allah. Nabi melancarkan perang Jihad juga atas perintah Allah. Dan masih banyak lagi hal-hal menarik lainnya tentang hal ini. Apakah ini sebagai bukti bahwa Nabi bukan orang yang jenius?
    Dari Ibnu Umar Ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
    إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ
    “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak menghitung.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
    Salah satu murid kesayangan Rasulullah Saw., yaitu Ibnu Abbas Ra. mengatakan, bahwa nabi Saw tidak bisa membaca dan menulis. (Tafsir Imam Qurtubi Juz 7 hal 298)
    Hadits ini adalah pengakuan yang menunjukkan keummi-an Rasulullah Saw.
    Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullah mengatakan:
    الأمية: نسبة إلى الأميين، والمقصود بذلك كثير منهم، ولا يعني ذلك أنه لا توجد الكتابة والقراءة فيهم، بل كانت ففيهم ولكن بقلة، والحكم هنا الغالب، وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم كذلك لا يقرأ ولا يكتب صلى الله عليه وسلم، وقد جاء بهذا القرآن الذي لو اجتمعت الإنس والجن على أن يأتوا بمثله لم يستطيعوا، وهو من عند الله عز وجل، وكونه أمياً لا يقرأ ولا يكتب هذا من أوضح الأدلة على أنه أتى بالقرآن من عند الله عز وجل، ولهذا يقول الله وجل: وَمَا كُنْتَ تَتْلُوا مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ [العنكبوت:48]، أي: لو أنه كان قارئاً كاتباً فيمكن أن يأتي به من عند نفسه، لكنه كان لا يقرأ ولا يكتب صلى الله عليه وسلم.
    Al Ummiyah: disandarkan kepada Al Ummiyyin, maksudnya adalah banyak di antara mereka, dan tidak berarti tidak ditemukan sama sekali tulisan dan bacaan pada mereka, bahkan hal itu ada pada mereka tapi sedikit, maknanya di sini menunjukkan yang umumnya. Nabi Saw. juga begitu, dia tidak membaca dan tidak menulis. Beliau datang dengan membawa Al-Qur’an, yang seandainya berkumpulnya manusia dan jin untuk mendatangkan yang sepertinya mereka tidak akan mampu membuatnya, dan Al-Qur’an adalah dari Allah ‘Azza wa Jalla,keadaan Beliau yang ummi tidak dapat membaca dan menulis merupakan di antara penjelasan yang menunjukkan bahwa Beliau datang dengan membawa Al-Qur’an dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla, oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. Al Ankabut (29): 48) yaitu seandainya beliau bisa membaca dan menulis maka mungkin saja dia datang membawa Al-Qur’an yang berasal dari dirinya sendiri, tetapi beliau Saw. tidak bisa membaca dan tidak pula menulis. (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 12/498-499)
    Dalam keummi-annya, Al Quran turun kepadanya. Ini justru menunjukkan keadaan tersebut adalah mu’jizat baginya.
    Imam Al ‘Aini menjelaskan:
    وكونه- عليه السلام- أميا من جملة المعجزة
    Dan keadaannya (Nabi Saw.) yang ummi termasuk di antara kumpulan mukjizat. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 4/267. Cet. 1, 1999M-1420H. Maktabah Ar Rusyd)
    Jika ada yang bertanya, bukankah ada hadits yang berbunyi,
    ائْتُونِي بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ أَوْ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا
    “Ambilkan untukku kertas dan tinta, aku tuliskan untuk kalian kitab yang setelahnya tidak membuat kalian tersesat selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Apakah itu berarti Nabi Muhammad bisa membaca dan menulis? Bukankah ini berarti hadits shahih tersebut bertolak belakang dengan ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits shahih lainnya?
    Dalam ilmu mukhtalif hadits, para ulama sudah menyiapkan jawaban atas hadits-hadits yang tampak saling bertentangan. Imam an-Nawawi berkata, “Mengetahui mukhtalif hadits merupakan bidang ilmu yang sangat penting, seluruh ulama dari semua golongan sangat perlu untuk mengetahuinya, yaitu adanya dua hadits yang tampaknya bertentangan kemudian digabungkan atau dikuatkan salah satunya. Hal ini dapat dilakukan secara sempurna oleh para ulama yang menguasai hadits dan fiqih serta ahli ushul yang mendalami makna hadits.” (At-Taqrib 2/651-652 -Tadrib Rawi-.)
    Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Anggapan kontradiksi dan kerumitan itu hanyalah ada dalam pemahaman seorang, bukan dalam ucapan Nabi. Oleh karenanya, sewajibnya bagi setiap mukmin untuk menyerahkan hal yang dinilainya rumit tersebut kepada ahlinya dan hendaknya dia menyadari bahwa di atas seorang yang alim ada yang lebih tinggi darinya.” (Miftah Daar Sa’adah 3/383)
    Oleh karena itu, selain mengetahui hadits-hadits Nabi tersebut, kita juga sudah seharusnya membaca kitab-kitab penjelas isi hadits-hadits tersebut, seperti Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi dan Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar. Yaitu agar tidak terjadi salah duga dan salah persepsi tentang dua hadits yang sepertinya tampak bertentangan padahal kenyataannya tidak.
    Dalam memahami hadits shahih di atas, Imam Nawawi mengatakan,
    أكتب لكم أي آمر بالكتابة ومنها أن الأمراض ونحوها لا تنافي النبوة ولا تدل على سوء الحال
    “(Saya tuliskan untuk kalian) yaitu perintah untuk membuat tulisan dan darinya merupakan berbagai cacat dan semisalnya yang tidak menafikan kenabiannya dan tidak pula menunjukkan buruknya keadaan.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/94)
    Pemahaman ini juga dikuatkan oleh riwayat lain bahwa jika Beliau ingin menulis maka sahabatnya yang menuliskannya.
    Abu Hurairah Ra. menceritakan bahwa ketika Rasulullah Saw. kembali menguasai Mekkah, beliau berkhutbah di hadapan manusia. Ketika beliau berpidato, berdirilah seseorang dari Yaman bernama Abu Syah, dan berkata:
    يارسول اللّه اكتبوا لي، فقال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: “اكتبوا لأبي شاه
    “Ya Rasulullah, tuliskanlah untukku.” Lalu Rasulullah bersabda: “Tuliskan untuk Abu Syah.” Al Walid (salah seorang perawi hadits ini) bertanya kepada Al Auza’i:
    ما قوله “اكتبوا لأبي شاهٍ؟” قال: هذه الخطبة التي سمعها من رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم
    Apa maksud sabdanya: “Tuliskan untuk Abu Syah.” Dia menjawab: “Khutbah yang dia (Abu Syah) dengar dari Rasulullah Saw.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, Ibnu Hibban, dan Ahmad)
    Alhamdulillahirabbil alamiin. Demikian penjelasan singkat dari saya, semoga dari penjelasan ini, kita menjadi paham bahwa pada hakikatnya Nabi Muhammad Saw. memang Ummi atau tidak bisa membaca dan menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: