حَنِيفًا

haniifa.wordpress.com

Bagaimana mungkin manusia ditakdirkan masuk Neraka !!!.

Posted by حَنِيفًا on December 15, 2007

Ini pertanyaan “lucu” tapi wajar saja kok. Dulu juga dan sering berada dalam pikiran, apakah Allah menyediakan “neraka” dan mentakdirkan manusia untuk tinggal di dalamnya?.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS 2:34)

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu ‘Al Jannata = SURGA’ ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS 2:35)

” Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. [QS 2:36] atau [QS 2:38]

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” [QS 2:37]

(QS 2:35) Allah berfirman pada tiga object (Malaikat, Iblis, Manusia) menurut pemahaman saya saat itu, ketiganya ada di Al Jannah, yang pada kenyataannya Iblis membangkang perintah Allah, Iblis = golongan “KAFIR” artinya calon penduduk “Neraka” tapi masih tinggal di “Sorga”.

“Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (QS 7:13)
(Iblis diturunkan dari surga setelah berhasil menipudaya Nabi Adam a.s)
Jadi:
Penghuni “Sorga” = {Malaikat}
Penghuni “Bumi” = {Adam a.s, Iblis}

Fakta sekarang menurut Al Qur’an
Penghuni “Sorga” = {Malaikat, Nabi & Rasul,Suhada}
Penghuni “Bumi” = {Manusia, Jin}

Jika kita melihat (QS 2:24) s/d (QS 2:44), jelas tampak Nabi Adam a.s beserta instrinya (plus keturunannya ?) justru di “TAKDIRKAN” sebagai penghuni “AL JANNAH”

Bilakah…tidak ada manusia yang protes telah di ‘takdir’kan masuk neraka…??”, sepertinya kontradiktif dengan Surat Al Baqarah 38

NAQLI :
1. Surat Al Baqarah 38
” Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
2. Surat Al Baqarah 97
Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Aqli :
1. Qulnaa = “Kami” berfirman, (Kami = Allah dan Malaikat Jibril)
2. Qulnaa = “Kami” secara Etimologi “jamak” dng objek sama

Catatan renungan dari seorang sahabat:
Menetapi takdir sebagai ketetapan pada ukuran-ukuran qadla dan qadar. Qadla (keputusan)nya manusia pada satu qadar (ukuran) merupakan potensinya dalam menjalani takdir. Ukuran-ukuran ini berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya, mahluk satu dengan lainnya. Ukuran seorang yang lahir dari keluarga berada berbeda ukurannya (daya potensi hartanya) dibandingkan orang yang dari keluarga miskin dan sederhana. Setiap potensi yang dimilikinya itulah dan dengan itulah manusia menjalani takdirnya.

Di sini terdapat titik sentral pengertian takdir. Takdir adalah ketetapan Allah, pilihan takdir adalah pilihan dari ketetapan Allah. Qadla dan qadar menjadi formula terukur untuk menjalani takdir. Perbedaan ini kadang, yang agor lihat bercampur. Takdir manusia, bukanlah ditakdirkan mencapai sesuatu, tapi takdirnya untuk melakukan pilihan (jangan lupakan bahwa semua pilihan adalah takdir). Goalnya (pilihan takdir manusia yang diambil – berakhir baik atau buruk) adalah dari pemanfaatan ukuran-ukuran (baca potensi) manusia.

Al hasil, ketika manusia ditakdirkan masuk neraka; bahasanya dipahami menjadi : Dalam perjalanan hidupnya manusia (itu) mengambil pilihan takdirnya menjadi penghuni neraka (dan ia menyesal di dalamnya), sebagian lain mengambil pilihan takdirnya menjadi penghuni surga (dan ia berbahagia di dalamnya). Jumlah peserta yang masuk ke dalamnya diperhitungkan teliti oleh Allah dapat dipahami sebagai bukan jumlahnya ditentukan, tetapi jumlah yang masuk mengambil pilihan itu (jalan fasik dan jalan baik) yang dihitung.

Lalu bagaimana dengan utusan Allah, apakah ia ditakdirkan mengambil pilihan baik. Ya, Allah memberikan potensi kepada para utusanNya yang Allah pilih sebagai duta manusia. Namun, Allah juga tidak melepaskan potensi para utusanNya keluar dari takdir yang disediakan. Ada Nabi yang dianiaya, dibunuh, diuji dengan berbagai hal sebagai konsekuensi logis dari ujian kesalehan dan sebagai konsekuensi logis dari pengingkaran orang-orang fasik yang ingkar kepada utusanNya.

Dari situ, begitu tampak komitmen Allah kepada manusia, sampai waktunya manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tingkah lakunya di dunia. Karena kita diciptakan lemah dan tergesa-gesa dan dalam proses perjalanannya diberikan kekuasaan (sebagai khalifah) karena kenekadan manusia menjadi khalifah, maka saat dikembalikan maka kejadian itulah yang direkam (probabilitas kejadiannya) dan dikabarkan kepada manusia. Menyadari keangkuhan manusia, maka ketika kesadaran beriman, tidak ada jalan lain, memohon ampunanNya, mengharapkan dengan kekhawatiran dan ketakutan untuk akhirnya Allah mengijinkan kita kembali dalam ridhaNya.

Subhanallah, astagfirullah….

Wasalam.

7 Responses to “Bagaimana mungkin manusia ditakdirkan masuk Neraka !!!.”

  1. daengfattah said

    Saya sepertinya berada di al a’raf kalau begitu.

    @mas Daengfattah
    Pepatah mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.
    Kalau mas “sepertinya berada di al a’raf “…. mudah-mudahan cita-citanya sudah tercapai … :D

  2. Dimashusna said

    ALLOH memiliki 100 Rohmat, 1 Rohmat Alloh turunkan Ke Dunia untuk kemudian “mewujud” menjadi Alam Semesta.sedangkan 99 Rohmat lainnya Alloh simpan di akhirat.

    Setelah Semesta Kiamat, maka Rohmat yang 1 tadi di Dunia itupun ditarik kembali untuk digabung dengan 99 Rohmat yang masih tersimpan. Sebagaimana kita tahu, 1 Rohmat Alloh yang di dunia itu dibagi-bagi ke seluruh mahluk dari Zaman Nabi Adam hingga Akhir Zaman.

    Makanya Heran, Dengan Rohmat Alloh yang 100 di akhirat, Koq masih ada yang masuk Neraka? (Sebuah pertanyaan yang jawabannya ada pada diri masing-masing).

    Lagipula memang Betul ALLOH tidak mau manusia atau Jin masuk Neraka, itu sebabnya Para Nabi dan Rosul diutus, AL-Qur’an pun diturunkan. Iya kan?

    @mas Dimashusna
    Trim’s mas, … Saya jadi teringat sejarah Nabi Muhammad s.a.w, ketika selesai memenangkan peperangan Badar beliau ditanya oleh para sahabatnya :
    “Yaa Rasulullah, perang apalagi yang lebih besar dan dasyat dari ini ??”
    Jawab Rasull : Perang melawan hawa nafsumu sendiri.
    Wassalam, Haniifa.

  3. faubell said

    Assalamu’alaikum Mas Haniifa,
    Pemahaman saya surga dan neraka adalah bagian dari perjalanan manusia yang dari lahirnya Islam untuk kembali ke Allah dengan Islam yang berkeyakinan (ber-Iman). Islam seperti gerak melingkar, mulai dari Allah harus kembali ke Allah. Itu konsep dasar islam yang artinya berserah diri.
    Untuk menjadi yakin itu media pengkondisian yang diciptakan Allah adalah surga dan neraka, tapi itu bukan tujuan akhir. Apakah neraka untuk meyakinkan bahwa Islam adalah BENAR, dan surga untuk meyakinkan bahwa Islam adalah BETUL?.
    Mari kita renungkan.
    Wassalam,

    Wa’alaikum Salam, @Mas Faubell
    Subhanallah…
    Saya agak segan bersilang pendapat dengan @mas Faubell, namun ada mungkin sedikit atau entah banyak persepsi dalam “Berasal dari Allah maka kembali kepada Allah”, saya pribadi memahaminya sebagai “Berasal dari Allah yang Maha Pencipta dan kembali kepada Jalan Allah yang di ridlo’i, dimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan Syurga dan Neraka adalah jalan akhir manusia (yang menurut mas Faubell adalah jalan melingkar).

    Suatu hal yang sering kita lupakan adalah jalan melingkar bundar sempurna := berjalan dengan resultante Nol, sedangkan jalan melingkar spiral := berjalan dengan resultante yang semakin membesar, namun pada hakekatnya lingkaran-lingkaran spiral tersebut terdiri dari segmen-segmen lingkaran bundar hampir sempurna. Itu yang memaknai ritual Haji mengenai Tawaf dan Sa’i.
    Tawaf := berkeliling 7x, dan jarak resultante :=0 (Ujung A == B)
    Tawaf:= angka 7, menyatakan perjalanan tak hingga (dalam trasidisi Arabiyu)
    Sa’i := berlari-lari kecil 3.5x, dan jarak resultante := 1 (Ujung A != B)
    Sa’i := angka 3.5, menyatakan perjalanan berhingga.
    Seperti yang di contohkah oleh Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w, bahwa kesempurnaan RUKUN ISLAM prosesi ber-HAJI yang secara explisit and or implisit merupakan kewajiban umat Islam ber-istiqomah setelah menyempurnakan rukun-rukunnya.
    Karena Allah Maha Adil, maka akan diberikan jalan lain bagi yang tidak mampu melaksanakannya
    Semoga kita tetap dijalan yang dirido’il oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Amin.

    Mari kita renungi bersama, “Umul Kitab”… [QS 1:1-7] := mengaji dan mengkajinya.

    Wassalam, Haniifa.

  4. faubell said

    Assalamu’alaikum Mas Haniifa,
    Saya juga masih dalam proses belajar juga Mas, janganlah segan mengungkapkan suatu pemahaman thd saya, saya bisa menerima manakala pemahaman saya ternyata salah. Dalam hal ini diskusi adalah untuk menggali semakin dalam apa itu makna [QS 1:6-7].
    Penggambaran Mas tentang gerak melingkar semakin menambah keindahan dalam memaknai Islam yang berkeyakinan itu. Kalau kita bawa gerak ini ke konsep gerak bumi manakala berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, selanjutnya matahari beserta planet pengiringnya mengelilingi bimasakti…dst..dst terlihat bahwa gerak itu bukan gerak melingkar sempurna, tapi berjalan dengan resultante yang semakin membesar. Maha benar Allah dengan segala firmannya…Amin.

    Semoga kita tetap dijalan yang dirido’il oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Amin

    Wassalam.

    Wa’alaikum Sala, @mas Faubell
    Jujur saja yang saya kagumi dari mas, adalah kecintaannya dengan benda-benda luar angkasa.
    Ada sedikit hipotesis saya yang melibatkan hobi mas, mudah-mudahan mas Faubell bisa membantu dan menambahnya.
    Seandainya :
    1. Saat bumi (ardh) merupakan bintang yang mau padam,
    … cairan panas magma.
    … core bumi tingkat temperaturnya secara teoritis lebih panas.
    2. Saat bola kenyal magma bumi, di hujani 2 meteor berbentuk paku dan menancap
    … di Yerusalem dan Mekkah.
    3. Saat bola kenyal magma bumi ini dihujani batu meteor berbagai ukuran sedemikian rupa
    ….hingga membentuk kerak bumi.
    4. Saat bola keras bumi ini, di hujani berbagai debu-debu cosmis dan tak terhitung jumlahnya
    ….meteor dan kecil dan besar.
    5. Saat bumi kering ini, di datangi tak terhitung jumlahnya komet-komet membawa
    ….zat cair dan gas, atau mungkin saja salah satu komet cai dan gas tsb menabrak bumi.
    6. Saat Allah subhanhu wa ta’ala menghendaki kehidupan di bumi.
    Wallahu’alam

    Wassalam, Haniifa.

  5. Faubell said

    Assalamu’alaikum Mas Haniifa,

    Waduh Anda bertanya tentang proses penciptaan bumi berikut asal muasalnya kehidupan itu toh…Ini membutuhkan beberapa orang yang memiliki pengetahuan dasar dari bidang ini : 1) Bahasa Arab terutama yg berkaitan dengan AQ
    2) Geologi
    3) Astronomi
    4) Fisika
    5) Biologi
    6) Matematika
    Mengenai saya kenapa fokus ke benda2 luar angkasa, memang saya menyukai tentang hal tsb walaupun bidang saya bukan astronomi, dan saya tergerak dari ini [QS 3:190-191]. Saya terpikir dengan kata2 duduk, berdiri, dan berbaring yang saya terjemahkan dengan makna perhatikan dg sudut 90deg, 0deg, dan 180deg. Namun kapan pemakaiannya itu masih dalam pencarian dan belajar terus.
    Selanjutnya saya bergerak ke konsep bilangan 7 dan saya padukan dengan Isra’ Miraj. Baru saya gabungkan dengan peta dalam diri, karena saya berpegang pada firman Allah bahwa ada ketetapan dalam Sunatullah. Saya cari bukti2 ilmiah dan sejarah yang telah dihamparkan Allah itu.

    Ok, kembali ke bumi. Hipotesis saya bahwa semua kehidupan di bumi asalnya bukan dari bumi, namun tempat pembiakannya adalah di bumi. Nah ini juga butuh penelitian yang panjang.
    Mengenai Kabah sebagai pusat pergerakan bumi itu sama saja dengan Baitullah yang batiniah sebagai pusat pergerakan manusia. Jadi dalam hal ini saya sependapat dengan pemahaman Mas.
    Kalau kita cermati di AQ, saya duga makna bumi tidak sekedar planet bumi ini saja, tetapi ada makna batiniahnya, misalkan pikiran/otak manusia.

    Wassalam.

  6. Kang Erry said

    Ada sebuah pertanyaan sederhana, kalau takdir adalah pilihan. apakah pilihan itu di tentukan oleh Manusia atau Allah. kalau ditentukan oleh manusia apakah Allah tau manusia itu akan memilih jalan itu jauh sebelum manusia itu lahir?

    Kalau Allah mengetahui dan pasti mengetahui maka artinya pilihan apapun yang dilakukan manusia itu adalah sudah menjadi ketetapan Allah.

    Manusia yang tidak tau takdir Allah. makanya manusia diwajibkan berusaha karena takdir Allah senantiasa selaras dengan hukum sebab akibat. manusia berikhtiar itu karena manusia tidak tu takdirnya seperti apa. sisanya serahkan sama Allah gak usah macem macem nuduh Alah maha Kejam! toh manusia memilih jalan yang salah juga tidak mersa dipaksa oleh Allah, mereka mengambil jalan itu dengan penuh kesdaran sama dengan orang yang memilih surga mereka berbuat baik juga tidak merasa di paksa oleh Allah. semua berjalan secara alami seperti tidak pernah ada takdir.
    _______________________
    @Kang Erry
    Demikian Maha Pemberinya Allah, sehingga kita lupa bahwa tarikan nafaspun merupakan karunia Allah, wajarlah manusia senantiasa melalaikan disaat merasa tidak memerlukan, jadi benar sekali ungkapan @Akang bahwa “semua berjalan secara alami seperti tidak pernah ada takdir”

    Wassalam, Haniifa.

  7. shahil said

    Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Apakah ALLah mentakdirkan seseorang masuk neraka?

    Sesungguhnya soalan ini harus dijawab dengan ilmu yang cukup mantap. Kerana kasus takdir ALLah melibatkan beberapa hal yang saling berkaitan. Ia tidak harus dan tidak boleh dijawab secara harfiah.

    Demikian juga dengan kasus apakah usaha seseorang boleh merubah takdirnya sejak azali.

    Sebagai permulaan, takdir seseorang itu masuk neraka atau syurga saling berkait dengan amal seseorang, dan juga tilik Ilmu ALLah sejak azali.

    Wassalam.

    http://shahil.wordpress.com

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>